NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Sebelum Terbang

Ini adalah hari terakhirku berada di Jakarta. Namun sejak malam sebelumnya, mataku sama sekali tak terpejam. Bukan semata‑mata karena rasa gugup atau takut menghadapi hal baru—meski perasaan itu ada sedikit di sudut hati. Melainkan karena kepalaku terasa begitu penuh dipenuhi bayangan wajah‑wajah orang yang kucintai: Mama yang menahan tangis di dapur, Papa yang diam namun matanya terlihat merah menahan rindu, Dinda yang memelukku erat tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun, serta Rangga yang berusaha tersenyum dan bermain bersamaku meski aku tahu hatinya sedang hancur, meski aku sendiri bermain dengan sangat buruk.

Dan satu lagi… Aldo. Di antara semua bayangan itu, wajah Aldo lah yang paling sering muncul dan menetap di ingatanku.

Aku memutar badan di atas kasur yang sudah kukenal bertahun‑tahun ini, memeluk guling erat‑erat seolah benda itu bisa menggantikan kehangatan mereka, lalu menatap langit‑langit kamar yang memiliki guratan retak kecil di sana‑sini. Langit‑langit yang sama persis yang kulihat saat aku pertama kali menangis tersedu‑sedih karena sakit hati bersama Reza, saat aku mulai ragu apakah hubungan itu layak dipertahankan, hingga saat aku perlahan menyadari satu hal penting: bahwa cinta yang sejati seharusnya tidak menyakiti hati.

Langit‑langitnya memang tetap sama, tak berubah sedikit pun. Namun kehidupanku kini sudah berjalan jauh dan menjadi sangat berbeda dari masa‑masa itu.

***

Pukul enam pagi, terdengar ketukan lembut di pintu kamarku.

“Tari… bangunlah, Nak. Mama sudah menyiapkan sarapan kesukaanmu,” terdengar suara Mama dari balik pintu.

Aku perlahan membuka mata. Cahaya matahari pagi mulai menyelinap masuk lewat celah‑celah tirai jendela, menciptakan garis‑garis cahaya tipis yang jatuh berderet di lantai kamar.

“Iya, Ma… aku sudah bangun,” jawabku pelan sambil mengusap sisa kantuk.

Aku beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi, lalu membasuh seluruh wajah dengan air dingin agar pikiran menjadi lebih jernih. Saat menatap cermin, aku melihat sosok perempuan dengan mata yang agak bengkak—bekas dari tangisan panjang semalam yang tak mampu kutahan.

Aku tersenyum tipis pada bayanganku sendiri, lalu berbisik pelan, “Kamu pasti bisa menjalani semuanya, Tari. Kamu perempuan yang kuat.”

Setelah merasa cukup tenang, aku berjalan keluar kamar menuju ruang makan.

***

Pukul tujuh pagi, kami berkumpul untuk sarapan bersama keluarga.

Di atas meja makan kayu jati tua itu, Mama sudah menyajikan hidangan lengkap: nasi uduk yang gurih, potongan ayam goreng renyah, tumis tempe orek yang manis‑pedas, serta sambal terasi yang pedasnya pas—semua makanan yang paling kusukai sejak kecil. Meja yang luas itu kini terasa penuh oleh piring dan mangkuk, seolah kami ingin memastikan hari‑hari terakhir ini terasa lengkap dan berlimpah kehangatan.

“Tari, makanlah sebanyak‑banyaknya ya,” kata Mama sambil menyendokkan nasi ke dalam piringku. “Nanti di seberang lautan sana, kamu takkan mudah menemukan makanan yang seenak buatan Mama.”

Aku tersenyum mendengarnya. “Ma… di Melbourne pun banyak sekali restoran yang menyajikan masakan enak, lho.”

Mama menggeleng yakin. “Tetap saja takkan ada yang seenak masakan Mama sendiri.”

