DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: PROYEK BAHAN MURAHAN**
**
Tiga minggu setelah rapat pertama yang penuh sandiwara itu, proyek mal di Bekasi berjalan sesuai jadwal, setidaknya di atas kertas. Tiang-tiang pancang sudah berdiri, lantai dasar mulai dicor, dan setiap kali David datang meninjau, tim yang sudah dibayar Reza selalu siap dengan laporan rapi, grafik kemajuan yang naik mulus seperti garis di buku tabungan orang kaya.
Tapi ada satu hal kecil yang sebenarnya sempat membuat dahi David berkerut, walau dia sendiri tidak terlalu menggubris saat itu. Suatu sore, saat dia berjalan meninjau area pengecoran, dia mendengar dua tukang berbicara pelan, suaranya tertahan, hampir berbisik.
"Ini campurannya kurang banget, semennya dikit," salah satu tukang berkata sambil mengaduk adonan beton yang warnanya terlalu pucat, terlalu cair untuk standar bangunan setinggi delapan lantai.
"Udah, diem aja. Mandor udah bilang, ini emang udah ditentukan dari atas. Kita digaji buat kerja, bukan buat protes," tukang satunya menjawab cepat, sambil melirik ke arah David yang lewat tidak jauh dari situ.
David memang sempat mendengar sepotong percakapan itu, tapi karena Site Engineer langsung menghampirinya dengan senyum lebar dan laporan teknis yang penuh angka-angka meyakinkan, kecurigaan kecil itu jadi tenggelam, terkubur di bawah kepercayaan yang sudah ditanam rapi sejak rapat pertama.
"Semua sesuai standar SNI, Tuan David. Tenang aja," Site Engineer berkata, menunjukkan dokumen yang sebenarnya hanya salinan dari proyek lain, dipalsukan rapi atas nama proyek ini.
David mengangguk, percaya, dan kembali ke Jakarta dengan hati tenang, tidak tahu bahwa di balik dokumen itu, kenyataannya besi yang digunakan adalah besi bekas rongsokan yang dilapis ulang biar terlihat baru, dan campuran beton yang seharusnya pakai seratus persen takaran semen sesuai standar, kini hanya diisi lima persen saja, sisanya pasir dan air yang dibuat sedemikian rupa agar tetap terlihat kental saat dituang.
***
Hari itu, hari ke dua puluh enam sejak proyek dimulai, langit Bekasi mendung tebal, dan tepat saat para tukang sedang istirahat siang di lantai tiga, suara gemeretak aneh mulai terdengar dari salah satu kolom penyangga.
"Itu suara apa?" salah satu pekerja bertanya, menengadah ke arah langit-langit yang baru dicor minggu lalu.
Belum sempat ada yang menjawab, "BRAAAAKKK!"
Sebagian lantai tiga ambruk, debu beton beterbangan ke segala arah, suara besi yang patah berdenting nyaring bercampur teriakan panik para pekerja yang berlarian menyelamatkan diri. Untungnya, karena jam istirahat siang, sebagian besar pekerja sedang berada di luar gedung, sehingga tidak ada korban jiwa, hanya beberapa luka ringan akibat terjatuh saat berlarian menghindar.
Tapi kerugian materialnya luar biasa besar. Material yang sudah terpasang harus dibongkar ulang, jadwal proyek mundur drastis, dan yang paling parah, video kejadian itu langsung viral dalam hitungan jam, direkam oleh salah satu pekerja yang kebetulan sedang merekam dari kejauhan untuk dikirim ke keluarganya.
"PROYEK MAL MILIK KELUARGA WIJAYAKUSUMA AMBRUK, DIDUGA PAKAI BAHAN BANGUNAN MURAHAN", judul berita itu menyebar cepat di berbagai portal, lengkap dengan tagar yang trending dalam waktu singkat.
Wartawan berdatangan ke kantor pusat, mikrofon berjejer di depan pintu masuk, dan nama David Wijayakusuma, sebagai penanggung jawab proyek, disebut berulang-ulang dengan nada penuh tuduhan.
"Bagaimana tanggapan Bapak soal proyek yang diduga korupsi material ini?" salah satu wartawan bertanya langsung ke arah Junaedi yang terpaksa keluar menemui pers karena tekanan publik yang terlalu besar untuk diabaikan.
Junaedi, dengan wajah merah dan rahang mengeras, berdiri di depan kamera, suaranya bergetar marah, "Saya akan tindak tegas siapa pun yang bertanggung jawab atas proyek ini. Saya minta maaf kepada publik."
