Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"hati-hati, inget abis ini langsung pulang," Raja kembali berpesan bahkan saat sang adik sudah berada di dalam mobil Bastian sepupunya.
Bastian adalah sepupunya Raja, mereka beda sekolah karena orang tua Bastian tidak mau kalau Bastian masuk ke sekolah Mawar Mekar.
Bastian adalah anak dari adik dari mendiang papanya Raja, kelaurga mereka juga kelaurga yang berkecukupan, namun mereka sebelumnya tingal di luar negeri.
Namun Bastian bersifat bandel dan susah di atur jauh dari sifat Raja yang begitu baik serta pintar dalam belajar, bisa di bilang ia itu berandalan.
"Bawel banget sih," ujar Bastian yang kemudian menutup kaca mobil nya.
Mereka segera menuju rumah sakit tempat Linus di rawat.
"Kurang hajar," geram Raja yang di tingal begitu saja.
Hari ini ada beberapa hal yang harus didiskusikan Raja kepada tim mereka, di saat Linus tidak ada dan kondisi tim juga sedang terpukul atas kegagalan pertandingan membuat Raja tidak bisa menemani Clara ke rumah sakit.
"Lo kok bisa jadi Adek tirinya Raja?" ujar Bastian mencoba untuk mencarikan suasana.
Clara merasa gugup, ia bahkan tidak berani menatap wajah Bastian yang sedang menatap dirinya.
"Bagaimana bisa maksudnya kak?" Clara tak mengerti apa yang di ucapkan Bastian barusan.
"Ya gimana bisa Raja bisa sepupu gue punya saudara tiri kayak Lo," Bastian tak lagi menatap Clara, ia fokus dengan kemudi mobil nya.
Mendengar itu Clara salah paham, ia berfikir kalau Bastian sedang mengatakan jika dirinya tidak pantas jadi adek tiri Raja.
"Aku juga gak tau, kan papa ku dan mama kak Raja menikah, lalu jadi deh aku adek tirinya kak Raja, dan aku juga penasaran, kok bisa kak Raja punya sepupu kayak kak Bastian?" Clara dengan polosnya menjawab namun ia juga kembali melontarkan pertanyaan kepada Bastian.
"Hah? Simpel banget sih, tapi maksud Lo nanya gitu apa? Emang nya gue gak terlihat berhak jadi sepupunya Raja?" marah Bastian tak terima.
"Ya terus, emang nya aku gak berhak jadi Adek tirinya kak Raja? Pakai banyak tanya banget,heran, muka kak Bastian itu loh berandalan banget," Clara sengaja berkata seperti itu karena ia juga kesal Bastian lah yang membuat Linus masuk rumah sakit.
Inilah Clara dia tidak akan mengunakan bahasa (gue) kepada orang yang lebih tua darinya, jika dia mengumandangkan bahasa gue itu tandanya ia sedang marah.
"Ni anak gak bisa di puji ya? Untung cantik kalau gak udah gue tendang dari mobil gue," batin Raja.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun segera tiba di rumah sakit tempat Linus di rawat.
Setelah memarkirkan mobil nya, Bastian dan Clara pun segera masuk ke dalam rumah sakit dan menghampiri front office di sana untuk mengetahui di mana letaknya kamar Linus.
Singkat cerita mereka pun kini tiba di ruang rawat Linus, bertepatan di saat itu seorang dokter ortopedi keluar dari kamar rawat tersebut.
"Dokter, apa benar ini ruang rawat Linus Caesar Pratama?" Clara menghadang dokter tersebut.
"Benar, apa kalian kelaurga pasien?" sang dokter mengangguk.
"Kami temennya dok, gimana kabar nya sekarang? Apa dia terluka serius, tangan nya patah?" crocos Clara tidak ada hentinya.
"Diam dulu bego," Bastian segera menutup mulut Clara yang baginya terlalu banyak tanya.