“Iya juga benar, Ma,” jawabku sambil mengangguk setuju. “Memang tak ada yang bisa menandingi masakan Mama.”

Di ujung meja, Papa duduk dengan tenang seperti biasa. Ia jarang bicara, namun sesekali matanya menatapku lekat‑lekat seolah ingin mengingat setiap gerak‑gerikku. Di sebelah Mama, duduk Dinda—matanya tampak merah dan bengkak, sepertinya ia pun sama sepertiku, tak bisa tidur nyenyak semalam. Sedangkan Rangga duduk tepat di sampingku; pagi ini ia tampak pendiam sekali, sangat berbeda dari kebiasaannya yang selalu banyak bicara dan ceria.

“Rangga…” sapaku lembut. “Kamu kenapa diam saja pagi ini?”

Ia menundukkan wajah menatap makanannya. “Aku sedih, Kak.”

“Kenapa merasa sedih, Nak?” tanyaku lagi sambil menyentuh bahunya.

“Karena Kak Tari sebentar lagi akan pergi jauh meninggalkan kami,” jawabnya lirih.

Aku segera mengusap kepalanya dan mengacak‑acak rambutnya yang agak berantakan. “Kakak berjanji akan kembali lagi ke sini. Dua tahun itu bukanlah waktu yang lama, Rangga. Akan berlalu begitu saja.”

Rangga mengangkat wajahnya, matanya berkaca‑kaca menahan air mata. “Kakak janji ya? Benar‑benar akan kembali?”

“Kakak janji dengan sepenuh hati,” jawabku tegas.

Mendengar itu, Rangga pun mengangguk perlahan, lalu melanjutkan makannya dalam diam.

***

Pukul sepuluh pagi, Aldo datang berkunjung ke rumahku.

Ia tampak sangat rapi hari ini: mengenakan kemeja putih lengan panjang yang bersih dan kancingnya tertutup rapat—seperti penampilan pertamanya saat datang ke rumahku dulu. Rambutnya disisir halus ke belakang, dan kacamata bingkai hitamnya masih setia bertengger di pangkal hidung. Di tangannya, ia membawa seikat bunga mawar merah yang indah dan segar.

“Bunga mawar?” tanyaku sedikit terkejut saat melihatnya. “Kamu tahu aku suka bunga ini?”

Aldo tersenyum lembut. “Aku tahu.”

“Padahal aku sama sekali belum pernah bilang hal itu kepadamu,” gumamku bingung namun terharu.

“Aku mendapatkannya dari Maya,” jawabnya santai namun penuh makna.

Aku menghela napas panjang sambil tersenyum tipis. Ternyata benar dugaanku—Maya dan Aldo memang benar‑benar saling bekerja sama untuk mengetahui segala hal tentangku.

“Masuklah, Aldo,” pintaku mempersilakan.

Aldo melangkah masuk ke dalam rumah, lalu menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Mama dan Papa yang sedang duduk di ruang tamu. “Selamat pagi, Ibu. Selamat pagi, Pak.”

Mama tersenyum ramah menyambutnya. “Selamat pagi, Nak Aldo. Apakah kamu sudah sarapan?”

“Belum, Bu,” jawabnya sopan.

“Kalau begitu duduklah dan makanlah bersama kami. Mama memasak cukup banyak hari ini,” ajak Mama segera.

Aldo pun duduk di kursi kosong tepat di sebelahku, mengambil sedikit nasi dan lauk, lalu memakannya dengan sikap yang sangat sopan dan tenang.

Di sela‑sela waktu itu, Mama terus menatap Aldo dengan pandangan yang hangat dan penuh ketenangan.

“Nak Aldo,” panggil Mama perlahan. “Terima kasih banyak ya, sudah meluangkan waktu dan menemani Tari selama ini dengan baik.”

Aldo menundukkan wajah segan. “Sebaliknya justru saya yang berterima kasih, Bu. Banyak hal indah yang saya dapatkan karena mengenal Tari.”

