GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. Anak Gunung dan Anak Bangsawan
Matahari kian meninggi, memancarkan terik yang membakar permukaan lapangan utama barak pelatihan Barat. Udara di sekeliling pelataran tidak lagi sejuk oleh kabut fajar, melainkan pengap oleh debu tanah liat kering yang beterbangan setiap kali angin berembus dari arah perbukitan luar Trowulan. Dua ratus calon prajurit Tamtama baru, termasuk seluruh penghuni barak nomor empat yang baru saja menyelesaikan hukuman seratus ember, kini telah berbaris kembali dalam sepuluh banjar yang rapat. Pakaian latihan mereka yang basah oleh air sumur dan keringat mulai mengering di badan, meninggalkan guratan-guratan garam putih yang terasa gatal di kulit.
Di bawah naungan panggung kehormatan sutra kuning, beberapa bintara instruktur mulai membagikan perlengkapan latihan formasi. Kali ini, setiap peserta tidak hanya memegang tombak kayu tumpul, melainkan juga harus memikul sebuah perisai anyaman bambu berlapis kulit lembu yang cukup tebal di lengan kiri mereka. Perisai tersebut berukuran setengah depa, cukup berat untuk menguras sisa tenaga yang baru saja terkuras sejak fajar tadi.
Mada berdiri di barisan tengah banjar kelima, memosisikan tubuh jangkungnya sedikit menekuk ke bawah agar tingginya sejajar dengan pemuda desa di sebelah kirinya. Tangan kirinya mencengkeram tali kulit di balik perisai bambu dengan gerakan yang dibuat agak gemetar, seolah-olah otot lengannya sudah terlalu lelah akibat memikul ember air sebelumnya. Namun, di balik akting tersebut, mata sakral Niti Sastra tingkat dua milik Mada tetap mengamati pergerakan para perwira menengah di depan lapangan dengan sangat jeli.
Suara hentakan kaki yang beralaskan sandal kulit mewah mendadak terdengar dari arah jalur masuk timur lapangan. Rombongan pemuda berpakaian kain sutra halus dengan kain kelat bahu bersulam benang perak melangkah memasuki arena latihan dengan sikap yang sangat pongah. Mereka adalah kelompok taruna dari golongan anak-anak bangsawan daerah, putra para pejabat kadipaten, serta kerabat jauh para senopati istana yang mendapatkan jalur pendaftaran khusus melalui rekomendasi langsung dari dewan tetua kerajaan. Berbeda dengan kelompok Mada yang terlihat kuyu dan berdebu, para anak bangsawan ini tampak segar, bersih, dan memancarkan aroma minyak wangi cendana yang mahal.
Pemimpin kelompok bangsawan itu adalah seorang pemuda tampan berkulit bersih bernama Raden Daniswara, putra seorang jaksa agung wilayah timur Majapahit. Di jari-jari tangannya melingkar beberapa cincin emas bertuah, dan sepasang matanya menatap ke arah barisan prajurit jelata dengan pandangan yang sangat merendahkan, seolah sedang melihat sekumpulan ternak yang kotor.
"Bintara!" seru Raden Daniswara sambil menghentakkan kaki kanannya, membuat debu lapangan beterbangan ke arah banjar depan tempat Ragajaya berdiri. "Apakah kami harus berlatih di lapangan yang sama dengan para kuli sumur dan anak petani ini? Bau asam keringat mereka sangat mengganggu sirkulasi hawa murni di dalam tubuh kami. Bagaimana kami bisa fokus mempelajari formasi tempur tingkat lanjut jika suasana tempat ini lebih mirip dengan pasar hewan?"
Mendengar ucapan yang sangat menghina tersebut, atmosfer di lapangan utama mendadak berubah menjadi sangat tegang. Beberapa pemuda desa di barisan depan langsung menundukkan kepala mereka dengan wajah memerah karena malu dan marah, menyadari perbedaan kasta yang begitu jurang di antara mereka. Namun, bagi Ragajaya, ucapan Daniswara adalah sebuah tusukan langsung pada harga dirinya yang baru saja terluka akibat hukuman fisik tadi pagi.
Ragajaya melangkah maju satu tindakan keluar dari barisan banjarnya, menancapkan pangkal tombak kayunya ke tanah dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang solid. "Raden Daniswara! Tempat ini adalah barak pelatihan militer Majapahit, bukan ruang sidang kejaksaan milik ayah Anda! Di bawah panji Senopati Kudamerta, seluruh peserta seleksi dinilai berdasarkan ketangguhan urat raga dan ketajaman otak, bukan berdasarkan kehalusan kain sutra atau mahalnya minyak wangi yang Anda pakai!"
Raden Daniswara tertegun sejenak, tidak menduga ada seorang anak jelata yang berani membalas ucapannya di depan umum. Wajah tampannya mendadak berubah menjadi sangat dingin, dan samar-samar, pendaran hawa murni Kanuragan Raga aliran api berwarna merah jingga mulai menyala di sekitar pundak dan kedua lengannya. (Anak pesisir murahan ini benar-benar tidak tahu diri. Dia mengira karena memenangkan beberapa duel tombak dengan sesama tikus desa membuatnya bisa berdiri sejajar denganku.)
