----
"Ugh ..."
Nayra tersentak bangun dari mimpi buruknya ... sebuah mimpi tentang seorang wanita yang di khianati oleh orang-orang terdekatnya.
Namun sialnya, mimpi buruk itu ternyata menimpa dirinya sendiri!
Dia di khianati oleh orang-orang terdekat yang dia percaya, termasuk suaminya sendiri.
Setelah dia mengalami keguguran dan kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya, dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakit yang dia terima.
"Kalian akan merasakan, apa yang aku rasakan! Tunggulah pembalasanku!"
Spin-off dari Novel : Tolong Rebut Suamiku Dan Ambil Takdirku.
Bagaimana mana kisahnya....
Yuk baca kisah lengkapnya....
Jangan lupa like, komen dan kasih rating 5.
Follow Ig : Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. PENYESALAN
Aku yang saat ini terbaring koma ... aku hanya bisa mendengar dan sedikit menggerakkan jari tangan ku.
Saat aku mendengar perkataan ibu angkat ku, aku tidak menyangka, kalau ibu angkat ku begitu tega melakukan itu semua kepada ku.
Aku hanya bisa mendengar perkataannya dengan sangat jelas di telingaku, semuanya.
Air mataku perlahan keluar, aku bisa merasakan air mataku mengalir, walaupun aku tidak bisa membuka mataku.
Saat itu aku tidak bisa bernafas, dan aku kembali kehilangan kesadaran ku.
Titttt ...
Titttt ...
Titttt ...
Apakah ini nasibku? Apakah aku harus mati di tangan ibu angkat ku? Aku hanya berharap agar aku bisa bertahan hidup ...
Sebelum aku kehilangan kesadaran ku, aku hanya ingin terus hidup, agar aku bisa melahirkan dan membesarkan anak yang ada di dalam kandungan ku ...
Itu adalah permintaan terakhirku, di detik-detik akhir sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran ku secara total.
...══════ஜ▲ஜ══════...
Tak ...
Tak ...
Tak ...
Fadli kembali setelah membeli makanan. Ia melihat istrinya kejang-kejang.
KREK ...
"Nayra!!!"
Fadli panik saat melihat istrinya.
"DOKTER ... DOKTER!!!" teriaknya memanggil dokter.
Suasana menjadi panik ...
Dokter masuk ke dalam ruangan, dan segera menangani Nayra bersama dengan rekannya.
Fadli menunggu di luar ruangan, dirinya begitu panik melihat keadaan Nayra yang kembali sekarat.
Di dalam ruangan, dokter kembali berusaha untuk menyelamatkan nyawa Nayra yang berada di ambang kematian.
Segala cara sudah mereka lakukan agar detak jantung Nayra kembali normal.
Namun keadaan Nayra semakin kritis!
"Nayra ..." Fadli semakin panik di luar ruangan.
Dirinya tidak berhenti mondar-mandir, menunggu dokter keluar dari dalam ruangan. Ia mengigit ujung jempolnya, pikirannya berpusat pada Nayra.
Krek ...
Dokter keluar dari ruangan.
"Dokter! Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Fadli dengan suara yang panik dan serius.
"Maaf pak ...! Sepertinya istri bapak harus di pindahkan ke rumah sakit yang lebih besar! Kami kekurangan alat untuk mengobati istri bapak!"
"APA!!! Apapun itu dok! Tolong selamatkan istri saya!" ucap Fadli, dengan mata yang terbuka lebar dan berkaca-kaca.
"Baik pak!"
Nayra di bawa masuk ke dalam ambulan. Ia di pindahkan ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap.
"Nayra!!! Kamu harus kuat! Kita akan segera pergi ..." ucapnya, dengan suara yang sangat khawatir.
Weee-wooo ... Weee-wooo ... Sirine ambulan berbunyi. Suasana tegang di dalam ambulan serasa mencekam melihat kondisi Nayra yang sedang sekarat.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ... Nayra! Bertahan sebentar lagi ... Kamu harus kuat." air mata Fadli mengalir deras, sambil menggenggam erat tangan istrinya.
Di tengah perjalanan genting, ban mobil ambulan tiba-tiba saja meledak.
DUARRRR!!!
Suara ban mobil ambulan yang meledak terdengar keras. Seketika mobil ambulan yang mereka naiki kehilangan keseimbangan, lalu berhenti di tengah jalan.
"Apa ini? Kenapa tiba-tiba berhenti!" Fadli bertanya dalam hati.
"Maaf pak! Ban sepertinya ada kendala ... Ban mobil tiba-tiba saja pecah!" ucap petugas rumah sakit yang mengemudikan ambulan.
"APA? Bagaimana sekarang?" Fadli semakin panik.
"Sepertinya tidak ada cara lain! Kita harus segera mencari kendaraan untuk membawa istri bapak kerumah sakit, secepatnya" jawab petugas rumah sakit.
"He-yah!!! Sial ..."
Fadli keluar dari dalam ambulan, ia mencari taksi atau pun mobil yang bisa ia sewa untuk membawa Nayra secepat mungkin.
