Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11 penempaan daging berdarah dan percikan api konflik
Malam berlabuh semakin dalam menyelimuti Kota Awan Mengambang. Di bawah pendaran cahaya rembulan yang tertutup awan kelabu, Paviliun Bambu Hijau berdiri dalam keheningan yang tenang. Angin malam berdesir melewati sela-sela batang bambu, menciptakan alunan melodi alam yang menyejukkan hati.
Bagi Yan Xinghe, malam ini sama sekali bukan waktu untuk beristirahat. Kedamaian di luar kamarnya berbanding terbalik dengan badai kehancuran yang sebentar lagi akan ia picu di dalam tubuhnya sendiri.
Ruang kultivasi di dalam paviliun tamu itu cukup luas, berlantaikan kayu gaharu yang memancarkan aroma penenang jiwa. Xinghe duduk bersila di tengah ruangan. Ia telah menyusun puluhan batu spiritual tingkat rendah—hasil rampasan dari bandit Serigala Pasir—membentuk formasi segel isolasi sederhana di sekelilingnya. Formasi ini tidak berguna untuk menahan serangan luar, fungsinya murni untuk mencegah fluktuasi energi di dalam ruangan bocor keluar dan menghancurkan bangunan.
Di hadapannya, tiga material spiritual tingkat menengah tergeletak memancarkan aura yang saling bertolak belakang. *Akar Petir Ungu* berderak memercikkan kilatan listrik liar. *Batu Tetesan Bintang* memancarkan pendar keperakan yang terasa berat dan padat. *Inti Besi Dingin* mengeluarkan hawa beku yang membuat embun di lantai mengkristal.
"Tiga meridian yang meledak telah meninggalkan lubang menganga di fondasi Dantian. Jika aku gagal menyatukannya malam ini, energi guntur yang tersisa akan membusuk dan menggerogoti organ dalamku," Xinghe menganalisis kondisinya dengan tatapan tanpa emosi. Menghancurkan fondasi demi membunuh musuh adalah tindakan ekstrem, ia tidak pernah menyesali keputusannya. Kematian Gongsun Tian adalah harga mati untuk memastikan keluarganya bernapas lega.
Kini, waktunya menagih kembali kekuatan yang hilang.
Xinghe memejamkan mata. Ia meraih *Akar Petir Ungu* dengan tangan kirinya dan *Inti Besi Dingin* di tangan kanannya.
"Seni Penempaan Tulang Sembilan Kesengsaraan: Putaran Keempat. Rekonstruksi Tungku Kematian!" raung Xinghe di dalam relung kesadarannya.
Tanpa keraguan sekecil debu pun, Xinghe meremukkan kedua material keras tersebut menggunakan energi fisik murninya. Bubuk kilat ungu dan serpihan es logam berhamburan, ditarik paksa masuk ke dalam tubuhnya melalui pori-pori telapak tangan mengikuti hisapan Niat Pedang miliknya.
Detik saat dua elemen ekstrem itu bersentuhan dengan darah fananya, neraka duniawi meledak.
*BZZZZT! CRAT!*
Semburan darah segar langsung keluar dari mulut, hidung, dan telinga Xinghe. Matanya terbuka lebar, menampakkan pupil yang sepenuhnya tertutup cahaya ungu terang. Tubuh kurusnya menegang sekaku papan kayu, terangkat melayang beberapa inci dari atas lantai gaharu akibat tolakan energi yang luar biasa brutal.
*Akar Petir Ungu* membawa sifat merusak yang sangat buas. Akar tersebut bertindak seperti cambuk api, masuk ke dalam jalur meridian yang terputus, membakar sisa-sisa daging mati dan sumbatan energi kotor di dalamnya. Rasa sakitnya jutaan kali lipat lebih menyiksa dibandingkan kulit yang disiram timah mendidih.
Sebagai penyeimbang, *Inti Besi Dingin* masuk menyusul. Logam beku itu melebur, melapisi dinding-dinding meridian yang baru saja terbakar, membentuk selongsong es logam untuk mencegah pembuluh darah tersebut meledak berantakan akibat hantaman petir.
Benturan panas dan dingin ini menciptakan siksaan tiada akhir. Tulang-tulang di lengan, bahu, dan punggung Xinghe berderit mengerikan, retak, dan dipaksa menyambung kembali berulang-ulang dalam hitungan detik. Keringat yang bercucuran langsung menguap menjadi uap darah merah yang memenuhi udara di dalam formasi isolasi.
"Belum cukup... tekan lebih dalam!" jiwa sang Kaisar Pedang menolak tunduk pada rasa sakit fana.
