Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Sudah Siap
Bab 34
“Woi, kenapa sih bermuram durja begitu,” ujar Sesil mendapati Bela sejak tadi melamun. Mereka janjian di cafe tidak jauh dari tempat bekerja mereka. Leni yang baru datang langsung ke toilet setelah memesan makanan. Bela mengaduk minumannya seperti orang frustasi.
“perlu gue fotoin gak, tampang lo sekarang udah kayak orang depresi," ejek Rani. Tidak biasanya Bela mendadak kalem begitu
“Jahat,” gumam Bela.
“Kenapa sih, bokek. Ran, coba lo minjemin uang tuh si Bela. Kasihan lagi merantau di ibukota, takut mendadak harus pulang kampung,” ejek Sesil.
“Berapa, perlu berapa sih. Kalau masalahnya uang, ayo kita nangis bareng di pojokan. Lagian ya, elo kerja masa malah gue yang minjemin duit. Tau sendiri gue pengangguran, lagi nunggu CEO yang siap dipinang,” jelas Rani.
“Hah lega,” ujar Leni kembali dari toilet. “Duh nggak lengkap nih, nggak ada Gita. Lain kali kita ngumpulnya deket sama kampung sawah aja biar dia bisa ikutan.”
“Sekarang aja yuk, ke rumah Gita,” ajak Bela sumringah.
“Ck, gue curiga ini bocah ada masalah sama bebepnya,” seru Sesil dengan bersedekap dan senyum sinis.
“Ck, udah dong. Nggak usah bahas dia. Pusing gue.”
Pesanan Leni datang dan disambut dengan suka cita. “Maksudnya Mas dokter, emang udah dianggap bebeb sama lo." Leni sambil menyeruput minumannya.
Bela berdecak lalu mengeluarkan ponsel menunjukan foto hasil screenshot dari status Anji.
“Ini siapa yang nikahan? Mas Anji ya?" Leni menerima ponsel Bela yang dioper dari Sesil. Bela langsung menelungkupkan wajah di atas kedua tangan yang dilipat di atas meja. Leni terkekeh. “Oh, bukan mas Anji. Mas bule ya.” Geng itu menyebut Edward dengan sebutan Mas Bule, Asoka dengan istilah Mas kalem, Mas Anji dan Mas Rendi.
“Ya ampun ganteng banget ini si bule, ceweknya juga cantik. kok kayak adat jawa gitu ya,” ujar Rani. “Ini yang elo mau jelasin apanya? Elo patah hati karena si bule nikah. Ya ampun Bela, dari naksir Bang Rama, deket sama Mas Anji malah suka ke mas Bule.”
“Ish, bukan. Geser lagi, next picture.”
“Apaan sih?” Leni semakin penasaran.
Foto berikutnya adalah screenshoot status, di mana Anji bergaya dengan beskapnya lengkap dengan keris dan alas kaki model selop yang senada dengan warna beskap. Baik foto close up juga seluruh badan, dengan settingan tempat pesta serta pendopo yang membuat foto semakin estetik.
“Busyet ini Mas Anji, jadi model apa gimana, keren banget. Gue kaya dapat inspirasi buat jadi pelakor,” ejek Sesil. “Tapi janur kuning belum melengkung, nggak bisa disebut pelakor dong.”
“Gil4 lo." Rani dan Leni kembali terkekeh. “Apaan sih Bel, udah ngomong aja nggak usah main tebak-tebakan.”
Bela menegakkan tubuhnya masih dengan raut wajah malas dan memelas. “Gue kesel, dongkol. Gita bilang pernikahan itu di luar kota, karena istrinya mas bule orang jawa keturunan priyayi. Terus Mas Anji ikut ke sono, tapi nggak ada ngabarin gue. WA nggak, nelpon kagak. Tau-tau bikin status kayak gitu, senep perut gue.”
Rani berdecih sedangkan Sesil dan Leni saling tatap.
“Kalian bertengkar atau udah bubar?” tanya Leni kembali menyeruput minumannya.
Bela menggeleng ragu. “Ya hubungan kita emang gitu sih. Berdebat mulu, tapi ujungnya dia ngerengek-rengek. Tapi udah seminggu lebih dia nggak rewel. Nggak ada nyamperin ke kosan, nggak ngeramein hp gue.”
“Berantem?” tanya Sesil dan Bela menggeleng.
“Dia bilang mau ketemu orangtua gue, tapi gue ogah. Entar aja dulu, udah jelas kan dia mau ajak gue nikah atau mau serius. Gila aja, kerja baru beberapa bulan udah nikah terus … ah, entar dulu deh.”
“Jadi mas Anji silent setelah lo menolak nemuin orang tua lo? Pake bentak dan usir dia nggak?” cecar Leni.
