Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hamil...
Arjuna mendatangi kamar Indira.
Gadis yang menjadi penawar penyakitnya itu tidak ada disana.
biasanya di jam segini Indira sudah tidur,atau kalau tidak sedang belajar.
Arjuna duduk ditepi ranjang menunggu kedatangan gadis itu.
Menunggu Indira datang Arjuna membuka laci,maksudnya hendak mencari ponsel gadis itu.
"Obat? obat apa ini?" Arjuna tertarik pada obat yang tergeletak didalam laci.
"Kontrasepsi? jadi selama ini dia meminum obat ini?" seketika wajah Arjuna merah padam menahan amarah.
"Indira..! Indira..! dimana kau..!" Arjuna meneriaki nama Indira dengan nada menggelegar.
Tidak berapa lama gadis itu muncul dengan langkah tergopoh gopoh dengan segelas susu ditangannya.
Rupanya Indira dari dapur membuat susu untuknya sebelum tidur.
"Ada apa tuan? tuan haus?" Indira yang tidak tahu pemicu kemarahan tuannya menawarkan asinya.
"Apa ini?" Arjuna menunjukkan obat yang digenggamnya dengan nafas tersengal.
"Ohhh,ini vitamin tuan,kata ibu aku harus meminum ini setiap kali tuan selesai dari kamar,,agar aku tidak gampang sakit." jawab Indira tenang.
Brakkk..!!!
Arjuna melemparkan obat itu ke lantai,lalu memukul kencang nakas dengan tangannya,,menimbulkan dentuman keras di ruangan itu.
"Obat vitamin? sejak kapan obat kontrasepsi menjadi obat vitamin hah?" teriak Arjuna kesurupan.
"Kontrasepsi? apa itu? aku tidak tahu obat bagaimana itu tuan,,yang ku tahu obat yang diberikan ibu kepadaku adalah vitamin untuk menambah imun." Indira mulai panik karena Arjuna mengamuk hampir menyeruduk nya.
Brakk..!
Arjuna mendorong Indira kasar ke atas ranjang,dengan tatapan liar yang siap memangsa target.
"Tuan,,ada apa ini? kenapa tuan marah sekali padaku? tolong tuan,,aku tidak tahu apa penyebab tuan marah!" erang Indira mencoba melepaskan dirinya dari kungkungan Arjuna.
Malam itu paviliun menjadi saksi bisu amarah dan obsesi gila seorang Arjuna. Tidak ada lagi kelembutan, yang ada hanyalah dominasi mutlak. Arjuna benar-benar kehilangan akal sehatnya; harga dirinya sebagai penguasa merasa diinjak-injak karena selama enam bulan ini ia telah dibodohi oleh sebutir pil kecil.
Setiap inci tubuh Indira diklaim kembali dengan kasar.
Arjuna tidak memberikan kesempatan bagi Indira untuk memejamkan mata, apalagi beristirahat.
Berkali-kali ia menanamkan benihnya di sana, memastikan bahwa setiap sudut rahim gadis itu tidak lagi memiliki sisa pengaruh pil kontrasepsi yang diberikan Darsih.
"Kau pikir kau bisa lari dengan cara ini, hmm?" bisik Arjuna serak di tengah deru napasnya yang memburu. "Ingat ini baik-baik, Indira... jika kau mencoba membuangnya atau meminum racun itu lagi, aku tidak akan hanya menghancurkan masa depanmu, tapi aku akan menghancurkan ibumu di depan matamu sendiri."
Indira hanya bisa merintih pasrah. Tubuhnya terasa remuk, jiwanya seolah sudah keluar dari raganya. Ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk menangis. Di bawah gempuran Arjuna yang dilakukan semalam suntuk, ia menyadari bahwa mulai besok, hidupnya akan berubah selamanya. Ia bukan lagi sekadar pelayan atau "asupan" kesehatan, melainkan "wadah" bagi keturunan sang tuan muda.
Saat fajar menyingsing, Arjuna bangkit dari ranjang dengan wajah penuh kemenangan. Ia menatap Indira yang tergeletak lemas dengan mata sembab yang bengkak. Tanpa rasa kasihan, Arjuna menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis itu.
Ia melangkah keluar kamar dan mendapati Darsih masih duduk bersimpuh di lantai ruang tamu paviliun dengan mata yang merah karena menangis semalaman.
