NovelToon NovelToon
Obsesi Tuan Perdana Menteri

Obsesi Tuan Perdana Menteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Wanita perkasa
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”

Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.

Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reformation

Pintu gerbang perunggu Istana Parlemen yang berumur dua abad itu tidak lagi kokoh berdiri. Di bawah tekanan gelombang massa rakyat dunia atas yang menuntut keadilan, barikade militer darurat yang dipasang oleh Wakil Perdana Menteri Frederick Vance runtuh seperti istana pasir yang dihantam ombak. Namun, anarki yang dikhawatirkan tidak pernah terjadi. Massa yang marah mendadak membuka jalan, memisahkan diri menjadi dua barisan besar yang teratur saat deretan kendaraan taktis lapis baja hitam milik Vane Group memasuki kompleks pelataran parlemen.

Dari dalam kendaraan utama, Kael Arden melangkah keluar. Ia tidak lagi mengenakan kaus taktis yang koyak. Pria itu telah kembali ke dalam wujud sejatinya sebagai pemimpin tertinggi, setelan jas tiga potong berwarna abu-abu arang yang dipotong sempurna, menyembunyikan balutan perban di bahu kirinya dengan rapi. Aura wibawa dan dominasi maskulinnya kembali memancar, namun kali ini tidak ada lagi senyum kepalsuan politik di wajahnya. Tatapannya dingin, tajam, dan penuh dengan kepastian eksekusi.

Di sampingnya, Aurelia Vane berjalan dengan keanggunan yang menakutkan. Gaun beludru merah marun yang menyapu lantai berpadu dengan mantel bulu hitam di bahunya, sementara bros mawar hitam dari berlian berkilau di dadanya di bawah sorotan lampu kilat kamera media. Kehadiran sang Ratu Dunia Bawah secara terbuka di samping sang Perdana Menteri menciptakan visualisasi kekuasaan yang belum pernah tercatat dalam sejarah peradaban manusia.

"Arden! Bersihkan parlemen!" teriakan ratusan ribu rakyat bergema dari balik pagar pembatas, suara mereka dipenuhi oleh harapan baru setelah pidato kejujuran Kael.

Kael tidak menoleh ke arah media atau massa. Ia memegang tangan kanan Aurelia dengan cengkeraman yang posesif dan kokoh, memimpin langkah mereka berdua menembus koridor marmer Istana Parlemen menuju Ruang Sidang Utama. Di belakang mereka, Lucian Volkov dan puluhan agen elit Vane Group berjalan dengan senjata taktis yang terarah siap, mengamankan setiap jengkal perimeter dari sisa-sisa pasukan loyalis Vance.

BRAAK!

Pintu ganda Ruang Sidang Utama didobrak paksa oleh Lucian. Di dalam ruangan melingkar yang megah itu, puluhan anggota parlemen dan menteri kabinet sedang duduk berkumpul dengan wajah pucat pasi. Di tengah podium utama, Frederick Vance berdiri dengan keringat dingin yang membasahi dahi dan kerah kemejanya, tangannya gemetar memegang berkas darurat.

"Kael Arden!" Vance berteriak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa otoritasnya yang telah hancur. "Kau membawa penjahat internasional ke dalam ruang suci konstitusi! Ini adalah kudeta! Militer akan..."

"Militer tidak akan datang menyelamatkanmu, Frederick," Kael memotong kalimat Vance dengan suara rendah yang beresonansi kuat di seluruh penjuru ruangan. Kael melangkah maju, melepaskan cengkeramannya dari tangan Aurelia sejenak untuk meletakkan sebuah perangkat peladen portabel berlogo mawar hitam di atas meja sidang utama.

"Dalam waktu kurang dari dua belas jam, tim intelijen gabungan pemerintah dan Vane Group telah memverifikasi seluruh aliran dana, instruksi pembunuhan rahasia, dan manifes korupsi yang kau tandatangani selama dua puluh tahun terakhir," Kael menatap Vance dengan tatapan seorang predator yang siap mematahkan leher mangsanya. "Termasuk dokumen perintah operasi pembakaran Panti Asuhan Saint Jude dua puluh tahun lalu."

Aurelia melangkah maju ke samping Kael, melipat kedua tangannya di dada dengan aura female dominance yang begitu pekat hingga membuat beberapa anggota parlemen tua di barisan depan menundukkan kepala karena ketakutan.