Xinghe menggigit bibir bawahnya hingga robek. Ia melepaskan Niat Pedang Pembelah Langit miliknya secara internal. Niat Pedang itu tidak digunakan untuk menyerang, melainkan diubah menjadi palu godam spiritual. Palu itu menghantam material energi yang sedang memberontak, memadatkan campuran petir dan besi dingin itu secara paksa ke dalam bentuk jalur meridian.
Tiga jam berlalu bagaikan tiga abad di dasar jurang penyiksaan. Lantai kayu di bawah Xinghe telah hangus dan retak. Udara di sekitarnya dipenuhi percikan listrik yang menyambar-nyambar tak terkendali.
Saat dua meridian pertama mulai terbentuk kembali dan memancarkan kilau ungu keperakan yang kokoh, Xinghe meraih *Batu Tetesan Bintang* menggunakan sisa tenaga terakhirnya. Batu itu adalah kunci penyelesaian. Energi spasial yang terkandung di dalamnya digunakan sebagai lem pelekat spiritual, mengikat tiga meridian baru tersebut langsung ke dinding Dantian.
*BOOOM!*
Sebuah dentuman teredam bergema dari dalam dada Xinghe. Gelombang kejut menyapu ke segala arah, menghancurkan puluhan batu spiritual tingkat rendah yang menjadi batas formasinya menjadi debu putih.
Xinghe jatuh terjerembap ke depan, bertumpu pada kedua tangannya yang bergetar hebat. Ia memuntahkan segumpal besar gumpalan darah hitam kotor yang berbau sangat busuk—sisa-sisa racun fana dan kotoran sumsum tulang yang berhasil dipaksa keluar.
Ruangan itu mendadak hening. Hanya terdengar tarikan napas Xinghe yang terengah-engah, serak, dan sangat berat.
Tubuhnya kini ditutupi oleh lapisan kerak darah kering. Perlahan, Xinghe memaksakan dirinya duduk tegak. Ia menutup mata, memindai kondisi lautan energinya.
Sembilan meridian utama kini telah kembali utuh. Ketiga meridian yang baru dirajut tampak jauh lebih tebal, memancarkan kilau logam dingin yang dilapisi petir liar. Kehadiran tiga meridian baru ini menciptakan resonansi sempurna, membentuk siklus energi tanpa henti yang berputar dari Dantian menyebar ke seluruh organ vital.
Dagingnya merespons peningkatan ini. Serat ototnya menegang, memadat menjadi jauh lebih alot dibandingkan kawat baja. Kepadatan tulangnya melonjak melampaui batas kewajaran manusia biasa. Fluktuasi energi di sekujur tubuhnya meningkat drastis sebelum akhirnya menyusut dan menyembunyikan diri di balik kulitnya yang pucat.
"Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Keempat," bisik Xinghe, membuka matanya yang kini memancarkan aura dominasi yang semakin pekat.
Pengorbanan nyawa dan penyiksaan setengah malam penuh hanya mampu mendorongnya naik satu tingkat kecil. Kemajuan ini tampak sangat menyedihkan di mata para jenius sekte besar yang bisa melompat tiga tingkat dengan meminum satu pil berharga. Padahal, fondasi yang dibangun Xinghe sama sekali berbeda. Kepadatan energi dan ketahanan fisik Tingkat Keempat miliknya saat ini mampu meremukkan leher praktisi Tingkat Kesembilan dengan satu cengkeraman tangan kosong. Kekuatannya telah mencapai puncaknya di ranah fana.
Ia telah membangun fondasi bangunan yang tidak bisa digoyangkan oleh badai apa pun di benua ini.
Xinghe bangkit berdiri. Persendiannya berbunyi gemeretak, melepaskan kepenatan. Ia berjalan ke sudut ruangan tempat sebuah tong kayu berisi air bersih disiapkan oleh pelayan paviliun. Ia membasuh tubuhnya, membersihkan kerak darah dan keringat kotor, lalu mengganti pakaiannya. Paviliun Awan Putih telah menyediakan setelan jubah sutra hitam yang sederhana namun dijahit dengan kualitas tinggi. Menyingkirkan jubah serigalanya yang sudah compang-camping, Xinghe kini terlihat seperti seorang tuan muda bangsawan pengelana, meskipun tatapan matanya tetap sedingin lautan es.
Setelah berpakaian rapi, Xinghe mengambil buntelan kain kanvas dari atas meja. Di dalamnya terdapat *Meteorit Bintang Kegelapan*, sisa patahan dari Pedang Pemutus Surga milik Feng Jiantian.
Bongkahan logam seukuran lengan itu terlihat sangat buruk rupa, berkarat keabuan tanpa sisi tajam. Beratnya sangat tidak proporsional dengan ukurannya. Memindahkan logam ini membutuhkan tenaga fisik setara ribuan kati.
