ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.2: Kilas Balik - Kabut Merah dan Pengintai di Balik Bayangan
Angin siang bertiup cukup kencang melintasi jalanan pualam Kerajaan Valeria, membawa serta aroma roti gandum yang baru dipanggang dari kedai-kedai di pinggir jalan. Setelah meninggalkan Istana Matahari dengan informasi absolut dari Raja Steven, kelompok Algojo Dimensi tidak membuang waktu.
Ajil memimpin langkah menuju perbatasan timur. Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya tampak tanpa cela, menyerap teriknya sinar matahari siang. Di belakangnya, Rino melangkah dengan dada membusung. Zirah Heavy Plate merah apinya memantulkan cahaya dengan sempurna, tanpa ada satu pun goresan luka bakar. Pedang raksasa (Broadsword) di punggungnya beresonansi dengan mana api yang kuat. Di sebelah Rino, Richard berjalan santai, memutar-mutar tombak peraknya yang memancarkan kabut es tipis setiap kali ujung kristalnya membelah udara. Mereka berdua berada dalam kondisi fisik paling prima, sangat bertolak belakang dengan kondisi mereka yang hancur lebur di masa depan setelah melindungi dua anak kecil dari semburan naga.
"Hutan Embun Darah," gumam Richard sambil merapikan jubah birunya. "Aku pernah mendengar cerita dari para petualang veteran. Hutan itu bukanlah tempat bertarung menggunakan otot. Tanaman di sana dikabarkan bisa berdarah, dan kabutnya bisa membuat orang membunuh rekan satu timnya sendiri karena halusinasi."
Rino tertawa terbahak-bahak, suara baritonnya menggema penuh percaya diri. "Hah! Halusinasi hanyalah mainan untuk mereka yang memiliki pikiran lemah, Richard! Selama kita mengikuti Tuan Ajil, ilusi macam apa yang bisa menembus keteguhan kita? Pedang apiku akan membakar kabut itu sebelum sempat menyentuh otakku!"
Erina yang berjalan di samping Ajil mendengus pelan. Zirah sutra mithrilnya bergemerisik anggun. "Kesombongan manusia memang tidak pernah ada batasnya," cibir sang High Elf, melirik Rino dari sudut matanya. "Erika adalah seorang penyihir berdarah campuran elf. Ratusan tahun umurnya dihabiskan untuk menyempurnakan seni manipulasi pikiran. Saat kabutnya menyentuh sarafmu, pedang raksasamu itu tidak akan lebih berguna dari sebatang ranting lapuk. Sebaiknya kau bersiap untuk menangis memanggil ibumu, Raksasa Merah."
Rino menggaruk belakang kepalanya yang tertutup helm parsial, tak berani membantah ucapan Erina. Ia tahu, di balik kecantikan absolut dan mulut pedas peri ini, tersimpan kekuatan Kelas SSS yang mengerikan.
Mereka berhenti sejenak di sebuah pos perdagangan di luar gerbang timur untuk membeli perbekalan. Perjalanan menuju Hutan Embun Darah memakan waktu setengah hari berjalan kaki.
Ajil membeli Dendeng Daging Kadal Gurun yang telah diasap selama tujuh hari menggunakan kayu cendana sihir, membuatnya sangat awet dan kaya akan protein padat. Ia juga membeli beberapa potong Roti Kismis Hitam yang teksturnya keras di luar namun lembut dan manis di dalam, serta tiga kantung kulit berisi Air Suci Pegunungan yang sangat jernih dan menyegarkan.
Mereka melanjutkan perjalanan melintasi padang rumput yang perlahan mulai berubah warna. Rumput hijau yang subur berangsur-angsur digantikan oleh semak belukar berduri dengan daun-daun berwarna ungu gelap.