"Mulai hari ini, kau dilarang memberikan apapun pada Indira tanpa izin dariku," ucap Arjuna dingin sambil merapikan jam tangan mewahnya. "Jika aku tahu ada satu butir obat aneh lagi di paviliun ini, kau akan membusuk di penjara atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap calon cucu keluarga Pratama. Mengerti?!"
"Tuan,Indira masih kecil,masa depannya masih panjang,,tolong jangan hukum dia dengan cara seperti ini,," isak Darsih penuh permohonan.
"Indira sudah besar,kau tidak perlu mengguruiku soal apapun,,meskipun dia putrimu,tapi aku sudah terikat perjanjian padanya,mulai sejak perjanjian itu berlaku seluruh tubuh dan hidup Indira sudah menjadi milikku." desis Arjuna menatap tajam.
"Tuan,Indira tidak diperjualbelikan,,dia hanya memberikan asinya untuk kesembuhan tuan,,"
"Diamlah bik! aku yang lebih tahu apa isi perjanjian kami!" sela Arjuna marah.
Darsih hanya bisa mengangguk lemah, lidahnya kelu untuk membela diri.
***
Arjuna benar-benar membuktikan ucapannya. Ia menugaskan dua orang perawat pribadi dari rumah sakit miliknya untuk tinggal di paviliun. Tugas mereka hanya satu: memastikan nutrisi Indira terjaga dan mengawasi setiap gerak-gerik gadis itu.
Indira tetap diizinkan sekolah, namun ia kini diantar jemput oleh supir pribadi yang diperintahkan untuk melapor setiap jam. Di sekolah, Indira menjadi semakin pendiam. Ia memakai seragam dengan kerah tinggi untuk menutupi jejak-jejak merah yang sengaja ditinggalkan Arjuna sebagai tanda kepemilikan.
Setiap malam, rutinitas menyusui tetap berjalan, namun kini diikuti dengan ritual baru: Arjuna akan tidur di paviliun, memeluk Indira dengan sangat erat seolah-olah ia sedang menjaga harta karun yang paling berharga.
"Tuan... tolong, biarkan saya tetap ujian akhir dengan tenang," pinta Indira suatu malam dengan suara yang sangat parau.
Arjuna mengusap perut rata Indira dengan lembut, namun tatapannya tetap tajam. "Berdoalah agar benihku sudah tumbuh di dalam sini, Indira. Jika bulan depan kau masih kedatangan tamu bulanan, aku akan mengulangi apa yang kulakukan semalam... setiap malam, sampai kau mengandung."
Indira memejamkan mata rapat-rapat. Ia tahu, ujian akhir sekolahnya kini bukan lagi perjuangan untuk masa depan, melainkan awal dari masa depannya yang akan terbelenggu selamanya dalam pelukan sang monster.
"Saya tidak mau hamil tuan! saya mau sekolah mengejar cita cita." tegas Indira.
"Akulah cita cita mu,,tidak perlu mengejar,karena aku sudah ada di dekatmu," dengan entengnya Arjuna berbicara.
Indira menangis tersedu sedu mendengar ucapan sang majikan.
"Simpan air matamu,karena ucapan ku bukan untuk ditangisi,, harusnya kau senang karena aku memilih mu melahirkan penerusku."
"Tapi saya tidak mau! tuan memiliki kekasih,kenapa bukan nona Clarissa saja yang tuan hamili?" protes Indira tidak Terima.
"Diamlah! itu bukan urusan mu! mengenai kenapa aku tidak menghamili Clarissa saja itu bukan ranahmu,paham?" suara Arjuna penuh penekanan,meskipun nadanya tidak tinggi,cukup membuat Indira ketakutan.
***
Satu bulan kemudian, suasana di paviliun semakin tegang. Jadwal ujian akhir sekolah sudah di depan mata, namun fokus Indira terpecah sepenuhnya. Tubuhnya mulai menunjukkan perubahan; ia sering merasa mual di pagi hari dan wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya.
Pagi itu, di dalam kamar mandi paviliun yang dijaga ketat oleh perawat suruhan Arjuna, Indira menatap sebuah benda kecil di tangannya dengan tubuh gemetar. Dua garis merah.