Di belakang sana, di antara kerumunan staf yang menonton dari jendela kantor, David berdiri kaku, mendengar namanya disebut berkali-kali sebagai biang kerok, padahal dia sendiri masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi di balik laporan-laporan rapi yang selama ini dia percaya penuh.
***
Malam itu, Anto bekerja semalaman, menyusuri ulang setiap dokumen proyek, membandingkan spesifikasi resmi dengan data pembelian material yang tercatat di sistem logistik. Dan begitu dia menemukan selisih jumlah semen yang dipesan dengan yang sebenarnya digunakan, perbedaannya sangat mencolok, hanya lima persen dari total yang seharusnya, sisanya tergantikan oleh bahan campuran murah yang sengaja dicatat dengan kode lain agar tidak mudah dicurigai.
"Ini bukan kelalaian," Anto bergumam, matanya merah karena kurang tidur, "ini sabotase yang direncanain rapi banget."
Dia mencoba melacak siapa yang menyetujui pergantian spesifikasi itu, tapi sama seperti kasus sebelumnya, jejaknya berakhir di titik yang sengaja dibuat buntu, seolah ada tangan ahli yang sudah menyiapkan jalan keluar aman sejak awal.
Tapi kali ini, satu hal kecil terlewat. Anto menemukan satu transfer dana yang nyelip, tidak sepenuhnya terhapus, mengarah ke rekening pribadi salah satu kontraktor pengadaan material, dan dari sana, jejak itu, walau samar, sedikit mengarah ke nama Reza.
Anto melaporkan temuan itu langsung ke Junaedi lewat email resmi, lengkap dengan lampiran data.
***
Tapi yang terjadi setelahnya, sama seperti pola yang sudah berulang kali David alami. Junaedi membaca laporan itu, mengerutkan kening, memanggil Reza ke ruangannya secara tertutup, tanpa kehadiran David sama sekali.
Hasilnya, hanya sebuah memo internal singkat yang dikirim ke seluruh divisi terkait, isinya pun lembek, "Diminta seluruh tim proyek untuk lebih teliti dalam pengawasan material ke depannya."
Tidak ada penyebutan nama Reza. Tidak ada investigasi lebih lanjut yang dipublikasikan. Dan yang lebih menyakitkan, dalam pertemuan tertutup itu, Junaedi justru menyampaikan kekecewaannya secara langsung kepada David, bukan kepada Reza yang sebenarnya merancang seluruh sabotase ini.
"David, ini proyek pertama kamu, dan kamu udah bikin malu nama keluarga di depan media," Junaedi berkata dingin, "kamu harus lebih hati-hati ke depannya."
David berdiri di sana, menahan diri sekuat tenaga, dadanya terasa diperas habis-habisan oleh ketidakadilan yang terus berulang setiap kali dia berhadapan dengan keluarga ini.
***
Malam itu, sendirian di kamarnya, David berbaring menatap langit-langit yang dingin, pikirannya melayang jauh ke Lembang, ke rumah petak kecil yang sederhana, ke wajah-wajah yang dulu selalu membuatnya merasa aman tanpa harus berjuang sendirian menghadapi kelicikan tanpa akhir.
"Lo kuat banget, Vid, ngehadapin keluarga macam gini," dia bergumam dalam hati, suaranya pecah pelan, "gue di Lembang miskin, tapi gue bahagia sama keluarga kecil gue. Emak... Dudung..."
Dia menutup mata, air mata mengalir diam-diam membasahi bantal, "gue rindu kalian."
***
Tapi rasa sedih itu tidak bertahan lama. Esok paginya, begitu dia melihat berita tentang dirinya masih bertebaran di mana-mana, dengan komentar netizen yang semakin keji menuduhnya tidak pantas mewarisi perusahaan, sesuatu di dalam dirinya berubah jadi amarah yang tidak bisa lagi ditahan.
Dia berjalan cepat ke ruang kerja Junaedi, dan tanpa mengetuk, langsung masuk, menggebrak meja kerja itu dengan keras.
"BANGUNAN AMBRUK, ORANG BISA MATI, DAN PAPA CUMA KASIH MEMO?!"
Junaedi terkejut, berdiri dari kursinya, tapi David sudah berbalik, melangkah keluar dengan langkah cepat, tidak menunggu jawaban apa pun lagi.
Begitu sampai di mobil, dia langsung menelepon Anto, suaranya masih bergetar penuh amarah, "Tot, gue mohon, lakukan apa yang gue mau, tanpa gue jelasin sekarang."
*(bersambung)*