NovelToon NovelToon
Become Mafia Family

Become Mafia Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Teen
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nanastar

Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!

Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu

Tak terasa, waktu berlalu dengan cepat. Kini Lily sudah melupakan hal yang utama dalam misi hidupnya saat itu, yaitu pergi menjauh. Kebersamaannya dengan Zevan semakin erat setelah beberapa bulan. Ya, Lily juga kadang tak mengerti mengapa hari-hari bisa mengubahnya. Ia merasa aman ketika didekat Zevan.

"Kak Zevan! Ayooo dong!!" Lily menarik-narik tangannya yang sedang bermain ponsel. Zevan lantas menatapnya datar.

"Katanya mau ngajarin main sepeda? Ayoo cepet!" Tak tanggung-tanggung Lily menyeretnya paksa keluar rumah.

"Gak kapok kemarin udah nyungsep? Ke selokan lagi sampe kepalanya banyak lumpur" Ejeknya dengan wajah malas. Gadis ini sesuka hatinya sekali dan sulit untuk diberi nasihat. Namun sekarang Zevan tak lagi membencinya, namun menyukainya.

"Ck! Itu kan kemaren! Sekarang aku pasti bisa! Ayok buruan! Aku pengen jadi pembalap terhebat sepeda! Haha!" Lily berpose tengah mengendarai sepeda motor. Zevan masih menatapnya malas. Lalu tangannya menjitak enak kepala sang empu.

"Itu motor bego!" Ujarnya lalu hendak mengeluarkan sepeda dari garasi mobil.

"Iya kan... Sama aja! Sepeda sama dengan sepeda motor! Huuu!" Lily mendelik sebal sembari mengusap-usap kepalanya karena terasa sedikit sakit kena jitak.

"Logika dari mana itu"

"Aku lah! Sana kak Zevan pergi! Biar aku sendiri aja!" Tepisnya pada tubuh Zevan yang berada di sepedanya.

"Ya udah" Zevan pun turun dan hendak masuk kedalam rumah.

"Eh eh! Liatin dong! Kalo aku jatoh siapa yang mau nolongin?" Panggilnya ketika ia mulai mengayuh sepedanya.

"Semut" Jawabnya lalu pergi begitu saja.

"Ih nyebelin banget jadi orang! Ya udah! Fine oke!" Lily pun dengan kesal mulai mengayuh sepedanya. Ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang terasa meliuk-liuk kesamping kanan dan kiri secara bergantian.

"Buah apa yang paling manis? Buahlil..... Eh kok malah nyanyi tik tok?" Gumamnya pelan sembari mengayuh goesan sepeda bergantian. Lily ingin bisa mengendarai motor, dan untuk latihan pertamanya, harus bisa sepeda dulu. Siapa tau aja ntar didunia novel ini ada zombienya kan? Nanti Lily bisa pake motor siapa aja buat kabur. Begitulah pikirnya.

Tak terasa, kini Lily mulai terbiasa menyeimbangkan tubuhnya saat bersepeda. Tak lagi sempoyongan kesamping.

"Yeeeay!! Hampir bisa!" Girangnya dengan terus mengayuh semangat. Hingga tiba-tiba, sebuah motor melaju menerobos perumahan itu dengan cepat.

"OI BERHENTI!!" Teriak satpam itu pada sang pengendara motor. Lily yang menyadari ada keributan dibelakangnya pun hendak memberhentikan sepedanya. Tapi apa boleh buat, Lily yang masih noob bersepeda itu malah harus terserempet motor yang melaju dengan kencang dijalan.

Bruakk!!

Sekali lagi Lily hampir nyungsep ke selokan karena ia tak mampu menahan keseimbangan tubuhnya.

"Huwaaaa!!! Kak Zevan!! Tolongin aku!!" Teriaknya yang tidak bisa bangun karena setengah tubuhnya hampir jatuh keselokan. Kaki kirinya terhimpit oleh sepeda dan kaki kanannya diatas sepeda. Membuatnya tak bisa berdiri. Untunglah ada satpam tadi yang mengejar sang pengendara motor sialan itu.

"Aduh neng! Ya ampun sampe mau nyungsep gitu sini bapak bantuin!" Ujarnya yang merasa kasihan melihat kondisi Lily.

"Biarin aja pak!" Tiba-tiba Zevan ada dibelakang mereka berdua.

"Tapi..."

"Bapak kejar aja orang itu. Cari tau juga kenapa dia bisa lewat menyusup kesini" Tambahnya lagi.

"Kak! Bantuin ih!" Sahut Lily dengan wajah memerah menahan tangisnya.

"Salah sendiri" Tukas Zevan dengan tatapan yang masih malas. Ia sengaja sedikit memberi pelajaran pada gadis itu.

"Udah pak dia biar saya yang urus" Risinya ketika pak satpam masih berdiam menyaksikan mereka. Satpam itu pun mau tak mau harus pergi untuk mengejar sang pengendara motor aneh.

"Kak Zevan jahat!" Lily mulai mencebikan bibirnya seperti anak kecil yang sedang menahan tangisnya.

"Nangis teros! Cengeng!" Zevan masih membiarkanya.

"Hmmm...." Lily mulai mengeluarkan jurus andalannya.

"Kapok gak?!"

"Enggak..." Jawab Lily dengan masih mencebikan bibirnya kebawah.

"Ya udah" Zevan pun berdiri dan hendak meninggalkanya.

"Kapok kapok! Kak Zevan tolong lah plise!" Lily mengedip-ngedipkan kedua matanya memohon. Kalo sudah begini Zevan sih cuman bisa ngalah. Ngga bisa ngambek lama-lama dia tuh kalo sama Lily.

"Dari tadi kek! Untung aku gak kena air selokan fiuh!" Ia menghela nafasnya lega sedangkan Zevan menatapnya kesal.

"Dah dibilangin juga" Ketusnya lalu membawa sepeda itu.

"Kak Zevan tunggu! Eh aduh! Ssshh" Lily meringis sakit ketika hendak melangkahkan kakinya. Kenapa pergelangan kakinya terasa sakit ketika dipijakan ketanah?

"Kenapa lagi?" Zevan menoleh padanya dengan wajah semakin malas.

"Gak gak! Kak Zevan duluan aja! Suh suh!" Lily mengibas-ngibaskan tanganya menyuruh Zevan pergi. Namun, Zevan yang tau kalo Lily terkilir pun menghampirinya. Ia memakirkan sepedanya ditepi jalan.

"Nah kan apa? Nyusahin!" Bentaknya pelan pada Lily yang mematung.

"Ya maaf" Jawab Lily seadanya.

"Mana yang sakit?" Tanyanya seraya berjongkok didepan kakinya. Lily pun hanya menggerakkan kaki kirinya.

"Ini? Bentar ya" Dengan tanpa hari Zevan menggerakkannya membuat Lily menjerit sakit.

"Awh!!! Iiii udah udah! Kak Zevan gak bisa ngurut kan!" Lily langsung menjauhkan kaki kirinya. Ia menatap nyalang Zevan.

Zevan mendongkak menatap wajah Lily yang terlihat kesal. Ia pun tersenyum penuh kemenangan.

"Masih belum kapok?" Tanyanya kemudian berdiri dihadapan Lily. Gadis itu dibuat gelagapan karena Zevan terlalu dekat dengan dirinya.

"Huh!" Lily pun mengibaskan rambutnya kewajah Zevan lalu berusaha untuk menjauh darinya. Ia menyeret kakinya walaupun terasa menyakitkan sekali.

"Makanya, denger apa kata orang yang lebih tua" Tutur Zevan lalu berjalan mendahuluinya.

"Emang kak Zevan udah tua ya?" Tanyanya dengan nada suara agak mengejek.

"Kak Zevan ih!" Rengeknya ketika ia sudah ditinggal jauh. Tega sekali. Pikir Lily sebal. Lalu terlihat Zevan memasuki mobilnya dan memasukan sepedanya ke bagasi. Kenapa ya?

"Ayok naik!" Titahnya berhenti disamping jalan membuat Lily menyergit heran.

"Mau kemana?" Tanyanya cengo.

"Masuk aja cepet!" Titahnya lagi yang langsung saja membuat Lily masuk dengan cemberut.

"Kalo ditanya tuh jawab kek!" Sindirnya ketika didalam mobil.

"Mau jual sepeda" Jawab Zevan membuat gadis itu terkejut bukan main. Apa katanya? Jual sepeda?!

"Gak gak! Gak boleh kak! Itu kan hadiah dari papa buat aku karena udah lulus SMA cepet kak! Huhuhu masa kak Zevan tega sih humh!!" Lily terus-menerus merengek seperti anak kecil. Bahkan tangannya tidak diam.

"Sepeda itu udah buat kaki lo sakit! Gak boleh disimpen!"

Lily mencebikan bibirnya lagi kebawah. Ia tak rela jika sepedanya benar-benar akan dijual.

"Hm... Rafael! Kak Zevan jahat mau jual kamu!" Rengeknya tak berhenti.

"Siapa Rafael?" Tanya Zevan dengan tatapan tajam.

"Sepeda itu namanya Rafael" Jawabnya dengan pelan.

"Kenapa harus cowok? Kenapa gak Friska aja biar sama-sama cewek?"

"Suka-suka aku lah!" Ia memalingkan wajahnya ke jendela mobil.

"Gue gak suka!"

"Tapi aku Suka!"

Ceekiiikk!!

Zevan mengerem dadakan mobilnya membuat kepala Lily terantuk.

"Pelanggaran lalu lintas" Lily menoleh cepat menatap nyalang Zevan yang ternyata tengah menatapnya juga dengan tajam.

"Iya iya ampun kak! Ampun!" Lily menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.

"Jangan dulu dekat dengan laki-laki" Ucap Zevan dengan pelan. Kini ia terlihat murung. Ada dengan orang itu sebenarnya? Lily malah bingung sendiri melihatnya. Lalu secara tak sengaja, pandangannya teralihkan pada dua orang yang berada disamping mobilnya yang saat itu lewat.

Lily tak salah lihat. Mereka adalah Austin dan...

'Kak Seyra?' Batinnya yang merasa heran kenapa mereka berdua bisa bersama. Apa ada hubungan diantara mereka? Beberapa bulan yang lalu bukannya ia bersama perempuan yang waktu itu di bioskop?

"Denger gak?" Tanya Zevan menyadarkan lamunannya.

"Eh iya kak!" Sahutnya asal. Zevan pun hanya membuang nafasnya pasrah lalu mulai menghidupkan kembali mobilnya.

"Kita ke tukang urut, buat ngebenerin kaki lo" Ujarnya dengan datar. Lily hanya manggut-manggut saja karena sedang memikirkan Austin. Rasanya ia sudah sangat lama tidak bertemu dengan pemuda itu. Apa Austin juga masih mengingatnya? 

"Ah mikir apa sih aku!" Monolognya dengan menepuk pelan jidatnya sendiri.

"Turun" Titah Zevan tiba-tiba.

"Udah sampe?" Tanya Lily.

"Liat tuh! Baca! Makanya buka matanya! Hidung aja yang di lebarin" Tukasnya lagi sambil mematikan mesin mobilnya dengan wajah yang menyebalkan bagi Lily.

"Uuu kalo gak ikhlas gak usah nganterin!" Balas Lily dengan tak kalah menyebalkan.

"Aku mau ke supermarket dulu beli minum. Inget ya, di urutnya sama mbak-mbak! Jangan bapak-bapak!" Pesan Zevan yang membuat Lily agak muak.

"Napa sih!"

"Gue laki-laki, dan gue faham betul apa itu laki-laki!"

"Aku juga faham!" Balasnya tak mau kalah.

"Lo gak faham! Udah sana keluar!" Usir Zevan yang tak mau berdebat lama.

"Faham!" Lily tak mau kalah. Mendengar itu Zeban mendekati wajah Lily yang seakan menantangnya. 

Cup

Satu kecupan manis kembali mendarat di bibirnya membuat ingatannya ditahun yang lalu teringat kembali. Ia mematung sebelum akhirnya melepaskan tali sabuk mobilnya. 

