NovelToon NovelToon
Montir Hati Tuan Muda Arogan

Montir Hati Tuan Muda Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Cintamanis / Fantasi Wanita / Konflik etika / CEO
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.

Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.

Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.

Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Mobil melaju semakin jauh meninggalkan hiruk-pikuk kota, masuk ke jalanan berbatu yang tidak rata, diapit oleh pepohonan rimbun yang hampir menutupi cahaya matahari. Suasana di dalam mobil masih hening, sisa ketegangan dari kejadian serangan mendadak di kontrakan tadi masih terasa menyesakkan dada.

Arjuna Adhitama, si Tuan Muda yang dingin, arogan, dan disegani seisi dunia bisnis itu kini duduk di kursi belakang, matanya tidak lepas menatap Kirana yang duduk di sebelahnya. Di luar dugaan banyak orang, Arjuna tidak pernah memandang rendah gadis itu meski Kirana hanyalah seorang montir yang tangannya penuh bekas oli dan luka lecet. Justru, semakin lama ia mengenal Kirana Anindita, semakin ia sadar bahwa gadis ini adalah teka-teki paling rumit dan paling menarik yang pernah ia lihat seumur hidupnya.

Kirana menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap pepohonan yang berlalu-lalang di luar. Wajahnya tenang, tapi di dalam hati, ribuan pertanyaan berputar kencang. Tempat yang dituju Pak Hendra ini ... namanya samar-samar ia ingat dari cerita ayahnya dulu. Sebuah tempat yang disebut sebagai "rumah kedua", tempat di mana ide-ide besar dilahirkan.

"Kita sudah sampai," suara Pak Hendra memecah keheningan.

Mobil berbelok tajam masuk ke sebuah jalan setapak yang nyaris tertutup semak belukar. Di ujungnya, tampak sebuah bangunan besar bergaya industri tua, berdiri kokoh namun tampak ditinggalkan bertahun-tahun. Dindingnya dari bata merah, atapnya tinggi dengan kaca-kaca jendela besar yang sudah berdebu, dan di depannya terhampar halaman luas yang kini penuh rumput liar.

Itu adalah bengkel raksasa. Tempat yang dulunya menjadi kebanggaan Arya Wijaya, ayah Kirana.

Mobil berhenti di depan pintu gerbang besi yang berat dan berkarat. Pak Hendra turun lebih dulu, berjalan menuju gembok besar yang terpasang kokoh. Ia tidak membukanya dengan kunci biasa, melainkan mengeluarkan sebuah lencana logam berbentuk sayap elang yang sama persis dengan kalung yang selalu dipakai Kirana. Ditempelkan lencana itu ke lubang kunci, dan terdengar bunyi mekanisme berputar halus. Gembok berat itu terbuka sendiri.

Arjuna yang turun di belakang Kirana mengangkat alisnya tinggi. Matanya menatap gerbang itu takjub, sorot matanya yang biasanya dingin kini berubah penuh rasa ingin tahu dan kekaguman.

"Kunci mekanis yang dikodekan dengan logam khusus. Teknologi ini ... sudah berumur puluhan tahun, tapi keamanannya jauh di atas standar gedung-gedung mewahku sekarang," gumam Arjuna pelan, matanya beralih menatap Kirana dengan pandangan tajamnya yang khas. "Ayahmu bukan orang biasa, Kirana. Dia bukan sekadar pengusaha biasa."

Kirana tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca menatap bangunan itu. Ada rasa rindu yang mendadak menyeruak, rasa yang jarang sekali ia tunjukkan pada siapa pun, kecuali pada Arjuna.

"Dulu Ayah bilang ... di sini lahir segala sesuatu yang menggerakkan dunia. Katanya, mesin adalah jantungnya kehidupan, dan tempat ini adalah ruang jantung itu."

Mereka bertiga masuk ke dalam. Udara di dalam terasa dingin, berbau debu, minyak tanah, dan logam, bau yang sangat akrab bagi hidung Kirana, bau yang membuatnya merasa betah dan hidup. Ruangan itu luas sekali, langit-langitnya menjulang tinggi, di tengahnya berdiri alat-alat berat, derek, dan peralatan bengkel yang lengkap, semuanya tertutup kain putih tebal. Di sisi kiri dan kanan, ada deretan ruangan kecil, kantor, ruang rapat, hingga ruang penyimpanan dokumen.

Tempat ini tidak mati. Tempat ini hanya tidur, menunggu saatnya bangun kembali.

Pak Hendra menunjuk ke sebuah ruangan kantor kaca di ujung ruangan utama. Ruangan itu satu-satunya bagian yang terlihat bersih dan tertutup rapat seolah selalu dirawat diam-diam.

"Di sanalah segalanya disimpan, Nona. Semua catatan, desain, rencana bisnis, jurnal mendiang Pak Arya ... bahkan hal-hal yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun, termasuk saya."