Xinghe meletakkan pedang besi karatannya yang lama di sudut ruangan. Senjata fana itu telah mencapai batasnya setelah menembus dada Gongsun Tian dan menghancurkan parasit es di tubuh Ketua Lin. Bilahnya penuh retakan halus; satu benturan keras lagi akan membuatnya hancur berkeping-keping.
"Bongkahan logam ini menolak dilebur oleh energi fana," Xinghe menyentuh permukaan kasar meteorit tersebut. "Niat Pedangku saat ini terlalu lemah untuk mengukir bahkan satu goresan pun di permukaannya. Senjata para dewa tidak sudi diubah bentuknya oleh makhluk yang belum menyentuh langit."
Xinghe tidak kehabisan akal. Jika ia tidak bisa menempanya menjadi bilah pedang yang tajam, ia akan menggunakannya dalam bentuk aslinya yang brutal.
Ia menyalurkan energi guntur dari Dantiannya, mengalirkannya ke kedua tangannya. Ia mencengkeram salah satu ujung logam yang sedikit lebih pipih. Memanfaatkan energi elemen petir yang merusak, Xinghe tidak mencoba memotong logam tersebut, melainkan menciptakan gelombang getaran mikroskopis untuk memaksa serat-serat logam itu sedikit melengkung membentuk area pegangan.
Gesekan energi dan logam dewa itu menghasilkan suara ngilu yang menusuk telinga. Seperempat jam berlalu hanya untuk menciptakan sebuah lekukan kecil seukuran telapak tangan. Xinghe kemudian melilit lekukan itu menggunakan kulit binatang spiritual berkualitas tinggi yang ia temukan di perbendaharaan, menciptakan gagang darurat yang kokoh.
Hasil akhirnya sangat jauh dari kata estetis. Benda itu sama sekali tidak menyerupai pedang. Bentuknya lebih mirip sebuah gada persegi panjang atau balok baja tumpul yang ujungnya patah.
Xinghe mengangkat balok logam itu dengan satu tangan. Otot lengannya menonjol menahan berat yang luar biasa. Saat ia mengayunkannya membelah udara secara perlahan, angin di sekitarnya menjerit terbelah, menciptakan tekanan udara yang sanggup meremukkan batu karang.
"Tanpa ketajaman, berat absolut adalah pedang yang sesungguhnya," Xinghe tersenyum sinis. Senjata ini sangat sempurna untuk menutupi identitasnya. Jika ia selalu menggunakan ayunan Niat Pedang yang presisi, para tetua sekte kuat di benua ini cepat atau lambat akan mencium jejak rahasia reinkarnasinya. Menggunakan balok besi berat akan membuat musuh-musuhnya berpikir bahwa ia hanyalah seorang praktisi aliran fisik yang mengandalkan tenaga kasar tingkat tinggi.
Sebuah penyamaran yang brutal dan sangat efektif. Ia menyarungkan kembali bongkahan logam itu dengan kain kanvas tebal, lalu mengikatkannya di punggungnya menggunakan tali kulit yang disilangkan di dada. Beban ribuan kati di punggungnya langsung menekan pundaknya, sekaligus menjadi metode latihan fisik tambahan untuk terus menekan batas ototnya di setiap langkah.
Cahaya fajar mulai mengusir kegelapan dari langit Kota Awan Mengambang.
Xinghe melangkah keluar dari ruang kultivasinya. Udara pagi yang segar menyambut paru-parunya. Di pelataran dalam Paviliun Bambu Hijau, pemandangan yang menghangatkan sisa-sisa jiwa fananya tersaji.
Yan Qingshan bertelanjang dada, ototnya mengkilap oleh keringat. Ia tengah mempraktikkan gerakan tinju dasar yang dikombinasikan dengan *Teknik Pernapasan Harimau Penelan Bumi*. Setiap pukulannya membelah angin dengan suara berat, kakinya berpijak kokoh pada tanah, memancarkan aura kestabilan elemen tanah. Tingkat kultivasinya telah stabil di Tingkat Kedua, dan secara perlahan merayap menuju Tingkat Ketiga. Dedikasi sang kakak untuk menjadi perisai keluarga bukanlah isapan jempol belaka.
Di teras paviliun, Shen Yulan duduk anggun mengenakan gaun sutra berwarna hijau lembut. Penyakit yang merenggut masa mudanya telah menguap tanpa sisa. Wajahnya kini memancarkan kecantikan keibuan yang tenang. Ia sedang menyisir rambut panjang Yan Xiaoxiao, yang kini tampak ceria mengenakan gaun merah muda berhias pita. Gadis kecil itu tertawa riang melihat kupu-kupu spiritual yang beterbangan di taman.
Mereka tidak lagi kelaparan. Mereka tidak lagi dihina sebagai sampah. Keluarga cabang Yan dari desa pinggiran kini bernapas di bawah langit kota besar sebagai tamu kehormatan tertinggi.