"Faham sekarang?" Zevan menatapnya dalam membuat Lily tak bisa menjawab apapun lagi. Lily benci sentuhan yang tak di inginkannya. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri yang seolah sudah tidak suci lagi. 

"Jangan takut gitu. Gue sedih liatnya. Gue cuma gak suka liat lo deket sama orang lain... Gue cemburu..." Ucapnya dengan menghela nafas pelan. Ia tau betul bahwa ada yang aneh dengan hatinya. Tak seharusnya ia mempunyai perasaan tak wajar itu. Namun, Lily bukan adik kandungnya. Mereka bahkan tak bersaudara baik seibu ataupun seayah. Mereka sebenarnya adalah orang lain, dan Zevan tak pernah sekalipun menganggapnya sebagai saudara. 

"Awas kalo ketahuan genit!" Ancamnya seperti biasa. Lily hanya mengangguk sekali dengan raut wajah yang tak dapat Zevan fahami. Gadis itu terlihat murung lagi. Setidak suka itukah dirinya padanya?

"Lo gak suka... Gue sentuh?" Tanyanya yang membuat Lily masih terdiam. Tak lama ia pun hendak keluar dari mobil, namun Zevan mengunci pintu mobil tersebut hingga ia tak bisa membukanya.

"Kenapa? Gak bisa di buka ya? Tadi aja lo berani sama gue. Kenapa sekarang ciut?" Ejeknya sembali terus menatap tingkah gadis itu yang terlihat gelagapan. Entah kenapa di mata Zevan gadis itu terlihat sangat menggemaskan.

"Kak.... Aku mau... Keluar" Ucapnya dengan ragu. Ia takut Zevan akan berbuat macam-macam lagi padanya seperti waktu itu. Padahal ia telah mulai melupakannya, namun Zevan malah mengingatkannya kembali pada luka yang belum terlalu sembuh itu.

"Kenapa? Kenapa lo gak ngungkit kejadian malam itu? Lo suka?" Tanyanya membuat Lily kesal. Bukannya ia tak mau mengungkitnya, hanya saja ia tak ingin hubungan mereka jadi canggung jika mengungkit hal itu. 

"Atau lo gak nganggep gue? Jawab gue Li, gue gak suka di abaikan" Ucapnya sambil mendekat. Ia mencoba melihat wajah Lily yang sedari tadi melihat kebawah. 

Lily tersentak tatkala Zevan mendekat dan merasakan kedua tangan kekar melingkar di pinggangnya. Ia merasa geli dan tidak menyukai sentuhan itu. Namun tubuhnya tiba-tiba terkunci untuk bergerak.

"Li, makin lo ngejauh, makin gue ngejar li" Katanya sambil menaikan tangan kanannya pelan menuju leher sang gadis lalu semakin naik menyentuh pipinya. Tanpa aba-aba ia membalikkan wajah gadis itu hingga ia menatap tepat ke arah wajahnya.

"Awh!" Ringisnya ketika cengkraman tangan Zevan mulai terasa erat di pipinya. Ia menatap Zevan seolah memohon untuk di lepas. 

Namun bukannya melepaskan, Zevan malah mendekatkan wajahnya dan melumat bibir gadis itu untuk beberapa saat. Menikmati sesuatu yang selalu ia dambakan akhir-akhir ini. Sebenarnya ia sedang mencoba menahan sesuatu yang menuntut lebih dari ini. Tetapi ia tidak ingin menyakiti Lily, jadi sebentar saja ijinkan dia untuk melakukan hal ini yang sedikit mengobati keresahan dihatinya bahwa mereka berdua mungkin dapat bersama.

"Uhmmm...." Sang gadis mencoba menjauhkan tubuh pemuda itu namun tenaganya sia-sia karena tenaga pemuda itu lebih besar darinya. Tangan gadis itu dicengkram kuat membuatnya tak berdaya. Semakin gadis itu mendorong tubuh sang pemuda menjauh, semakin dekat tubuh mereka berdua. 

BERSAMBUNG

1
Rubi Saruby.
aku paham sekarang . kak ada kata kata yang typo seperti "lestoran"
nanastar: wahh iyaaa terimakasii koreksinyaa😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!