"Tidak ada yang patah, hanya terkilir saja, namun lumayan serius tangan nya tidak akan bisa di gunakan selama dua Minggu harus istirahat total sampai benar-benar sembuh, saya juga sudah memasang Arm Sling kepada tangan nya," jelas sang dokter kepada Clara dan Bastian.
Arm Sling, itu adalah alat gendongan tangan yang biasanya di gunakan oleh pasien yang tangan nya terluka,patah atau terkilir.
Itu di lakukan agar pasien yang terkilir tidak semabrangan mengerakkan tangan nya sebelum ia benar-benar sembuh.
"Dua Minggu dok? Beneran dua Minggu?" tutur Clara sedikit kaget karena dua Minggu cukup lama bagaimana Linus beraktivitas dengan tangan yang di pasang alat gendongan tangan selama itu.
"Iya dua Minggu, bahkan itu hanya prediksi saya, jika pasien tidak di rawat dan minuman obat dengan rutin bisa saja memakan waktu lebih lama untuk sembuh, sebulan bahkan dua bulan," jelas sang dokter.
Hal ini membuat Clara semakin merasa bersalah, demi menyelamatkan diri nya dari sebuah bola Linus jadi tidak bisa mengunakan tangan kanannya dalam waktu yang lama.
"Kita boleh masuk kedalam kan dok?" Clara semakin merasa bersalah saat ini.
Ia seolah melupakan bagaimana kebencian dan perselisihan nya dengan Linus saat ini.
"Silahkan, saya akan membuat resep obat untuk pasien, dan karena kalian temannya, tolong hubungi orang tua pasien, dia tidak perlu rawat inap bisa langsung pulang sore ini," jelas sang dokter lagi.
"Baik dokter," jawab Bastian.
Sementara itu Clara sudah lebih dahulu masuk kedalam ruang rawat Linus, melihat Linus yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, Clara jadi semakin tidak tega.
"Clara, ngapain Lo ke sini?" ujar nya, Linus masih marah soal jam yang di rusak Clara kemarin.
Belum sempat Clara menjawab, Bastian juga datang ke ruang rawat tersebut sambil menatap Linus dengan tatapan datar."Masih untung ni anak mau ngejenguk Lo,"
"Bastian, ngapain Lo ke sini? Kalian ke sini berdua?" Linus terlihat semakin kesal saat melihat Bastian juga menjenguk nya.
"Gue di suruh Raja buat nganterin bocil ini," ia menunjuk Clara.
"Gue bukan bocil, dan kak Raja gak nyuruh,Lo sendiri yang ke mau ke sini bareng gue," bantah Clara.
"Udah diem, gue gak butuh di jenguk siapapun, sekarang juga kalian berdua pergi dari sini," Linus menujuk pintu keluar dengan tangan kirinya.
Clara merasa sedih, ia tidak tau harus mulai bicara dengan Linus, rasanya cukup gugup bahkan tidak segugup saat di mobil bersama Bastian yang kalau bicara blak-blakan.
"Yaudah Clara, sekarang mendingan kita pergi dari sini, yang penting kita udah kelihatan muka sama dia, ni orang dari dulu sampai sekarang gak bakal bisa bilang makasih, heran kok Raja mau aja jadi temannya," umpat Bastian yang kemudian mengengam pergelangan tangan Clara hendak mengajak nya keluar dari sana.
Linus dan Bastian memang saling kenal karena beberapa kali mereka sempat ngumpul bareng ketika Raja dan Bastian bertemu Raja selalu bersama dengan Linus, karena itu Bastian mengenali Linus sebagai sahabat sepupunya, Raja.
Sementara itu Linus tidak menyangka kalau hari ini ketua tim basket Sekar Harum adalah Bastian, seorang Bastian yang memang benar-benar ahli dalam bermain basket sulit bagi Linus untuk mengalahkan skil basket nya yang luar biasa.