"Berani sekali kamu membuka mulut kotor itu di depanku, anak pesisir!" ucap Raden Daniswara sambil melangkah mendekati Ragajaya, membiarkan energi apinya memberikan tekanan hawa panas yang mengintimidasi udara di sekeliling mereka. "Kalian para anak gunung dan kuli desa hanya diterima di tempat ini untuk menjadi dinding daging pembawa logistik di garis belakang medan perang! Sedangkan kami adalah mereka yang dilahirkan untuk memimpin pasukan dan menjadi perwira tinggi! Menyamakan derajatmu denganku adalah sebuah penghinaan terhadap hukum kasta kerajaan!"
Lembu Sora dan Jaka Wulung yang berdiri di belakang Ragajaya langsung bersiap untuk maju membela rekan sebarak mereka. Jaka Wulung sudah mengepalkan tinjunya yang besar, sementara Lembu Sora tampak menggeram dengan wajah yang memerah. Di barisan belakang, Mada melihat bahwa situasi ini bisa berkembang menjadi perkelahian massal yang akan merugikan seluruh penghuni barak nomor empat jika dibiarkan berlanjut.
(Jika terjadi perkelahian terbuka sekarang, para instruktur senior yang masih menyimpan dendam akibat kejadian semalam pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan hukuman yang lebih berat kepada barak nomor empat. Ragajaya terlalu mudah dipancing oleh emosi, dan si anak bangsawan Daniswara itu sengaja memicu keributan agar kelompok kami dikeluarkan dari daftar kelulusan sebelum ujian formasi dimulai.)
Mada segera menggeser langkah kakinya yang jangkung, menyelinap di antara celah banjar dengan gerakan yang sengaja dibuat agak panik dan terburu-buru. Ia melangkah maju tepat ke tengah ruang kosong di antara Ragajaya dan Raden Daniswara, memosisikan tubuh besarnya sebagai penghalang alami di antara kedua pemuda yang sudah siap meledakkan hawa murni mereka masing-masing.
Mada menjatuhkan tubuhnya agak membungkuk, merentangkan kedua tangannya dengan wajah yang menampilkan ketakutan yang sangat lugu dan polos seorang pemuda desa yang panik melihat pertikaian.
"Mohon maaf, Raden yang agung! Mohon ampunan, Tuan Ragajaya!" seru Mada dengan suara yang agak melengking cemas, menarik perhatian seluruh orang di lapangan termasuk para bintara pengawas di tepi pelataran. "Tolong jangan bertengkar di tempat ini! Sinar matahari sudah sangat terik, dan bahu saya masih sangat perih karena memikul ember air tadi pagi. Jika kalian bertarung sekarang dan para bintara menjatuhkan hukuman seratus ember lagi, kaki saya pasti akan lumpuh dan saya tidak akan bisa pulang ke desa untuk membantu ibu saya memanen padi!"
Ucapan Mada yang terdengar sangat konyol, penakut, dan tidak memiliki harga diri itu mendadak meredam ketegangan yang hampir meledak di lapangan. Beberapa taruna bangsawan di belakang Daniswara langsung tertawa terbahak-bahak melihat sikap membungkuk Mada yang terlihat sangat menyedihkan sebagai seorang pria bertubuh besar.
Ragajaya menoleh ke arah Mada dengan pandangan yang penuh dengan rasa muak yang mendalam. "Mada! Mundur kamu ke belakang! Jangan mempermalukan barak kita dengan sikap pengecutmu itu! Kelompok bangsawan ini harus diberi pelajaran agar mereka tahu bahwa urat daging kita tidak bisa dibeli dengan kata-kata!"
Namun, tindakan Mada berhasil memotong momentum serangan Raden Daniswara. Hawa panas merah jingga di sekitar lengan Daniswara perlahan menyusut kembali karena ia merasa sangat terhina jika harus mengotori tangannya untuk memukul seorang pemuda desa jangkung yang sudah gemetar ketakutan di depannya.
"Lihat itu, Ragajaya," ejek Raden Daniswara sambil melipat kedua lengannya di dada, menatap Mada dengan pandangan yang sangat jijik. "Teman sebarakmu saja tahu diri di mana posisinya sebagai seekor anjing tanah. Sungguh membuang waktu bagi saya untuk melayani kemarahan kelompok tikus kelaparan seperti kalian."
Sebelum Ragajaya sempat membalas kembali, suara langkah kaki yang sangat berwibawa terdengar dari arah tangga panggung kehormatan. Senopati Kudamerta melangkah turun ke lapangan, didampingi oleh dua perwira menengah yang memegang papan perkamen kulit. Kehadiran jenderal sepuh itu langsung membuat seluruh lapangan utama menjadi sunyi senyap seketika, termasuk Raden Daniswara yang segera menurunkan lengannya dan menjura hormat dengan sikap yang sangat patuh.
Sepasang mata elang Senopati Kudamerta menyapu tiga tokoh yang berdiri di tengah lapangan: Ragajaya yang masih memegang tombaknya dengan tegang, Daniswara yang berdiri angkuh, dan Mada yang masih mempertahankan posisi membungkuk keluguan dengan tangan memegangi bahunya yang memar palsu.
