NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

7] Calon Istri Albiru?

Angkutan hanya sampai simpang tiga, sedang rumahnya masuk ke dalam lagi.

Karena itu Langit mesti berjalan kaki sejauh 300 meter ke dalam untuk sampai ke rumah.

Perjalanan menuju rumahnya melewati jalanan yang di kanan kirinya berada pohon tinggi berdaun lebat hingga daun di atasnya saling terpaut dan membuat jalan teduh. Ia jadi tidak perlu berpanas-panasan karena banyaknya pepohonan juga membuat udara jadi cukup sejuk.

Tapi suasana hati gadis berseragam itu tidak bersahabat. Wajahnya murung. Kaki yang dibalut sepatu Merk Homyped itu menendang-nendang angin dengan kakinya.

Sejak melihat Albiru bersama wanita tadi, ia jadi mendadak pendiam. Langit tidak menyapa. Tapi hanya melirik lalu pura-pura sibuk ngomong sama Bumi. Dia patah hati begitu tahu pria yang dia kejar itu tengah dekat dengan orang lain.

Apalagi sebelumnya ucapan Bumi makin buat di overthinking. Gimana coba itu benar

Pacar Albiru?

Gimana sama dia dong?

"Kak Biru jahat banget sama Langit," monolognya cemberut. Lagi pula bisa-bisanya dia melihat langsung. Ah Langit lupa rumah sakit tempat kerja Biru dekat kafe tadi.

"Iya juga ya kata Bumi. Lagian mana mau kak Biru sama gue. Nakal, gak pinter, punya hobi ya cuman jahil, masa depan gak jelas, cantikkan kakak tadi pula. Gue mah apa. Sebutir debu."

"Tapi enggak juga kok. Gini gini gue bisa masak. Pinter lagi. Suara juga bagus. Masih bisa lah dibanggakan dikit. Walaupun bego kalau belajar.

Dibanding kakak dokter tadi. Dia pasti gak sempat masak. Lagipula dari lidah bisa naik ke hati." Ia memberi anggukan menyemangati diri.

"Gue gak boleh patah semangat. Kalau kata orang. Selagi belum nikah, berarti belum tentu jodoh." Tangannya bergerak semangat. Beruntungnya jalanan sepi. Kalau tidak dia pasti ditatap aneh karena ngomong sendiri.

Usai berbicara sendiri seperti itu, Langit menemukan kepercayaan dirinya kembali.

Senyumnya kembali terbit. Ia melangkah semangat.

"Eh mobil kak Biru."

Mobil yang baru saja melaju melewatinya membuatnya berlari hingga terengah saat Biru sudah membuka gerbangnya. Pria itu menatapnya dengan sebelah alis naik.

"Ehe hai Kak Biru."

"Hm."

"Ternyata Kak Biru udah mau pulang juga." Ia melirik Biru yang kembali ke mobilnya, akan masuk kembali. Langit sontak menahan pintu itu saat akan dibuka. Ia memberikan cengiran.

"Apa?"

Netranya menatap lekat wajah tampan langit yang terpahat sempurna. Mata yang kecil, alis panjang tebal, hidung mancung, bibir kecil. "Kak Biru ganteng banget," pujinya terang-terangan.

Biru memutar bola matanya. "Ck. Minggir. Saya mau masukkan mobil." Biru hendak menarik pintu mobilnya walau Langit masih menghalangi.

"Eh tunggu, Langit boleh nanya?"

"Enggak."

"Yang tadi pacar kak Biru?"

Dahi Biru mengernyit. "Gak"

"Tunangan?"

"Gak."

"Apa calon istri?'

"Ck. Dia rekan kerja saya. Minggir."

Senyum Langit sempurna terbit. "Alhamdulillah. Langit gak jadi patah hati." Ia menyentuh dadanya senang.

"Tadi Langit kaget lihatnya. Langit cemburu tahu Kak Biru. Tapi sekarang enggak."