Tempo hari setahu Linus, Bastian bersekolah di luar negeri karena kedua orang tuanya yang berbisnis di luar negri, namun entah apa yang terjadi kali ini ia kembali malah jadi ketua tim basket di SMA Sekar Harum, rasanya ingin sekali Linus bertanya semua itu kepada Raja sekarang juga untuk melepaskan rasa penasaran nya.
Ting ...
Suara pesan masuk ke ponsel Linus, Linus yang melihat itu segera meraih nya dan kemudian membaca isi pesan tersebut yang ternyata dari Della.
Setelah membaca pesan dari Della, ia tersenyum tipis, entah apa isi pesan tersebut namun itu jadi rahasia author saja lah.
"Clara tunggu apa lagi ayo!" Bastian sedari tadi menarik Clara untuk pergi dari ruang rawat tersebut namun Clara hanya diam mematung dan tidak mau mengikuti nya.
"Clara Lo temenin gue, Bastian Lo balik aja," ungkap nya Linus tiba-tiba.
"Hah? Enak aja gak bisa? Entar Raja bisa makan gue!" bantah Bastian dan ia masih memegang erat pergelangan tangan Clara.
"Clara Lo tau sendiri gue kayak gini karena siapa?" Linus mulai meringis menatap tangan kanan nya yang terluka.
"Kak, aku di sini aja dulu nemenin dia, aku gak mau di salahin satu sekolah, sebaiknya kak Bastian pulang duluan, soal kak Raja aku bisa telfon dia buat ijin," Clara melepaskan tangan Bastian dari pergelangan tangan nya dengan lembut.
Bastian yang melihat itu tidak bisa berkata apa-apa, jujur ia khawatir kalau Raja akan marah namun melihat wajah sedih Clara dia juga tidak tega, apalagi dirinya bukan siapa-siapa nya Clara ia merasa tidak berhak untuk memaksa gadis itu untuk pulang dengan nya.
"Oke, kalau gitu, nanti Lo harus telpon Raja dan jelasin,"
Clara mengganguk sambil tersenyum lega, akhirnya Bastian membiarkan nya menemani Linus.
Setelah mendapat anggukan dari Clara, Bastian juga segera keluar dari sana, ia merasa kalau ada sesuatu di antara Clara dan Linus, ini bukan urusan nya dan ia sebaiknya minggat saja.
Suasana menjadi hening seketika setelah kepergian Bastian, Clara berjalan mendekati ranjang Linus.
"Lo gak apa-apa kan? Sebelumnya gue ke sini cuma mau minta maaf sama terima kasih karena Lo udah nolongin gue," ujar Clara tampa menatap wajah Linus.
"Gue gak butuh terima kasih Lo, gue juga gak butuh permintaan maaf dari Lo," jawab Linus menatap Clara dengan tatapan tajam.
Clara mengerutkan keningnya,ia kemudian mulai menatap wajah Linus yang menurut nya selalu menjadi laki-laki paling tampan di sekolah namun sikapnya tidak setampan wajahnya.
"Terus Lo maunya apa? Masih untung gue mau datang ke sini bilang makasih terus minta maaf, padahal ini bukan salah gue, Lo sendiri yang ngelakuin itu buat gue, kan gue gak minta," seketika umpatan kekesalan itu tiba, hati Clara yang awalnya sudah lunak kini kembali membantu.
"Astaga, jadi Lo gak ikhlas?" balas Linus hendak bangkit dari posisi nya yang berbaring.
"Bukan nya Lo yang gak ikhlas ya?" Di dalam marahnya itu, Clara membantu Linus untuk merubah posisi jadi bersandar.
Linus yang mendapat kan bantuan mulai memikirkan hal-hal lain di dalam otaknya terbayang di benaknya kalau Clara akan bertanggung jawab dengan merawatnya sampai sembuh.
"Gue gak salah denger kan? Kok jadi gue yang gak ikhlas sih? Padahal gue belum minta Lo buat bayarin biaya rumah sakit loh," ucap Linus.