"Kau mengira bisa menghapus sejarah dengan api, Frederick," suara Aurelia mengalir dingin seperti es yang menggores kaca. "Kau mengira gadis kecil yang selamat malam itu akan mati kelaparan di jalanan. Namun malam ini, aku kembali untuk mengambil seluruh utang darah yang kau tinggalkan di atas tanah Saint Jude."

"Ini fitnah! Tidak ada bukti legal yang sah!" Vance berteriak histeris, matanya melotot menatap ke arah anggota parlemen lainnya, mencari dukungan yang sama sekali tidak ia dapatkan.

Kael menyunggingkan senyuman predatornya yang paling dingin. Ia menekan satu tombol pada perangkat di atas meja. Seketika, layar proyeksi raksasa di belakang podium menampilkan siaran langsung dari luar gedung parlemen, di mana ratusan ribu rakyat sedang menyaksikan seluruh jalannya sidang melalui layar kota. Di samping visualisasi itu, barisan grafik interaktif menunjukkan audit forensik keuangan milik Vance dan seluruh kroninya yang terpampang secara transparan tanpa ada satu pun data yang disensor.

"Hukum lama yang kau gunakan untuk berlindung telah mati bersama kemunafikanmu, Frederick," Kael mendikte dengan nada dingin seorang eksekutor. "Mulai detik ini, atas nama rakyat dan demi kestabilan peradaban bawah, aku mengumumkan Reformasi Tangan Besi. Penghapusan hak imunitas pejabat, penyitaan seluruh aset korporasi yang terlibat pencucian uang, dan pengadilan militer terbuka untuk setiap pengkhianat negara."

Kael memberi isyarat tangan yang pendek kepada Lucian. Tanpa ragu, Lucian dan pasukannya melangkah maju, merenggut tubuh Frederick Vance dari atas podium dan memborgol kedua tangannya di belakang punggung dengan kasar. Anggota kabinet lainnya yang terbukti terlibat dalam kebocoran data di bab sebelumnya langsung digiring keluar satu per satu di bawah tatapan tajam kamera media internasional. Setelah ruang sidang dibersihkan dari para pejabat korup, Kael kembali berdiri di belakang podium utama parlemen. Namun kali ini, ia tidak berdiri sendiri. Aurelia Vane berdiri di sampingnya, meletakkan tangan kirinya di atas permukaan podium kayu mahoni yang megah tersebut.

"Pada rakyat dan seluruh faksi dunia bawah," Kael berbicara ke arah kamera penyiaran, suaranya kini terdengar begitu jujur, bersih dari segala retorika manipulatif. "Hari ini, kami mengumumkan kerja sama baru yang sepenuhnya transparan antara Pemerintah dan Vane Group. Kami tidak lagi menyembunyikan aliansi ini di balik bayang-bayang. Vane Group akan secara legal mengendalikan seluruh jalur suplai logistik dan keamanan maritim internasional, sementara pemerintah akan memastikan bahwa setiap sen pajak kalian digunakan untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk memperkaya kantong para birokrat."

Aurelia menyambung dengan senyuman sensualnya yang penuh otoritas mutlak. "Dunia bawah tidak akan lagi menjadi ancaman bagi kalian, selama hukum baru ini dihormati. Kami membawa ketertiban dari kegelapan untuk membersihkan kekacauan di bawah cahaya."

Rakyat yang menyaksikan siaran tersebut di luar gedung parlemen bersorak gemuruh, suara teriakan kemenangan mereka menembus dinding kaca ruang sidang. Mereka melihat sebuah era baru yang ekstrem namun jujur, sebuah peradaban yang dipimpin oleh sepasang penguasa yang tidak lagi bersembunyi di balik topeng moralitas palsu.

Kael membalikkan tubuhnya, menatap Aurelia yang sedang menatapnya dengan kilat kebanggaan yang teramat pekat di sepasang netra obsidiannya. Kael merengkuh pinggang Aurelia dengan tangan kanannya, menarik tubuh wanita itu mendekat di tengah ruang sidang parlemen yang kini telah menjadi milik mereka sepenuhnya.

"Kita telah membersihkan sarang ular ini, Ratu," bisik Kael parau, membiarkan napasnya menyentuh pelipis Aurelia.

"Dan sekarang, Perdana Menteriku..." Aurelia menyunggingkan senyuman sensual yang memabukkan saraf Kael, "saatnya kita merayakan kemenangan ini dengan cara yang layak bagi sepasang penguasa tertinggi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!