NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:785
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Pertemuan Sore dan Sisi yang Rapuh

Tepat pukul tiga sore, mendung yang sejak siang menggelayut di atas langit Jakarta akhirnya tumpah menjadi hujan lebat. Dari balik dinding kaca lantai 17 gedung Apex Media, jalanan Sudirman di bawah sana seketika berubah menjadi lautan lampu merah yang memanjang, terjebak dalam kemacetan total khas ibu kota saat diguyur air dari langit.

Andra berdiri di dekat meja kerjanya, memastikan tablet kantor dan map dokumen cadangan sudah tersimpan rapi di dalam tasnya. Ia menoleh saat pintu ruangan Nadia terbuka. Wanita itu keluar dengan menyandang tas jinjing kulit hitamnya. Wajahnya tampak lelah setelah maraton rapat internal sejak siang tadi, namun ia tetap terlihat anggun dan memancarkan wibawa yang kuat.

"Mobil sudah siap di lobi bawah, Andra?" tanya Nadia sambil membetulkan letak jam tangan emasnya.

"Sudah, Bu. Pak Joko tadi sudah bantu koordinasi dengan sopir kantor. Mobil sudah menunggu di lantai dasar," jawab Andra sigap.

Nadia mengangguk puas. "Bagus. Ayo kita turun sekarang. Perjalanan ke Grand Hyatt dalam kondisi hujan begini pasti akan memakan waktu lebih lama dari biasanya."

Selama perjalanan di dalam lift menuju lantai dasar, keheningan menyelimuti mereka berdua. Nadia sibuk memeriksa beberapa pesan di ponselnya, sementara Andra memilih berdiri dengan jarak yang sopan di sudut lift, menjaga pandangannya agar tidak lancang. Beberapa karyawan lain yang ikut masuk ke dalam lift sempat melirik ke arah mereka. Kombinasi antara Nadia yang terlihat seperti wanita aristokrat kota dan Andra yang bertubuh tegap dengan wajah tampan bersahaja menciptakan pemandangan yang cukup menarik perhatian.

Di dalam mobil sedan hitam fasilitas kantor, hujan yang menghantam kaca jendela menciptakan suara ketukan konstan yang monoton. Nadia menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi, menatap kosong ke arah deretan mobil yang merayap di sepanjang jalan Jenderal Sudirman.

"Andra," panggil Nadia memecah keheningan di dalam kabin mobil yang kedap suara.

"Nggih, Bu Nadia?" Andra menoleh dari kursi penumpang depan, menatap bosnya dengan pandangan penuh hormat.

"Kamu sudah berapa lama di Jakarta?"

"Baru tiga hari ini, Bu. Hari pertama saya tiba, besoknya langsung wawancara di kantor Ibu," jawab Andra jujur dengan senyum tipis yang tulus.

Nadia menaikkan alisnya sedikit. "Jadi ini benar-benar pertama kalinya kamu menginjakkan kaki di kota ini? Bagaimana rasanya? Berbeda jauh dengan desamu?"

Andra terkekeh kecil, membuat suasana di dalam mobil terasa sedikit lebih rileks.

"Sangat berbeda, Bu. Di desa saya, jam begini jalanan sudah sepi, yang terdengar hanya suara jangkrik atau angin di sawah. Di sini, bahkan di dalam mobil yang tertutup pun saya masih bisa mendengar suara klakson. Gedung-gedungnya juga sangat tinggi, membuat saya merasa sangat kecil saat pertama kali keluar dari stasiun."

Nadia tersenyum samar mendengarnya. "Jakarta memang begitu. Kota ini membuat semua orang merasa kecil dan terasing, tidak peduli seberapa tinggi jabatan atau seberapa banyak uang yang mereka miliki." Ada nada getir yang terselip di akhir kalimat Nadia, membuat Andra terdiam sejenak.

Pertemuan dengan Direktur Pemasaran perusahaan kosmetik di restoran Grand Hyatt berlangsung cukup alot. Selama dua jam penuh, Andra menyaksikan bagaimana Nadia bertransformasi menjadi sosok yang sangat tajam, cerdas, dan penuh taktik dalam bernegosiasi. Setiap pertanyaan sulit dari pihak klien berhasil dijawab Nadia dengan argumen yang memikat. Andra sendiri bekerja dengan sangat fokus; ia mencatat setiap poin revisi, menyajikan data di tablet tepat waktu saat diminta, dan memastikan jalannya presentasi tidak mengalami kendala teknis.

Ketika pertemuan akhirnya selesai dengan kesepakatan awal yang positif, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Hujan di luar masih menyisakan rintik-rintik tipis, dan udara Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya.

Saat mereka berjalan kembali menuju lobi hotel untuk menunggu mobil jemputan, langkah Nadia tiba-tiba limbung. Sepatu hak tingginya tampaknya tersangkut di celah ubin lobi yang sedikit basah.

Dengan refleks yang cepat akibat terbiasa melakukan kerja fisik, Andra langsung menangkap lengan Nadia sebelum wanita itu terjatuh ke lantai marmer. Tubuh mereka sempat berdekatan selama beberapa detik. Nadia bisa merasakan kehangatan yang kuat dari cengkeraman tangan Andra di lengannya, sementara Andra bisa menghirup aroma parfum melati yang mewah dan lembut dari rambut Nadia yang sedikit berantakan.

"Ibu tidak apa-apa?" tanya Andra dengan nada suara yang sangat cemas, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Nadia dengan pancaran kekhawatiran yang murni.

Nadia tertegun. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan hanya karena terkejut karena hampir jatuh, melainkan karena jarak yang begitu dekat dengan wajah tampan Andra. Di bawah pendar lampu lobi hotel yang temaram dan kekuningan, wajah Andra terlihat begitu rupawan dengan guratan rahang yang tegas dan tatapan mata yang sangat teduh. Sentuhan tangan Andra di lengannya terasa begitu nyata dan protektif—sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan dari sosok seorang pria.

"Saya... saya tidak apa-apa. Terima kasih, Andra," ujar Nadia agak gugup, perlahan melepaskan diri dan merapikan blazernya yang sedikit kusut.

"Sama-sama, Bu. Maaf kalau saya kelancangan memegang tangan Ibu," ucap Andra meminta maaf sambil menundukkan kepalanya, merasa tidak enak karena telah melanggar batas kesopanan.

Nadia menggelengkan kepala. "Tidak, kamu justru menolong saya. Kalau tidak ada kamu, saya pasti sudah jatuh dan menanggung malu di sini."

Saat mobil sedan hitam mereka tiba di depan lobi, Nadia melangkah masuk terlebih dahulu. Namun, sebelum Andra sempat menutup pintu depan untuk duduk di samping sopir, Nadia menahan pintu tersebut.

"Andra, duduk di belakang saja. Temani saya bicara, perjalanan pulang pasti akan sangat macet," perintah Nadia dengan nada yang tidak lagi sekaku di kantor.

Andra sempat ragu sejenak, namun akhirnya ia mengangguk patuh. "Baik, Bu."

Di kursi belakang yang luas, jarak di antara mereka kini terasa berbeda setelah insiden di lobi tadi. Ada sebuah ketegangan tak kasat mata yang mulai merayap di antara mereka berdua. Nadia menatap keluar jendela kaca yang berembun, sementara Andra duduk dengan tenang di sisi lain, menggenggam tas kerjanya.

Tanpa mereka sadari, retakan pada dinding pembatas profesional di antara asisten dari desa dan bos wanita kota itu baru saja membesar, dan jalan yang mereka tempuh setelah ini tidak akan pernah sama lagi.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!