NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Perjanjian di Atas Altar Pengkhianatan

Langkah kaki Genevieve menggema pelan, memecah kesunyian yang telah mengendap selama ratusan tahun di dalam Suaka Gerhana. Sol sepatu kulitnya yang usang dan sedikit basah bergesekan dengan lantai marmer hitam, menghasilkan ritme konstan yang terdengar seperti detak jarum jam raksasa di ruang mahaluas tersebut. Ia tidak lagi berjalan dengan postur seorang wanita yang sedang melarikan diri dari maut, melainkan dengan ketegasan seorang ratu yang melangkah menuju penobatannya di tengah reruntuhan kerajaannya sendiri.

Di sekelilingnya, rak-rak buku kayu besi yang menjulang tinggi berdiri dalam diam, menjadi saksi bisu atas langkah-langkah kembalinya sebuah sejarah yang telah dihapus. Udara di dalam ruangan itu terasa sangat kaku, dipenuhi aroma kertas perkamen tua dan debu batu yang melapuk, namun entah bagaimana memberikan sensasi yang jauh lebih menyegarkan bagi paru-parunya dibandingkan udara murni di permukaan Aethelgard.

Genevieve menghentikan langkahnya tepat di kaki panggung melingkar. Matanya yang berwarna biru kristal menatap tajam ke arah anak tangga marmer yang membawanya naik menuju altar obsidian di ujung sana. Tangannya yang pucat, masih memperlihatkan urat-urat kebiruan dan beberapa goresan kecil yang mulai mengering, bergerak perlahan ke balik ikat pinggang gaun linennya.

Jari-jarinya melingkari botol kaca kristal kecil itu. Ia menariknya keluar, membiarkan cahaya ungu redup dari kristal-kristal di dinding memantul pada permukaan kaca. Di dalamnya, darah Kaelen Blackwood—darah dari pria yang mengkhianati Ordo Naga Berkepala Tiga dan mendirikan dinasti suaminya—bergerak lamban, pekat, dan seolah berdenyut dengan kehidupannya sendiri.

Rasa sakit di tiga tulang rusuknya yang retak berdenyut tumpul, sebuah pengingat konstan akan kelemahan fisiknya saat ini. Namun, Genevieve mengangkat dagunya. Ia membuang napas panjang perlahan melalui hidung, menenangkan detak jantungnya hingga mencapai ritme yang sedingin es di Jurang Hitam.

Ia mulai menaiki anak tangga panggung itu. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.

Tepat saat ia berdiri di depan meja altar raksasa yang dipahat dari batu obsidian utuh, hawa dingin yang tidak wajar merayap naik dari telapak kakinya, menembus lapisan sepatu dan kulit, mengalir langsung ke sumsum tulang belakangnya. Permukaan altar itu hitam kelam, memantulkan bayangan wajahnya yang tirus dan sepucat mayat. Di tengah-tengah permukaan batu yang mengkilap itu, terdapat lekukan ukiran yang sangat dalam—membentuk lambang Naga Berkepala Tiga.

Genevieve menatap ukiran tersebut. Memori dari mimpi atau visi yang ia alami beberapa jam lalu kembali berputar di benaknya. Ia bisa mendengar jeritan para anggota Ordo yang meregang nyawa karena racun. Ia bisa melihat cawan-cawan emas yang berjatuhan. Dan yang paling jelas, ia bisa merasakan kemarahan entitas yang tertidur di balik batu ini—kemarahan yang begitu murni hingga melampaui batas waktu.

"House Blackwood membuangku ke dalam kegelapan," bisik Genevieve ke ruang kosong, suaranya jernih, tajam, dan tidak memiliki setitik pun getaran keraguan. Ujung jempolnya menekan segel lilin perak pada tutup botol kristal tersebut. "Mereka mengira kegelapan akan menelanku. Mereka lupa bahwa ada hal-hal di dalam kegelapan yang jauh lebih membenci mereka daripada diriku."

*KRAK.*

Segel lilin perak itu patah dengan suara yang nyaring.

Seketika itu juga, aroma yang sangat pekat dan memualkan menyeruak keluar dari mulut botol. Itu bukanlah sekadar bau anyir darah manusia biasa, melainkan aroma besi tua yang bercampur dengan bau abu vulkanik dan penyesalan yang membusuk selama berabad-abad. Genevieve harus menahan napasnya sejenak agar perutnya tidak bergejolak.

Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk meragu, ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memiringkan botol kaca itu tepat di atas lekukan ukiran Naga Berkepala Tiga di tengah altar.

