NovelToon NovelToon
Turunnya Naga Suci: Bangkit Dalam Dendam

Turunnya Naga Suci: Bangkit Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di Benua Langit Sembilan, Xiao Yuan adalah jenius tak tertandingi yang memegang Sumsum Naga Suci. Namun, di malam pernikahannya, ia dikhianati oleh tunangannya, Ling’er, yang meracuninya dan membedah tulang naganya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya. Xiao Yuan dibuang ke Jurang Keputusasaan dalam kondisi cacat.
Namun, takdir tidak berhenti. Roh Naga Kuno yang tertidur di dasar jurang menyatu dengan jiwanya yang hancur. Dengan bantuan Yun’er, gadis misterius dari klan terbuang, Xiao Yuan merangkak naik dari neraka. Kali ini, ia tidak akan menjadi pelindung dunia, melainkan Dewa Naga yang akan menghancurkan siapa pun yang pernah menginjaknya. "Jika langit menghalangi jalanku, aku akan merobek langit!".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Pengorbanan Sang Naga Langit

Gemuruh di langit Menara Keputusasaan terdengar seperti rintihan jutaan jiwa yang terkutuk. Petir berwarna ungu hitam menyambar-nyambar, membakar udara hingga menyisakan bau belerang dan kematian. Di depan gerbang menara yang angkuh, Xiao Yuan berdiri dengan napas yang menderu layaknya tungku pembakaran. Darah Iblis Kuno yang ia teguk kini sedang berpesta di dalam nadinya, memaksa setiap inci ototnya untuk terus bergerak, menghancurkan apa pun yang ada di depan mata.

Namun, tangannya yang memegang Glaive Naga Kiamat kini bergetar hebat. Di hadapannya, ibunya, Ye Ling, tergantung layu dengan paku-paku perak yang menembus tulang-tulang sendinya. Setiap kali Xiao Yuan mengumpulkan energi untuk menyerang Xiao Tian, paku-paku itu bersinar terang, menyedot paksa esensi kehidupan Ye Ling sebagai tumbal penahan energi.

"Kenapa kau berhenti, Yuan-er sayang?" Ling’er tertawa, suaranya melengking di antara deru badai. Ia berdiri di balik perlindungan Xiao Tian, menatap penderitaan Xiao Yuan dengan kenikmatan yang tidak manusiawi. "Ayo, serang lagi! Semakin kuat kau bertarung, semakin cepat ibumu akan menjadi mayat kering. Bukankah ini reuni yang indah?"

"Kau... kau bukan lagi manusia, Ling'er," desis Xiao Yuan. Suaranya terdengar sangat berat, keluar dari tenggorokan yang sudah dilapisi sisik hitam iblis.

"Yuan... dengarkan ibu..."

Suara batin Ye Ling terdengar jernih di dalam kepala Xiao Yuan, sebuah kontras yang tajam dengan kebisingan pertempuran di sekeliling mereka. Xiao Yuan mematung. Ia bisa melihat ibunya sedikit mengangkat wajahnya yang pucat, meski matanya tertutup kain hitam yang berlumuran darah.

"Ibu, jangan bicara! Aku akan mencari cara... aku akan menyelamatkanmu!" Xiao Yuan meraung dalam pikirannya.

"Tidak ada cara lain, anakku," suara Ye Ling terdengar tenang, seolah ia sudah menerima takdir ini sejak ribuan tahun yang lalu. "Menara ini adalah mesin penghisap jiwa. Selama aku masih bernapas, paku-paku ini akan terus mengikatmu dan mengambil kekuatanmu untuk membuka Gerbang Iblis. Jika gerbang itu terbuka, seluruh benua akan musnah. Kau harus mematahkan rantai ini... kau harus membunuhku."

"TIDAK! AKU TIDAK AKAN MELAKUKANNYA!" Xiao Yuan berteriak histeris. Ia melesat menuju Xiao Tian dengan kemarahan yang tak terkendali.

KLANG!

Glaive Xiao Yuan beradu dengan Pedang Ilahi Xiao Tian. Ledakan energi yang dihasilkan meruntuhkan beberapa pilar di depan menara. Namun, saat itu juga, Ye Ling menjerit kesakitan. Paku perak di dadanya bersinar merah membara, membakar jantungnya dari dalam.

"Hahaha! Lihat itu!" Xiao Tian menyeringai kejam. "Setiap tebasanmu adalah belati bagi ibumu sendiri! Kau membunuhnya, Xiao Yuan! Kau adalah putra yang akan membunuh ibunya!"

Yun’er, yang masih terikat oleh sisa-sisa trauma di belakang Xiao Yuan, tidak bisa lagi tinggal diam. Ia melihat betapa hancurnya jiwa Xiao Yuan. Penyatuan jiwa mereka membuatnya merasakan robekan di hati Xiao Yuan sebuah rasa sakit yang lebih hebat dari luka fisik mana pun.

"Permaisuri! Berikan aku kekuatan terakhirmu!" Yun’er berteriak pada Sang Permaisuri Phoenix Es yang masih terkapar lemah di samping Long Chi.

"Yun'er, apa yang kau lakukan? Tubuhmu tidak akan kuat!" Kakek Gu mencoba menahan, namun Yun’er sudah mulai merapal mantra terlarang: Pemisahan Takdir.

Yun’er berdiri, rambut birunya menyala terang. Ia berlari bukan menuju Xiao Yuan, melainkan menuju peti perak yang sudah hancur di samping gerbang. Ia menyadari bahwa paku-paku di tubuh Ye Ling terhubung melalui sebuah rangkaian energi yang tertanam di fondasi menara.

"Yuan! Alihkan perhatian Xiao Tian! Aku akan mencoba memutus aliran energinya!" teriak Yun’er.

Xiao Yuan menoleh sekilas. Harapan kecil muncul di matanya yang merah. Dengan sisa kewarasannya, ia mengeluarkan teknik Sembilan Transformasi Naga Suci: Transformasi Kehampaan. Tubuhnya membelah menjadi delapan bayangan, menyerang Xiao Tian dari segala penjuru, memaksa sang Pangeran Mahkota untuk bertahan sepenuhnya.

"Gadis bodoh! Kau pikir kau bisa menyentuh formasi Dewa?!" Ling’er menyadari rencana Yun’er. Ia mengangkat tangannya, melepaskan anak panah energi gelap ke arah Yun’er.

SRAK!

Baraka melompat ke depan, membiarkan anak panah itu menembus perutnya demi melindungi Yun’er. "Jalan terus, Nak! Biarkan pria tua ini berguna untuk terakhir kalinya!" Baraka memuntahkan darah, namun ia tetap berdiri memegang tombaknya, menghalangi Ling’er.

Yun’er sampai di pusat formasi. Ia menghujamkan tangannya yang diselimuti es murni ke dalam tanah. "Esensi Phoenix Es: Pembekuan Takdir!"

Seketika, cahaya merah pada paku-paku di tubuh Ye Ling mulai meredup, tertutup oleh lapisan es biru. Proses penghisapan energi terhenti sejenak.

"Sekarang, Yuan! Selamatkan Ibu!" seru Yun’er.

Xiao Yuan melihat celah itu. Ia melesat secepat kilat melewati Xiao Tian. Glaive-nya ia simpan, tangannya menjangkau paku perak di dada ibunya untuk mencabutnya secara manual. Namun, Ling’er tersenyum licik.

"Kau masuk ke dalam perangkapku, Yuan."

Ling’er meremas sebuah kristal di tangannya. Ternyata, penghentian energi tadi adalah bagian dari jebakan. Saat Xiao Yuan menyentuh paku itu, seluruh energi iblis dari menara justru mengalir masuk ke tubuh Xiao Yuan melalui paku tersebut, mengunci tangannya.

"Sekarang, buka gerbangnya!" Ling’er berteriak.

Pintu raksasa Menara Keputusasaan mulai terbuka perlahan. Suara tawa iblis yang mengerikan terdengar dari dalamnya. Ye Ling melepaskan tangisan pilu. Ia tahu, jika ia tetap hidup, Xiao Yuan akan digunakan sebagai kunci abadi.

"Anakku... dengarkan aku untuk terakhir kalinya," Ye Ling membuka matanya yang berdarah, menatap Xiao Yuan dengan kasih sayang yang menghancurkan. "Jangan biarkan mereka memilikimu. Jadilah naga yang bebas... naga yang akan membakar ketidakadilan ini."

Tanpa menunggu balasan Xiao Yuan, Ye Ling menggunakan sisa energi naganya untuk membalikkan aliran paku perak itu ke arah jantungnya sendiri.

CRACK!

"IBUUUUUU!" Xiao Yuan meraung.

Paku perak itu menembus jantung Ye Ling, menghancurkan esensi kehidupannya seketika. Ledakan energi suci berwarna perak meledak dari tubuh Ye Ling, menghancurkan paku-paku lainnya dan melemparkan Xiao Yuan mundur.

Ye Ling jatuh ke pelukan Xiao Yuan yang sedang berlutut. Napasnya tersengal, namun senyum damai tersungging di bibirnya. "Akhirnya... ibu bisa melihat wajahmu lagi... anakku yang gagah..."

Cahaya di mata Ye Ling memudar. Tubuhnya perlahan berubah menjadi butiran cahaya perak yang terbang menuju langit. Sang Naga Langit telah tiada, mengorbankan nyawanya demi memutuskan rantai yang mengikat putranya.

Keheningan yang mematikan menyelimuti medan perang. Bahkan Xiao Tian dan Ling’er terdiam sesaat melihat pengorbanan tersebut.

Namun, keheningan itu segera berganti dengan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Xiao Yuan menunduk, menatap tangannya yang kini hanya menggenggam sisa-sisa cahaya ibunya. Rambutnya yang tadinya hitam dengan garis emas, kini berubah menjadi warna putih susu yang bercahaya warna kesedihan mutlak. Tanda di dahinya pecah, menyebarkan kegelapan ke seluruh wajahnya.

Ia berdiri perlahan. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangisan. Hanya ada aura yang begitu dingin hingga tanah di bawahnya hancur menjadi debu es.

"Kalian..." suara Xiao Yuan pelan, namun setiap kata terasa seperti gunung yang jatuh menghimpit dada. "Kalian telah mengambil segalanya dariku."

Xiao Yuan menatap Xiao Tian dan Ling’er. Matanya kini tidak lagi memiliki bagian putih atau pupil; hanya ada dua lubang cahaya putih yang memancarkan kehampaan.

"Hari ini, aku tidak akan menjadi naga. Aku tidak akan menjadi iblis. Aku akan menjadi akhir dari kalian semua."

Xiao Yuan mengangkat tangannya. Glaive Naga Kiamat melayang ke arahnya, namun bentuknya berubah menjadi sebilah pedang panjang yang tipis dan transparan Pedang Duka Sang Naga.

Xiao Yuan melangkah satu kali, dan dalam sekejap, separuh dari Menara Keputusasaan runtuh menjadi debu. Xiao Tian yang ketakutan mencoba melarikan diri menggunakan portal ilahi, namun Xiao Yuan hanya melambaikan tangan dan portal itu membeku, pecah menjadi berkeping-keping. Ling’er jatuh berlutut, menyadari bahwa ia telah membangunkan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada di sembilan alam: sesosok 'Dewa Kematian Naga'. Namun, di tengah amukan kekuatannya, Yun’er menyadari bahwa jantung Xiao Yuan telah berhenti berdetak. Ia bertarung menggunakan sisa-sisa jiwanya yang terbakar. Jika peperangan ini tidak segera berakhir, Xiao Yuan akan menang, namun ia akan mati bersama musuh-musuhnya.

1
Rebeka Saja
keren ka...
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
Nur Aini
lanjut terus Thor
christian Defit Karamoy: siap kak 🙏
total 1 replies
christian Defit Karamoy
mampir yuk di cerita baru thor
perjuangan suamiku:istriku surgaku😍
christian Defit Karamoy
mantap
christian Defit Karamoy
mampir yuk di cerita baru thor
perjuangan suamiku:istriku Surgaku😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!