NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius / Tamat
Popularitas:61.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 28 Mulai Detik Ini, Kau Punya Sandaran

"Apa kau gila? Aku hanya minta satu laptop, kenapa kau membeli seisi toko, Paman Udang?"

Suara melengking Sean bergema di dalam mobil Rolls-Royce yang kini sesak oleh tumpukan kardus berlogo merek teknologi ternama. Dante, yang baru saja menutup pintu bagasi, masuk ke kursi kemudi dengan senyum lebar yang terlihat sangat puas.

"Kenapa kau berteriak? Papa hanya memastikan kau punya cadangan jika laptop pertamamu rusak, laptop kedua hilang, dan laptop ketiga tersiram kopi," sahut Dante santai sembari menyalakan mesin. "Dan tablet itu untuk kau membaca buku, jam tangan pintar itu untuk memantau detak jantungmu agar Papa tahu kapan kau sedang marah padaku, lalu—"

"Lalu kau mempermalukanku di depan semua orang!" potong Sean dengan wajah memerah hingga ke telinga.

"Kau melihat bagaimana kasir dan pengunjung lain menatap kita? Mereka pikir aku ini anak sultan yang sedang mengamuk atau kau adalah penculik yang sedang menyuap korbannya dengan barang elektronik!"

Dante tertawa lepas, sebuah tawa yang jarang sekali ia keluarkan di mansion Carson.

"Biarkan saja mereka menatap. Itu namanya power move, Sean. Di dunia bisnis, kau harus menunjukkan dominasi bahkan saat membeli kabel pengisi daya."

Sean menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang empuk, melipat tangan di dada dengan gusar.

"Orang kaya memang bebas. Bebas menjadi aneh dan memalukan. Aku bahkan tidak tahu di mana harus menyimpan semua sampah mahal ini di rumah."

"Simpan saja di kamar Leo kalau kamarmu tidak muat," ucap Dante enteng. "Atau... kau bisa menyimpannya di kamarmu yang ada di mansion Carson. Papa sudah merenovasinya menjadi laboratorium mini yang sangat canggih."

Sean menoleh dengan tatapan tajam yang seolah sanggup mengiris baja.

"Dalam mimpimu, Paman. Aku tidak akan pindah ke rumah yang ada nyonya ularnya. Aku lebih suka tidur di gudang bawah tanah bersama tikus daripada satu atap dengan istrimu itu."

Dante menghela napas, rasa sesak kembali menghampiri dadanya saat teringat statusnya dengan Bianca.

"Papa akan segera mengurusnya, Sean. Kau dan mama mu adalah prioritas utama Papa sekarang. Percayalah."

"Jangan hanya berjanji. Janji pria kaya itu biasanya semanis madu tapi sepahit empedu. Dan berhenti menyebut dirimu papa. Aku belum setuju. Untuk sekarang, kau tetap paman udang yang sombong," ucap Sean ketus.

Dante mengerutkan kening, melirik jas mahalnya lewat spion.

"Sean, benarkah aku semirip itu dengan udang? Aku sudah bercermin tadi di toko, dan aku merasa sangat tampan. Bahkan pelayan toko tadi hampir pingsan saat aku

memberikan kartu kreditku."

"Dia hampir pingsan karena melihat tagihannya, bukan karena wajahmu," ejek Sean tanpa ampun. "Dan ya, kau mirip udang. Merah saat kepanasan, dan kepalamu sulit ditebak isinya. Kenapa pria secerdas Dante Carson bisa tertipu oleh drama murahan Bianca selama tujuh tahun?"

Dante terdiam. Pertanyaan bocah enam tahun itu menghujam tepat di ulu hatinya.

"Karena Papa kehilangan cahaya Papa, Sean. Saat rumah itu terbakar dan mereka bilang mamamu meninggal, Papa merasa duniamu gelap total. Saat aku terbangun dari koma, mereka memberikan narasi bahwa Bianca adalah penyelamatku. Papa lemah saat itu."

"Kelemahan adalah celah bagi predator," gumam Sean, mengutip salah satu buku strategi yang ia baca. "Tapi setidaknya kau sadar sekarang, meski terlambat tujuh tahun. Lebih baik terlambat daripada menjadi udang rebus selamanya di tangan keluarga Rodriguez."

Dante terkekeh, meski hatinya perih.

"Mulutmu benar-benar pedas seperti cabai, Sean. Kau belajar dari mana?"

"Dari kehidupan," jawab Sean pendek. "Hidup tanpa ayah membuatku harus belajar menggigit sebelum digigit, Paman. Jadi jangan harap aku akan menjadi anak manis yang langsung memelukmu hanya karena kau memberiku tumpukan gadget ini."

"Papa tidak mengharapkan itu," ucap Dante lembut sembari menghentikan mobil di persimpangan lampu merah. Ia menoleh ke arah Sean.

"Papa hanya ingin kau tahu bahwa mulai detik ini, kau punya sandaran. Kau tidak perlu menggigit siapa pun lagi, karena Papa yang akan menghancurkan mereka untukmu."

Sean memalingkan wajah ke arah jendela, berusaha menyembunyikan semburat tipis di pipinya. Kata-kata Dante memiliki daya magis yang sulit ia lawan.

"Terserah kau saja. Tapi ingat, laptop ini belum cukup untuk menebus semua hari ulang tahunku yang terlewati tanpamu."

