NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

“Kalian akan membawaku ke mana?” tanyaku begitu tubuhku didorong masuk ke dalam mobil panser. Udara di dalamnya pengap, bercampur bau besi dan oli panas. Pintu ditutup keras, mengurungku bersama beberapa pria berseragam gelap. Aku tahu sejak detik itu, ini bukan penjemputan biasa. Aku orang pertama yang menyebut 172 sebagai teror. Aku yang memperingatkan. Aku yang membongkar rahasia satu per satu, sampai hampir dua belas jam tidak ada korban. Kini aku justru dibawa ke tempat yang aku saja tidak tahu akan dibawa ke mana.

“Tidak ada yang mau menjawab?” suaraku meninggi. Lampu kabin redup, hanya memantulkan kilau pada helm mereka. Tidak satu pun menoleh. Dadaku berdebar. Kepalaku berdenyut. Benar-benar tak bisa dipahami kenapa aku bisa sampai diperlakukan seperti ini. Kerja kerasku berujung petaka, dan aku benci hal ini.

“Diam kalau ingin selamat,” ujar seorang pria akhirnya. Matanya saja yang terlihat dari balik penutup wajah, dingin dan tanpa ragu. Tangannya terangkat, lalu seseorang lain menarik lakban. Bunyi sobekan tajam terdengar sebelum lakban menutup mulutku rapat. Padahal aku yang mendeteksi teror ini, tapi sekarang aku dibungkam setelah korban tak berjatuhan.

Ya, mereka hanya ingin tersangka. Tersangka yang akan menaikkan status mereka dan menutup kejadian yang sebenarnya. Sungguh memuakkan.

“Target sudah ditangkap,” suara radio komando memecah kabin. Lampu indikator berkedip, memantul di baja. Kata-kata itu mengiris kepalaku. Gila. Setelah semua terlihat terkendali, aku sekarang dijadikan tumbal.

“Sudah hampir dua belas jam tidak ada korban,” suara lain menyusul dari radio. “Sepertinya benar dia bagian dari teror.” Ada persetujuan singkat, datar. Mobil bergerak. Sirene meraung, kota seolah tenggelam dalam gelap. Roda menghantam aspal, ritmenya seperti hitungan mundur. Apa ini akhir hidupku?

“Nirmala tidak ditemukan,” gumamku dalam hati, tertahan lakban. Keringat mengalir di pelipis.

Hanya dengan bukti alat penyadap aku dijadikan pelaku. Ini benar-benar gila. Bahkan aku saja tidak tahu kalau bajuku ada penyadapnya.

Apakah Ratna, istriku, terlibat?

Ratna perawat Ibu Lusi. Ibu Lusi ibunya Nirmala.

Yang pertama kali mengatakan 172 adalah Andika.

Dia mengetahui berdasarkan kecerdasannya, atau dia diarahkan seseorang?

Aku semakin pusing memikirkannya.

Ingin sekali aku marah, berteriak, dan memaki. Aku merasa semua mempermainkanku.

Melihat kaca mobil yang dilapisi teralis baja, aku tahu ini keluar kota. Sudah satu jam perjalanan, tapi tak kunjung sampai.

Aku mendengarkan sebuah berita.

Sepertinya kasus ini ditangani oleh satuan tugas antiteror.

Aku menajamkan telinga.

“Hadirin sekalian,” suara pejabat terdengar mantap. “Teror yang melanda negeri ini telah membahayakan. Hari ini kami menangkap pelaku. Jaringan teroris Asia Tenggara dengan dalih pemerataan kesejahteraan. Korban adalah anak-anak orang kaya. Kami menemukan daftar calon korban sebanyak tiga ratus orang. Markas di Purwakarta. Situasi terkendali. Pelaku berinisial AD dan RM.”

“Apa-apaan ini,” jeritku dalam hati. Rahangku mengeras, gigi bergertak di balik lakban.

Calon korban kenapa jadi tiga ratus orang?

Motifnya jadi teror karena pemerataan kesejahteraan?

Kenapa tidak menyebutkan Nirmala sama sekali?

Padahal semua korban berhubungan langsung atau tidak langsung dengan kasus perundungan Nirmala.

Pantas saja aku disuruh pulang.

Mereka memeras kepalaku untuk memecahkan kasus. Setelah dipecahkan, aku dijadikan tersangka.

Ini gila.

Aku dicap teroris.

Mereka sendiri menciptakan teror.

Dan tentu saja aku tahu arahnya ke mana.

Tentu saja pada anggaran keamanan.

Situasi sudah kondusif dan mereka ingin mendapatkan keuntungan.

Binatang, aku mengumpat.

Hidupku terlalu naif.

..

..

Sepertinya breaking news itu sudah usai. Suara televisi di kejauhan mengecil, berganti tawa kecil dan bisik-bisik lega. Aku menatap mereka satu per satu. Ada raut wajah puas, bahkan bahagia. Seperti orang-orang yang baru saja lolos dari badai dan kini bersiap menerima bonus atas kekacauan yang berhasil mereka kelola, entah dengan cara apa.

