seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Melihat air mata tulus dan rasa penyesalan yang begitu besar di wajah Liana, hati Dinda yang selama ini membeku perlahan mulai mencair. Ia bisa merasakan bahwa ibunya benar-benar berubah dan sangat menyayanginya.
Dinda mengangguk pelan, air matanya jatuh namun kali ini adalah air mata haru.
"Baik Ma... Dinda mau pulang. Dinda mau pulang sama Mama." ucap dinda .
Liana langsung memeluk Dinda erat-erat, seolah takut melepaskan anaknya lagi. "Terima kasih Nak... Terima kasih sudah mau memberi Mama kesempatan lagi. Mama janji, Mama gak akan nyakitin kamu lagi."
Namun, Dinda melepaskan pelukan itu sedikit dan menatap Liana dengan tatapan memohon.
"Tapi Ma... boleh gak? Sebelum pulang ke rumah besar itu, kita mampir dulu ke rumah Ibu Sari dan Bapak Agus? Dinda mau pamit sama mereka, dan Dinda mau ambil barang-barang Dinda di sana. Rumah itu juga rumah Dinda Ma..."
Liana tersenyum lembut, mengusap kepala Dinda. Ia mengerti betapa besar kasih sayang Dinda kepada orang tua angkatnya.
"Tentu saja Sayang. Boleh banget. Justru Mama juga mau ikut masuk dan berterima kasih sama mereka karena sudah membesarkan anak sebaik kamu. Ayo, kita ke sana sekarang."
Mereka pun berjalan keluar kafe. Sasha dan gengnya masih berdiri mematung ketakutan, tidak berani bergerak sedikit pun. Liana hanya menatap mereka tajam seolah berkata "urusan kita belum selesai", lalu masuk ke dalam mobil mewahnya bersama Dinda.
Sesampainya di rumah Bu Sari...
Mobil berhenti di depan rumah sederhana itu. Dinda turun dengan wajah ceria, diikuti oleh Liana yang berjalan anggun di belakangnya.
Bu Sari dan Pak Agus yang sedang duduk di teras langsung kaget dan berdiri. Di dekat mereka, terlihat Nayla yang sedang memaksa mencoba menyapu halaman dengan malas-malasan karena dimarahi orang tuanya .
Saat melihat Dinda turun dari mobil mewah dan berjalan bergandengan tangan akrab dengan Liana, wajah Nayla berubah masam dan matanya membelalak cemburu.
"Assalamualaikum... Ibu! Bapak!" sapa dinda .
"Waalaikumsalam. Eh Dinda... Eh Nyonya Liana..." jawab Bu sari dan pak Agus.
"Bu, Pak... Dinda mau pamit sebentar ya. Dinda mau ikut Mama pulang ke rumah keluarga Dewantara dulu. Dinda mau tinggal di sana ." ucap dinda .
Wajah Bu Sari dan Pak Agus terlihat sedih tapi juga ikut bahagia.
"Oh... jadi begitu Nak. Ya sudah, Bapak dan Ibu ikut senang dengarnya. Asal kamu bahagia dan disayang di sana ya Nak."
"Iya Pak. Dinda cuma mau ambil baju-baju Dinda dan koper Dinda. Dinda janji, Dinda bakal sering main ke sini kok. Dinda gak bakal lupain Ibu sama Bapak."
Dinda langsung masuk ke kamar kecilnya dan mulai merapikan barang-barangnya.
Sementara itu di luar, Nayla menatap Dinda dengan mata memancarkan api kebencian. Ia melihat Dinda yang sekarang terlihat lebih cantik, tenang, dan didukung penuh oleh ibunya yang kaya raya.
Gumam Nayla Dalam hati "Sialan... Kenapa dia selalu beruntung?! Dia dihina, dia fitnah tapi ujung-ujungnya dia yang tetap disayang! Aku benci! Aku sangat benci melihat dia bahagia!"
Nayla mengepal tangannya kuat-kuat di balik punggung. Ia merasa posisinya semakin terancam. Dinda yang kembali ke rumah Dewantara berarti dia akan semakin tersingkirkan.
Tak lama kemudian, Dinda sudah keluar membawa kopernya. Ia menyalami tangan Bu Sari dan Pak Agus dengan penuh hormat dan kasih sayang.
"Dinda pergi dulu ya Bu, Pak. Doain Dinda ya."
"Hati-hati di jalan ya Sayang. Tuhan selalu lindungi kamu."
Tiba - tiba Nayla mendekati bu Liana ." mama .... apa Mama tak ingin mengajakku juga . aku sangat merindukan kalian ." ucap Nayla dengan nada yang dibuat sesedih mungkin .
Bu liana menatap Nayla datar ." maaf , nay . Mama hanya gak ingin melakukan kesalahan kedua kalinya . sekarang mama hanya ingin membahagiakan anak kandung mama ."
" tapi ,, mah . Aku juga anak mama sama papah . kenapa kalian tega membuang ku di sini ?"
