NovelToon NovelToon
Undefined: The Guardian Dog

Undefined: The Guardian Dog

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Romansa
Popularitas:943
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️ WARNING!!🌶️

Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.

Cantik. Elegan. Mematikan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.

Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.

Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.

Satu kehilangan diri karena trauma.

Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama

Pagi itu, suasana di dalam mobil mewah Bentley Flying Spur milik Seravina terasa sangat tegang. Viktor duduk di kursi kemudi. Ia mengenakan setelan jas hitam yang kemarin dipilihkan, rambutnya tersisir rapi, dan sepasang sarung tangan kulit hitam membalut tangannya yang terbiasa menghancurkan tulang.

Di kursi belakang, Seravina duduk dengan kaki menyilang anggun. Matanya fokus pada layar tablet, menelusuri deretan laporan formula kimia dan grafik distribusi yang rumit. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui kaca film tipis menyinari profil wajahnya yang serius.

Hening. Hanya ada suara mesin mobil yang halus dan gesekan jemari Seravina di atas layar.

Viktor sesekali melirik dari spion tengah. Matanya tidak memperhatikan jalan dengan sepenuhnya; ia lebih banyak mengobservasi pantulan bibir Seravina yang hari ini dipulas lipstik merah. Fokusnya terbagi antara aspal di depan dan candu yang duduk di belakangnya.

"Fokus ke jalan, Viktor," ucap Seravina tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Atau kau mau kita berakhir menabrak pohon sebelum sampai di lokasi?"

Viktor terdiam, otot rahangnya mengeras. "Mobil ini terlalu pelan," gerutu Viktor rendah. Ia terbiasa dengan kecepatan adrenalin, bukan mengemudi dengan keanggunan seperti sopir bangsawan.

"Ini bukan arena balap liar, dan kau bukan sedang mengejar musuh. Kau sedang membawaku," sahut Seravina tenang. Ia akhirnya meletakkan tabletnya dan menatap punggung lebar Viktor melalui spion. "Ingat tugasmu hari ini. Kau hanya pengawal. Jangan bicara kecuali ditanya, jangan memukul kecuali aku yang suruh. Dan yang paling penting..."

Seravina menjeda kalimatnya, bibirnya membentuk senyum tipis yang provokatif.

"...jangan menatapku seperti kau ingin memakanku di depan orang-orang nanti. Jaga sikapmu sebagai anjing yang terlatih."

Viktor mencengkeram kemudi lebih kuat hingga sarung tangan kulitnya berdecit. "Lalu bagaimana dengan ganjaranku? Aku sudah mengemudi dengan benar selama tiga puluh menit."

Seravina terkekeh, suara tawanya terdengar merdu yang mengejek. "Kau baru bekerja tiga puluh menit dan sudah menagih? Simpan liurmu. Kita punya pertemuan penting. Jika kau bisa membuat mereka ketakutan hanya dengan berdirinya kau di belakangku... mungkin aku akan memberimu bonus saat kita pulang nanti."

Viktor tidak menjawab, tapi ia menginjak pedal gas sedikit lebih dalam, membuat mobil meluncur lebih cepat seolah ia ingin segera menyelesaikan hari itu dan mendapatkan apa yang ia inginkan.

Tiba-tiba...

CITTT!!!

Ban mobil itu menjerit keras saat bergesekan dengan aspal, membuat tubuh Seravina terlempar ke depan dengan kasar. Tablet mahalnya terlepas dari tangan dan jatuh ke lantai mobil dengan bunyi benturan yang keras.

"VIKTOR!!!" teriak Seravina, suaranya melengking memenuhi kabin mobil.

Wajahnya memerah karena amarah yang meledak seketika. Ia segera membenarkan duduknya, merapikan rambutnya yang berantakan, dan menatap tajam ke arah punggung lebar pria di depannya.

"Kau mau membunuhku, hah?! Apa kau bisa menyetir atau tidak?! Kalau tidak bisa, keluar sekarang dan biarkan aku yang menyetir sendiri! Kau benar-benar tidak berguna!" bentak Seravina sambil memungut tabletnya yang untungnya tidak retak.

Viktor tetap tenang, tangannya masih mencengkeram kemudi dengan kuat. Ia melirik melalui spion tengah, menatap wajah Seravina yang sedang mengamuk tanpa rasa bersalah yang berarti.

"Sudah lama... tidak menyetir," jawab Viktor pendek. Suaranya datar, tanpa nada minta maaf.

"Sudah lama tidak menyetir?! Lalu kenapa kau bilang kau bisa tadi malam?!" Seravina memajukan tubuhnya, memukul bahu keras Viktor dengan kesal.

"Aku bilang bisa. Aku tidak bilang aku ahli," sahut Viktor membela diri. "Biasanya aku hanya menyetir truk pengangkut barang di pelabuhan atau mobil curian untuk kabur. Mobil ini... terlalu sensitif. Remnya terlalu empuk."

