Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Besok ....
Bab 15
Rencana lepas maghrib kembali ke Jakarta, nyatanya setelah isya baru jalan. Para pria sudah bekal kopi kemasan botol, bahkan sesekali jendela mobil dibuka karena Asep dan Umar merokok. Cinta tidur sepanjang perjalanan, bahkan tidak sadar kepalanya bersandar di bahu Eru.
Tiba di Jakarta, Umar mengarahkan untuk mengantar Cinta. Para pria bisa tidur di kantor dan pulang besok atau menyesuaikan.
“Elo tinggal di mana Ru?”
“Kelapa gading, Kang. Nggak pa-pa saya ikut ke kantor aja.” Eru sudah berkirim pesan dengan supir di rumah agar menjemputnya di Yess TV.
“Serius lo?”
“Iya, bang.”
“Tidur di kantor aja sama Asep, besok pagi baru balik,” seru Umar. “Masih di kampung sawah kosan Cinta?”
“Iya,” sahut Asep. “Katanya kosan disini nyaman, khusus cewek. Lingkungannya juga baik. Kalau kata Cinta yang punya kosan itu punya bodyguard yang wara wiri, minim kejahatanlah di kampung itu.”
Mobil berbelok ke area komplek kampung sawah, berhenti di depan gerbang kosan. Umar sudah mulai ngantuk, kepalanya bersandar di pintu mobil.
“Mbak, bangun Mbak,” ucap Eru menepuk pelan lengan CInta. Gadis itu menggeliat dan mengucek matanya. “Udah sampai nih.”
“Hah, ini kosan aku.”
“Iya. Ayo!”
Asep sudah keluar dari mobil dan merokok, lalu mengetuk pagar dan bicara dengan penjaga kosan dan pagar pun dibuka cukup untuk orang lewat. Eru ikut keluar dari mobil, membuka bagasi membawakan dua tas melewati pagar dan diletakan di atas meja depan pos penjaga kosan.
“Makasih ya kang,” ucap cinta dan Asep mengiyakan.
“Langsung tidur, gue balik ya.” Asep berlalu dan kembali ke mobil
“Makasih ya, Ru,” ucap Cinta agak mendongak untuk menatap wajah Eru saat mereka berhadapan.
“Hm. Langsung istirahat, kalau nggak bisa tidur Wa ya.”
“Mau ngapain?”
“Ada deh.” Tangan Eru terulur mengusap bahu Cinta, padahal ingin sekali mengusap wajahnya. “Masuk gih.”
Hati Cinta menghangat dengan perhatian Eru, sudut bibirnya ingin sekali tersenyum meski ia tahan. Jangan tanya debaran jantungnya, yang jelas sangat tidak biasa. Definisi berdekatan dengan pria ini sangat tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raga. Perasaan ini, mungkinkan sebuah rasa karena lawan jenis. Rasa cinta, rasanya terlalu dini. Entahlah, biar waktu yang menjawab.
Pintu pagar kembali ditutup. “Bang Aceng makasih ya, sorry ganggu udah tengah malam begini.”
“Slow aja neng. Tasnya saya bawain deh.”
Terdengar klakson dan deru mesin mobil menjauh. Kamar Cinta ada di lantai 1, kamar kedua dekat tangga. Sampai kamar ia langsung ke toilet untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Kedua tas masih teronggok di atas karpet.
Hampir pukul 1 pagi dan kantuknya sudah pergi. Cinta menghidupkan televisi memilih film dari layanan streaming. Mengambil botol air mineral dari kulkas, beruntung masih ada cemilan di atas meja.
Ponsel yang tadi dia lempar ke atas kasur bergetar, Cinta beranjak dengan malas. Siapa pula sepagi ini menghubunginya. Ternyata pesan dari Eru.
...Eru_kerenz...
Tidur lagi?
^^^Nggak, lagi nonton^^^
Ck, tau gitu tadi nggak usah pulang
^^^Terus?^^^
Nyatanya Eru malah melakukan panggilan video.
“Ish, Eru ngapain video call.” Meski ragu, khawatir dengan penampilannya jari Cinta menggeser tombol di layar untuk menjawab panggilan itu. Wajah Eru muncul di layar, sepertinya sedang berjalan di lobby.
“Kenapa Ru?”
“Udah nggak ngantuk ‘kan?”
