NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Malam itu, kamar utama kediaman Pradipta dipenuhi oleh kehangatan yang tak bisa dibeli dengan materi sehebat apa pun. Dewa masih memeluk Aira, enggan melepaskannya seolah-olah jika ia melonggarkan pelukan, kabar bahagia tentang kehamilan itu akan menguap seperti mimpi.

"Ai, terima kasih. Aku benar-benar terima kasih," bisik Dewa di sela-sela rambut Aira. "Aku tidak pernah menyangka, mahar seratus ribu itu akan memberiku kekayaan yang tidak ternilai seperti ini."

Aira tertawa kecil dalam dekapan Dewa. "Mas sudah bilang itu sepuluh kali sejak tadi. Sudahlah, Mas, lepaskan dulu. Aku mau minum, haus sekali."

Dewa dengan sigap langsung beranjak, bahkan hampir tersandung ujung selimut saking semangatnya. "Minum? Biar aku ambilkan! Kamu jangan bergerak. Ingat, ada calon pewaris Pradipta kecil di dalam sana. Kamu harus duduk diam seperti ratu."

Aira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang mendadak protektif tingkat dewa, sesuai namanya. Sang CEO yang biasanya dingin dan penuh perhitungan itu kini berubah menjadi pria panik yang sangat manis.

Keesokan paginya, Aira berniat turun ke dapur seperti biasa. Ia sudah mengenakan daster katun barunya, siap bertarung dengan wajan untuk membuat sarapan. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di anak tangga terakhir, ia dihadang oleh Hans dan dua orang pelayan lainnya.

"Selamat pagi, Nyonya Muda. Tuan Muda berpesan agar Nyonya tidak perlu ke dapur hari ini," ucap Hans dengan nada formal yang sangat sopan.

"Lho, kenapa, Pak Hans? Saya cuma mau buat sarapan," protes Aira.

"Tuan Muda sudah memesan menu khusus dari ahli gizi untuk Nyonya. Dan... Tuan Muda juga memerintahkan agar lantai di seluruh rumah dilapisi karpet tambahan agar Nyonya tidak terpeleset," lanjut Hans tanpa ekspresi, namun ada sedikit binar jenaka di matanya.

Aira melongo. "Karpet tambahan? Pak Hans, ini rumah, bukan lapangan futsal! Di mana Mas Dewa?"

"Tuan Muda sedang di ruang makan, menunggu Nyonya."

Aira melangkah dengan kesal menuju ruang makan. Benar saja, di sana Dewa sudah duduk rapi dengan kemejanya, namun di depannya bukan hanya ada kopi, melainkan setumpuk buku tebal berjudul '**Panduan Menjaga Kehamilan untuk Ayah Siaga' dan 'Nutrisi Terbaik bagi Janin**'.

"Mas! Apa-apaan sih? Kenapa aku tidak boleh ke dapur? Dan kenapa Pak Hans bilang Mas mau pasang karpet di mana-mana?"

Dewa mendongak, wajahnya sangat serius. "Ai, aku sudah riset semalam. Trimester pertama itu sangat rawan. Aku tidak mau kamu kena asap dapur yang bisa bikin mual, dan aku tidak mau kamu capek berdiri lama. Karpet itu perlu untuk keamanan."

"Mas, aku hamil, bukan sakit parah!" Aira duduk di depannya dengan cemberut. "Kalau aku tidak boleh bergerak, aku bisa stres. Stres juga tidak baik buat bayi kita, kan?"

Dewa terdiam sejenak. Ia membolak-balik halaman buku tebal di depannya. "Emm... di bab empat memang dikatakan bahwa kebahagiaan ibu adalah prioritas. Baiklah, kamu boleh ke dapur, tapi hanya untuk melihat-lihat. Tidak boleh angkat penggorengan yang berat!"

Aira menghela napas panjang. Ia tahu, masa kehamilannya ini akan menjadi petualangan perang urat syaraf yang romantis dengan suaminya yang terlalu protektif.

Minggu-minggu awal kehamilan ternyata tidak semudah yang Aira bayangkan. Rasa mual mulai melanda, namun yang paling merepotkan adalah ngidam.

Suatu malam, jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan deras mengguyur Jakarta, dan Dewa sedang terlelap setelah seharian lembur di kantor. Tiba-tiba, Aira mengguncang bahunya.

"Mas... bangun, Mas..."

Dewa tersentak bangun, matanya masih merah. "Kenapa, Ai? Ada yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang?" ia langsung panik mencari kunci mobil.