Aku menahan kesal. Dadaku terasa sesak. Aku memejamkan mata, berharap bisa tidur dan tidak bangun lagi. Dunia ini terlalu kejam bagi seseorang yang masih percaya pada kata pengabdian, pada gagasan menjadi pahlawan tanpa pamrih. Perlahan kesadaranku memudar, tubuhku menyerah pada lelah yang sudah terlalu lama menumpuk.

Entah berapa lama aku tertidur, sampai guncangan mobil membangunkanku. Kepalaku terhentak ringan ke sandaran kursi.

“Gila, ada yang mati lagi. Langsung lima belas orang,” ucap seseorang dengan suara tergesa.

Aku terdiam. Bahkan tidak membuka mata. Aku tidak tahu harus merasa bahagia atau kecewa. Bahagia, karena dengan ditetapkannya aku sebagai tersangka, teror itu ternyata tidak berhenti. Itu bukti jelas bahwa semua ini tidak ada hubungannya denganku. Aku bukan pelaku. Aku hanya pion yang disingkirkan.

Namun di saat yang sama, aku kecewa. Aku ini abdi negara. Melihat keamanan negeri ini dipermainkan seperti permainan papan, dipindah-pindahkan sesuka hati oleh sosok tak terlihat, rasanya seperti ditampar berulang kali.

“Apa lima belas orang itu masuk ke daftar?” terdengar suara lelaki lain.

Aku memilih berpura-pura tidur. Jujur saja, aku sudah lelah untuk peduli. Trauma itu nyata. Peduli hanya membuatku terluka lebih dalam.

“Termasuk,” jawab suara lain singkat.

Aku membuka mata perlahan, menatap langit-langit mobil yang gelap. Jadi bukan berhenti. Pelaku itu hanya menjeda. Lima belas jam tanpa korban, lalu semuanya dibayar lunas. Sekaligus. Brutal. Terukur. Seolah ingin mengejek kami semua.

Sebelumnya keadaan diumumkan aman. Kota mulai bernapas lega. Dan sekarang, korban massal terjadi.

Ini bukan sekadar teror. Ini pesan.

Dan pesan itu jelas. Kami semua sedang dipermainkan.

Mobil terus melaju di jalur tol. Aku bersandar di kursi, memejamkan mata, berpura-pura tidur. Napasku kuatur pelan. Dari getaran mesin dan suara roda, aku tahu kecepatan kami stabil. Rantis ini seharusnya aman. Terlalu aman.

Tiba-tiba mobil bergoyang keras.

Aku langsung membuka mata. Getarannya tidak wajar, seperti menghantam sesuatu di bawah. Sopir mengumpat pelan. Aku sempat berpikir ban kempes, tapi pikiran itu langsung kutepis. Ban rantis tidak mungkin kempes.

Lalu terdengar letupan. Satu kali. Disusul dua, tiga kali berturut-turut. Bukan suara tembakan biasa. Lebih seperti dentuman teredam yang menghantam badan mobil.

Mobil oleng. Setir ditarik keras, tapi terlambat.

Rantis yang kutumpangi tergelincir dan menghantam pembatas jalan dengan bunyi logam beradu. Tubuhku terhempas ke samping. Kepalaku membentur dinding besi. Pandanganku berkunang, tapi aku masih sadar.

Sopir terkulai di depan. Kepalanya menghantam dasbor. Dia pingsan.

Aku menelan ludah. Ini terjadi di jalan tol, tapi anehnya sepi. Terlalu sepi. Tidak ada kendaraan lain. Seolah jalan ini sudah dikosongkan sejak awal.

Aku membuka pintu dengan susah payah dan keluar. Udara malam terasa dingin menusuk. Dari kejauhan, kulihat dua rantis lain berhenti. Dan di sekeliling kami, tiga mobil bak sampah sudah mengepung.

Pintu-pintu bak sampah terbuka.

Orang-orang bersenjata meloncat turun. Gerakan mereka cepat dan terlatih. Saat anggota lain keluar dari rantis, senjata langsung diarahkan. Tidak ada suara tembakan keras. Hanya bunyi pendek, nyaris tak terdengar.

Satu per satu anggota roboh. Tubuh mereka jatuh lemas. Pelurunya jelas bukan untuk membunuh. Mereka dibuat pingsan.

Aku mundur selangkah, tapi terlambat.

Sesosok bayangan muncul dari belakang. Sebuah pukulan keras menghantam tengkukku. Rasa panas menjalar seketika.

Dan aku tak sadarkan diri

1
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
Nurr Tika
lebih banyak dong thor up nya
Nurr Tika
bikin penasaran thor lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,, apakah ini yg bls dendam pcaranya atau ibunya.
Nurr Tika
lanjut,,,,,
Nurr Tika
makin seru lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!