NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Ruang Ajaib / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:337.2k
Nilai: 5
Nama Author: ICHA Lauren

Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.

Jenara menolak akhir itu.

Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.

Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.

Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.

Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.

Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makanan yang Tidak Biasa

Halaman rumah Kepala Desa dipenuhi suara percakapan bercampur dengan keluhan. Desah napas berat dan nada panik terdengar dari warga.

Merasa penasaran, Jenara berjalan mendekati seorang bapak paruh baya yang berdiri dengan tangan bersedekap. Wajahnya kusut oleh cemas.

“Pak, sebenarnya ada apa? Kenapa warga berkumpul di sini?” tanya Jenara pelan.

Bapak itu menoleh. “Kau belum dengar, Jenara? Hama belalang makin merajalela. Sawah dan ladang kami terancam.”

Jantung Jenara berdebar. “Seberapa parah, Pak?”

Bapak itu menghela napas panjang. “Parah sekali. Mereka datang bergerombol. Pagi hari masih hijau, menjelang siang tinggal tulang daun. Padi yang baru berbulir digerogoti sampai patah. Jagung yang mulai berisi dipenuhi lubang. Bahkan daun singkong pun tak luput. Dalam satu malam, setengah petak sawah bisa habis.”

Jenara terdiam. Ia bisa membayangkan bunyi sayap berdesing, gerakan ratusan bahkan ribuan serangga melompat dan terbang rendah, lalu melahap apa saja yang hijau. Dalam kenyataan di banyak tempat, belalang memang mampu menghabiskan tanaman dalam hitungan jam.

“Kalau begini terus, kami akan gagal panen,” lanjut bapak itu, “Padi tak jadi beras, jagung tak bisa dijual. Uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari dari mana?”

“Selama ini bagaimana ditanggulangi, Pak?” tanya Jenara lagi.

“Macam-macam sudah dicoba,” jawabnya. “Kami membuat asap dari jerami kering untuk mengusir mereka. Ada pula yang menyiramkan ramuan air tembakau dan daun mimba yang ditumbuk. Tapi, belalang tetap datang. Entah dari mana asalnya," keluh sang Bapak.

Percakapan mereka terhenti ketika pintu rumah Kepala Desa terbuka. Pak Kepala Desa muncul dengan wajah serius.

“Saudara-saudara, silakan masuk. Kita bicarakan bersama di dalam.”

Warga bergerak masuk. Jenara ragu sejenak, tetapi memutuskan untuk ikut. Minuman lidah buaya, ia serahkan dulu pada istri Kepala Desa di beranda.

"Ini apa Jenara?" tanya Bu Kepala Desa bingung.

"Minuman dari tanaman lidah buaya, Bu. Rasanya segar, bisa menghilangkan panas dalam, melembapkan kulit dan bagus untuk rambut. Ibu coba saja."

Ibu Kepala Desa mengangguk lantas membawa kendi pemberian Jenara ke dalam.

Sementara, ruang tamu rumah Kepala Desa sudah penuh. Para lelaki duduk bersila, para perempuan berkumpul di sisi lain. Suasana tegang.

Salah satu perwakilan warga berdiri. “Pak Kepala Desa, kami datang karena hama belalang makin menjadi-jadi. Sawah kami rusak, ladang sayur habis. Kalau begini terus, dua bulan lagi kita tidak punya persediaan beras cukup."

Perwakilan warga yang lain menimpali," Jagung yang biasa kami jual ke desa tetangga juga tak tersisa. Penghasilan kami turun. Bagaimana kami membayar pajak tanah? Bagaimana membeli garam, minyak, dan tepung?”

Suara setuju terdengar di sana-sini.

“Anak-anak kami butuh makan,” sahut seorang ibu. “Kalau panen gagal, kami bisa kelaparan.”