Melihat Xinghe berjalan mendekat dengan pakaian barunya, Qingshan segera menghentikan latihannya. Wajah pemuda kekar itu menyiratkan rasa kagum dan hormat. "Xinghe! Kau terlihat... berbeda. Auramu terasa jauh lebih menekan dari sebelumnya, meskipun kau tidak melakukan apa-apa."
"Hanya menyesuaikan sedikit fondasi," jawab Xinghe tenang, menahan senyum melihat adiknya yang berlari memeluk kakinya.
"Kakak Kedua sangat tampan memakai baju hitam!" puji Xiaoxiao, matanya berbinar cerah.
Shen Yulan bangkit berdiri, menatap putra tengahnya dengan pandangan campur aduk antara bangga dan khawatir. "Xinghe, pelayan paviliun memberi tahu kami bahwa Ketua Lin secara resmi mengangkatmu sebagai Penatua Kehormatan Tertinggi. Posisi itu... bukankah itu berarti kau akan diseret ke dalam konflik yang jauh lebih besar dari sekadar pertarungan di desa kita?"
Xinghe mengusap kepala Xiaoxiao dengan lembut sebelum menatap ibunya. "Air yang tenang hanya menghasilkan ikan-ikan kecil, Ibu. Hanya dalam badai kita bisa menemukan naga sesungguhnya. Jangan cemaskan urusan di luar paviliun ini. Tugasku adalah menyingkirkan kerikil di jalan, tugas Ibu dan Kakak adalah hidup dengan nyaman tanpa menundukkan kepala pada siapa pun."
Kalimat itu mengandung arogansi seorang penguasa sejati, terselubung oleh kasih sayang keluarga yang hangat. Sebelum Shen Yulan sempat membalas, langkah tergesa-gesa memecah kedamaian pagi itu.
Hua Qingying berlari memasuki pelataran Bambu Hijau, zirah peraknya bergemerincing. Wajah pengawal wanita itu terlihat sangat tegang.
"Penatua Yan," panggil Hua Qingying, menggunakan gelar baru Xinghe dengan penuh rasa hormat. "Nona Lin memohon kehadiran Anda di Aula Penerimaan Utama. Ada masalah mendesak. Utusan dari Keluarga Mu dan Sekte Pedang Angin Musim Gugur datang memaksa masuk pagi ini. Mereka mencari masalah menggunakan kedok 'menjenguk' kondisi Ketua Lin."
Mata Xinghe menyipit perlahan. Firasat Muxue sehari sebelumnya terbukti benar. Para serigala Kota Awan Mengambang mencium kelemahan, mereka tidak berniat menunggu hingga Turnamen Aliansi Pedagang untuk membagi-bagikan daging Paviliun Awan Putih.
"Keluarga Mu dan Sekte Pedang," Xinghe menggumamkan nama dua faksi tersebut layaknya mengeja daftar nama orang mati. "Sepertinya mereka bosan hidup dengan tenang. Kakak, jaga ibu dan Xiaoxiao. Jangan tinggalkan pelataran ini."
Tanpa menunggu jawaban, Xinghe melangkah mengikuti Hua Qingying. Jubah sutra hitamnya berkibar pelan, menyembunyikan siluet balok logam berat yang menempel di punggungnya. Percikan api konflik telah disulut, ia akan menjadi badai yang menyebarkannya.
Aula Penerimaan Utama Paviliun Awan Putih adalah sebuah mahakarya kemewahan fana. Pintu ganda setinggi sepuluh meter yang terbuat dari perunggu berukir naga membatasi dunia luar. Di dalam ruangan raksasa tersebut, pilar-pilar batu giok menopang atap yang dihiasi lukisan awan dan langit.
Pagi ini, aula megah itu dipenuhi oleh ketegangan yang menyesakkan dada.
Puluhan pengawal elit Paviliun Awan Putih berdiri membentuk barikade melingkar, tangan mereka menggenggam gagang senjata dengan erat. Di tengah barikade tersebut, Lin Muxue duduk di kursi utama yang biasanya diduduki oleh ayahnya. Wajah cantiknya sekaku es, mencoba mempertahankan wibawa paviliunnya. Sang ayah, Lin Zheng, meskipun telah sembuh dari racun, masih membutuhkan waktu pemulihan selama beberapa hari di ruang bawah tanah dan dilarang keras untuk bergerak. Absennya sang Ketua adalah kelemahan fatal yang sedang dieksploitasi oleh tamu-tamu tak diundang.
Di seberang Muxue, duduk dua orang pria muda dengan sikap yang luar biasa arogan.
Pria pertama mengenakan jubah emas yang sangat mencolok, tangannya memainkan sepasang bola giok hijau. Dia adalah Mu Yunfei, tuan muda pewaris Keluarga Mu, keluarga pedagang terbesar kedua yang selalu berusaha menghancurkan Paviliun Awan Putih.
