NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

​Deru mesin molen beton berputar konstan sejak pukul tujuh pagi, menciptakan ritme kerja yang sibuk dan penuh semangat di sepanjang Gang Rejeki. Debu-debu tipis dari adukan semen beterbangan di udara pagi yang cerah, namun tidak ada satu pun warga yang mengeluh. Sebaliknya, gang sempit yang biasanya sepi dan hanya diisi oleh keluhan warga tentang harga kebutuhan pokok yang kian melambung, kini mendadak berubah menjadi pusat perputaran ekonomi yang luar biasa aktif.

​Pembangunan istana berlantai tiga milik Arumi Pragati bukan lagi sekadar proyek renovasi rumah tinggal biasa. Di bawah arahan arsitek muda yang disewa Arumi dan dikomandoi oleh Kang Jaya sebagai kepala pelaksana lapangan, proyek ini secara ajaib menjelma menjadi oase pekerjaan baru yang menyelamatkan dapur belasan kepala keluarga di kampung tersebut.

​Sejak subuh, tanah merah seluas tiga ratus meter persegi peninggalan almarhum Pak Praga itu sudah dipenuhi oleh aktivitas manusia. Struktur cakar ayam sedalam dua setengah meter telah selesai digali dan kini sedang diperkuat oleh anyaman besi ulir raksasa.

​Arumi berdiri di teras rumah Bu Ida, memandangi kesibukan tersebut dengan senyuman yang tak pernah luntur. Di sampingnya, Pak RT duduk sembari menyeruput kopi hitamnya, memegang buku catatan kecil yang berisi daftar absensi pekerja harian kampung mereka.

​"Mbak Rum," panggil Pak RT dengan mata yang berbinar penuh rasa terima kasih. Pria paruh baya itu membetulkan letak kacamata bacanya. "Saya atas nama pengurus RT benar-benar tidak tahu harus mengucap syukur seperti apa lagi. Gara-gara proyek rumah Mbak Rum ini, bapak-bapak di gang kita yang kemarin sempat menganggur berbulan-bulan karena PHK dari pabrik, sekarang semuanya bisa bekerja lagi. Punya penghasilan harian yang sangat layak."

​Arumi menoleh, lalu mengangguk lembut. "Ini sudah jalan takdir dari almarhum Bapak, Pak RT. Bapak selalu berpesan, kalau suatu saat saya diberikan rezeki lebih, orang pertama yang harus mencicipi kebahagiaan itu adalah tetangga terdekat. Untuk apa saya menyewa kontraktor besar dari kota jika tenaga dari warga kampung kita sendiri jauh lebih jujur dan berdedikasi?"

​"Tapi sungguh, Mbak Rum, upah harian yang Mbak Rum kasih itu di atas rata-rata standar proyek kota," timpal Bu Ida yang baru saja keluar dari dalam rumah dengan membawa nampan berisi pisang goreng hangat. "Lihat saja itu suaminya Mbak Marni, si Toto. Kemarin mukanya kusut terus karena bingung mau bayar uang semesteran anaknya yang masuk SMK. Begitu diterima jadi tukang besi di proyek Mbak Rum dengan upah harian plus uang makan yang melimpah, waduh... istrinya langsung bisa belanja sayur tanpa perlu berutang lagi ke warung sebelah!"

​Arumi tertawa kecil mendengar celotehan Bu Ida. Kehadiran dana segar dari warisan bapaknya memang membawa efek domino yang luar biasa bagi perekonomian warga sekitar. Arumi sengaja menetapkan sistem bahwa seluruh pekerja kasar, tukang batu, hingga tukang las wajib diambil dari warga lokal yang membutuhkan pekerjaan.

​Tidak hanya bapak-bapak yang kecipratan berkah, ibu-ibu di Gang Rejeki pun mendadak memiliki ladang bisnis baru. Di bawah koordinasi Bu RT dan Bu Ida, dapur umum khusus proyek didirikan di halaman samping. Setiap hari, Arumi menggelontorkan dana jutaan rupiah murni untuk membiarkan ibu-ibu kampung memasak makanan bergizi tiga kali sehari untuk para pekerja. Warung-warung kelontong kecil di dalam gang yang biasanya hanya menjual beberapa butir telur sehari, kini mendadak kehabisan stok beras, minyak goreng, dan bumbu dapur karena diborong habis oleh tim dapur umum Arumi.

​Tepat pukul sepuluh siang, suasana proyek semakin riuh saat sebuah truk tangki air bersih dan truk bermuatan bata ringan premium kembali mengantre di mulut gang.

​Kang Jaya, dengan baju yang sudah basah oleh keringat dan handuk kecil melingkar di lehernya, berjalan menghampiri teras tempat Arumi berada. Wajahnya yang legam terbakar matahari tampak sangat segar, memancarkan kepuasan seorang pekerja yang dihargai dengan sangat layak.

​"Mbak Rum, ijin melaporkan," ucap Kang Jaya dengan sikap yang sangat hormat. "Untuk pengecoran struktur dasar cakar ayam bagian sudut kiri depan sudah selesai seratus persen. Hari ini besi penyangga untuk tiang utama lantai satu sudah mulai bisa didirikan. Struktur beton yang kita pakai ini kualitas terbaik, Mbak. Saya jamin, jangankan cuma lantai tiga, dipakai menahan beban sampai lantai empat pun fondasi ini tidak akan bergeser satu senti pun!"

​"Alhamdulillah, terima kasih banyak ya, Kang Jaya. Tolong pastikan keselamatan kerja bapak-bapak yang lain juga dijaga. Jangan sampai ada yang terlalu lelah," pesan Arumi hangat.