Seravina menyandarkan punggungnya kembali ke kursi dengan kasar, membuang napas berat. "Mobil curian? Ya Tuhan... aku benar-benar mempekerjakan seorang preman jalanan untuk menjadi sopir."

"Lagi pula, ada kucing lewat," tambah Viktor pelan, seolah itu adalah penjelasan paling logis di dunia.

Seravina memejamkan mata, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar karena kaget dan kesal. "Jalankan lagi. Pelan-pelan. Kalau kau membuatku terlempar sekali lagi, ganjaranmu akan kuhapus selama seminggu!"

Mendengar kata ganjaran dan seminggu, mata Viktor sedikit membelalak. Ia segera memperbaiki posisi duduknya, memegang kemudi dengan sepuluh jari layaknya anak sekolah yang sedang ujian mengemudi.

"Paham," gumam Viktor. Kali ini, ia menjalankan mobil dengan sangat pelan—bahkan terlalu pelan hingga siput pun mungkin bisa mendahului mereka.

"VIKTOR!!!"

Teriakan Seravina menggelegar di dalam ruang kabin yang sempit itu, lebih keras dari bunyi rem tadi.

Viktor tersentak.

"Kau... kau mau kita sampai kapan?! Kecepatan ini bahkan lebih lambat dari orang jalan kaki!" Seravina mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya mencengkeram sandaran kursi Viktor dengan geram. "Tadi kau mau membunuhku dengan rem mendadak, sekarang kau mau membuatku mati bosan?!"

Viktor melirik spion tengah dengan tatapan bingung yang sangat kentara. "Kau bilang... jangan membuatmu terlempar lagi."

"Tentu saja! Tapi bukan berarti kau harus merayap seperti kura-kura, bodoh!" Seravina memijat keningnya yang mulai pening. "Injak gasnya! Kita sudah terlambat sepuluh menit untuk pertemuan ini. Kalau kau tidak bisa membawa mobil ini dengan kecepatan normal dalam tiga detik, aku bersumpah kau akan tidur di kandang anjing sungguhan malam ini!"

Viktor mengerjapkan mata. Ancaman Seravina kali ini terasa lebih menakutkan daripada lawan mana pun di arena. Tanpa banyak bicara, kakinya yang besar langsung menekan pedal gas.

VROOOOM!

Mobil itu melesat maju. Kali ini Viktor berusaha ekstra keras untuk menjaga kestabilannya.

"Tadi salah... sekarang salah," gumam Viktor sangat pelan, hampir tidak terdengar. Nada bicaranya terdengar seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk karena dimarahi gurunya.

Seravina yang mendengar gumaman itu hanya bisa mendengus kesal sambil kembali menyandarkan tubuhnya.

......................

Suara ketukan hak sepatu Seravina bergema di sepanjang lorong marmer yang sunyi. Di belakangnya, sosok Viktor menjulang seperti bayangan maut. Jas hitam yang melekat di tubuh raksasanya membuat siapa pun yang berpapasan dengan mereka refleks menepi dan menundukkan kepala.

Viktor tidak melihat ke kiri atau ke kanan. Fokusnya hanya satu: punggung Seravina. Ia berjalan dengan langkah yang sinkron, tangannya berada di samping tubuh, siap bereaksi jika ada ancaman sekecil apa pun. Kehadirannya benar-benar seperti seekor Doberman raksasa yang sudah dijinakkan yang siap mencabik siapa saja jika majikannya memberi isyarat.

Para penjaga keamanan di depan ruang rapat besar itu pun tampak menelan ludah melihat Viktor. Mereka terbiasa melihat pengawal, tapi tidak ada yang memiliki aura seprimitif dan seberbahaya pria ini.

Seravina berhenti tepat di depan pintu ganda yang besar. Tanpa menoleh ke belakang, ia berbisik dengan suara yang sangat rendah, "Tetap di belakangku. Jangan bergerak, jangan bersuara. Jadilah anjing yang manis."

"Ya, Nona," jawab Viktor, suaranya yang berat memberikan sensasi getaran di udara.

Pintu terbuka lebar. Seravina melangkah masuk ke dalam ruangan penuh pria-pria berjas yang merupakan petinggi mafia dan rekan bisnisnya. Viktor masuk mengikutinya, lalu berdiri tepat di belakang kursi Seravina begitu wanita itu duduk. Ia berdiri tegak, tangan bersedekap di depan, menatap lurus ke arah orang-orang di depan mereka dengan tatapan yang bisa membuat jantung lawan bicaranya berhenti berdetak.

Semua orang di ruangan itu mendadak merasa terintimidasi. Mereka datang untuk menegosiasikan bisnis, tapi mereka merasa sedang diawasi oleh seekor pemangsa yang lapar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!