(Pemuda dari Hutan Tarik itu lagi...) bisik Senopati Kudamerta di dalam batinnya, matanya menyipit tajam saat mengunci fokus pada Mada. (Cara dia melangkah maju ke tengah tadi terlihat sangat canggung karena panik, namun penempatan posisi tubuh jangkungnya sangat presisi untuk memotong sudut serang hawa murni api milik Daniswara tanpa memicu reaksi benturan energi. Dia sengaja berbicara konyol untuk merusak konsentrasi mental kedua pihak. Kemampuan manipulasi situasi psikologis lapangan seperti ini bukan sesuatu yang bisa dimiliki oleh seorang anak petani biasa.)
Senopati Kudamerta berhenti tepat lima langkah di depan mereka, meletakkan kedua telapak tangannya di atas hulu pedang panjangnya yang tersarung di pinggang. "Tampaknya energi kalian masih terlalu meluap-luap meskipun fajar tadi sudah diisi oleh hukuman fisik. Di dalam militer Majapahit, perbedaan asal-usul kasta dan garis darah memang diakui di dalam struktur sosial istana, namun di atas tanah liat lapangan pelatihan ini, hanya ada satu hukum yang berlaku: hukum kemampuan senjata!"
Jenderal sepuh itu menoleh ke arah bintara pencatat di sampingnya. "Bintara! Karena ada begitu banyak rasa tidak puas di antara kelompok anak bangsawan dan anak gunung pagi ini, kita akan mengubah jadwal latihan formasi menjadi sesuatu yang lebih menarik. Kumpulkan seluruh peserta! Saya mengumumkan bahwa ujian duel ketangkasan senjata tingkat menengah akan dimajukan dan dilaksanakan sekarang juga!"
Pengumuman dari Senopati Kudamerta langsung memicu riak kepanikan dan kegembiraan yang bercampur aduk di seluruh lapangan. Ujian duel yang seharusnya dilaksanakan pada akhir pekan kini harus dihadapi dalam kondisi fisik yang sangat lelah.
"Peraturannya sangat jelas!" teriak bintara instruktur, suaranya menggema di seluruh sudut pelataran. "Setiap barak hunian jelata akan diundi untuk mengirimkan satu wakil terbaik mereka guna bertarung satu lawan satu melawan perwakilan dari kelompok taruna bangsawan daerah! Pertarungan menggunakan senjata kayu pilihan, dan siapa pun yang berhasil menjatuhkan lawannya atau membuat senjatanya terlepas, kelompoknya akan dibebaskan dari seluruh tugas kebersihan malam selama satu bulan penuh! Sebaliknya, kelompok yang kalah harus membersihkan kandang kuda dan dapur utama setiap malam tanpa kecuali!"
Raden Daniswara tersenyum sangat lebar, menatap langsung ke arah Ragajaya dengan pandangan yang penuh dengan kemenangan yang sudah pasti. "Sangat adil, Senopati. Saya sendiri yang akan menjadi wakil pertama dari kelompok taruna bangsawan untuk membersihkan kotoran di lapangan ini."
Ragajaya hendak melangkah maju untuk mengajukan dirinya sebagai wakil barak nomor empat, namun lengannya mendadak ditahan oleh Wiranata yang menggelengkan kepalanya dengan wajah serius. "Jangan, Ragajaya. Hawa murni air milikmu belum pulih sepenuhnya dari hukuman seratus ember tadi fajar. Jika kamu memaksakan diri bertarung melawan energi api Daniswara yang masih segar, kamu hanya akan menjadi sasaran empuk yang akan mempermalukan barak kita."
"Lalu siapa yang akan maju?" tanya Jaka Wulung dengan wajah cemas. "Aku bisa saja maju dengan kekuatan fisikku, namun gerakan Daniswara pasti sangat cepat."
Mada yang kembali berdiri di barisan banjar belakang hanya menundukkan kepalanya, mengamati dinamika kelompoknya dengan ketenangan yang mutlak di dalam sukmanya. (Pancingan dari Kudamerta sangat berbahaya. Jenderal sepuh itu sengaja memajukan ujian duel ini karena ia ingin memaksaku untuk meledakkan kekuatanku atau setidaknya memperlihatkan celah dari teknik bela diri elit yang sempat ia curigai tadi siang. Aku harus menemukan cara untuk memenangkan duel ini demi ketertiban barak nomor empat, namun tetap menjaga agar gaya bertarungku terlihat seperti sebuah keberuntungan yang sangat konyol.)
Saat bintara mulai mengocok potongan bambu undian untuk menentukan barak mana yang akan maju pertama kali melawan Raden Daniswara, seluruh penghuni barak nomor empat tampak menahan napas mereka dengan cemas, berdoa agar nomor mereka tidak keluar di putaran awal yang melelahkan ini. Angin siang bertiup kencang, menerbangkan debu-debu kering yang kian menegaskan awal dari benturan besar antara anak gunung dan anak bangsawan di bawah langit Trowulan.