"Mending kamu masuk sana," Biru mengusir. Jadi jengah, tapi Langit masih betah.

"Kalau yang sama Langit tadi itu Bumi. Dia juga bukan pacar kok. Bumi itu musuh Langit. Dia nyebelin banget kak Biru." Langit menjelaskan. Entah kenapa ia merasa perlu bilang walaupun Biru tidak juga bertanya.

"Gak nanya."

"Gak apa-apa. Langit khwatir Kak Biru

Cemburu." Ia mengedipkan matanya. Biru hanya menatap datar.

"Kamu mau minggir apa gak?"

"Iya mau minggir kok. Tapi Kak Biru."

"Apalagi Langit?"

"Kak Biru suka cewek yang gimana?"

"Yang jelas bukan kayak kamu."

Langit cemberut.

"Sudah, masuk sana." Ia menarik pintu mobilnya pelan, Langit bergeser.

"Masuk ke rumah kak Biru?"

Mata Albiru melotot. Langit tertawa. "Canda Kak Biru."

"Udah Ashar. Sholat sana."

"Cie sayang banget sama Langit sampai diingatin sholat. Jadi pengen deh kapan-kapan diimami kak Biru."

"Iya dalam mimpi," lanjut Biru.

Langit terkekeh. "Kak Biru ikut Langit aja yuk?"

"Ikut?"

"Ke rumah Langit. Minta restu papa mama

Nikahi Langit. Abis gak kuat lagi."

Biru berdecak. Langit memang sangat blak-blakan. Tidak dihiraukan, dia masuk ke dalam mobil mengabaikan Langit yang kini cemberut.

"Kak Biru mah gitu. Belum selesai ngomongnya."

"Pulang," titah Biru membawa mobilnya masuk gerbang. Langit masih bergeming di posisinya. Setelah Biru turun kembali dan akan menutup gerbang, Langit mendekat.

"Langit siap kapan aja kalau mau dinikahin kok."

Biru tidak menjawab. Ia menutup gerbang rapat dan berbalik badan.

"Kak Biru selamat istirahat."

"Jangan lupa makan ya Kak."

"Doain Langit jadi jodohnya. Langit doakan juga kok Kak Biru jodoh Langit." Tangannya melambai-lambai saat Biru menutup pintu rumah.

Ia kemudian mundur dan tersenyum. Tadi batal beli hadiah karena cemburu, ya udah gantinya besok aja.

***

Pagi ini. Baik Bumi maupun Langit di kediaman masing-masing, sama-sama tengah terburu bersiap agar tidak saling kedahuluan. Keduanya yang hendak datang lebih cepat malah sama-sama hampir telat.

Langit yang telat karena ia malah tidur di atas sajadah usia subuh dan Bumi yang udah dua kali ke kamar mandi efek sakit perut.

"Maa kaus kaki Langit di mana?" Di dalam kamar bernuansa warna putih abu itu, Qanita Langit Zoe kalang kabut mencari kaus kakinya. Dia sampai melempar selimut dan bantal ke lantai. Kamar perempuan itu tampak sangat berantakan.

Langit mencari hingga ke sudut kamar. Ia buka juga tasnya dan mengeluarkan isinya. Mungkin saja nyempil. Lemari baju juga dia buka. Bawah meja belajar juga sudah dia cari, tapi raib.

"Aduh kaus kaki gue di mana sih?"

Kemarin sampai kamar dia buka gitu aja. Lupa taruh di mana. Tapi seingatnya ia letakkan di lantai dekat dipan kasur.

"Maaa kaus kaki Langit gak adaa!" Kamar Langit ada di lantai dua. Tapi teriakannya

Sampai ke meja makan di mana keluarganya sudah mulai sarapan.

Orlin yang tengah menyiapkan sarapan Gara Gea menghela nafas. "Gara Gea bisa sendiri kan Sayang?"

