NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 18

Beberapa saat kemudian, Bi Inah kembali berjalan dengan sambal terasi pesanan pak Adiwijaya ke meja makan. Entah kenapa, orang kaya seperti dia menyukai sambal buatan Bi Inah. Wajar saja, Laras sendiri sama sekali tidak paham bagaimana cara mengolah makanan selain memesannya secara online.

"Makasih, yaa Bi," ucap Adi menatap Bi Inah. Dengan sikap ramah tamahnya kepada semua pegawainya. Namun berbeda dengan Laras. Sorot matanya, masih menunjukan ketidak senangannya ketika para pembantunya berada lama-lama di hadapan ia. Apalagi mencari perhatian suaminya.

Padahal, karena ulah Laras sendiri yang menyuruh Bi Inah tidak boleh membantu pekerjaan Anya. Namun, ia sendiri sekarang yang malah menyuruhnya membantu Anya. Benar-benar tidak bisa di mengerti sifat siluman ular ini.

"Iyaa, pak. Sama-sama," balas Bi Inah. Dengan ragu berlalu pergi meninggalkan mereka. Di tengah-tengah perjalanannya menuju dapur, Bi Inah merasakan merinding menjalar di sekujur tubuhnya. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Mungkin karena Laras, yang terus menatapnya tadi.

"Ish ... Kok aku tiba-tiba merinding gini?" gumamnya Bi Inah dalam hati, mengisi perjalanannya. Ketika kini, ia mendapati Anya yang sedang menyiapkan makan malam mereka berdua di dapur.

"Ayok, Bi ... Makan bareng Anya! Udah di siapin," pinta Anya, sambil menata piring dan menarik kursi untuk Bi Inah duduk.

"Walah ... Nggak perlu repot-repot toh Anya. Bibi bisa ngambil sendiri," katanya, melihat ke arah Anya yang sangat perhatian.

"Nggak apa-apa Bibi ..." sahutnya, menunggu Bi Inah duduk sebelum Anya di sampingnya menyiapkan makanan Bi Inah. "Ini ... Buat Bibi, makan yang banyak yaa ..." kata Anya, seraya mengambil lauk ayam goreng untuk Bi Inah.

Bi Inah yang sudah duduk, menatap lama Anya. Merasa ia kini sudah seperti anaknya sendiri. "Luka di lutut kamu udah sembuh?" tanya Bi Inah, matanya menelaah mencari luka di bagian kaki Anya yang sekarang masih di tutup plester.

"Ah, sudah kok Bi! ... Berkat Bibi, semuanya jadi lebih baik," jawab Anya, memberikan senyumnya yang tulus untuk Bi Inah. Kini mereka berdua pun duduk bersama bersebelahan. Menikmati makanan yang sudah Anya buat dengan senang.

Sedangkan di ruang meja makan utama keluarga Adiwijaya, tidak ada obrolan selama mereka bertiga makan. Hanya ada suara dentingan dari alat makan mereka masing-masing. Sebelum akhirnya Bianca memulai pembicaraan.

"Ekhm ... Papih mau bikin pesta?" tanya Bianca pelan menatap sang ayah, di sela-sela ia masih mengunyah makanan dengan santai di depannya.

Adi menoleh melihat anaknya. "Oh, iyaa ... Kamu udah denger rupanya," sambung Adi, menatap bergantian ke arah Laras sekarang. Seraya meneruskan suapan makanannya.

"Bian boleh undang temen-temen kampus Bian, nggak pih?" tanya Bian, matanya menatap Adi penuh antusias seraya menghentikannya saat makan.

"Tentu! ... Boleh, dong."

"Asiiik~" girang Bianca, senyumnya merekah menatap Adi seraya menepuk-nepuk cepat tangannya namun tidak bersuara. Menunjukan sikap centilnya di depan sang ayah.

Tiba-tiba Adiwijaya menghentikan aktivitas makannya. Bola matanya menatap serius ke arah Laras lalu berganti kepada Bianca.

"Aku harap, pada pesta kali ini tidak ada masalah. Karena beberapa teman penting dari perusahaan ayah akan datang," ucap Adiwijaya, menatap serius kepada kedua keluarganya yang berada bersamanya sekarang. Suasana menjadi tegang kemudian.

Mengingat, pada pesta sebelumnya Bianca membuat masalah dengan teman-temannya yang mabuk di malam pesta meriah keluarga Adiwijaya dan sempat membuat rusuh.

Bianca dan Laras saling tukar pandang. Sebelum akhirnya Laras menatap Adi dan mencoba menenangkannya.

"Iyaa pih ... Aman, mamih tahu apa yang harus mamih lakukan. Mamih akan kontrol semua teman-teman Bianca nanti," ujar Laras, memberi penjelasan agar Adiwijaya bersikap kembali normal.

Senyum yang tadi ceria perlahan pupus dari mulut Bianca ketika mendengar sindiran ayahnya. Iyaa, merasa malu dan menunduk sambil berusaha menyembunyikan perasaannya.

"I-iyaa, pih ..." ucap Bianca ragu, dengan nada suaranya yang pelan, tidak berani memandang sang ayah yang mempunyai sikap sangat tegas dan berwibawa.

Terlihat Tono sedang tergesa-gesa membukakan gerbang hitam besarnya untuk mobil yang ingin masuk. Sesuai janji teman-teman Bianca, siang ini mereka akan kumpul bersama menonton film di rumah mewah keluarga Adiwijaya.