Saat mereka berhenti sejenak di bawah sebuah pohon rindang untuk makan siang, suasana terasa cukup tenang. Ajil duduk bersila di atas batu, mengunyah dendeng kadal gurun itu dengan wajah datar. Dagingnya liat, membutuhkan tenaga ekstra untuk dikunyah, namun rasa gurih rempah dan lada hitamnya langsung menyebar di rongga mulut, memicu energi instan di dalam darah. Erina duduk di sebelahnya, memakan apel roh merahnya dengan gigitan-gigitan kecil yang elegan, matanya tak pernah lepas dari wajah Ajil.
"Makanlah dengan benar," ucap Ajil tiba-tiba, menatap Rino dan Richard yang makan sambil terus mengawasi sekeliling dengan tegang. "Jangan membuang energi kalian untuk ketegangan yang tidak perlu. Musuh yang sesungguhnya belum muncul."
Namun, insting tajam Ajil tidak sepenuhnya salah. Musuh memang belum menyerang, tapi mereka tidak sendirian.
Tiga kilometer di belakang mereka, bersembunyi di balik formasi bebatuan bukit yang curam, sekelompok pria bersenjata lengkap tengah merayap bagai ular berbisa. Itu adalah kelompok Crimson Lion.
Boros, sang Panglima Perang berkepala plontos dengan bekas luka sayatan di wajahnya, mengamati kelompok Ajil melalui sebuah teropong kristal jarak jauh. Napas Boros memburu, matanya dipenuhi oleh keserakahan yang membutakan akal sehat.
Di punggung Boros, terpasang sebuah artefak kuno—Jubah Bayangan Pasir. Jubah berwarna cokelat kusam itu memancarkan partikel-partikel debu sihir yang terus-menerus mengaburkan fluktuasi mana dan menyerap suara detak jantung penggunanya beserta sepuluh pembunuh bayaran elit di sekelilingnya. Itulah sebabnya, sistem otomatis Ajil belum memberikan peringatan dini; artefak ini secara khusus dirancang untuk menipu radar sihir tingkat tinggi.
"Panglima," bisik salah satu pembunuh bayarannya yang mengenakan topeng kulit hitam. "Apakah kita akan menyerang mereka saat mereka lengah di padang terbuka ini? Jumlah kita dua kali lipat lebih banyak."
"Bodoh!" desis Boros, memukul bagian belakang kepala bawahannya itu. "Kau tidak melihat bagaimana pria berjaket hitam itu menghancurkan pedang Arthur dengan dua jari? Menyerangnya secara langsung sama saja dengan menyetorkan nyawa kita secara cuma-cuma."
Boros menyeringai lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang kuning. "Kita ikuti mereka sampai ke dalam Hutan Embun Darah. Penyihir Erika bukanlah lawan yang bisa ditebas dengan kekuatan fisik. Sihirnya akan menyerang mental mereka. Saat pria arogan itu, si elf pelacur, dan dua pengkhianat itu terjebak dalam halusinasi yang menyiksa... saat itulah kita akan mengambil Prasasti Dimensi itu tanpa perlu mengeluarkan setetes keringat pun. Dan setelah itu... aku akan menggorok leher mereka satu per satu di dalam tidur ilusi mereka."
Rencana yang licik dan pengecut. Namun di dunia Ridokan, kelicikan sering kali menjadi kunci untuk bertahan hidup lebih lama dari para ksatria yang membanggakan kehormatan. Boros memberi isyarat, dan kesebelas bayangan itu kembali merayap di bawah radar, mengikuti jejak Sang Algojo menuju jebakan ilusi.
Matahari sore mulai meredup, terhalang oleh awan mendung berwarna kelabu pekat. Angin yang sebelumnya membawa kehangatan padang rumput, kini berubah menjadi hembusan dingin yang menusuk tulang dan membawa aroma karat besi yang sangat kuat.
Langkah sepatu bot Ajil terhenti. Di depan mereka, membentang sebuah hutan yang sangat luas dan tidak wajar.