Weee-wooo ...
Weee-wooo ...
Saat itu terdengar bunyi sirine ambulan yang pelan dari arah yang berlawanan.
Fadli berdiri di tengah jalan, mencegat dan menghentikan mobil ambulan itu.
TOOOOOT !!!
SRET!!!
Ambulan itu berhenti tepat di depan Fadli yang menghadang jalan.
"Pak! Tolong saya!!!"
"Ada apa pak?" tanya sopir ambulans.
"Tolong istri saya pak!!!" pinta Fadli dengan panik, kepada sopir ambulan.
"Apa pak?" tanya supir ambulan itu kembali.
"TOLONG ISTRI SAYA!!!" teriak Fadli.
"Baik pak! Sekarang dimana istri bapak?"
Fadli langsung membawa Nayra dan memindahkan istrinya ke ambulan itu.
Krek ...
Blum !
"Maaf pak! Bapak tidak bisa masuk! tidak ada tempat untuk bapak!" ucap sopir ambulan.
"Apa? Saya tidak bisa masuk!!! Lalu bagaimana dengan istri saya?" tanya Fadli, wajahnya tampak heran, kenapa dia tidak bisa masuk mendampingi istrinya.
"Maaf pak! Bapak bisa menggunakan kendaraan lain! Bapak bisa memberi tahu saya, rumah sakit mana yang bapak tuju?"
Melihat kondisi istrinya yang sedang sekarat! Fadli tidak bisa berpikir jernih lagi. Ia memberi alamat rumah sakit yang ia tuju.
Untuk saat ini, yang terpenting adalah Nayra bisa segera di rawat. Ia tidak peduli dengan kejanggalan ini.
"Baiklah pak! Tolong bawa istri saya! Tolong!" pinta Fadli.
"Baik pak!"
Krek ...
VROOM ...
Weee-wooo ... Weee-wooo ... Mobil ambulan melaju kencang membawa Nayra.
Saat itu Fadli mencari taksi. Ia kemudian mengikuti ambulan itu dari belakang.
Saat perjalanan mengikuti ambulan, Fadli kehilangan jejak ambulan yang membawa Nayra.
"Pak? Kemana ambulan itu pergi?" tanya Fadli kepada sopir taksi.
"Maaf pak! Sepertinya kita kehilangan jejak" jawab sopir taksi.
Saat itu Fadli mencari ambulan itu, ia meminta agar sopir taksi terus mencari jejak ambulan.
"Nayra! Semoga kamu sampai! Aku harap kamu bisa bertahan." gumamnya dalam hati, meminta keselamatan istrinya.
Saat itu di tengah jalan yang sepi dan gelap, serta tepi jalan itu adalah jurang. Fadli melihat ambulan itu melaju dengan kencang.
Namun tiba-tiba saja ambulan itu kehilangan keseimbangan, mobil ambulan itu melaju ke sembarang arah dan ....
SRETTT
Mobil ambulan itu menghantam pembatas jalan, dan jatuh--terjun ke dalam jurang.
Tug ...
Tug ...
Suara benturan mobil yang jatuh ke dalam jurang terdengar kencang di malam yang sunyi.
BRUGGG!!!
Ambulan itu jatuh ke dasar jurang.
Mobil itu jatuh dan terjungkal. Tidak lama kemudian mobil ambulan itu mengeluarkan asap.
DUARRRR!!!
Mobil ambulan itu meledak dan hangus terbakar di dasar jurang.
Fadli yang melihat ambulan itu masuk ke dalam jurang berteriak dengan kencang.
"TIDAK!!!"
SRET!
Mobil taksi yang ia naiki berhenti di tepi jalan.
Krek!
BRUGGG!
Fadli keluar dari mobil taksi. Ia berlari tergesa-gesa menuju tepi jurang.
"NAYRA!!! NAYRA!!!" teriaknya keras, urat lehernya keluar dan suaranya semakin kencang.
Tangisannya pecah saat melihat mobil ambulan yang di naiki Nayra terbakar di dasar jurang.
Kobaran api terlihat sangat jelas di atas jurang.
"Nayra! HAAA!!!"
Tubuh Fadli terkapar lemas di tepi jurang. Air matanya mengalir deras. Wajahnya penuh dengan rasa kehilangan dan penyesalan yang mendalam.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ... Nayra! Aku minta maaf ... Hiks ... HAAA!"
Di tepi jurang ... Fadli meratapi istrinya, seumur hidupnya, ini adalah pertama kalinya ia merasakan penyesalan yang mendalam saat kehilangan istri dan calon anaknya dalam waktu yang bersamaan.
"HAAAA!!!"
DUARRRR!!!
Mobil ambulan yang terbakar di dasar jurang kembali meledak.
"Nayra! Aku akan menyusul mu dan anak kita ..."
...══════ஜ▲ஜ══════...
...𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆...
...•...
baca nya
kalau aku yang jadi istri mu, wes tak tinggal pergi