Kirana berjalan mendahului mereka, langkah kakinya bergema lantang di lantai semen yang luas. Jantungnya berdebar kencang. Saat ia mendorong pintu kaca itu, ia tertegun. Di meja besar di tengah ruangan, masih terlihat tumpukan kertas, pena, dan sebuah foto berbingkai kayu, foto ayahnya yang masih muda, tersenyum lebar sambil memegang sebuah mesin rancangan sendiri.

Di samping foto itu, ada sebuah amplop tebal berwarna cokelat, di atasnya tertulis tulisan tangan ayahnya: "Untuk Kirana, saat kamu sudah cukup dewasa dan berani menghadapi kebenaran."

Tanpa membuang waktu, Kirana meraih amplop itu dengan tangan gemetar. Arjuna berdiri diam di ambang pintu, memberi ruang, tapi matanya tak lepas mengamati setiap ekspresi wajah gadis itu. Ia melihat ketegangan, rasa penasaran, dan rasa takut yang bercampur jadi satu di mata elang itu, mata yang tajam namun indah.

Kirana membuka amplop itu. Isinya bukan hanya surat, melainkan kumpulan gambar skema, peta lokasi, dan buku catatan tebal bersampul kulit. Ia mulai membaca, suaranya pelan, bibirnya bergerak, matanya bergerak cepat melahap setiap kalimat, setiap kata. Semakin lama ia membaca, semakin lebar mata Kirana, semakin kaku tubuhnya.

"Apa itu?" tanya Arjuna tidak sabar, akhirnya melangkah masuk mendekat. Suaranya berat dan rendah, khas nada bicara Tuan Muda yang tidak suka bertele-tele. "Ada apa, Kirana? Kenapa wajahmu pucat begitu?"

Kirana menoleh, menatap Arjuna dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kaget, marah, dan juga rasa kasihan yang mendalam.

"Arjuna ... ternyata kita berdua sama-sama ditipu habis-habisan. Dan ternyata masalah ini jauh lebih besar daripada sekadar dendam pribadi atau perebutan harta warisan."

Kirana meletakkan kertas-kertas itu di atas meja, menyebarkannya agar Arjuna dan Pak Hendra bisa melihat dengan jelas. Tangannya yang biasanya tegar memutar baut-baut keras, kini sedikit gemetar.

"Ayahku menulis di sini ... bahwa 18 tahun lalu, perusahaan kita tidak hanya bergerak di bidang otomotif biasa. Kita sedang mengembangkan teknologi mesin hemat energi yang revolusioner. Teknologi yang bisa mengubah perekonomian negara, bisa membuat siapa pun yang memegangnya menjadi orang paling berkuasa, dan bisa meruntuhkan siapa saja yang tidak punya."

Arjuna menunduk, meneliti skema gambar yang rumit namun brilian itu. Sebagai orang yang tumbuh di dunia bisnis dan teknik, ia langsung mengerti nilainya. Matanya yang tajam menyipit, terkejut luar biasa.

"Ini ... ini penemuan gila. Kalau teknologi ini terwujud dan diproduksi massal, semua standar industri akan berubah. Nilainya triliunan, bahkan tidak ada harganya. Ini bisa menguasai dunia."

"Dan di sinilah letak masalahnya," potong Kirana tajam, jarinya menunjuk nama yang tertulis di catatan itu dengan tinta merah: Ratna Adhitama.

"Ibu tirimu ... dia tidak datang ke hidup Ayahmu karena cinta, Arjuna. Dia dikirim. Dia adalah mata-mata yang disusupi oleh kelompok pengusaha besar gelap yang menginginkan teknologi ini. Mereka menyuruh Ratna masuk, meracuni pikiran Ayahmu, memisahkan persahabatan kedua keluarga, menghancurkan nama baik Ayahku, lalu mengambil alih seluruh penelitian dan aset."

Kirana menarik napas panjang, suaranya melembut namun sarat beban yang berat.

"Ayahku tahu nyawanya tidak akan lama lagi. Dia tahu mereka akan membunuhnya untuk menutup mulut dan mengambil sepenuhnya temuannya. Maka ... dia membagi dua segalanya. Separuh aset dan dokumen resmi ditinggalkan, tapi dia sengaja membuatnya terlihat rusak atau palsu agar mereka puas. Separuh lagi ... dia sembunyikan. Di sini. Di tempat ini. Bersama dengan aku."

Arjuna terdiam kaku. Selama ini ia mengira konflik ini hanya soal harta warisan dan kesalahpahaman masa lalu. Ternyata ini soal kekuasaan mutlak, teknologi rahasia, dan rencana jahat yang sudah disusun bertahun-tahun bahkan sebelum ia lahir.

"Jadi ..." Arjuna memecah keheningan, suaranya berat dan penuh amarah yang tertahan, "Mereka masih mencari sesuatu. Ratna dan bos-bos besar di belakangnya ... mereka belum mendapatkan apa yang mereka inginkan sepenuhnya. Itulah kenapa mereka tidak berhenti mengejarmu. Itulah kenapa mereka mau membunuh kita berdua. Karena kamu... kamu adalah satu-satunya orang yang tahu di mana letak sisa rahasia itu."