Cairan merah kehitaman itu mengalir keluar. Tetesan pertamanya jatuh dengan lambat, seolah udara di sekitarnya tiba-tiba berubah menjadi cairan yang kental.

Ketika tetesan darah Kaelen Blackwood itu akhirnya menyentuh permukaan batu obsidian hitam... dunia di sekitar Genevieve seakan berhenti bernapas.

Tidak ada suara mendesis. Tidak ada ledakan asap. Darah itu jatuh tanpa suara, namun alih-alih menggenang di permukaan, cairan merah pekat itu langsung tersedot ke dalam lekukan ukiran batu dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Garis-garis pahatan naga itu mulai menyala, dialiri oleh darah yang memancarkan pendaran merah menyala yang sangat terang, mengusir cahaya ungu dari kristal-kristal ruangan.

Genevieve segera melangkah mundur, menjauhkan dirinya dua langkah dari altar. Tangannya secara instingtif mencengkeram gagang *Nightfang* di pinggangnya, seluruh otot di tubuhnya menegang mengantisipasi dampak energi yang akan terjadi.

Tiba-tiba, lantai marmer di bawah kakinya bergetar. Getaran itu bukan gempa bumi biasa yang mengguncang secara acak, melainkan sebuah denyutan berirama. *Dug... Dug... Dug...* Seperti suara detak jantung raksasa yang baru saja dihidupkan kembali menggunakan alat pacu kejut.

Cahaya ungu yang menerangi seluruh Suaka Gerhana berkedip liar, sebelum akhirnya meledak dan berubah warna secara serempak menjadi merah darah yang sangat pekat. Bayangan-bayangan dari pilar batu dan rak buku memanjang secara tidak wajar, menari-nari di dinding layaknya entitas hidup yang sedang merayakan kebangkitannya.

Panel biru dari Sistem tiba-tiba meletus di depan mata Genevieve, dipenuhi oleh teks merah peringatan darurat yang bergerak dengan kecepatan kilat, diiringi oleh dengingan alarm di dalam kepalanya yang memekakkan telinga.

**[PERINGATAN KRITIS: ANOMALI ENERGI SKALA MASIF TERDETEKSI!]**

**[Fluktuasi medan magis melampaui batas instrumen ukur standar. Entitas biologis/spiritual non-fisik sedang bermanifestasi dalam radius satu meter dari Tuan Rumah.]**

**[Tingkat Ancaman: Tak Terkalkulasi. Tuan Rumah diperintahkan untuk segera mengosongkan area!]**

Genevieve memicingkan matanya menahan silau cahaya merah, menolak mundur satu inci pun. Ia telah mempertaruhkan nyawanya untuk berada di sini. Lari sekarang adalah tindakan seorang pengecut, dan ia sudah selesai menjadi pengecut.

Dari atas permukaan altar obsidian, bayangan-bayangan gelap mulai terlepas dari lantai dan dinding, mengalir ke atas dan berkumpul di tengah udara. Bayangan itu menebal, memadat, dan menggumpal membentuk sebuah siluet massa tak beraturan yang melayang perlahan, memancarkan aura dingin yang jauh lebih menusuk tulang daripada badai salju di Jurang Hitam. Udara di sekitarnya terdistorsi, menciptakan riak-riak hitam yang menyerap cahaya.

Lalu, sebuah suara bergema.

Suara itu tidak merambat melalui udara, melainkan langsung menghantam ke dalam tempurung kepala Genevieve. Suara itu adalah gabungan dari geraman binatang buas, gesekan lempeng bumi, dan bisikan ribuan roh yang mati dalam keputusasaan.

*"Darah... Darah dari sang pengkhianat..."* Massa bayangan di atas altar itu bergolak liar. Sebuah tekanan gravitasi yang tak kasat mata tiba-tiba menekan bahu Genevieve, memaksanya untuk berlutut. Rasa sakit di tulang rusuknya menjerit, kakinya yang terkilir bergetar hebat menahan beban yang tiba-tiba berlipat ganda.

1
Ana Kurniawan
aq jadi bingung terus fungsinya sistem buat apa..?
Ana Kurniawan
kan udah punya sistem ya, ku kira sistem itu yg bakal bantu dia tanpa harus ada esentitas lain...
Murni Dewita
👣
Bambang Widono
🙏👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄
Wahyuningsih
thor sustemnya kok cuman gitu aja gk srulah
Wahyuningsih
thor buat suaminya menyesal d buat segan matipun tk mau biar nyakho dia n buat bbadaz abuz biar mkin keren
Wahyuningsih
q mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!