Cinta menggeleng. “Kamu nggak pulang?”
“Ini mau. Tunggu taksi,” sahut Eru padahal ia menunggu supirnya datang.
“Di lobby ya?”
Eru mengangguk dan pandangan lekat ke layar, CInta sesekali mengalihkan pandangan ke layar TV.
“Ngapain mbak?”
“Nonton drakor. Yang lain pulang?”
“Bang Umar sama Kang Asep langsung naik. Besok ada acara nggak?”
Cinta pun menatap ke layar ponselnya. Besok tentu saja ia libur karena masih dalam jadwal tugasnya ke luar kota.
“Nggak ada kayaknya, aku mau bangun siang. Nikmat libur dengan bangun siang, nggak mandi, leyeh-leyeh sambil ngemil.”
Eru ikut tersenyum mendengar itu. “Aku jemput ya.”
“Jemput kemana? Kita masih libur.”
“Jalan lah mbak, kemana kek. Tapi agak siangan ya. Anggap aja kencan.” Wajah tengil Eru terkekeh di layar. Ia mematut sambil mengacak rambutnya.
“Emangnya kita pacaran pake kencan segala.”
“Pedekate atau anggap kita pacaran.” Cinta mencibir, Eru melayangkan pandangan ke arah lain lalu mengangguk. “Jangan ditutup mbak, udah dateng taksi aku.”
Cinta melipat bibirnya yang ingin sekali tersenyum. baru kali ini dia melakukan video call dengan pria dan agak lama, biasanya hanya Kang Asep dan itupun bersama dengan calon istrinya atau dengan Uwa Asih keluarga di kampung.
Wajah Eru tampak di layar dan sempat blank dengan suara gemerisik. Kembali On saat pria itu sudah berada di mobil.
“Dari pada naik taksi dari kantor, tadi aja dari sini. Lebih murah, udah dekat.”
“Bisa diseret Bang Umar saya, ngapain malah ikut turun di kosan mbak."
Video call itu berlangsung sampai Eru tiba di tujuan. “Udah dulu ya mbak, besok aku jemput. Tidur, jangan begadang nonton drakor. Besok puas-puasain tatap wajahku, mirip oppa-oppa ‘kan.”
“Dih, narsis. Kamu rehat juga, bye.”
“Bye, Cintanya Eru.” Eru terkekeh sebelum akhirnya panggilan berakhir.
“Pacarnya den?” tanya Pak Budi sambil memarkirkan mobil.
“Otw pak, masih dipepet terus. Mami udah tidur?”
“Udah kayaknya. waktu saya ambil kunci mobil, udah gelap di dalam.”
“Makasih ya pak,” ucap Eru. Menaiki undakan tangga menuju beranda rumah dan membuka pintu. Di ruang tengah ada bibi menunggunya.
“Mau dibuatkan minum atau makan den?”
“Nggak usah bik. Aku udah ngantuk, bibi istirahat aja.” Eru menuju tangga dan ….
“Eru.” Maura menghampiri, mungkin saja ia terjaga saat Pak Budi akan menjemputnya. “Kamu pulang nggak ngabarin, katanya pulang besok.”
Eru mendekat lalu mencium kening Maura. “Pulang dadakan, kerjaan udah beres. Udah malam mih, lanjut tidur gih. Aku juga udah capek.”
Maura menghela nafasnya. “Besok pagi kita bicara, perempuan yang dibahas Krisna dan Samudra.”
Hela pelan keluar dari mulut Eru lalu mengusap wajahnya. “Iya, mih, iya.”
“Dia pacar kamu?”
“Kita bicara besok. Night Mih.” Eru berbalik lalu menaiki anak tangga meninggalkan mami yang masih berdiri menatap punggungnya.
“Tapi mami penasaran, sekarang aja ya.”
“Sleep tight, mih.”
cinta terhalang kejadian antara orang tua.😭
semangat Eru,setidaknya kamu jangan cepat menyerah.
jadikan cambukan,Cinta yang jadi korban papi mu maka kewajiban mu melindungi nya..kalau perlu menikahi nya
egoisnya akbar hanya mementingkan ke baikan keluarganya sendiri. tanpa memikirkan orang lain.😤
siap2 reaksi cinta nrma ga ya kenyataan
kamu dah di kasih tau sama mamih kan dan di wanti² tentang gosip tidak enak nah ini maksudnya