"Bisa kok, Ma." Keduanya kompak memberi anggukan. Orlin hendak mau naik ke kamar putri pertamanya.

"Duduk aja Sayang. Biar Mas yang bantu Langit cari kaus kaki." Ezhar yang tengah menyeduh berdiri.

Orlin mengangguk. "Iya Mas. Coba di bawah tempat tidur. Kalau gak ketemu di laci lemari Langit paling bawah masih banyak kaus kaki bersih yang habis di cuci."

Ezhar melangkah menaiki tangga menuju kamar Langit. Baru berdiri depan pintu, sudah dihadiahi kamar yang seperti kapal pecah.

"Ya Allah Langit."

Si empunya yang tengah menengok ke bawah kasur sontak berdiri. "Pa bantuin cari kaus kaki Langit."

"Kakak taruh di mana kemarin?" Ezhar masuk dan bantu mencari.

Tangan Langit menunjuk dekat kasurnya.

Di sini. Tapi udah enggak ada Papa."

"Bawah kasur gak ada?"

"Enggak."

"Lain kali taruh di tempatnya sayang." Ezhar tidak habis pikir. Langit itu udah berkali-kali dibilangin, jawabnya iya. Tapi tidak dikerjakan.

Bola mata pria itu jatuh ke dekat tempat sampah warna abu-abu bergambar kepala kucing. Ia menggeser tempat sampah berbentuk bulat itu dan menemukan kaus kaki yang di cari putrinya di sina.

"Kenapa bisa sampai sini?" Ezhar mengangkatnya.

"Loh kok bisa nyelip ya Pa?" Ia menerimanya seraya meringis. "Kayaknya kaus kakinya punya kaki Papa. Benar deh. Langit naruh di sana kemarin."

"Besok-besok taruh di lemari." Tekannya sekali lagi. "Bersihkan kamarnya. Pakai kaus kakinya. Papa tunggu makan di bawah."

"Tapi Langit udah telat Papa."

"Ya sudah biar papa bereskan. Cepat makan sana." Ezhar menghela nafas.

Langit tersenyum lebar dengan anggukan. Dia lekas pakai kaus kakinya. Mengambil tasnya lalu turun ke bawah setelah mencium pipi Ezhar.

"Nanti Langit berubah kok. Tapi nanti ya Pa?" cengirnya kemudian berlari keluar. Ezhar hanya dapat mengucap dan beristighfar.

Lain dengan Langit. Bumi yang baru keluar kamar mandi, mengambil tasnya terburu seraya melirik jam di dinding.

"Kalau gini malah Langit duluan yang sampai," decaknya mengambil jam tangan di atas meja, jaket yang tergantung dan juga kunci motor.

Ia berlari ke pintu utama. Saat akan mengunci rumah, Bumi teringat kuncinya kan di ruang tengah. Terpaksa dia balik lagi mengambil. Setelah benda itu ada di genggamannya, Bumi berjalan keluar dan mengunci pintu. Begitu sudah menaiki motor, ia baru sadar ponselnya tertinggal di atas kasur.

"Anjir! Kenapa sampai lupa itu benda." Bumi turun kembali, berlari masuk ke dalam rumah. Waktunya sudah mepet.

Motor Bumi melaju kencang di jalanan

Raya seiring Mobil papa Langit yang juga melewati jalan raya. Keduanya sama-sama berharap sampai duluan.

***

Baru mobil berhenti, Langit langsung keluar begitu saja karena gerbang sudah mau ditutup satpam. Ia bahkan tidak salam sama sekali. Kakinya berlari kencang menuju gerbang seiring motor besar yang mengklakson dan melaju kencang.

Langit bersunggut tahu itu Bumi. Cowok itu berhasil melewati gerbang sebelum dia. Bumi baru berhenti kemudian setelah melewati gerbang. Cowok itu membuka kaca helmya dan memberikan seringain pada Langit

"Lo kalah."