"Bukan, Mas. Aku... aku kangen nasi uduk Bang Jaka yang di dekat kontrakan lama kita," bisik Aira dengan wajah memelas.

Dewa tertegun. "Nasi uduk? Jam dua pagi? Ai, di luar hujan deras. Aku bisa suruh Hans beli nasi uduk di restoran bintang lima yang buka 24 jam sekarang juga."

Aira menggeleng kuat-kuat. "Rasanya beda, Mas. Aku maunya yang dibungkus kertas cokelat dan karetnya warna merah. Dan sambalnya harus yang sedikit bau asap itu."

Dewa menatap istrinya. Ia ingin menolak karena faktor keamanan dan kesehatan, tapi melihat mata Aira yang berkaca-kaca, pertahanannya runtuh. "Baiklah, tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu."

Dewa benar-benar berangkat. Sang CEO Pradipta Group, dengan mobil mewah Bentley-nya, membelah hujan badai Jakarta hanya untuk mencari nasi uduk pinggir jalan.

Satu jam kemudian, Dewa kembali dengan baju yang sedikit basah di bagian bahu. Ia membawa sebungkus nasi uduk. "Ini, Ai. Bang Jaka baru mau tutup tadi, untung aku sempat panggil."

Aira langsung membukanya dengan semangat. Aroma nasi uduk gurih menyeruakk. Namun, begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, Aira mendadak berhenti.

"Kenapa? Rasanya beda?" tanya Dewa cemas.

Aira menatap Dewa dengan perasaan bersalah. "Mas... kok tiba-tiba aku jadi nggak pengen ya? Lihat baunya saja aku malah jadi mual."

Dewa terdiam. Ia melihat nasi uduk yang sudah ia perjuangkan di tengah badai, lalu melihat istrinya yang kini menutup hidung. Di dalam hatinya ada rasa kesal yang tipis, namun begitu melihat wajah Aira yang ingin menangis karena merasa bersalah, Dewa justru tertawa.

Ia menarik Aira ke dalam pelukannya. "Tidak apa-apa. Namanya juga bawaan bayi. Nasi uduknya biar aku yang habiskan saja, sayang kalau dibuang."

"Maaf ya, Mas... Mas sudah capek-capek..."

"Sstt... selama itu buat kamu dan anak kita, tidak ada kata capek, Ai. Tapi janji ya, habis ini jangan minta cilok di puncak gunung jam empat pagi," canda Dewa yang membuat Aira akhirnya tertawa.

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
Patrish
hhhmmmmmm......
ρυтяσ kang'typo✨
malu kali Ai kalo Dewa jujur dia cembokur🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
hanya di novel ini... 🥺🥺🥺Dewa bener" mengikuti Ai yang sederhana, dan cinta itu tumbuh di kehidupan mereka yang sederhana dulu di gang sempit, semoga tak pernah berubah yaaa, bahagia selalu
Yunita Asep
waktu itu kan Aira, panggilnua ayah kok jadi ppah y..
Yunita Asep
lanjuutt...
ρυтяσ kang'typo✨
weeeh datang" mau minta mahar buat anak'y, lah wong anak'y saja di usir setelah akad ko😏😏apa kau pantas di sebut ayah??? g punya kaca ya pak di rumah 🤦‍♀️😌🤪
ρυтяσ kang'typo✨
sesayang itu Dewa sama Ai🥰🥰🥰MasyahAllah
Patrish
manis sekali kalian berdua...biarkan saja para tikus got berulah..ga akan ngefek
Patrish
aku membayangkan..kok dasternya Aira seperti punyaku ya😩😩😩
Patrish: kandhani ora percoyo
total 2 replies
Yunita Asep
lanjuutt dong authorr ceritanya baguuss aku suka...
Yunita Asep
alhmdulillah Aira, berbahagialah kamu, nikmati menjadi istri sultann...
Yunita Asep
Naah gitu dong seneng bcnya...
Yunita Asep
ya... mmhnya Dewa sakit, pasti gk tega trus pulang dah jngn ap nggk thorr...
Yunita Asep
lanjuutt.,
Yunita Asep
syukurin lu Arvin Siska... songong sih... lanjuutt...
Yunita Asep
dngn kebohongnnya justru dia akn kehilangn istrinya...
Yunita Asep
ketauan aj sih gpp y thorr, udah ketauan in Aira mah bukan wanita matre...
Yunita Asep
kasih panjang umur ayahnya Aira thorr bir tau syp sbnrnya suami Aira...
Yunita Asep
asyeekk nih certa baru serru... kasih tau Siska.. y.,
Yunita Asep
mampirr y thorr.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!