Di samping Mu Yunfei, duduk seorang pemuda dengan tatapan mata yang tajam bagai mata pisau. Ia mengenakan jubah putih bersih berlambang daun gugur di dada kirinya. Sebilah pedang panjang bersarung kulit buaya bersandar santai di pundaknya. Dia adalah Jian Kuang, murid elit tingkat dalam dari Sekte Pedang Angin Musim Gugur, faksi bela diri penguasa mutlak yang bersembunyi di balik bayang-bayang Kota Awan Mengambang.
"Nona Lin, tidak perlu memasang wajah dingin seperti itu. Kami datang ke sini murni didorong oleh rasa simpati dan persahabatan antara tetangga," ucap Mu Yunfei sambil tersenyum sinis, suaranya menggema di aula yang sunyi. "Seluruh kota mendengar desas-desus bahwa kesehatan Paman Lin telah mencapai titik yang tidak bisa diselamatkan. Sebagai keponakan yang baik, aku datang membawa sebatang Ginseng Darah berusia lima puluh tahun untuk menemaninya di saat-saat terakhirnya."
Mu Yunfei melemparkan sebuah kotak kayu murahan ke atas meja di hadapannya. Kotak itu tidak berisi ginseng langka, melainkan hanya akar rumput biasa yang diwarnai merah. Sebuah penghinaan terbuka yang luar biasa kejam.
Wajah Lin Muxue memerah menahan amarah, ia tidak beranjak dari kursinya. Menyerang utusan faksi di aula sendiri sama dengan mendeklarasikan perang terbuka.
"Kebaikan hatimu sangat menyentuh, Tuan Muda Mu. Simpan saja rumput merahmu itu. Ayahku sedang beristirahat memulihkan diri. Penyakitnya telah berangsur pulih. Ia akan hadir di Turnamen Aliansi Pedagang bulan depan untuk menjawab segala perhatian kalian secara langsung," balas Muxue tajam, tidak memberikan celah kelemahan sekecil apa pun.
Mendengar jawaban itu, Jian Kuang yang sedari tadi diam tiba-tiba mendengus kasar. Pemuda bersenjata pedang itu memancarkan aura kultivasi yang menyengat—Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Kedelapan, sebuah pencapaian luar biasa untuk pemuda berusia dua puluh tahun di wilayah pinggiran.
"Kata-kata manis yang menyedihkan dari seorang wanita yang ketakutan," cemooh Jian Kuang. Ia tidak menyembunyikan rasa jijiknya. Di mata murid sekte besar, pedagang hanyalah sapi perah yang lemah. "Sekte Pedang Angin Musim Gugur tidak memiliki kesabaran untuk bermain tebak-tebakan dengan pedagang licik. Jika Lin Zheng masih hidup, suruh dia keluar dan berlutut menyambut kedatangan kami. Jika tidak, itu berarti kalian menyembunyikan kematiannya. Sesuai perjanjian wilayah, paviliun tanpa ketua yang sah harus menyerahkan tujuh puluh persen rute pelelangan kepada sekte kami untuk 'dijaga'."
Pemerasan yang dilakukan di siang bolong, didukung oleh ancaman kekerasan.
"Kalian bermimpi di siang bolong!" bentak seorang tetua pelindung Paviliun Awan Putih yang berdiri di samping Muxue. Tetua itu, seorang praktisi Tingkat Ketujuh, tidak sanggup menahan penghinaan terhadap ketuanya. Ia melangkah maju menunjuk Jian Kuang. "Paviliun Awan Putih bukan tempat di mana anak ingusan bisa menggonggong sembarangan!"
Jian Kuang menyipitkan matanya. Hawa membunuh seketika meledak dari tubuhnya. "Anjing peliharaan yang tidak tahu aturan. Tuanmu belum mati, kau sudah berani menggigit."
Tanpa bangun dari kursinya, Jian Kuang mengayunkan pedangnya yang masih berada di dalam sarung kulitnya. Tidak ada bilah yang tercabut, gerakan itu melepaskan gelombang Niat Pedang semu—bentuk energi spiritual tajam yang terbentuk dari aura murni.
Gelombang udara berbentuk bulan sabit melesat membelah ruang, menghantam telak dada tetua pelindung tersebut.
*BENTURAN!*
Tetua itu memuntahkan darah segar, tubuhnya terlempar sejauh belasan meter hingga menabrak pilar batu giok. Tulang rusuknya remuk hanya oleh tebasan sarung pedang. Kekuatan seorang jenius sekte terbukti berada di tingkat yang sepenuhnya berbeda dengan praktisi fana biasa.
"Tetua Zhao!" jerit Muxue, kepanikan akhirnya menghancurkan topeng ketenangannya. Beberapa pengawal segera berlari memeriksa kondisi tetua malang tersebut.