"Enak aja! Itu karena lo- WOI BUMI GUE BELUM SELESAI!" Ia berteriak kesal karena Bumi sudah mamacu motornya kembali menuju parkiran.

"NYEBELIN LO JADI COWOK!" teriaknya membuat perhatian siswa siswi beralih padanya. Ada yang tidak terlalu memperdulikan, namun ada yang menatap tidak suka.

"Neng Langit jangan teriak-teriak depan gerbang. Kasian kuping saya."

Langit melirik Pak Patro, satpam sekolahnya. Dia memberikan cengiran khasnya. "Iya Pak Patro maap. Langit masuk dulu," pamitnya melangkah menuju koridor utama untuk ke kelas. Di saat berjalan di sana, dia melihat Bumi yang tengah bersandar ke dinding di belakangnya dengan satu tangan masuk ke kantong celana sedang tangan lain melambai dengan wajah tengil.

"Ck ck. Ratu telat emang gak bisa dikalahkan."

"Lo juga telat ya kalau lupa." Pagi-pagi dia udah jadi emosi.

"Seengaknya gue duluan 5 detik."

"Gue yang menang. Mobil gue yang sampai duluan. Gue yang lari. Lo curang pakai motor ke gerbang."

"Lah aturan dari mana? Gue duluan. Lo mesti terima kekalahan."

"Gak! Gue yang menang titik!"

"Lo kalah."

"Menang."

"Kalah!"

"Menang titik. Gue menang."

"Lo kalah Langit."

"Gak ada aturannya gue ngalah." Langit menaikkan dagunya.

"Curang."

"Bodo!"

Bumi mendengus. "Kita lihat nanti lo bakal kalah lagi. Ayo cari Pak Ego." Dia menegakkan posisinya.

"Oke! Gue bakal menang."

"Lo mesti bawain gue bekal."

"Lo kali yang kerjain tugas gue seminggu."

Keduanya berjalan beriringan menuju ruangan BK. Bukannya malah masuk kelas karena sudah bel.

Menaiki lantai dua, mereka tiba di ruangan khusus BK daro berbagai angkatan. Kepala Langit muncul dari balik tembok.

"Langit ngapain kamu di sana?" Pak Ego berdiri dekat mejanya. Ruangan BK sepi. Baru hanya ada beliau.

"Pagi Pak Ego." Bumi ikutan

Menyembulkan kepalanya di belakang Langit.

"Kalian berdua telat?" Beliau berkacak pingang. Bumi dan Langit sontak menggeleng cepat dan masuk ke dalam.

"Gak dong Bapak. Kalau telat kita harusnya jam segini kena ceramah di depan. Kami ini udah rajin."

"Rajin apanya datang detik mau bel," balas Pak Ego tepat sasaran. Mereka tergelak.

diri. "Itu kemajuan lo Pak." Langit membela

"Ya ya. Terserah kamu aja. Jadi kenapa kalian ke sini?"

"Saya mau tanya deh Pak." Langit mulai duluan setelah melirik Bumi.

"Apa? Saya mau masuk."

"Minuman kesukaan Pak Ego kopi apa jus jeruk?" Bumi yang menanyakan. Langit mengangguk. Keduanya menatap Pak Ego penuh tunggu.

Guru BK itu mengangga mendengarnya. "Kalian datang cuman buat nanya hal gini?"

"Iya, Pak. Bapak suka kopi kan?"

"Enggak, Pak Ego pasti suka es jeruk ya

Kan? Langit kan sering beliin kalau kena hukum."

Dahi beliau mengernyit. "Ini untuk apa?"

"Kelangsungan hidup saya selama seminggu Pak," jawab keduanya berbarengan. Mereka lalu saling lirik kesal.

"Dih lo niru gue ya?" Langit menunjuk Bumi kesal.

"Lo kali yang niru."

"Gue duluan ngomong."

"Kita barengan."