“Itu … iya sih.”
“Fix, dia udah nyerah,” ujar Rani.
“Hm. Say good bye aja, berharap ada good day buat lo ketemu cowok baru,” ejek Sesil.
“Kok pada gitu sih,” keluh Bela. “Postingan hari ini lebih menyakitkan. Gue nggak sanggup untuk screenshot. Masih di acara pestanya mas Bule, Mas Anji foto sama cewek-cewek gitu. Kayak bridesmaid.”
“Gini nih nyebelin si Bela. Sok jual mahal, giliran dicuekin nangis bombay. Hati orang mana ada yang tahu Bel, bisa jadi Mas Anji capek, lelah sama sikap elo itu. Dari awal kalian mulai deket, nggak pernah gue denger lo sama dia romantis. Yang dibahas selalu lo ngeluhin dia,” tutur Rani menyinggung sikap Bela.
“ya gimana dong, kan belum yakin hati gue. Eh pas diginiin sakit.”
“Kalau sudah tiada baru terasa,” dendang Sesil.
“Karena kehadirannya sungguh berharga,” tambah Leni meneruskan berdendang lalu terbahak bersama. “Udah sih, tinggal lo wa aja nanti malam. Pura-pura beg0, nanya Mas Anji lagi di mana? Mas Bule nikah ya?”
“iya, dari pada stress sendiri. Tau-tau bang Rama ngabarin kita lo udah nyungsep di pojokan kosan.”
“Sesil Ih, kok gitu sih. Lo mah bukan sahabat gue.”
***
Anji tersenyum pembaruan statusnya cukup banyak, bahkan Rama berkomentar kalau dirinya narsis dan norak. Edward saja hanya memposting fotonya saat ijab qabul, ini pengiring malah lebih heboh.
“Gue cabut, udah pamit sama pengantin dan orang tuanya. Mau ikut!” ajak Asoka dan digelengi oleh Anji.
“Udah sana, pasti udah kangen si Lisa ‘kan? Gue mau ke situ, foto sama itu cewek -- sepupunya Cahaya. Cantik banget.”
“Ck, dasar labil. Si Bela gimana?”
“Paling kebakaran jenggot udah mengabaikan si Anji ganteng ini.” Asoka hanya bisa menghela nafas menyikapi sahabatnya itu.
Sedangkan di pelaminan, Edward mengulurkan tangan untuk Aya. Turun pelan-pelan dari undakan didampingi wanita berkebaya, sepertinya pekerja di rumah itu. sigap berada di sekitar Edward dan Aya selama pesta berlangsung.
“Pelan-pelan aja,” ucap Edward mengingat keduanya menggunakan pakaian adat Kanigaran. Pandangan Edward tidak lepas dari wajah Aya yang begitu cantik dengan paes agengnya.
Keduanya diizinkan untuk rehat lebih dulu, karena sejak tadi pagi Aya mengeluh sakit kepala. Semalam pun tidur lebih awal karena kondisi itu.
“Silahkan mas, ndoro ayu,” seru mbok yem membuka pintu kamar.
“Mbok, panggilkan MUA, biar cepat dibersihkan wajahnya.”
“Nggih, mas.”
“Om,” Rengek Aya memeluk Edward. Dengan pakaian itu mereka sulit mendekat dengan erat.
“Kenapa sayang?”
“Maaf ya, habis nikah malah sibuk urusin aku yang sakitan begini.”
“Mulutnya,” tegur Edward. “Kamu Cuma pusing bukan sakit. Gimana nggak pusing, dari kemarin rambut digulung-gulung gitu , ditusuk pake … apa ini namanya.”
“Semalam aku ketiduran, maaf."
"Santai Ay. Kita sudah menikah, masih banyak waktu. mungkin malam ini ," seru Edward sambil menaik turunkan alisnya. "Sudah siap 'kan?"
mau sold out semua , , , ues gk ada yg bujang lagi ini 🤣🤣🤣
siap2 tambah gk karu2an nanti obrolan di grup pria terkutuk 🤭🤭🤭
ini 5 orang klo kumpul ampun dah , kayak sekampung ramenyaaaa😂😂😂 apalagi Rama si mulut lemes kek emak2 , Anji si mulut ceplas ceplos 🤣🤣🤣
Ganteng dengan ciri khas masing2 , klo Anji gk pakek Ng kayak apa definisinya kak 🤭🤭🤭
Rendy mah tampang doang kelihatan kalem tp kelakuan ya kyak Rama sama Anji sama2 berisik 🤣🤣🤣
kan kan itu duo R udah langsung nyemplung aja ky gk pernah lihat kolam renang 😂😂😂
ayah bunda dah lah kawinin sekarang aja takutnya bujang lapuk gak kuat nahan😂😂