Pak Kepala Desa menarik napas dalam. “Saya paham kegelisahan kalian. Kemarin saya sudah mengirim utusan ke desa sebelah untuk menanyakan cara mereka menghadapi hama serupa. Mereka menyarankan memperbanyak asap di sawah dan menanam tanaman pengusir di tepi ladang. Kita juga bisa membuat parit lebih dalam agar belalang yang melompat terjebak.”

Sebagian warga menggeleng. “Kami sudah membuat asap hampir setiap sore. Parit pun kami gali. Tapi belalang tetap datang dalam jumlah besar.”

Kepala Desa terdiam sesaat, sebelum memandang sekeliling. “Kalau begitu, siapa yang punya usul lain, silakan bicara. Kita hadapi ini bersama.”

Seorang lelaki bertubuh besar angkat suara. “Bagaimana kalau hari ini kita tangkap saja belalang bersama-sama? Kita kerahkan semua warga. Anak muda, orang tua. Kita sapu sawah, kita kumpulkan, lalu kita buang jauh-jauh ke hutan.”

Namun para ibu ikut menyahut, “Sudah kita lakukan tiga hari lalu. Kita tangkap sampai dua karung. Besoknya datang lagi lebih banyak. Kita kelelahan, sementara sawah tetap rusak.”

Ruang tamu kembali sunyi. Ketidakberdayaan menggantung di benak semua orang.

Di sudut ruangan, Jenara menelan ludah. Sebuah gagasan berputar di kepalanya sejak tadi.

Ia teringat sebuah jurnal penelitian yang ia buat di universitas, tentang mengolah hama menjadi bahan pangan. Dan belalang adalah serangga yang mengandung protein tinggi, mudah didapat dalam jumlah banyak.

Setelah menimbang-nimbang sejenak, Jenara menarik napas dan mengangkat tangan.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu… mohon maaf,” ucapnya hati-hati. “Saya punya usul.”

Sontak, semua mata tertuju padanya.

“Bagaimana kalau belalang itu kita tangkap, bukan untuk dibuang, tapi untuk diolah menjadi makanan bergizi?" pungkas Jenara.

"Dengan begitu, waktu kita tidak terbuang percuma. Kita tetap membersihkan sawah, dan hasil tangkapan bisa dijual atau dikonsumsi. Ini bisa membantu perekonomian warga sementara menunggu panen berikutnya.”

Beberapa orang terperangah. Ada yang berbisik, ada pula yang memandang Jenara, seakan ia baru saja mengatakan hal paling aneh di dunia.

Pak Kepala Desa pun menatap Jenara dengan ekspresi terkejut.

“Kau yakin belalang bisa dimakan, Jenara?”

“Ya, Pak,” jawab Jenara mantap. “Belalang, terutama jenis yang menyerang padi dan jagung, sebenarnya aman dimakan jika diolah dengan benar. Di beberapa daerah, belalang digoreng atau dijadikan abon. Kandungan proteinnya tinggi. Bisa menjadi sumber gizi saat hasil panen berkurang.”

Belum sempat Kepala Desa menanggapi, suara nyaring terdengar dari pintu.

“Jenara, apa kau sudah gila?”

Semua menoleh. Rasmi berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit terengah. Wajahnya memerah antara kaget dan mencibir.

“Mengusulkan belalang untuk dijadikan makanan?” lanjutnya dengan nada tajam. “Kita ini manusia, bukan ayam!”

Mendengar itu, beberapa warga ikut tertawa mengejek.

Jenara tetap berdiri. Dadanya berdebar, tetapi ia tidak mundur.

“Bibi Rasmi, saya tidak bermaksud merendahkan siapapun. Justru saya ingin mencari jalan keluar. Kalau kita hanya membuang belalang, besok mereka datang lagi. Tapi jika kita mengolahnya menjadi makanan bergizi, setidaknya ada manfaatnya.”

Seorang ibu di barisan depan bertanya ragu, “Apa tidak berbahaya, Jenara? Bagaimana kalau beracun?”