Mu Yunfei tertawa keras, bertepuk tangan memuji pertunjukan kekerasan barusan. "Luar biasa, Kakak Jian! Tembok paviliun ini tampaknya perlu dirobohkan agar mereka mengerti siapa penguasa langit di kota ini."
Jian Kuang menyandarkan kembali pedangnya ke bahu. Matanya menatap para pengawal yang menodongkan senjata ke arahnya dengan pandangan meremehkan. "Muxue, kesabaranku sudah habis. Panggil ayahmu keluar, atau aku akan mematahkan kaki setiap pengawal di ruangan ini satu per satu, lalu mencabut lidahmu."
Aula itu jatuh ke dalam keheningan yang mencekam, hanya diisi oleh rintihan kesakitan Tetua Zhao. Para pengawal paviliun menyadari bahwa jumlah mereka tidak berarti apa-apa di hadapan monster muda dari sekte besar. Keputusasaan mulai menenggelamkan harapan Lin Muxue.
Tepat saat Jian Kuang berniat bangkit untuk melancarkan ancamannya, pintu ganda perunggu raksasa di ujung aula berderit terbuka dengan sangat pelan, namun suaranya bergema menembus atmosfer ketegangan.
Semua mata berpaling ke arah sumber suara.
Dari balik cahaya pagi yang menyilaukan, melangkah masuk sosok pemuda berjubah sutra hitam. Langkahnya panjang, ritmis, dan nyaris tidak mengeluarkan suara gesekan dengan lantai marmer. Di punggungnya, sebuah balok logam besar terbungkus kain kanvas menggantung menyilang. Wajahnya pucat, ekspresinya sangat tenang, mengisyaratkan kebosanan akut seolah pertunjukan drama di aula ini sangat tidak bermutu.
Hua Qingying berjalan mengekor di belakangnya, menatap lurus ke depan dengan sikap penuh keyakinan yang kontras dengan kepanikan yang ia rasakan sebelumnya.
"Siapa anjing liar yang masuk tanpa diundang ini?" dengus Mu Yunfei, menghentikan putaran bola giok di tangannya. Ia tidak bisa merasakan energi kultivasi yang signifikan dari pemuda berjubah hitam tersebut.
Xinghe sama sekali tidak melirik ke arah dua tamu arogan itu. Ia terus berjalan santai membelah barisan pengawal paviliun yang secara otomatis menepi membuka jalan untuknya, merasakan aura penindas yang secara natural menguar dari sosoknya. Xinghe berjalan lurus menghampiri kursi utama, berdiri tepat di samping Lin Muxue.
"Penatua Yan," Muxue berdiri, menundukkan kepalanya sedikit, memancarkan rasa hormat yang mutlak di depan umum. Sikap ini adalah deklarasi politik yang kuat, membuktikan bahwa pemuda tidak dikenal ini memiliki kedudukan tertinggi di paviliun.
Pemandangan Muxue—dewi es Kota Awan Mengambang—menundukkan kepala pada seorang pemuda antah berantah membuat rahang Mu Yunfei nyaris jatuh.
Jian Kuang mengerutkan dahi tajam. Hatinya merasa terhina karena kedatangannya benar-benar diabaikan. Ia memelototi Xinghe. "Penatua? Jadi, Paviliun Awan Putih sudah benar-benar putus asa hingga memungut pengemis jalanan untuk dijadikan tameng mati? Bocah, kau berjalan ke tempat yang salah jika kau ingin hidup lebih lama."
Xinghe akhirnya mengalihkan pandangannya pada Jian Kuang. Ia menatap murid sekte itu layaknya ahli botani yang sedang mengamati serangga jenis baru yang tidak penting.
"Nona Lin," suara Xinghe memecah kesunyian, nadanya datar dan memancarkan wibawa absolut. "Sejak kapan Paviliun Awan Putih membuka pintu amal untuk menampung badut jalanan dan anjing gila yang menggonggong di pagi hari?"
Perkataan Xinghe bukan sekadar ejekan; itu adalah tamparan verbal yang meruntuhkan martabat kedua faksi besar tersebut di depan puluhan pasang mata.
Muxue menahan senyumnya dengan susah payah. Mu Yunfei menggebrak meja hingga cangkir tehnya pecah.
"Kau mencari mati, Keparat!" raung Mu Yunfei, menunjuk wajah Xinghe.
Akan tetapi, Jian Kuang bereaksi lebih cepat. Sebagai pendekar pedang yang sangat bangga dengan reputasinya, hinaan terbuka ini tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata. Hawa membunuh murni meledak dari tubuhnya. Angin puyuh energi spiritual menyapu meja-meja kayu di sekitarnya hingga berantakan.