“Kamu adalah anak yang baik dan sopan, Nak,” lanjut Mama dengan nada bangga. “Tari sungguh beruntung pernah bertemu dengan orang sebaik kamu.”

Aku menatap Mama sambil tersenyum malu. “Ma… aku ada di sini lho, jangan‑jangan Mama lupa sama anak sendiri ya,” candaku ringan.

Mama tertawa renyah. “Iya, Mama tahu kok. Mama hanya ingin menyampaikan apa yang ada di hati Mama.”

***

Pukul dua siang, aku dan Aldo duduk berdua di teras depan rumah.

Suasana halaman terasa sepi dan tenang. Bunga‑bunga melati di pot‑pot mulai mekar sempurna, menyebarkan wangi harum yang tercium semerbak di udara yang panas siang itu. Ayunan plastik merah milik Rangga bergoyang pelan tertiup angin sepoi‑sepoi, seolah menggambarkan suasana hatiku yang sedang bercampur aduk antara bahagia dan sedih.

Aldo memecah keheningan dengan suaranya yang lembut. “Tari…”

“Iya?” jawabku menoleh ke arahnya.

“Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu.”

“Apa itu, Aldo?”

Ia menatapku lekat‑lekat. “Aku tidak akan mengucapkan kata ‘hati‑hati’ saat kamu berangkat nanti.”

Aku sedikit bingung. “Kenapa tidak? Bukankah itu hal yang biasa dikatakan orang yang saling menyayangi?”

Aldo menggeleng pelan. “Karena aku sungguh yakin kamu mampu menjaga dirimu sendiri dengan sangat baik. Kamu perempuan yang kuat, mandiri, teguh pendirian… dan kamu hebat, Tari.”

“Aldo…” suaraku tercekat haru.

“Namun ada satu hal lain yang ingin kumohonkan padamu,” sambungnya pelan, tangannya menggenggam tanganku erat. “Jangan pernah melupakan aku, di mana pun kamu berada.”

Aku membalas genggamannya dengan sekuat hati. “Aku takkan pernah melupakanmu, Aldo. Itu janji yang takkan pernah aku ingkari.”

Aldo tersenyum—senyum yang terasa rapuh namun tulus, senyum yang membuat dadaku terasa sesak menahan rindu yang baru saja mulai tumbuh meski kami belum berpisah.

“Aku sangat menyayangimu, Tari,” bisiknya.

“Dan aku pun sangat menyayangimu, Aldo. Sampai ke bintang‑bintang di angkasa dan kembali lagi ke sini,” jawabku dengan suara yang bergetar namun mantap.

Kami pun terdiam sejenak, hanya mendengarkan suara angin yang berbisik lembut di sela‑sela dedaunan, serta gemerisik daun yang menari tertiupnya.

***

Pukul enam sore, Maya datang berkunjung ke rumahku.

Ia membawa sebuah koper kecil yang isinya bukan oleh‑oleh untukku, melainkan oleh‑oleh khusus untuk seluruh keluargaku.

“Ini untuk Ibu Tari,” katanya sambil menyerahkan sekotak kue kering kesukaan Mama. “Ini untuk Ayah Tari,” sambungnya menyodorkan bungkus kopi bubuk pilihan. “Yang ini untuk Dinda,” katanya lagi sambil memberikan ikat kepala berwarna cerah yang lucu. “Dan yang terakhir ini… untuk Rangga,” seraya menyerahkan sebuah patung pahlawan kesayangannya.

“Wah, lengkap sekali persiapannya, Ya,” kataku sambil mengagumi perhatiannya yang begitu rinci.

Maya tersenyum bangga. “Aku tidak mau datang ke rumah sahabatku dengan tangan kosong begitu saja.”

“Terima kasih banyak ya, Ya,” ucapku tulus.