"Abisnya gue bilang makasih Lo gak mau gue bilang maaf juga Lo gak mau, terus namanya apa kalau bukan gak ikhlas nolongin?" balas Clara, bukan nya bicara baik-baik mereka malah bertengkar di dalam ruang rawat itu.
"Itu karena gue udah nolongin lo, apa Lo pikir makasih sama maaf aja cukup? Gak cukup karena pertandingan nya gagal, masa Lo gak punya rasa bersalah sedikitpun?" Keduanya kini malah adu mulut.
Clara pun mulai lelah untuk menjawab pertanyaan Linus, jujur dia memang merasa bersalah, namun baginya maaf dan terima kasih saja sudah cukup.
"Yaudah, sekarang mau Lo apa? Gue harus apa buat nebus semuanya?" Clara mengalah karena tidak ingin bertengkar terus di dalam ruangan yang seharusnya tidak boleh bertengkar.
"Nah gitu kek dari tadi, gue mau Lo rawat gue sampai sembuh, pokoknya gue mau itu aja sebagai tanda terima kasih Lo ke gue," pinta Linus sambil sesekali memasang wajah iba dan melihat tangan nya yang memakai Arm Sling.
Clara seketika tercengang mendengar permintaan Linus, barusan dokter mengatakan kalau Linus butuh waktu dua Minggu untuk sembuh dari terkilir nya. Bahkan bisa dua bulan jika tidak minum obat teratur atau terlalu banyak melakukan pergerakan.
"Kenapa kaget? Jangan bilang Lo gak mau," sambung Linus lagi.
"Ya iyalah gue gak mau, Lo pikir dua Minggu itu sebentar? Barusan dokter bilang Lo bakal sembuh dalam waktu dua Minggu, gue gak mau," tolak Clara dengan sungguh-sungguh.
"Oke, kalau gitu, gue gak ada yang ngerawat bisa-bisa dua bulan gak bakal sembuh ini tangan, tadinya kalau Lo mau pasti bakal lebih cepat dari dua Minggu ini tangan bakal sembuh," lirih Linus dengan wajah yang sengaja di buat-buat seperti orang sedih.
"Apa? Gak mungkin lah, mama papa Lo kan kaya, gak mungkin gak bisa nyewa perawat buat Lo," jawab Clara sambil melipat tangannya ke bawah dada.
"Mama papa gue tadi pagi berangkat ke Italia, dan gak bakal pulang dalam jangka waktu sebulan, mereka ngurusin bisnis keluarga yang ada di sana," jelas Linus. Kali ini ia tidak berbohong.
Semua tau kalau author mengatakan bagaimana Linus yang kaya namun kekurangan perhatian orang tua di awal-awal cerita, kedua orang tuanya hanya mementingkan pekerjaan dan uang.
Sejujurnya Clara benar-benar tidak mau menerima permintaan Linus mengingat bagaimana hubungan dan rasa benci oleh kejadian masa lalunya dengan Linus, namun ia juga tidak mau di cap sebagai orang yang tidak tau terima kasih, bisa-bisa nama nya kembali buruk di sekolah.
"Huh, gimna ngomong nya sama kak Raja? Gimana sih gue jadi bingung, gimana bisa gue jadi perawat cowok yang jelas-jelas pernah ngehina gue dan bikin gue jadi kayak gini?" Batin Clara tersiksa akan pikiran nya sendiri.
"Yaudah kalau Lo gak mau, sebaiknya Lo pergi aja dari sini," Linus kembali bertingkah.
"Diam Lo, tunggu di sini ntar gue datang lagi," Clara benar-benar pergi dari ruang rawat Linus, namun ia mengatakan akan kembali lagi.
"Tu anak ya, padahal gue ngerep dia jawab iya, eh malah minggat,"
Linus yang kesal mengepalkan tangannya berfikir kalau Clara meninggalkan nya dengan alasan akan kembali lagi.
Bersambung ....