"Aku akan memotong lidahmu dan memaksamu menelannya!" desis Jian Kuang.
Tubuh Jian Kuang melesat ke depan layaknya anak panah yang dilepaskan dari busur. Kecepatannya jauh melampaui gonggongan mulutnya. Ia tidak berniat mencabut pedangnya, merasa bahwa menggunakan pedang sungguhan untuk membunuh sampah adalah penghinaan bagi senjatanya. Ia kembali mengayunkan pedang bersarung kulit buayanya, melepaskan gelombang Niat Pedang semu yang sama seperti yang menghancurkan rusuk Tetua Zhao. Kali ini, serangannya diarahkan lurus untuk membelah tenggorokan Xinghe.
"Tuan Yan, awas!" jerit Muxue, mundur selangkah.
Serangan itu melesat membelah ruang. Di mata pengawal fana, gerakan Jian Kuang hanya berupa sekelebat bayangan putih kabur yang membawa badai maut.
Di dimensi persepsi Xinghe, segalanya melambat.
Bibir Xinghe melengkung menciptakan senyum sinis yang sangat tipis. Sebuah Niat Pedang yang sembarangan, tanpa fokus, murni mengandalkan tenaga paksa dari energi kultivasi. Di kehidupan sebelumnya, ia memenggal dewa-dewa yang memiliki Niat Pedang jutaan kali lebih murni dari ini sambil menutup mata.
Xinghe tidak menghindar. Ia bahkan tidak bergeser satu inci pun dari posisinya berdiri. Tangan kanannya dengan malas meraih gagang balok logam berat yang terikat di punggungnya, menariknya ke depan hanya dalam satu gerakan setengah melingkar.
Ia tidak menebas. Ia tidak menggunakan energi guntur, apalagi Niat Pedang Pembelah Langit miliknya. Ia hanya menempatkan balok *Meteorit Bintang Kegelapan* yang terbungkus kain kanvas itu tepat di jalur lintasan serangan Jian Kuang layaknya meletakkan sebuah tembok baja portabel.
*DOOOOM!*
Bukan suara benturan pedang yang tajam, melainkan dentuman mengerikan menyerupai lonceng kuil raksasa yang dihantam palu raksasa.
Gelombang Niat Pedang semu milik Jian Kuang menghantam permukaan datar balok logam tersebut dan... lenyap seketika. Hancur berantakan terserap oleh material dewa yang tak tertembus itu.
Namun, hukum fisika fana menuntut keseimbangan. Tenaga serudukan yang dibawa oleh kecepatan Jian Kuang menabrak massa berat ribuan kati dari meteorit tersebut. Tubuh pemuda arogan itu menabrak benda diam yang memiliki kepadatan seratus kali lipat lebih berat darinya.
Gagang pedang Jian Kuang bergetar hebat. Rasa sakit yang mematikan merambat dari telapak tangannya menuju bahunya. Tulang-tulang di pergelangan tangannya berderak keras, retak akibat pantulan tenaganya sendiri.
Mata Jian Kuang terbelalak memancarkan ketidakpercayaan absolut. Tubuhnya terpental ke belakang, seolah baru saja menabrak gunung bergerak. Ia terhuyung lima langkah jauhnya, sepatu botnya menggerus lantai marmer hingga meninggalkan goresan dalam, sebelum akhirnya berhasil menstabilkan diri. Darah segar menetes perlahan dari sela-sela jarinya yang mencengkeram sarung pedang. Telapak tangannya robek.
Di seberangnya, Yan Xinghe berdiri tidak bergeming sedikit pun. Ujung jubah hitamnya bahkan tidak bergetar. Balok logam berlapis kanvas itu tertancap dangkal menembus lantai marmer di sebelahnya, memancarkan tekanan absolut yang meredam semua kebisingan di dalam aula.
"Hanya segini kemampuan elit tingkat dalam dari sekte penguasa?" Suara Xinghe memecah keheningan yang mencekik, sedingin es abadi di puncak pegunungan utara. "Sebuah pedang tumpul memukul batu mati. Pantas saja kota ini dipenuhi oleh anjing liar yang berpikir mereka adalah serigala."
Mu Yunfei, yang berniat ikut menyerang, kini membeku di tempatnya. Ia menatap Jian Kuang—simbol kekuatan tak terkalahkan yang selalu ia andalkan—kini berdiri gemetar dengan pergelangan tangan berdarah, hanya karena memukul pemuda misterius itu. Pikiran Mu Yunfei berdengung. Siapa monster berjubah hitam ini?! Tingkat kekuatan fisiknya tidak masuk akal!
Jian Kuang menggertakkan giginya hingga nyaris patah. Rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan hancurnya harga diri yang ia bangun selama bertahun-tahun. Murka menguasai kewarasannya. Ia memegang gagang pedangnya dengan tangan kiri, bersiap mencabut pedang pusaka sektenya untuk pertarungan hidup dan mati sesungguhnya.
