Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5--Closing 50 unit Bangkitnya Sang Pecundang
[Ding!]
[Tingkat Kepercayaan Target: 98% (Hampir Sempurna)!]
[Misi Terdeteksi: Closing produk! Buat Bapak ini membeli produk anda Selesaikan pembayaran sebelum toko tutup!]
[Hadiah: Misi perkenalan sistem RP 10.000.000]
[Keberuntungan tingkat tinggi]
[Progres misi 98%]
Naufal sama sekali gak paham dengan notifikasi yang terus muncul, namun dia abaikan saja untuk sekarang. Faktanya berkat notifikasi itu dia berhasil closing.
Naufal segera membawa Pak Budi menuju kasir. Langkahnya tegap, melewati Andre yang masih berdiri kaku seperti patung di tengah toko. Saat melewati seniornya itu, Naufal berbisik sangat pelan, hanya cukup untuk didengar Andre.
"Terima kasih untuk 'ikan teri'-nya, Kak. Ternyata rasanya lebih enak dari R14 yang Kakak curi kemarin."
Andre mengepalkan tangan hingga gemetar, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pak Budi mengeluarkan sebuah kartu dari dompet kulitnya yang sudah usang. Bukan kartu debit biasa, melainkan sebuah kartu dengan logo prioritas berwarna emas gelap.
Manajer toko keluar dari ruangannya dengan wajah panik, melihat jam dinding yang menunjukkan lima menit menuju tutup. Ia melihat tumpukan kartu identitas Pak Budi dan kartu bank di atas meja kasir.
"Ini... ini serius 50 unit?" Mata sang Manajer hampir melompat keluar saat melihat angka di layar komputer. Rp 120.000.000.
"Serius, Pak. Pak Budi sudah melakukan pembayaran penuh," jawab Naufal dengan nada datar, seolah menjual 50 unit dalam sekejap adalah hal biasa baginya.
Manajer itu langsung berubah sikap. Wajah galaknya menghilang, digantikan oleh senyum lebar yang terlihat sangat menjilat. "Luar biasa! Naufal, kamu memang aset terbaik kita! Andre, Siska, cepat bantu Naufal packing! Jangan buat tamu VIP kita menunggu!"
Andre terpaksa bergerak dengan wajah masam, sementara siska tidak bisa menyembunyikan wajah kegirangannya, dia terlihat sangat berbinar-binar.
“Siska kok lo terlihat senang banget?” tanya Naufal yang memperhatikan dari jauh.
"Eh?" Siska tersentak, wajahnya mendadak memerah tipis. Ia segera membuang muka dan kembali sibuk dengan isolasi di tangannya, meski gerakannya jadi sedikit salah tingkah.
"Siapa juga yang senang! Pede banget lo!" ketus Siska sambil menghentakkan kardus HP ke meja. "Gue cuma senang karena target toko ketutup, jadi bonus gue aman. Nggak ada urusannya sama lo, ya!"
Siska melirik Andre yang sedang merenung di pojok dengan tatapan sinis. 'Rasain lo kak, makanya jangan main-main sama singa yang tertidur … good job naufal!’ meski selalu ketus, sok jual mahal inilah sikap asli si gadis.
“Oh, ya gue juga gak peduli sih …”
Pak Budi menepuk bahu Naufal sebelum keluar. "Ini kartu namaku yang asli. Ada nomor kecilku di sana, kalau sekiranya butuh sesuatu … kabari saja saya. Saya suka dengan anak muda sopan, berbeda seniormu itu.”
Andre menunduk malu.
Setelah Pak Budi pergi dengan pengawalan mobil mewah yang tiba-tiba muncul di depan toko, suasana menjadi hening. Sang Manajer mendekati Naufal, hendak merangkulnya.
"Naufal, soal ancaman pecat tadi, selamat kamu gak jadi dipecat .... Luar biasa dalam satu malam jual 50 unit … wah ini mah namanya keberuntungan tingkat tinggi. Cepet kamu scan barcodenya, buat team leader terkejut juga malam ini.”
Nuafal baru saja selesai menscan barcode imei semua 50 unit untuk diklaim agar terkejar target, Dan saat itu juga dia mendapatkan telepon dari pak eko, leader perusahaan di area yogyakarta.
Naufal menarik napas panjang, menatap layar ponselnya yang bergetar. Nama "Pak Eko - TL" berkedip di sana. Ia sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakan pria itu jika Naufal tidak segera mengangkatnya.
"Halo, Pak Eko?"
"NAUFAL! LO GAK LIST HASIL PENJUALAN DI GRUB WA LAGI? BAJINGAN LO! LO GAK JUALAN LAGI YA HARI INI, ASW EMANG!!”
Kebun binatang keluar semua, naufal terkekeh. “Ampun, sabar atuh pak … coba lihat laporan penjualan saya, di sistem.”