Novi, Wati, Restu, Rangga, dan Bianca keluar dari dalam mobil itu. Berjalan bersama masuk ke dalam rumah yang sudah di tunggu kehadirannya oleh Laras yang berdiri di ruang besar utama.

"Selamat siang menjelang sore Tante ..." sapa Novi dengan senyum, menempelkan pipinya menyapa Laras dan di susul oleh teman-teman yang lainnya termasuk Bianca.

"Siang juga semua~" balas Laras, senyumnya merekah menyambut hangat kedatangan teman-teman Bianca. Satu-satunya anak kesayangan Laras.

"Siang mih ..." sapa Bianca, juga di sambut hangat oleh Laras. "Siang sayang ..."

"Hmm ... Kita boleh kan, nonton-nonton film bareng Bianca Tante?" tanya Novi, dengan ekspresinya yang sumringah terlihat akrab dengan Laras.

"Yaa, boleh dong ... Ayok-ayok, masuk!" seru Laras, mempersilahkan masuk para teman-teman Bianca yang sedang main kerumahnya.

Sekilas, tampak ada sesuatu yang berhasil mencuri perhatian Novi. Ketika berada di samping Laras yang sedang menggunakan kalung berlian mahalnya.

Di balik itu, memang niat awal Laras adalah untuk memamerkan kalung mahalnya sebenernya. Bukan hanya untuk menunggu menyambut kedatangan teman-teman dari anaknya ini.

Novi yang sedang berjalan bersama mereka ke ruang tamu, tiada henti-hentinya melirik kalung mahal yang sedang Laras kenakan. Dan hal itu membuat Laras merasa sedang di perhatikan.

"Hmm ... Tante. Bukannya itu kalung Chirstie's Diamond yaa?" tanya Novi penasaran. Ketika mereka sudah berada di ruang tamu. Tv besar yang sedang menghadap mereka juga tidak kalah mahalnya sebenarnya. Akibat ucapan Novi, kini semua mata menatap Laras yang sedang melihat kalungnya sendiri.

Laras mengangkat sedikit kalungnya, agar yang lain juga dapat melihatnya dengan jelas. "Ah, ini ... Ini adalah hadiah dari papihnya Bianca. Gimana, bagus nggak?" tanya Laras, menanyakan hal yang ia sendiri sudah tahu jawabannya.

Novi dan Wati yang melihatnya, tertegun kaget. Sempat terdiam sebelum akhirnya mengangguk bersama. "Bagus Tante ... Bagus," ucap Novi dan Wati seraya mengangguk bersama.

Bianca yang mulai merasa risih dengan sifat sombong dari ibunya sendiri, mulai mengalihkan perhatian teman-temannya.

Prok!

Prok!

Prok!

"Guys! ... Guys~ Ayok-ayok duduk. Gue pengen ambil minuman dan cemilan dulu, kalian mulai pilih filmnya aja dulu," ujar Bianca, matanya tidak menatap Laras karena sedikit merasa jengah. Padahal, kalung itu hasil pilihan Bianca sendiri. "Oh, iyaa ... Mamih kalo udah nggak ada yang di perluin, bisa balik lagi kok ke kamar mamih. Biar temen-temen Bianca bisa santai," sambungnya.

Bianca terkekeh pelan, di ikuti Laras yang juga terkekeh karena ucapan anaknya. Meskipun, Laras sendiri juga sadar, kalau Bianca tidak ingin dirinya ada berlama-lama bersama temannya ketika berkumpul.

"Enjoy yaa~ Tante tinggal dulu ..." ucap Laras sedikit berteriak, ketika lengannya sudah di tarik oleh Bianca untuk pergi. "Iyaa Tante ..." balas Novi, seraya sibuk masih memilih film yang akan mereka tonton.

"Ish! ... Mamih, ngapain sih? Pake pamer-pamer kalung segala, aku kan jadi malu. Udah tau ada Rangga ..." ucap Bianca dengan cepat. Ketika mereka berdua kini sudah berada cukup jauh dari teman-temannya.

Nadanya sedikit keras. Menunjukan kalau Bianca sedang merajuk kepada Laras saat ini. Bianca hanya tidak ingin Rangga menganggap calon ibu mertuanya aneh. Walaupun itu hanya Bianca yang selalu berharap.

"Ih ... Marah yaa? Kamu marah yaa?" ledek Laras, menunjukan senyum simpul sambil mencolak-colek dagu anaknya yang sudah bertopang dada. Laras terkekeh menatap Bianca yang menurutnya lucu.

"Nggak. Siapa yang marah!" ucap Bianca, membuang pandangannya dari Laras yang terus meledek menatapnya.

"Yaudah kalo gitu ... Mamih mau ngajak kencan Rangga aja," ujar Laras berbicara asal. Bermaksud meledek Bianca agar semakin kesal. Karena menurutnya, Bianca lucu kalau sedang memasang ekspresi juteknya.

Dengan cepat Bianca langsung mencegah Laras yang hendak berbalik, menahannya agar tidak melangkah. Walaupun Laras hanya pura-pura. "Ih, nggak ada. Nggak ada. Apansih? ... Udah ah! Bian mau ke dapur. Bye!" ucap Bianca menghempaskan pandangannya, ketika melepaskan bahu Laras yang tadi ia pegang untuk menahan.

Laras yang di tinggal sendiri tersenyum sambil terus memegang kalungnya. Melihat tingkah menggemaskan anaknya ketika sedang jatuh cinta kepada seseorang.

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!