"Aku akan mencincangmu menjadi seribu potong, Iblis!" raung Jian Kuang.
Tepat saat sepersepuluh inci bilah pedang berkilau itu tercabut dari sarungnya, Xinghe melepaskan pegangannya dari balok logam di lantai. Ia melangkah maju satu langkah.
Satu langkah yang sangat pelan, efeknya menyerupai runtuhnya langit.
Xinghe melepaskan *Niat Pedang Pembelah Langit* murninya ke udara, hanya satu persen dari sisa esensi jiwanya, tanpa menyertakan energi guntur. Aura yang tak kasat mata itu menyelimuti seluruh aula. Suhu ruangan anjlok drastis. Udara terasa seperti diisi oleh jutaan pisau cukur mikroskopis yang menempel di leher setiap orang.
Bilah pedang Jian Kuang yang baru tercabut sedikit itu tiba-tiba mengeluarkan suara mendenging ketakutan, bergetar hebat seolah menolak ditarik keluar. Pedang pusaka itu memiliki roh buatan, roh itu merasakan kehadiran Penguasa Pedang sesungguhnya dan menolak melakukan perlawanan bunuh diri.
Tekanan psikologis menghantam Jian Kuang layaknya tsunami. Lututnya melemas. Paru-parunya menolak menyerap udara. Ilusi kematian yang sangat nyata, di mana tubuhnya terpotong oleh jutaan pedang tak kasat mata, melintas di benaknya. Ini bukan perbedaan tingkat kultivasi, ini adalah perbedaan dimensi eksistensi.
Keringat dingin membanjiri sekujur tubuh murid jenius tersebut. Niat bertarungnya hancur berkeping-keping digantikan oleh teror primitif. Ia melepaskan gagang pedangnya, membiarkannya kembali masuk ke dalam sarung.
Xinghe segera menarik kembali auranya. Tekanan mengerikan itu lenyap dalam sekejap mata, meninggalkan semua orang di aula terengah-engah mencari napas layaknya orang tenggelam yang diselamatkan.
"Ambil rumput merah kalian, dan merangkaklah keluar dari gerbang paviliun ini sebelum aku berubah pikiran mengenai arti kebersihan lantai aula," usir Xinghe dengan suara yang tenang namun menuntut kepatuhan mutlak.
Mu Yunfei tidak membutuhkan ancaman kedua. Mengabaikan kesombongannya, ia memutar badannya dan berlari cepat meninggalkan aula layaknya dikejar hantu.
Jian Kuang menelan genangan darah di mulutnya. Matanya yang dipenuhi rasa takut bercampur dendam menatap wajah Xinghe untuk terakhir kalinya.
"Paviliun Awan Putih telah mengundang bencana... Sekte Pedang Angin Musim Gugur tidak akan membiarkan penghinaan ini," ancam Jian Kuang dengan suara bergetar, mencoba menyelamatkan sedikit sisa harga dirinya, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat keluar dari aula, memegangi pergelangan tangannya yang patah.
Keheningan kembali mengambil alih. Puluhan pengawal Paviliun Awan Putih menatap Yan Xinghe dengan pandangan pemujaan yang fanatik. Pemuda ini tidak hanya menyelamatkan nyawa Ketua mereka semalam, pagi ini ia menghancurkan wajah dua faksi paling menakutkan di kota hanya dengan berdiri memegang balok logam.
Lin Muxue melangkah maju, memecah kesunyian. Wajahnya yang tegang kembali rileks, kekaguman mendalam memancar dari sepasang matanya yang indah.
"Penatua Yan," ucap Muxue pelan, "Anda baru saja menendang sarang lebah terbesar di wilayah selatan. Turnamen Aliansi Pedagang bulan depan tidak akan lagi menjadi kompetisi bisnis. Ini akan menjadi panggung eksekusi berdarah."
Xinghe mencabut *Meteorit Bintang Kegelapan* dari lantai, menyampirkannya kembali ke punggung dengan gerakan mengalir yang penuh estetika dominasi.
"Biarkan lebah-lebah itu berdengung, Nona Lin," jawab Xinghe, berjalan membelah aula bersiap kembali ke pelatarannya untuk melanjutkan kultivasi. "Saat badai datang, lebah tidak punya pilihan lain selain tersapu bersih menjadi debu. Suruh orang-orangmu membersihkan lantai ini. Aku tidak suka mencium bau ketakutan musuh yang tertinggal."
Tiga Ribu Dunia terus berputar, dan di Kota Awan Mengambang, takdir telah mengunci musuh-musuh baru dalam target sang kaisar yang sedang mendaki kembali menuju takhta. Turnamen ini akan menjadi pijakan batu berdarah berikutnya.