" aku tidak membuang mu Nayla . mama hanya mengembalikan kamu kedua orang tuamu ."
" ayo ,.sayang ! kita pulang . papah sama kakek dan nenek pasti senang kamu kembali pulang . mereka sangat bersalah karena sudah mengambil keputusan menyalahkan kamu ." sambung Liana lembut . lalu menarik lengan Dinda dengan pelan untuk masuk ke dalam mobil .
Mobil pun melaju meninggalkan rumah itu. Nayla hanya bisa menatap kepergian mobil itu dengan penuh dendam, berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan Dinda hidup tenang di sana selamanya
Mobil mewah itu perlahan memasuki halaman rumah keluarga Dewantara. Suasana di sana terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan atau kemarahan. Semua orang Leonardo, Pak Sam, Pak Bram, Bu Ajeng, Bu Rosa, Adrian, dan Amira sudah berkumpul di ruang tamu. Mereka menunggu dengan cemas namun penuh harap. Mereka sudah diberitahu oleh Liana kalau dia akan pulang membawa Dinda .
Pintu mobil terbuka. Dinda turun dengan wajah sedikit canggung namun tenang, diikuti oleh Liana yang tersenyum lebar dan menggenggam tangan putrinya erat-erat.
Saat kaki Dinda menginjak lantai marmer rumah itu, Pak Sam dan Pak Bram langsung berjalan cepat mendekat. Mata mereka berkaca-kaca melihat cucu kesayangan mereka kembali.
pak Bram dengan suara bergetar. "Dinda... Cucuku... Akhirnya kamu pulang juga Nak."
Dinda tersenyum manis lalu menunduk sedikit mencium tangan kedua kakeknya itu.
"Assalamualaikum Kakek bram... Dinda pulang." ucap dengan sedikit gugup .
Pak Sam memeluk bahu Dinda hangat. "Waalaikumsalam. Alhamdulillah... selamat datang di rumahmu sendiri Sayang. Maafkan kami yang dulu pernah jahat sama kamu."
Satu per satu keluarga menyambutnya dengan air mata haru. Leonardo memeluknya erat, Bu Ajeng dan Bu Rosa terus mengusap kepalanya, sementara Amira dan Adrian menyambutnya dengan senyum lega. Rumah besar itu akhirnya terasa hidup kembali karena kehadiran Dinda.
"Mulai hari ini, kamar kamu yang paling bagus, pelayanan terbaik, semua yang kamu mau Papa usahakan. Kamu putri kita, harta kita yang paling berharga."
Namun, suasana haru itu perlahan berubah menjadi murka saat Liana menceritakan apa yang terjadi di kafe tadi sore. Bagaimana Sasha dan gengnya sengaja membuat onar, memfitnah makanan, hingga Dinda dimarahi oleh manajer.
Wajah Pak Sam dan Leonardo berubah merah padam menahan amarah.
"APA?! Berani-beraninya mereka menyakiti anakku?! Mempermalukan dia di tempat kerja?! Mereka pikir siapa mereka?!" teriak Leonardo.
"Ya Allah... Kasihan sekali kamu Nak. Mereka tega sekali. Padahal kamu cuma mau bekerja keras dan mandiri." ucap nenek Ajeng .
Pak Sam menatap tajam ke arah Leonardo. "Leonardo! Ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus bertindak! Jangan biarkan cucu kita diperlakukan seperti sampah oleh orang-orang yang tidak tahu diri!"
Liana: "Sudah Ma, Pa. Nanti urusan Sasha dan kampus biar aku yang urus. Yang penting sekarang Dinda sudah aman di sini."
Dinda tersenyum tipis. "Iya Kek, Pa, Ma... Dinda sudah gak apa-apa kok. Sekarang Dinda ada kalian, jadi Dinda gak takut lagi."
Malam itu, makan malam berlangsung sangat hangat.
Semua hidangan kesukaan Dinda disajikan. Semua orang melayani Dinda dengan penuh perhatian. Dinda merasa seperti seorang putri raja yang sesungguhnya.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Dinda teringat sesuatu.
Dinda: " Om , Tante Dinda mau tanya dong. Gimana kabar Gio ? Dia baik-baik saja kan ?"
Pertanyaan itu membuat suasana sedikit hening.
" alhamdulillah, gio sehat, sayang . Dia sudah sekolah . Tahun depan sudah lulus sekolah. tadinya mau di luar negeri saja . Tapi , dia maksa kepingin sekolah disini ." ucap Amira .
Dinda mengangguk pelan. " alhamdulilah kalau sehat . Kenapa gak diajak kesini tan .?"
" gio bisa sayang , dia mau ketemuan sama temennya . nggak enak katanya kalau di batalin ." ujar Amira dengan senyuman ramahnya .
Mereka kebutuhan makan tenang ..rasa lega menyelimuti keluarga mereka . mereka kemudian berbicara sebentar di dalam ruang keluarga setelahnya pamit kekamar masing - masing . Sedangkan dinda diantarkan ke kamarnya yang dulu .
...----------------...