Langit mencibir dan kembali memusatkan perhatian pada Pak Ego yang menatap mereka bergantian.

"Kopi kan Pak?"

"Jus jeruk kan Pak?"

"Saya suka air putih," jawaban itu di luar prediksi BMKG. Keduanya lalu saling tatap.

"Gak jus jeruk Pak?"

"Kopi aja deh Pak."

"Jus jeruk aja ya Pak?"

"Kopi aja Pak." Mereka malah jadi

Memberi tawaran. Pak Ego memijit kepalanya pusing.

"Kan biasanya jus jeruk Pak." Langit mengingatkan.

"Saya sering lihat Bapak minum kopi."

"Dih gue yang sering kena hukum. Kok lo yang ngaku?"

"Kalau Pak Ego pesan jus jeruk terus, belum tentu suka. Lo aja yang mikir gitu."

"Tapi Pak Ego mau kok. Suka malah."

"Enggak. Pak Ego suka Kopi Langit."

"Jus jeruk Bumi!

"Kopi!"

"Jus jeruk!" Mereka berdiri behadapan. Saling menatap ngotot tidak mau mengalah.

"Kopi!"

Pak Ego memejamkan matanya. "Bumi Langit keluar dari ruangan saya!" usirnya tegas.

"Bapak aja yang keluar!" Mereka balas berseru kompak, menatap Pak Ego jengkel. Tersadar setelah dapat tatapan garang keduanya merapatkan bibir dan balik badan

Untuk kabur.

"BUMI LANGIT KEMBALI!"

Mereka berlari melewati karidor hingga jadi pusat mata para siswa yang belum masuk kelas. Keduanya baru berhenti begitu akan menaiki tangga.

"Plot twist banget. Kan air putih bukan pilihan," omel Langit. Keduanya menaiki tangga kemudian.

"Gue masih yakin Pak Ego suka jus jeruk."

"Ngeyel lo."

"Ye biairin."

"Terus jadinya gimana?"

"Apanya?"

"Yang menang kalah."

"Angus."

"Ish gak jadi dong lo bikin tugas gue?"

Langit mencebik. Di saat itu mereka sudah memasuki kelas. Tapi masih berbicara hingga tidak sadar sudah ada Pak Gatot yang berdiri di depan kelas melipat tangannya. Berikut beberapa mata teman sekelas yang melihat keduanya.

"Ehem!"

Keduanya refleks mengalihkan pandangan ke asal suara. Langit mengerjap.

"Pak Gatot kapan masuk Bum?" bisiknya.

Bumi mengedikkan bahu. "Pakai jurus menghilang kali," balasnya ngasal.

"Kalian telat. Masuk gak salam dan gak izin malah ngobrol. Keluar dan berdiri satu kaki di depan selama satu jam pelajaran, sekarang!" titah beliau tegas menunjuk keluar.

"Mampus kita."

"Cepat. Dengar saya tidak?"

"Tapi-"

"Tambah dua jam pelajaran?"

"Baik Pak." Mereka tidak membantah lagi. Berjalan keluar dan berdiri satu kaki dengan tangan disilangkan.

"Masih pagi. Gue udah apes." Langit mengasihani nasibnya. Bumi melirik. "Kita telat baru 10 menit."

"Lo lupa Pak Gatot tegas soal aturan masuk kelas?" Pak Gatot guru Geografi yang sangat killer dibanding guru lainnya.

Langit melirik ke dalam kelas sesaat. Ia

berdiri jadi tidak seimbang. "Bulan ini gue rekor berapa hukuman ya?"

"Awal Agustus udah 9 kali," jawab Bumi setelah menghitung.

"Lo berapa?"

"Baru lima kali."

Langit diam sesaat. Ia menatap langit-langit karidor berpikir.

"Kenapa? Baru sadar?" ledek Bumi.

"Gak, gue malah mikir. Gimana kalau bulan ini genapin 30 hukuman?"

Bumi terbelalak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!