NovelToon NovelToon
Cinta Sang Ratu Bayangan

Cinta Sang Ratu Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:553
Nilai: 5
Nama Author: vier08

Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.

Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.

Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.

"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.

Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENCANA BUSUK

Para pelayan yang tadinya memihak Clarissa kini bahkan tidak berani mendekat untuk membantunya berdiri, mereka hanya memandang sang Lady dengan tatapan jijik.

Begitupun dengan para Lady yang lain, mereka lebih memilih pergi dari sana, meninggal kan Clarissa sendiri.

"Arlon benar, terkadang menjadi lemah adalah senjata yang paling mematikan," batin Elena tersenyum dalam hati.

Elena kembali ke Paviliun Bintang, dengan senyum penuh kemenangan, begitu dia masuk, dia langsung di sambut oleh wajah pucat Pangeran Arlon.

"Bagaimana pesta teh nya?" tanya Arlon, yang sedang duduk di ranjang.

"Aku mencuri cincin dari pelayan Clarissa yang menggeledah ku tadi, wanita ular itu menuduh ku mencuri kalung ratu, anggap saja cincin ini bayaran untuk aktingku yang melelahkan," ucap Elena melemparkan sebuah kantong kecil ke pangkuan Arlon.

"Hahahaha...."

Arlon tertawa lepas, saat mendengar penuturan istrinya, dia menarik tangan Elena dan mencium telapak tangan gadis itu dengan lembut.

Cup

"Kamu benar-benar monster yang cantik, Elena," ucap Pangeran Arlon, tersenyum kecil.

Elena menarik tangannya dengan cepat, dan pipi nya tampak memerah samar.

"Jangan mulai lagi, cepat pegang tanganku, energi mu mulai habis," ucap Elena, mengalihkan pembicaraan.

Arlon menurut, dia menggenggam tangan Elena lembut, membiarkan kehangatan itu kembali menyatukan mereka.

"Selena pasti akan mengamuk," gumam Arlon, pelan.

"Biarkan saja dia mengamuk," gumam Elena sambil duduk di samping Arlon.

"Setidaknya aku punya alasan untuk tidak datang ke acara teh membosankan itu lagi," lanjut Elena, mendengus.

Dua orang yang dianggap sampah itu kini duduk bersandar satu sama lain di paviliun yang sepi, menertawakan kehancuran yang mulai mereka tabur di jantung istana Belmont.

Sementara itu, di waktu yang sama, tapi di tempat yang berbeda, di paviliun Ratu Selena tidak sehangat Paviliun Bintang.

"Bodoh! Benar-benar tidak berguna!" teriak Ratu Selena, napasnya tersengal karena amarah yang memuncak.

Di depannya, kini ada Clarissa yang sedang bersimpuh dengan tubuh gemetar hebat. Wajahnya yang tadi merah padam karena malu, kini pucat pasi, di samping Ratu, Pangeran Arkan yang baru saja meletakkan dua kalung safir yang identik di atas meja kecil dengan ekspresi muak.

"Bibi... tolong dengarkan aku, dia yang menjebak ku! Elena yang menaruh kalung itu di sakuku!" ucap Clarissa, terisak, sambil mencoba meraih ujung gaun Ratu Selena.

Ratu Selena menyentak gaunnya, menghindari sentuhan Clarissa seolah-olah keponakannya itu adalah kuman.

"Lalu kenapa kalung aslinya ada di tanganmu, Clarissa? Dan bagaimana bisa ada dua kalung yang tampak sama persis?" tanya Ratu Selena, geram.

"A-aku... aku hanya ingin memberinya pelajaran! Aku memesan replikanya agar bisa menuduhnya mencuri barang Bibi, tapi-"

"Tapi kamu malah masuk ke dalam perangkapnya sendiri!" potong Ratu Selena dengan suara keras nya.

"Kamu membiarkan semua orang melihatmu memegang dua kalung itu! Sekarang seluruh pelayan istana membicarakan mu, bahwa kamu, seorang Lady dari keluarga bangsawan tinggi, memiliki tangan panjang dan mencoba mencuri perhiasanku!" lanjut Ratu Selena, benar-benar geram dengan kebodohan Clarissa.

Ratu Selena berjalan mondar-mandir, dengan kipas di tangannya, mengibaskan dengan keras berkali-kali.

Reputasi adalah segalanya di Belmont, dan hari ini, Clarissa baru saja merobek reputasi keluarga besar mereka di depan umum.