“Belalang yang memakan tanaman tidak beracun, Bu, selama tidak tercemar racun atau pestisida,” jelas Jenara tenang. “Kita bersihkan bagian sayap dan kaki yang keras, cuci bersih, lalu masak sampai matang. Bisa digoreng kering dengan bumbu, dibuat kerupuk, atau ditumbuk menjadi abon. Rasanya gurih, seperti udang kecil.”

Ruang tamu mulai dipenuhi gumaman penasaran.

Pak Kepala Desa menyandarkan punggungnya. “Jika ini benar, selain mengurangi hama, kita juga mendapatkan bahan pangan baru.”

“Tapi siapa yang mau makan serangga itu? Kita semua pasti jijik," sela Rasmi sinis. “Dan kalian harus ingat siapa Jenara ini. Dia wanita pemalas, suka berjudi, dan kurang berpendidikan. Apa kalian mau percaya begitu saja dengan ucapannya?"

Jenara menatapnya, tidak terpancing. “Bukankah dulu kita juga tidak biasa makan beberapa jenis sayur, sebelum tahu manfaatnya? Hari ini, saya mencoba memberikan solusi. Bisa diterima atau tidak, saya serahkan kepada Kepala Desa dan warga sekalian."

Suasana di ruang tamu menjadi penuh bisik-bisik. Ada yang setuju dengan Jenara, tetapi banyak pula yang menolak dengan tatapan sinis.

Pak Kepala Desa akhirnya berkata, “Usul Jenara memang tidak biasa. Tapi keadaan kita sedang terjepit. Bagaimana jika kita coba dalam skala kecil dulu? Kita tangkap belalang di satu petak sawah, lalu kita minta Jenara menunjukkan cara mengolahnya. Bila hasilnya baik dan aman, kita bisa lanjutkan.”

Beberapa warga saling pandang. Rasmi pun mendecak pelan, kemudian berkacak pinggang.

"Kita tidak bisa mengambil risiko, Pak Kepala Desa. Jenara boleh mencobanya, tapi dia harus menangkap belalang sendiri, memasak, lalu memakannya di hadapan kita semua sebagai contoh. Apa kau bersedia, Jenara?" tantang Rasmi.

1
zen
⭐⭐⭐⭐⭐
SENJA
licik lu 🤮
SENJA
lu banyak minta nya
Ulufi Dewi
malam yang keossss ini
Andrea
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Eva Nietha✌🏻
Sangat2 suka karya mu keren thor bikin nagih
Wahyuningsih
yaah akhirnya tamat jga.... dtnggu crita brunya thor hrs lebih bagus dri yg ini 💪💪💪💪💪💪💪 thor dlm berkarya
@Mita🥰
akhirnya happy ending semuanya 😍😍😍
@Mita🥰
Lido nanti jadi koki istana terus si sita atau siapa itu cewek gendut di panggil 🫣
itin
cerita yang bagus
Hary Nengsih
d tunggu karya baru tour
Miaaaoowww😸
ahhhhh love sekebooonnnn😘😘😘
Ita Xiaomi
Keren ceritanya. Jenara tetap giat bekerja dan berusaha meski memiliki ruang dimensi. Setelah menjd Permaisuri pun ia tetap ramah dan baik hati. Memiliki keluarga yg saling menyayangi. Tq Kk ceritanya. Semangat berkarya. Berkah&sukses selalu.
Dewiendahsetiowati
aroma2 mau tamat nih
Ita Xiaomi
Giri dan Gatra msh di desa.
gina altira
Secara tidak langsung RAJENDRA melindungi keponakannya sendiri. 😥
Septi Wijaya
akhirnya.... calon putra mahkota sdh tumbuh dlm rahim jenara😍

to, bagaimana dgn triplets?
Ita Xiaomi
Ndak bs diselamatkan oleh ruang Wiji ya Pangeran Rajendra? 😢
Ita Xiaomi
Sedihnya 😭😭😭
Dandelion
next ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!