Pohon-pohon di hutan ini tidak memiliki daun berwarna hijau. Semuanya berwarna merah darah, mulai dari merah marun hingga merah menyala. Ranting-rantingnya melengkung aneh, menyerupai sulur-sulur nadi manusia yang mencuat dari dalam tanah. Kabut merah tipis merayap keluar dari sela-sela akar, menyelimuti permukaan tanah bagai lautan darah yang menguap.
Namun yang paling mengerikan adalah embunnya. Di setiap ujung daun, menetes cairan kental berwarna merah pekat yang jatuh ke atas tanah dengan suara tik... tik... tik... yang ritmis. Hutan itu seolah sedang menangis darah. Inilah Hutan Embun Darah, wilayah kekuasaan absolut Sang Penyihir Penjaga, Erika.
[SISTEM: Peringatan Kritis! Memasuki Zona Anomali Mental.]
[Mendeteksi Fluktuasi Mana Ilusi Tingkat Tinggi (Kelas SSS). Radius 20 kilometer.]
[Sistem Pertahanan Mental Otomatis diaktifkan. Efektivitas: 60%. Ancaman manipulasi jiwa terdeteksi.]
Layar hologram merah berkedip berkali-kali di sudut pandang Ajil. Pria itu menyipitkan matanya. Hutan ini memancarkan aura yang sangat berbeda dari Kawah Api Penyucian atau Hutan Bayangan Berbisik. Tidak ada niat membunuh liar dari monster buas. Yang ada hanyalah sebuah undangan hening yang mematikan.
"Tetap di dekatku," perintah Ajil datar, melangkah maju membelah kabut merah tersebut. "Jangan memercayai mata dan telinga kalian begitu kita melewati batas pepohonan ini."
Erina mengangguk, ia segera merapalkan sihir pelindung—Tabir Akal Sehat—sebuah kubah cahaya hijau tipis yang menyelimuti kelompok itu untuk menangkal partikel halusinogen di udara. Rino dan Richard mencabut senjata mereka, formasi tempur diaktifkan. Mereka berdua menjaga bagian belakang dan sisi kanan, sementara Erina berada di sebelah kiri Ajil.
Begitu sepatu bot Ajil menginjak lumut merah di dalam hutan, suasana dunia luar seketika lenyap. Suara angin terputus. Cahaya matahari memudar, digantikan oleh pendaran redup dari kabut merah yang menyala dalam gelap.
Tik... Tik... Tik... Suara tetesan embun darah itu kini terdengar bergema di dalam tengkorak mereka, seolah ada seseorang yang sedang mengetuk dinding kepala mereka dari dalam.
Setengah jam berjalan dalam keheningan yang mencekam, formasi mereka masih utuh. Namun, kabut merah itu semakin tebal hingga jarak pandang menyusut menjadi kurang dari lima meter.
Tiba-tiba, dari arah belakang, Rino menghentikan langkahnya. Pedang apinya terjatuh ke atas tanah berlumut dengan suara debum yang berat.
"I-Ibu...?" panggil Rino dengan suara bergetar. Raksasa berzirah merah itu menatap kosong ke arah sebatang pohon tua di sebelah kanannya. Matanya membelalak, air mata langsung mengalir deras di wajahnya yang kasar. "T-Tidak... Ibu, jangan pergi... Aku sudah menjadi Kelas A+... Aku bisa membelikanmu obat sekarang..."
Richard yang berada di dekatnya tersentak. "Rino! Apa yang kau bicarakan?! Ibumu sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu! Sadarlah, ini—"
Belum sempat Richard menyelesaikan kalimatnya, tombak es di tangannya meredup. Mata Richard berubah kosong. Ia mundur terhuyung-huyung, menatap tangan kanannya sendiri dengan ngeri. "T-Tidak... Darah... Kenapa tanganku berlumuran darah saudaraku sendiri?! A-Aku tidak membunuhnya! Itu kecelakaan!"
