NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 Padang Indah Tanpa Rumput Tinggi

Lampu-lampu minyak bergantung di sepanjang jalan desa, cahayanya bergetar tertiup angin malam.

Orang-orang mulai memenuhi lapangan, suara obrolan bercampur dengan aroma manis dari kue dan buah-buahan yang merekah di udara.

Di sisi kiri, Pak Wiryo sudah membuka kios kecilnya. Meja kayu sederhana dipenuhi buah-buahan segar, pisang, jeruk, dan beberapa mangga yang ia tata rapi.

Tangannya cekatan, senyumnya ramah, menyapa setiap orang yang lewat. Kios itu seperti pusat kecil yang memancarkan kehangatan, seakan ia membawa kembali semangat panen raya bersama Rerindang ke tengah festival.

Tak jauh dari sana, Raka berdiri di depan kios kecil milik keluarganya. Botol-botol wine berkilau di bawah cahaya lampu, tersusun rapi di atas kain putih.

Lucu. Wajah raka memerah, dengan mata sayu. Dia menjadi agak pendiam dan sesekali memainkan jemarinya ke atas meja. Pasti Raka terlalu banyak mencicipi wine miliknya untuk festival.

Di sampingnya, Dimas membantu menata gelas kecil untuk tester bagi pelanggan. Ibunya duduk di kursi bambu, wajahnya tenang, sesekali tersenyum pada pengunjung yang datang.

Raka tampak sibuk, tapi matanya sesekali mencari-cari ke arahku. Ada binar yang sama seperti saat ia datang ke gudang, membawa botol itu.

Aku berdiri agak jauh, membawa keranjang berisi jamur kecil yang baru kupanen. Tidak banyak, yang ditata di meja sederhana.

Aku bisa merasakan detak jantungku semakin cepat. Aku menarik napas panjang, lalu melangkah perlahan ke arah kios Raka.

Lampu minyak di atas kepalanya bergetar, membuat bayangan wajahnya tampak lebih lembut.

Jemarinya masih sibuk mengetuk meja, seakan mencari ritme untuk menenangkan diri.

"Raka," panggilku pelan.

Ia menoleh cepat, gerakannya membuat salah satu botol hampir jatuh. "Mir… ra."

Aku mengangkat keranjang kecil berisi jamur. "Liat deh, kios aku isinya cuma jamur aja." Aku terkekeh berkecil hati.

Raka menatap kiosku itu, lalu tertawa kecil. "Bagus kok. Lihat, wine-ku juga cuma sedikit, tapi kualitasnya lumayan lah."

Aku tersenyum, menaruh keranjang di samping meja. "Kamu... Mabuk?"

Raka mengangkat bahu, jemarinya berhenti mengetuk. "Awalnya cuma quality control, dalem hati kok kayak ada yang kurang waktu seleksi. Tapi aku penasaran terus."

Dimas yang sibuk menata gelas menoleh sebentar, lalu menyahut sambil tersenyum geli, "Iya, Kak. Abang udah kayak kesetanan tau, pas di rumah."

Ibunya hanya tersenyum tenang, menatap kami dengan tatapan hangat.

Aku diam sejenak, merasakan suara dari paduan suara dari balai desa yang bergema tanpa lirik, hanya harmoni lembut yang mengisi udara.

Kata-kata Raka bercampur dengan nyanyian itu, membuat aku merasa tenang.

Suara paduan suara itu tidak datang sekaligus, melainkan merayap perlahan, seperti kabut yang turun dari bukit.

Nada rendah bergemuruh, berat namun hangat, seakan bumi sendiri sedang bernapas.

Hingga suara tinggi menyusul, melayang di atas kepala, berkilau seperti cahaya bintang yang menetes ke langit malam.

Ketika suara-suara itu berpadu, udara di lapangan berubah. Lampu minyak yang bergoyang tampak ikut bergetar, botol-botol wine di meja Raka memantulkan cahaya seperti permata.

Yang menembus dada saat ini hanyalah harmoni, membuat bulu kuduk meremang, membuat hati yang cemas menjadi lapang.

Musik itu seperti sungai yang mengalir tanpa henti, membawa semua orang di desa ke arah yang sama.

Di sana, lantunan pada balai desa, membuat orang menafsirkan nada dengan cara yang berbeda.

Ada yang mendengar harapan, ada yang merasakan kehilangan, ada yang sekadar hanyut dalam kehangatan.

Genderang drum berbunyi semakin kuat, tempo cepat, mencipta nuansa sendi yang merayap ke setiap sudut.

Nada rendah menahan langkah, nada tinggi melayang di atas kepala, dan ketika keduanya berpadu, udara malam terasa penuh, seakan menekan hati dengan lembut.

Orang-orang yang semula sibuk bercakap dan berbelanja mulai melambat. Ada yang berhenti di depan kios Pak Wiryo, memegang buah tanpa segera membelinya.

Ada yang menatap botol wine di meja Raka, tapi tidak mengulurkan tangan. Seolah musik itu meminta mereka untuk diam sejenak.

Wajah-wajah berubah. Senyum yang tadi riang kini melembut, mata beberapa orang berkaca-kaca.

Seorang lelaki tua menunduk, jemarinya menggenggam tongkat dengan lebih kuat.

Kerinduan tiba-tiba muncul. kerinduan pada masa lalu, pada orang-orang yang sudah tiada, pada rumah yang pernah hangat.

Musik itu membuat lapangan festival terasa seperti ruang doa. Orang-orang tidak lagi sekadar berkunjung, mereka menjadi bagian dari satu tarikan napas bersama.

Aku sendiri merasakan dada bergetar. Lagu yang mereka bawakan masih sama, secara turun-temurun, tidak berubah dari masa ke masa.

Aku menunduk, membiarkan suara itu meresap ke dalam tubuhku. Lagu yang mereka bawakan, lagu yang sama dari tahun ke tahun, membawa kembali kenangan yang lama terkubur.

Aku teringat pada Rerindang, pohon besar di bukit yang sempat menaungi kami. Mengingat Pak Wiryo memimpin orang-orang menebang batangnya dengan penuh hormat.

Sekarang, ketika suara itu kembali bergema, aku merasakan kerinduan yang sama. Kerinduan pada masa ketika semuanya terasa sederhana, ketika aku tidak perlu membuktikan apa-apa.

Kerinduan pada bapak yang dulu berdiri tegak, dan kerap menjamin keamananku dari dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!