Maya menatapku, matanya mulai berkaca‑kaca. “Tari… aku… aku pasti akan sangat merindukanmu.”

Aku segera memeluknya erat. “Aku pun akan merindukanmu lebih dari apa pun, sahabatku.”

Maya mengeratkan pelukannya. “Kamu janji akan meneleponku setiap hari, kan?”

“Setiap hari. Aku janji,” jawabku tegas.

“Kalau sampai kamu lupa atau tidak menelepon, ingat ya… aku akan terbang langsung ke Melbourne dan memukulmu sampai kamu ingat,” ancamnya setengah bercanda.

Aku tertawa mendengarnya. “Aku tahu betul kamu sanggup melakukan hal itu. Aku akan ingat janjiku.”

Maya perlahan melepaskan pelukannya. Matanya sudah tampak merah karena menahan tangis. “Tari… aku sayang padamu, selalu.”

“Aku pun sayang padamu, Ya. Sampai kapan pun takkan berubah.”

***

Pukul delapan malam, kami mengadakan acara perpisahan sederhana namun penuh makna di ruang tamu rumah.

Di atas meja, Mama sudah menyiapkan kue bolu lembut dan teh hangat untuk kami nikmati bersama. Papa duduk di kursi kebesarannya yang biasa, diam namun matanya menatap kami bergantian dengan penuh kasih. Dinda duduk bersandar di samping Mama, matanya masih tampak merah dan sembab. Sedangkan Rangga duduk bersila di lantai, sibuk memainkan patung pahlawan pemberian Maya seolah tak ingin berhenti menikmatinya.

Di sebelahku duduk Aldo yang tenang, dan Maya duduk di samping Aldo. Suasana ruangan terasa hangat namun sarat dengan rasa berat hati.

“Tari…” panggil Papa memecah keheningan.

“Iya, Pa?” jawabku segera.

Papa menatapku lekat‑lekat. “Papa hanya ingin mengatakan satu hal… Papa sangat bangga padamu, Nak.”

“Pa…” suaraku tercekat.

“Papa tak pernah menyangka bahwa anak perempuan Papa akan tumbuh menjadi sosok yang pandai dan berani seperti ini. Bahwa anak Papa akan berkesempatan menempuh pendidikan tinggi hingga ke jenjang magister. Bahwa anak Papa akan pergi belajar ke negeri seberang. Bahwa anak Papa akan menjadi sosok yang hebat dan membanggakan,” lanjutnya dengan suara yang bergetar.

Air mataku jatuh membasahi pipi tanpa mampu kutahan lagi.

“Papa sangat menyayangimu, Tari. Dan Papa akan selalu mendoakan keselamatan serta kesuksesanmu di mana pun kamu berada,” ucap Papa menutup kata‑katanya.

Aku segera berdiri, berjalan menghampiri Papa, lalu memeluknya dengan sekuat hati. “Terima kasih, Pa… terima kasih untuk segala pengorbanan dan kasih sayang Papa selama ini.”

Papa membalas pelukanku dengan sangat erat—persis seperti saat aku masih kecil dan merasa takut pada sesuatu hal.

***

Pukul sembilan malam, tibalah saatnya Aldo dan Maya berpamitan untuk pulang.

Di depan pagar rumah, Aldo berdiri menatapku lama sekali, seolah ingin mengabadikan setiap lekuk wajahku di dalam ingatannya.

“Besok pagi aku akan datang menjemputmu tepat pukul lima,” katanya dengan nada yang pasti.

Aku sedikit terkejut. “Pukul lima pagi? Padahal pesawatku baru berangkat jam delapan.”

Aldo tersenyum tenang. “Aku tak mau mengambil risiko kamu terlambat sedikit pun. Lebih baik menunggu lama daripada harus terburu‑buru dan cemas.”

Aku tersenyum haru. “Baiklah… aku tunggu jam lima pagi.”