Air mata Indira luruh seketika. Harapannya untuk melihat gerbang universitas di Yogyakarta kini benar-benar tertutup rapat. Di saat yang sama, pintu kamar mandi diketuk dengan tidak sabar.
"Indira, keluar sekarang. Tuan Muda sudah menunggu hasil tesnya," suara perawat itu terdengar dingin dan menuntut.
Dengan langkah gontai, Indira keluar. Arjuna sudah berdiri di tengah kamar paviliun dengan setelan jas mahalnya, tampak sangat berwibawa namun mematikan. Tanpa berkata apa-apa, ia menyambar alat tes kehamilan dari tangan Indira.
Melihat dua garis itu, sebuah seringai kemenangan muncul di wajah Arjuna. Ia tertawa rendah, lalu menarik Indira ke dalam pelukannya—sebuah pelukan yang terasa lebih seperti cengkeraman predator pada mangsanya.
"Pekerjaan yang bagus, Sayang," bisik Arjuna sembari mencium kening Indira dengan penuh kepuasan. "Sekarang, tidak akan ada lagi pembicaraan soal kuliah di luar kota. Kau akan tetap di sini, di bawah mataku, menjaga ahli waris keluarga Pratama."
Arjuna tidak membuang waktu. Sore itu juga, ia membawa Indira ke rumah utama untuk menghadap Tuan Pratama dan Nyonya Hamidah. Kabar kehamilan itu meledak seperti bom di tengah ruang keluarga.
"Ayah,ibu,aku mau bicara sesuatu yang penting pada kalian berdua."
Arjuna berbicara dengan tenang,seperti berbicara pada klien nya.
"Katakan sayang." Hamidah yang menyahut.
"Sebentar lagi kalian akan punya cucu,dari wanita yang bersih,yang terjamin,,penerus keluarga Pratama Wijaya akan segera hadir ditengah tengah keluarga ini."
Kedua pasangan suami istri itu saling pandang,"Apa maksud mu? bicara yang jelas! jangan berbelit belit!" potong Pratama penasaran.
"Indira sedang mengandung penerus ku ayah,"
"Apa?! Kau menghamili anak pelayan ini, Arjuna?!" suara Tuan Pratama menggelegar, namun bukan karena marah akan moralitas, melainkan karena kaget akan skandal yang mungkin timbul.
"Ayah, ini bukan sekadar anak pelayan. Ini adalah satu-satunya orang yang tubuhnya cocok dengan pengobatanku. Jika dia mengandung anakku, maka kualitas asupan yang kuterima akan jauh lebih baik untuk kesehatanku ke depannya, belum lagi anakku pasti terjamin kesehatannya,karena Indira belum terjamah oleh siapapun selain aku!" Arjuna membela diri dengan logika dinginnya.
"Kamu sudah gila ya? bagaimana mungkin kamu tega menghamili gadis belia ini?kamu tidak tahu impiannya bahkan belum diraihnya?" Pratama naik pitam.
"Impian nya cukup menjadi ibu dari anakku,cukup baginya!" jawab Arjuna santai.
mendengar itu membuat Pratama memijat pangkal hidungnya.
Hamidah yang awalnya syok, perlahan mulai luluh melihat wajah Indira yang malang. "Tapi Juna, bagaimana dengan Clarissa? Pernikahan kalian tinggal menghitung bulan!"
"Batalkan," jawab Arjuna enteng. "Atau biarkan dia tetap menjadi istri formalitas. Tapi Indira dan anak ini tetap akan tinggal di sini. Tidak ada yang boleh menyentuh mereka."
"Kamu sudah gila ya? kamu mau memiliki dua istri sekaligus? lepaskan Indira sekarang juga! kau tidak mencintai nya,kau hanya terobsesi padanya!" Pratama benar benar murka pada putranya.
"Aku tidak bisa melepaskannya yah,,Indira akan selalu ada di sini." tolak Arjuna tegas.
"Baik kalau kau tidak bisa melepaskannya,ayah sendiri yang akan mengirimnya ke luar negeri sekalian."
Arjuna mengepalkan tangannya dibawah sana.
"Ayah tidak akan melakukan itu,karena Indira sedang mengandung anakku saat ini."
"Soal itu kamu bisa menjenguk Indira setelah dia lahiran nanti,,jadi kamu tidak punya alasan lagi untuk menahan Indira di sisimu."
bersambung...