Ilusi itu telah bekerja. Ia tidak datang dari luar, melainkan membongkar peti mati rahasia di dalam pikiran mereka sendiri, memproyeksikan penyesalan dan trauma terdalam mereka menjadi kenyataan yang absolut.
Erina memekik pelan. Ia mengalirkan lebih banyak mana ke dalam kubah pelindungnya. "Ajil! Sihirku tidak bisa menahannya sepenuhnya! Ini bukan ilusi optik biasa, ini adalah Sihir Resonansi Jiwa kuno warisan ras High Elf! Erika mencampurkan sihir ini dengan racun kabut yang langsung menyerang sistem saraf emosional!"
Ajil berhenti. Ia menoleh ke belakang, melihat dua sahabatnya yang baru ia terima itu kini berlutut di tanah, menangis histeris, terjebak dalam neraka pikiran mereka sendiri. Tubuh Rino dan Richard tidak terluka secara fisik, namun jika jiwa mereka hancur, otak mereka akan mematikan fungsi jantung mereka secara otomatis.
Ajil hendak melangkah ke arah mereka, namun sebuah suara alunan nada tiba-tiba menggema dari segala penjuru hutan.
Sebuah suara wanita yang sangat merdu, lembut, namun memancarkan otoritas sihir kuno yang sangat kental. Suara itu terdengar di telinga, namun juga bergema langsung di dalam jiwa.
"Berhentilah melangkah, Wahai Jiwa-Jiwa yang Terluka..." alunan suara Erika menggema, diiringi oleh tawa kecil yang terdengar seperti gemerincing kristal. "Hutan ini bukanlah tempat untuk kalian. Aku adalah Erika, Penjaga Batas Dimensi. Raja Steven mungkin mengirimmu ke mari, Pahlawan Berjaket Hitam, namun tugasku adalah mencegah benda terlarang itu jatuh ke tangan siapa pun. Kembalilah. Bawa pasukan kecilmu ini pulang sebelum mereka mati di dalam penyesalan mereka sendiri."
Dari balik kabut merah pekat di depan Ajil, sesosok bayangan wanita terbentuk. Ia mengenakan gaun panjang yang terbuat dari jalinan kabut dan daun mawar merah. Telinganya sedikit meruncing menandakan darah elf-nya. Rambutnya hitam legam, dan wajahnya tertutup oleh sebuah cadar tipis dari sutra merah. Ia melayang beberapa inci dari atas tanah, memancarkan kecantikan yang tidak masuk akal, membuat Erina sekalipun harus mengakui bahwa aura Half-Elf ini sangat memukau.
[SISTEM: Peringatan Kritis. Pemilik Domain Terdeteksi.]
[Nama: Erika (Sang Penyihir Penjaga)]
[Level: 145]
[Kelas: SSS (Master Ilusi Absolut)]
Ajil menatap proyeksi ilusi Erika yang melayang di depannya. Tidak ada pedang yang ditarik. Tidak ada petir ungu yang memercik. Wajah Ajil tetap sekaku pahatan es, matanya yang hitam kelam menembus proyeksi kabut itu seolah ia sedang menatap sebuah dinding kosong.
"Bebaskan mereka," ucap Ajil datar, nadanya sedingin baja yang baru dicelupkan ke dalam air es. "Serahkan Prasasti Dimensi itu, dan aku akan mengampuni nyawamu atas dasar kau adalah sahabat Raja Steven."
Proyeksi Erika tertawa pelan, sebuah tawa yang bernada simpatik sekaligus meremehkan. "Kau memiliki kekuatan fisik dan magis yang sangat mengerikan, Pria Misterius. Aku bisa merasakan naga yang tertidur di dalam otot-ototmu. Namun, apakah kau tidak menyadari? Di hutan ini, kekuatan untuk menghancurkan gunung tidak ada artinya."