Aldo mendekatkan wajahnya, lalu mengecup keningku dengan lembut, penuh rasa hormat dan kasih yang mendalam.

“Sampai jumpa lagi, Tari.”

“Sampai jumpa, Aldo,” jawabku pelan.

Aldo masuk ke dalam mobil. Sebelum mengikuti Aldo, Maya memelukku sekali lagi dengan erat—pelukan terakhir malam itu.

“Tari… aku sayang padamu,” bisiknya.

“Aku pun sayang padamu, Aldo,” jawabku.

Maya pun masuk ke kursi penumpang, dan perlahan mobil itu melaju meninggalkan halaman rumahku hingga akhirnya hilang di tikungan jalan yang gelap.

Aku berdiri sendirian di teras, menatap kepergian mereka hingga tak terlihat lagi.

Besok adalah hari terakhirku di sini.

Besok aku benar‑benar akan pergi meninggalkan Jakarta.

Besok segalanya akan berubah selamanya.

***

Pukul sepuluh malam, terdengar ketukan lembut lagi di pintu kamarku.

“Tari… Mama boleh tidur di sini bersamamu malam ini?” tanyanya pelan dari balik pintu.

“Tentu saja boleh, Ma. Silakan masuk,” jawabku segera.

Mama masuk perlahan, lalu duduk di pinggir kasur di sebelahku. Kami berdua diam sejenak, menikmati kebersamaan yang tersisa itu tanpa banyak bicara.

“Tari…” panggilnya lembut.

“Iya, Ma?”

“Mama hanya ingin memastikan kamu tahu… Mama sangat menyayangimu lebih dari segalanya di dunia ini.”

“Aku tahu itu, Ma. Aku selalu tahu,” jawabku dengan hati yang penuh.

“Jangan sampai melupakan Mama dan rumah ini ya, Nak,” pintanya dengan nada yang hampir tak terdengar.

“Ma…” aku tak mampu berkata‑kata lain selain menatapnya.

“Ah, Mama hanya bercanda saja kok,” potongnya cepat sambil tersenyum—namun matanya jelas berkaca‑kaca menahan rindu. “Pergilah, Nak. Kejarlah cita‑citamu setinggi langit. Mama akan selalu berdoa agar kamu selamat dan bahagia di sana.”

Aku segera memeluk Mama erat‑erat. “Terima kasih, Ma… terima kasih untuk segala hal indah yang Mama berikan padaku selama ini.”

Mama membelai rambutku berulang kali dengan lembut, persis seperti kebiasaannya saat aku masih kecil dan sulit tidur.

“Sekarang cobalah istirahat ya. Besok kamu harus bangun sangat pagi,” katanya menenangkan.

“Baik, Ma.”

Mama berdiri perlahan, berjalan menuju pintu, lalu menoleh sekali lagi sebelum melangkah keluar.

“Tari… Mama bangga sekali padamu.”

Mama tersenyum manis untuk terakhir kalinya malam itu, lalu menutup pintu kamar perlahan hingga tertutup rapat.

Aku merebahkan diri kembali ke atas kasur, menatap langit‑langit kamar yang retak itu—langit‑langit yang sama yang telah menjadi saksi seluruh kisah hidupku di rumah ini.

Langit‑langitnya memang tak berubah. Namun kehidupanku mulai hari esok takkan pernah sama lagi.

Aku memejamkan mata, berusaha membiarkan kantuk datang menyapa. Namun tidur tak kunjung mau datang. Yang ada hanya bayangan‑bayangan indah: Mama, Papa, Dinda, Rangga, Maya, dan Aldo. Semuanya terus berputar di kepalaku.

Besok adalah hari terakhirku di Jakarta.

Besok aku akan melangkah pergi jauh.

Besok segalanya akan berubah selamanya.

Namun ada satu hal yang takkan pernah berubah: tekadku untuk kembali.

Aku pasti akan pulang.

Janji.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!