"Papa tahu. Makanya Papa berencana membelikanmu pulau untuk ulang tahunmu yang ketujuh," goda Dante.

"Jangan berani-berani melakukannya atau aku akan membajak seluruh sistem perbankan mu!" pekik Sean.

Dante tertawa lagi. "Lihat? Kita baru bersama satu jam dan kau sudah ingin merampok hartaku. Kau memang darah dagingku, Sean."

"Harta paman udang adalah kompensasi atas kerugian emosional yang kualami," sahut Sean sambil mulai membuka salah satu kotak tablet dengan rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan lagi.

Dante memperhatikan putranya dari sudut mata. Meski mulut Sean terus mengeluarkan kalimat pedas, Dante bisa melihat binar bahagia di mata bocah itu saat menyentuh laptop canggih impiannya.

Perjalanan pulang itu diisi dengan perdebatan kecil, tentang spesifikasi komputer, tentang betapa buruknya selera berpakaian Dante menurut Sean, dan tentang bagaimana Dante terus-menerus mencoba merayu Sean untuk memanggilnya 'papa'.

Malam mulai menyelimuti Amsterdam, namun bagi Dante, ini adalah senja yang paling terang dalam tujuh tahun terakhir. Ia memang harus berhadapan dengan cabai rawit kecil yang sangat cerdas, tapi ia tidak akan menukarnya dengan apa pun di dunia ini.

Sambil menyetir, ia sudah menyusun rencana, besok ia akan mengirimkan bunga lili putih kesukaan Venus, dan mungkin, sebuah server super komputer untuk Sean agar mulut pedas itu sedikit teralihkan oleh hobi barunya.

****

Sementara itu, Leo sedang bersama Bianca.

Ya, setelah menyetujui permintaan Bianca untuk bertemu, Leo juga sekalian melancarkan aksinya. Rencana yang sudah ia susun rapi bersama Venus dan Sean.

"Hanya orang bodoh yang mengira bisa menghancurkan keluarga Rodriguez," racau Bianca, suaranya parau akibat pengaruh botol kedua wine yang disuguhkan Leo.

Kepalanya terkulai di bahu Leo, jemarinya yang mengenakan cincin berlian besar mencengkeram jas pria itu dengan tidak stabil.

Leo mengulas senyum tipis yang mematikan, jemarinya dengan lembut mengelus rambut Bianca untuk memancing lebih jauh.

"Tentu saja. Keluargamu terlalu kuat. Tapi kudengar, kekuatan itu punya satu titik lemah, sebuah rahasia yang tersimpan rapat di ruang bawah tanah gedung Golden Lotus, benar?"

Bianca tertawa melengking, tawa yang terdengar sumbang.

"Ruang bawah tanah? Kau sangat kuno, Leo. Semua orang mencari di sana, tapi mereka tidak akan menemukan apa pun kecuali tumpukan arsip palsu."

Bianca menarik kerah baju Leo, membisikkan aroma alkohol yang pekat di telinganya.

"Rahasia sesungguhnya... dokumen pembakaran itu... ada di balik dinding besi ruang sauna pribadiku. Di sana, di dalam brankas yang hanya terbuka dengan sidik jariku. Ayahku bilang, itu tempat paling panas sekaligus paling aman untuk menyimpan dosa masa lalu."

Leo menatap Bianca yang mulai memejamkan mata.

"Dosa masa lalu, ya? Terima kasih atas petunjuknya," batin Leo.

1
Rita Juwita
selalu seru thor.. /Good//Good/
Sri Rahayu
cerita yg bagus, ada serunya ada lucunya...akhir nya happy ending...skrg uda masuk cerita Sean Carson makasih Thorr😘😘😘
vita
suka ceritanya
🇧🇬
ga ada plok2 😭
🇧🇬: al tidak punya paijo 😭
total 2 replies
Itin
satu kata...

amazing 🤩
Sri Rahayu
wkwkwk...kirain uda blh nginep ya Dante...ternyata Venus dan Sean ttg melarang mu menginap 🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Mei TResna Rahmatika
wahh happy end😍 gak sabar nunggu cerita leo thor tp plis jangan sama bianca
Dew666
💜💜💜💜
Opi Sofiyanti
leo mo di bikinin kamar jg kyk sean g kak????
kasian lho dia.... 😁😁😁
Senja: Nanti cari ide dl kak hehe
total 1 replies
Carini
bagus
Susi Sayadi
ada bonus chapter x kak😍😍😍
Tiara Bella
happy ending mksh ceritanya Thor menghibur sekali .../Kiss/
Senja: Sama2 kakk🙏
total 1 replies
Nice1808
wahhh tamat kak🤣🤭
Nice1808: 🤣🤣🤣blom baca kak biar bnyk bab nya dulu🤭
total 2 replies
TRI SRI SULANJARI
beneran tamak kak.......leo gimana......./Sob//Sob//Sob/
Senja: Itu dia memutuskan menjomblo kak😅
total 1 replies
tinie
woa tamat
Senja: hehehe iyaa
total 1 replies
Tiara Bella
akhirnya Dante sm venus mw menikah lg ya....
🇧🇬
yeye hepi ending ☃️
Nice1808
licik juga si dante pindah kamar biar bisa buat anak perempuan🤣🤭
tia
lanjut thor
Tiara Bella
apakah msh ada musuh .....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!