Kabut merah di sekitar Ajil mulai menebal, merayap naik menutupi lututnya, berusaha menembus perlindungan Setelan Malam Abadi-nya. Sistem di kepala Ajil berkedip merah dengan kecepatan gila, menunjukkan bahwa pertahanan mentalnya mulai dijebol secara paksa.
"Aku telah membaca dua temanmu itu. Masa lalu mereka rapuh," lanjut suara Erika, melingkari tubuh Ajil dengan hembusan angin yang beraroma wangi mawar berdarah. "Dan kau... aku bisa merasakan sebuah lubang hitam yang maha luas di dalam dadamu. Kesedihan yang jauh lebih besar dari siapa pun yang pernah menginjakkan kaki di duniaku. Jika kau melangkah satu inci lagi, aku akan menarikmu ke dalam mimpi buruk terbesarmu. Dan aku jamin, kau tidak akan pernah bangun lagi."
Di sebelahnya, Erina meremas lengan Ajil dengan kuat. Wajah sang peri memucat. "Ajil, jangan. Aku bisa menahan ilusi ini karena aku seorang High Elf, tapi kau manusia! Jiwamu tidak dirancang untuk menahan resonansi emosional tingkat ini. Mari kita mundur dan cari cara lain! Kita serang menaranya dari udara!"
Ajil tidak bergerak. Matanya tak lepas dari proyeksi kabut Erika. Ia melepaskan cengkeraman tangan Erina dengan lembut, namun tegas.
Di tengah kabut merah yang menyesakkan, di tengah tangisan Rino dan Richard yang bergema menyayat hati, Ajil menarik napas panjang. Udara yang dipenuhi ilusi itu masuk ke dalam paru-parunya.
"Mimpi buruk?" gumam Ajil, suaranya baritonnya membelah keheningan ilusi itu dengan sebuah kepastian yang menakutkan. Tidak ada getaran, tidak ada keraguan.
Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap proyeksi penyihir itu dengan sorot mata yang menyiratkan kedalaman luka yang tak terjangkau oleh sihir mana pun.
"Kalian para penyihir terlalu membanggakan kemampuan kalian memutarbalikkan kenyataan," ucap Ajil perlahan, menyisipkan sebuah Kata Mutiara yang lahir dari ratusan malam tanpa tidur di Bumi. "Tapi kau salah, Erika. Mimpi buruk terbesar bagi seorang pria bukanlah saat ia terkurung dalam halusinasi tentang masa lalunya yang kelam... melainkan saat ia terbangun dari tidur, membuka matanya, dan menyadari bahwa realita di sekitarnya jauh lebih mengerikan daripada ilusi yang kau ciptakan."
Ajil melangkah ke depan. Satu langkah yang berat.
BUMM! Begitu kakinya menginjak tanah, kabut merah di sekitarnya meledak. Batas antara realita dan ilusi hancur.
"AJIL!" jerit Erina saat pandangannya terhadap pria itu lenyap tertelan oleh pusaran badai kabut merah yang tiba-tiba mengamuk.
Erina terpental ke belakang, terpisah dari Ajil. Di dalam sekejap mata, Ajil lenyap dari pandangan, tersedot ke dalam inti domain ilusi terdalam milik Sang Penyihir. Dunia di sekeliling sang Algojo berputar liar, warna merah darah hutan menghilang, digantikan oleh kegelapan yang absolut.
Dan di kejauhan, Boros yang mengamati dari balik pohon dengan Jubah Bayangan Pasir-nya menyeringai lebar. Rencana liciknya berjalan sempurna. Sang monster berjaket hitam kini telah jatuh ke dalam perangkap pikirannya sendiri, dan tak lama lagi, Prasasti Dimensi akan menjadi milik Crimson Lion.
Namun, baik Boros maupun Erika tidak menyadari... bahwa menyeret Ajil ke dalam masa lalunya sama saja dengan membangunkan singa yang sedang tidur di dalam neraka.