“ASW AWAS AJA KALAU LO NGADI-NGADI —”
Suara makian Pak Eko terputus seketika. Hening menyelimuti sambungan telepon itu selama hampir sepuluh detik. Naufal hanya bisa membayangkan wajah atasannya yang sedang memelototi layar dashboard sistem penjualan pusat dengan mata yang hampir keluar.
"E-eh... Fal? Naufal?" Suara Pak Eko berubah seratus delapan puluh derajat. Nada garangnya hilang, berganti dengan suara gemetar yang tidak percaya. "Seratus dua puluh juta? Lima puluh unit A5? Ini... ini lo ngerampok bank mana, Fal? Atau sistem kantor lagi error?!"
Naufal tersenyum puas, melirik Andre yang masih terpaku lemas di sudut toko. "Asli, Pak. Pembayaran cash lewat kartu prioritas. Barangnya sudah dibawa tadi. Bagaimana? Target saya amankan?"
"Aman?! Aman lo bilang?!" teriak Pak Eko di seberang sana, kali ini dengan nada histeris kegirangan. "Bukan cuma aman, Fal! Lo barusan nyelamatin muka divisi kita di depan kantor pusat! Gila, gila! Besok lo ke kantor, gue traktir makan siang paling mewah! Lupakan soal SP-3, lo resmi jadi anak emas gue sekarang!"
Klik
. Sambungan telepon diputus Pak Eko dengan terburu-buru, kemungkinan besar ia langsung menyebar screenshot laporan Naufal ke grup besar para petinggi perusahaan.
Karena ini hal langka! Anak baru jalan 3 bulan, sekali telur pecah langsung jualan 50 unit … ini namanya berkah dari langit!
Naufal menurunkan ponselnya, merasa beban berat di pundaknya luruh seketika.
Manajer toko mendekati Naufal, wajahnya yang tadi sangar kini terlihat sangat menjilat. "Naufal, bener kan kata saya? Kamu itu punya bakat terpendam! Oh iya, karena toko sudah mau tutup, ayo kita makan-makan dulu buat ngerayain—"
"Maaf, Pak," sela Naufal dingin. Ia mengambil tas punggungnya yang lusuh dan memakainya. "Ibu dan adik saya menunggu di rumah. Saya permisi."
Saat Naufal melangkah menuju pintu keluar, Siska mencegatnya di dekat rak aksesoris. Ia menyilangkan tangan di dada, wajahnya masih ditekuk masam, tapi matanya tidak bisa berbohong kalau dia sangat takjub. Matanya penuh binar-binar, andai saja dia bukan tipe karakter yang gengsian kali aja dia udah nempel, meluk si cowok ini.
"Woi, anak keberuntungan!" panggil Siska ketus.
Naufal berhenti. "Apa lagi, Sis? Mau muji gue?"
"Dih! Najis!" Siska mendengus keras, wajahnya memerah sampai ke telinga. "Gue cuma mau bilang... jangan sombong dulu! Cuma karena lo dapet 'ikan paus', bukan berarti besok lo bisa santai. Ingat, besok lo tetep harus masuk pagi, kita satu shift tanpa kak Andre itu kesempatanmu … jangan telat gara-gara mabuk duit!"
"Iya, Siska cantik," jawab Naufal santai, sengaja menggoda gadis itu. Ia kenal selama 3 bulan memang dia tipikal si cerewet dengan ucapan pedas, namun itu juga sisi manisnya. Gak pernah bisa jujur.
"Apa lo bilang?! S-siapa yang cantik?! Dasar gila! Buaya darat! Mesum! Pergi sana!"
Siska mengibaskan tangannya, mengusir Naufal dengan wajah yang makin merah padam.
“Iya-iya galak Banget jadi cewe …” ia pun pergi menjauh.
Naufal tertawa kecil tanpa menoleh. Ia berjalan menembus dinginnya angin malam Yogyakarta dengan perasaan yang luar biasa ringan
Saat dia berjalan dia masih memikirkan apa yang barusan terjadi. “Apa kekuatan itu? Mukjizat dari tuhan!?”
Saat dia bingung sendiri lagi-lagi notifikasi muncul.
Saat transaksi selesai dan struk keluar, sebuah notifikasi muncul kembali di mata Naufal.
[Ding!]
[Misi Selesai: 'The Closing King'! Terselesaikan!]
[Hadiah misi perkenalan sistem Rp 10.000.000]
Kemampuan hoki tingkat tinggi—keberuntungn tuan rumah meningkat 60%
Naufal membeo. Rp 10 juta di TF ke saldo rekeningnya. Sejak tadi dia bingung apa-apaan layar ini? Apa dia sakit. Lalu dia melihat dan membuka bank mobile dan melongo.
“ 10 juta beneran masuk! Ini beneran mukjizat dari tuhan!”
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN