NovelToon NovelToon
Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Richacymuts

Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”

Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.

Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Warung Raina

Warung mulai ramai sejak menjelang siang.

Uap dari panci besar mengepul, bercampur aroma bawang goreng dan kuah hangat. Suara piring beradu, pesanan dipanggil, dan langkah kaki yang datang–pergi menciptakan ritme yang akrab.

Julian duduk di bangku dekat pintu dapur.

Posisi yang tidak mencolok. Tidak terlalu dekat dengan meja depan, tidak benar-benar tersembunyi. Ia seperti pelanggan lain—menunggu, mengamati, diam. Dari sana, ia bisa melihat Raina bergerak cepat, sigap, seolah tubuhnya hafal apa yang harus dilakukan bahkan sebelum pikirannya menyusul.

Pintu warung terbuka.

Seorang laki-laki masuk.

Julian menoleh sekilas, lalu memperhatikannya lebih lama dari yang ia sadari. Bukan karena penampilannya mencolok—justru sebaliknya. Pakaian sederhana. Wajah keras oleh garis usia dan kebiasaan menahan emosi. Cara jalannya kaku, seolah warung kecil itu bukan tempat yang membuatnya nyaman.

Laki-laki itu duduk di salah satu meja dekat dinding.

Raina menoleh. Langkahnya melambat sepersekian detik—hampir tak terlihat jika tidak diperhatikan sungguh-sungguh. Lalu ia berjalan mendekat.

"Assalamualaikum... bapak dari mana?" Tanya Raina berusaha bersikap ramah sambil menyalami tangan pak Darto.

"Waalaikumsalam... abis dari tempat kerjaan."

"Aku ambilin bapak makan sama minum ya" Tawar Raina

"Boleh"

Lalu tak berselang lama Raina kembali dengan nampan berisi nasi beserta lauknya juga segelas tes hangat.

"Ini pak,aku tinggal melayani pembeli lainnya dulu" Ucap Raina lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari pak Darto.

Dan Julian diam diam mengamati interaksi mereka berdua.

Julian melihat laki-laki itu mengangguk singkat. Tidak ada senyum. Tidak ada ucapan terima kasih.

Raina kembali ke belakang etalase melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.

Namun udara terasa berubah.

Tidak ramai. Tidak gaduh.

Hanya… tegang.

Julian menaikkan sebelah alisnya heran" Kenapa suasananya jadi berbeda?" Batin Julian.

Beberapa menit kemudian, Raina kembali menghampiri pak Darto setelah pak Darto menyelesaikan makannya sambil membawa beberapa bungkus lauk pauk. Ia meletakkannya di meja laki-laki itu. Gerakannya tenang, nyaris datar.

Julian menegakkan punggungnya sedikit.

Ia tidak mengerti.

Tidak ada basa-basi.

Seolah Raina sudah tahu sesuatu, dan memilih untuk tidak membukanya."Untuk ibu dan adik adik di rumah" Terang Raina pelan.

Laki-laki itu menatap bungkusan di depannya sebentar. Lalu berdiri. Ia tidak menoleh ke arah dapur, tidak mencari siapa pun. Hanya mengangguk singkat—kepada Raina, atau mungkin kepada ruang itu sendiri—sebelum melangkah keluar.

Julian mengikuti punggungnya dengan pandangan sampai pintu warung menutup.

Siapa laki-laki itu?

Dan kenapa kehadirannya membuat segalanya terasa menegang?

Warung kembali pada ritmenya. Suara pesanan terdengar lagi. Tawa kecil muncul dari meja lain. Seolah tidak ada yang baru saja terjadi.

Raina kembali bergerak di balik etalase, mengambilkan makanan lauk pauk yang di inginkan pelanggan atau pembeli. Wajahnya sama seperti sebelumnya—fokus, tenang, tidak membawa apa pun dari kejadian barusan.

Julian tetap duduk di tempatnya.

Ia tidak bertanya. Tidak kepada Raina. Tidak kepada siapa pun.

"Dasar orang tua durhaka" Guman Silfi kesal sambil melangkah ke dapur.Dan ucapan itu di dengar oleh Julian.

jam menunjukkan pukul 21.00 ketika Raina dan Julian sampai ke kostan.

Raina berhenti di depan kamarnya dan mengeluarkan kunci. Lampu lorong menyala cukup terang.

cahayanya jatuh pucat di lantai semen yang sudah aus. Julian berdiri beberapa langkah di belakangnya, membiarkan jarak itu tetap ada.

“Raina,” panggil Julian, suaranya rendah, “apa itu durhaka?”

Raina memutar kunci lalu menoleh. “Durhaka itu ketika seseorang mengabaikan tanggung jawab yang seharusnya dia jalani,” jawabnya santai, seperti menyebutkan arti sebuah kata.

Julian mengangguk kecil. “Oh.”

Kunci sempat tersangkut. Raina memutarnya sekali lagi sampai pintu terbuka sedikit.

“Kamu dengar kata itu dari mana?” tanyanya sambil mendorong pintu.

“Di warung tadi,” jawab Julian.

Raina mengangguk tipis. “oh,ya sudah kamu masuk gih, sudah malam. Waktunya istirahat”

Ia melangkah masuk, melepas sandal, lalu menutup pintu tanpa tergesa. Bunyi engsel terdengar pelan, lalu berhenti.

Julian masih berdiri di lorong beberapa detik sebelum berbalik ke kamarnya sendiri. Ia membuka pintu, masuk, dan menutupnya. Helm diletakkannya di meja kecil dekat dinding. Sepatu dilepas, disusun rapi seperti biasa. Ia duduk sebentar di tepi ranjang, tidak melakukan apa-apa.

Pikirannya kembali ke siang tadi di warung. Laki-laki yang duduk dekat dinding itu. Cara ia makan tanpa banyak bicara. Cara Raina menghampirinya, meletakkan makanan, lalu kembali bekerja. Lalu bungkusan lauk yang diletakkan di meja, dan kalimat pendek yang menyertainya. Tidak ada yang ditanya. Tidak ada yang ditunggu.

Julian membuka lemari dan mulai mengganti bajunya.Karena sore tadi ia dan Raina sudah mandi di warung, Julian memutuskan tidak mandi kembali.

Lalu ia mendekat ke kasur dan merebahkan tubuhnya.

Dari luar kamar, suara lorong kembali terdengar samar—langkah kaki, pintu dibuka, lalu sunyi lagi. Hari itu berakhir dengan cara yang sama seperti kejadiannya: tenang, biasa, dan tidak meninggalkan apa pun yang perlu dibicarakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!