"Ibu, masalahnya bukan hanya soal kalung. Elena memperlihatkan lebam di tangannya di depan banyak orang, dia membuat seolah-olah kita menyiksanya secara fisik. Jika kabar ini sampai ke telinga para tetua atau, lebih buruk lagi ke rakyat, citra kita akan hancur, dan kita akan kehilangan banyak pendukung," ucap Pangeran Arkan, angkat bicara.

Ratu Selena berhenti melangkah, matanya menyipit tajam, memancarkan kebencian yang mendalam.

"G-gadis itu... dia jauh lebih berbahaya dari yang aku bayangkan, dia tahu cara memainkan peran sebagai korban," ucap Ratu Selena, mengeram rendah.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Bibi? Aku tidak bisa membiarkan namaku tercemar!" seru Clarissa,. dengan air mata yang kini benar-benar jatuh karena ketakutan.

Ratu Selena menatap keponakannya itu dengan pandangan jijik, lalu memberikan isyarat kepada pelayan pribadinya.

"Bawa Lady Clarissa kembali ke kediamannya. Katakan pada ayahnya, dia dilarang muncul di depan publik selama tiga bulan ke depan dengan alasan sakit. Aku tidak ingin melihat wajah bodohnya untuk sementara waktu!" perintah Ratu dingin.

"Bibi! Jangan lakukan itu padaku!" teriak Clarissa saat dua pengawal menariknya berdiri.

"Bawa dia!" perintah Ratu Selena, tanpa menanggapi protesan Clarissa.

"Baik Yang Mulia!"

Setelah Clarissa diseret keluar dengan isak tangisnya yang memilukan, ruangan itu kembali hening, Ratu Selena beralih menatap putra mahkotanya, Arkan.

"Arkan, perintahkan orang-orang mu untuk mengawasi mereka berdua, Elena bukan sekadar gadis desa yang beruntung, ada sesuatu yang sangat gelap di balik ketenangannya," ucap Ratu Selena sambil mencengkeram pinggiran meja hingga kuku jarinya memutih.

"Aku tahu, Ibu, dia seolah-olah sengaja memancing keributan hanya untuk mempermalukan kita," jawab Arkan, teringat bagaimana Elena menatapnya tadi, ada kilat kemenangan yang sangat tipis di matanya.

"Dia pikir dia sudah menang karena berhasil mempermalukan Clarissa, mungkin ya lupa bahwa di istana ini, aku adalah penguasanya. Jika dia ingin bermain sebagai korban, maka aku akan memastikan dia benar-benar menjadi korban yang tidak akan pernah bisa bangkit lagi," ucap Ratu Selena, tersenyum dingin.

Ratu Selena meraih satu kalung safir yang asli, menggenggamnya erat hingga sudut permata itu menusuk telapak tangannya, kemarahannya kini telah berubah menjadi rencana yang jauh lebih licik.

"Ibu benar-benar akan membiarkannya?" tanya Arkan sambil mendekati meja.

Arkan mengambil replika kalung safir itu, memutar-mutarnya di tangan dengan tatapan sinis.

"Membiarkannya? Tentu saja tidak, Arkan. Tapi kita tidak bisa menyerangnya secara terang-terangan sekarang, saat ini seluruh mata sedang tertuju pada memar di tangan Elena," jawab Ratu Selena, sambil menuangkan teh yang sudah dingin ke cangkirnya.

Brak

Arkan melempar kalung palsu itu ke meja hingga menimbulkan suara denting yang nyaring.

"Gadis itu pintar berakting, dia membuat seolah-olah istana ini adalah neraka baginya. Jika kita menyentuhnya sedikit saja sekarang, publik akan menganggap kita benar-benar tiran," ucap Arkan mendengus geram, membayangkan wajah tenang Elena yang sangat memuakkan baginya.

Ratu Selena menyesap tehnya sedikit, lalu menatap Arkan dengan mata yang menyipit tajam, dia tidak menyangka, gadis rebahan yang dia pilih untuk Pangeran Arlon, ternyata se licik itu.

"Biarkan dia menikmati kemenangannya malam ini, tapi tidak untuk besok pagi, akan aku buat mereka menjadi lelucon yang di tonton semua orang," ucap Ratu dengan nada bicara yang rendah namun menusuk.

"Kita lihat saja, Elena. Siapa yang akan bertahan sampai akhir di papan catur ini," bisik Ratu Selena pada kegelapan malam.

Arkan yang berdiri di belakang ibunya hanya terdiam, namun tangannya terkepal kuat. Baginya, Elena bukan sekadar gangguan, tapi tantangan yang harus dia hancurkan dengan tangannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!