Kirana mengangguk pelan. Ia berjalan mengelilingi meja, tangannya menyusuri pinggiran kayu yang halus dan usang. Sikapnya kembali berubah menjadi Kirana yang biasa: tenang, penuh perhitungan, dan tegas.

"Ayahku tidak menyerahkan semuanya. Dia menyembunyikan inti dari penemuan itu. Dan pesan terakhirnya di sini tertulis jelas: 'Jangan berikan pada mereka, Kirana. Gunakanlah untuk kebaikan. Gunakanlah untuk melindungi orang-orang yang kamu cintai.'"

Kirana berhenti, berbalik menghadap Arjuna. Wajah gadis itu kembali berubah, bukan lagi wajah gadis bengkel yang ceria atau gadis kecil yang merindukan ayahnya. Melainkan wajah seorang pewaris, wajah seorang jenius, wajah seorang pemimpin.

Matanya yang indah berkilat tajam, persis seperti elang yang baru saja menemukan arah terbangnya.

"Arjuna, Pak Hendra ... selama ini kita bertahan hanya untuk membuktikan kita benar. Tapi sekarang tujuan kita berubah. Kita tidak hanya harus membersihkan nama baik keluarga Wijaya, dan tidak hanya harus meruntuhkan kekuasaan Ratna ... kita harus melindungi teknologi ini agar tidak jatuh ke tangan orang jahat. Kalau sampai teknologi ini digunakan oleh mereka untuk kepentingan sendiri, merugikan rakyat, atau dikuasai kelompok gelap ... dampaknya akan mengerikan."

Arjuna menatap Kirana takjub. Sekali lagi, gadis ini membuatnya terpana. Di balik pakaian sederhana, di balik sifatnya yang sering kali ceplas-ceplos dan aneh, tersimpan jiwa seorang pemimpin yang luar biasa, berwawasan luas, dan berprinsip teguh. Gadis ini bukan sekadar montir, gadis ini jauh lebih hebat dari siapa pun yang pernah ia kenal.

Arjuna melangkah maju, berdiri sejajar di samping Kirana. Ia tidak lagi terlihat seperti Tuan Muda yang sombong dan menuntut dilayani. Ia terlihat seperti ksatria yang bersedia berjuang di sisi ratunya. Wibawanya yang hebat memancar, bukan lagi wibawa kekayaan, tapi wibawa kekuatan hati.

"Baiklah. Kalau begitu mulai hari ini, tempat ini bukan lagi sekadar bengkel tua yang sepi. Tempat ini akan menjadi markas pertahanan kita. Dari sini kita akan bergerak. Dari sini kita akan susun strategi."

Arjuna menatap Pak Hendra dengan tatapan tajam memerintah, ciri khas Tuan Muda Adhitama yang tidak pernah hilang meski sedang dalam pelarian.

Bersambung ...

1
ana
bagus.lanjut thor
sunshine wings
Mantap.. gak rugi bacanya.. alur ceritanya hebat..
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️
riniandara: Terima kasih kakak🤗🥰
total 2 replies
Teh Fufah
seruuuu nihhhh ceritanya...
riniandara: terima kasih kak atas review nya ya
total 1 replies
riniandara
Assalamualaikum semua! semoga sehat selalu ya. oh ya kalau kalian suka jangan lupa tinggalkan Jejak serta like ya teman-teman. happy reading/Kiss//Heart/
azela
wah makin penasaran apakah mereka akan berhasil. lanjut up Thor kalau bisa doubel ya he he/Applaud//Applaud//Applaud/
riniandara: siap kakak
total 1 replies
riniandara
pasti lanjut baca ya kak happy reading
azela
lanjut author semangat semakin seru aj/Applaud//Applaud//Applaud/
azela
jangan menyerah Kirana ada tuan dingin yang akan mendukungmu
Muft Smoker
ad rahasia apa niih di antara mereka ,, 🤭🤭🤭🤭
azela
akhirnya terbongkar juga, ternyata Kirana itu bukan gadis biasa keluarga mereka juga sangat dekat dulu.
azela
lanjut Thor semakin penasaran aja
Ita Xiaomi
Semangat Kirana.
Ita Xiaomi
Tenang Kirana, Arjuna akan menyayangi dan mencintaimu dgn setulus hati.
Lisa
Ceritanya menarik jg nih 👍
Lisa: Sama² Kak..oke Kak nanti aq review ya
total 2 replies
Lisa
Aku mampir Kak
azela
siapa Kirana? dari percakapan mereka yang penuh teka bisa di pastikan jika Kirana ini bukan gadis biasa/Right Bah!/
azela
lanjut kak semakin penasaran deh
azela
jangan-jangan Kirana ketua mafia/CoolGuy/
azela
/CoolGuy//Grin//Grin//Grin//Grin//Grin//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
azela
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!