​"Siap, Mbak Rum! Oh iya, bapak-bapak di sana tadi titip salam dan ucapan terima kasih banyak untuk bonus uang kopi yang Mbak Rum bagikan sabtu malam kemarin. Gara-gara bonus itu, anak-anak mereka di rumah bisa jajan enak hari minggu kemarin," tutur Kang Jaya dengan mata berkaca-kaca. Sebagai kepala tukang yang biasanya sering ditawar upahnya oleh orang-orang kaya kota yang kikir, perlakuan Arumi yang begitu memuliakan keringat pekerja benar-benar menyentuh hatinya.

​"Sama-sama, Kang. Itu sudah hak kalian karena sudah bekerja keras dari subuh," jawab Arumi tulus.

​Saat Kang Jaya kembali ke area proyek untuk memimpin yel-yel penyemangat para pekerja, dari arah jalan gang tampak beberapa pedagang keliling mulai dari tukang es cendol, penjual cilok, hingga tukang siomay gerobakan mulai berbaris rapi di dekat area proyek. Pemandangan ini menjadi pemandangan baru di Gang Rejeki semenjak proyek Arumi dimulai.

​Arumi yang melihat kehadiran para pedagang keliling itu langsung melambaikan tangannya kepada Bu RT. "Bu RT, tolong panggil semua tukang es dan pedagang jajanan yang ada di depan itu. Hitung berapa total dagangan mereka, saya borong semuanya sekarang untuk camilan siang bapak-bapak pekerja bangunan dan anak-anak kampung yang sedang menonton."

​"Oalah, Mbak Rum! Siap dilaksanakan dengan kecepatan penuh!" seru Bu RT kegirangan, langsung berlari kecil sembari meniup peluitnya untuk memanggil para pedagang keliling tersebut.

​Dalam hitungan menit, sorak-sorai riuh kembali pecah dari ujung gang. Para pedagang keliling itu tersenyum lebar sampai ke telinga, merapikan uang ratusan ribu dari kantong daster Arumi sembari dengan cekatan membagikan es cendol dingin kepada para kuli bangunan yang sedang kegerahan. Perputaran uang yang begitu cepat dan nyata di tingkat akar rumput ini membuat Gang Rejeki mendadak menjadi gang yang paling makmur dan hidup di satu kelurahan.

​Di balik kegembiraan dan berkah yang melimpah di Gang Rejeki, takdir seolah sengaja ingin memperlihatkan sebuah kontras yang sangat tajam. Sore harinya, sekitar pukul empat, sebuah pemandangan yang mengundang perhatian terjadi di mulut gang.

​Pras, yang mengenakan kemeja kantor yang sudah tampak kusut dan dasi yang dilonggarkan, tampak berjalan kaki memasuki gang. Mobil sedan hitam mewahnya tidak ikut masuk kendaraan itu tampak terparkir lesu di luar jalan raya utama karena tidak ada satu pun pemuda kampung yang sudi memberikan ruang atau memindahkan motor mereka agar mobil Pras bisa lewat.

​Wajah Pras tampak sangat kuyu. Lingkaran hitam tebal menghiasi bawah matanya, menjadi bukti otentik bahwa ia tidak bisa tidur setitik pun sejak penolakannya yang memalukan kemarin pagi. Rasa nyeri di dada kirinya yang sempat mereda kini kembali berdenyut setiap kali ia teringat akan lembaran mutasi rekening bank milik Arumi yang menampilkan angka miliaran rupiah.

​Ia berjalan dengan langkah gontai, melewati tumpukan batako premium dan anyaman besi raksasa yang sedang dikerjakan oleh para tetangganya. Beberapa bapak-bapak kampung yang mengenali sosok Pras sengaja mengeraskan suara tawa mereka, menyindir pria kikir yang kini tampak seperti pengemis kehilangan arah itu.

​"Wah, ada mantan suaminya Mbak Arumi lewat nih! Hati-hati, Pak, jangan dekat-dekat besi semen premium, nanti kemeja mahalnya ketumpahan semen cicilan! Hahaha!" sindir salah seorang pemuda kampung dari atas steger bambu.

​Pras berpura-pura tidak mendengar, meskipun telinganya memerah padam karena menahan malu yang luar biasa. Ia terus melangkah hingga tiba di depan batas proyek tanah Arumi. Di sana, matanya langsung tertuju pada sesosok wanita cantik yang sedang berdiri anggun di samping papan arsitektur berlogo desain istana modern.

​Arumi tampak begitu berseri-seri, mengenakan pakaian yang sederhana namun memancarkan wibawa yang tak tertandingi. Keberadaannya dikelilingi oleh para pengurus desa yang menghormatinya bak seorang ratu.

​Pras menghentikan langkahnya di tepi jalan berbatu, menatap Arumi dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa penyesalan yang teramat dalam, kehancuran ego, dan sisa-sisa harapan kosong yang masih ia pelihara. Ia meremas tali tas kerjanya dengan erat, mencoba memberanikan diri untuk melangkah mendekati teras rumah Bu Ida sekali lagi.

​Namun, sebelum kaki Pras sempat menginjak anak tangga teras, Pak RT yang matanya sangat jeli langsung berdiri tegak di depan tangga, menghalangi jalur masuk Revan dengan tatapan mata yang sangat dingin dan tidak bersahabat.

​"Mau apa lagi kamu datang ke sini, Pras?" tanya Pak RT dengan nada suara yang tegas, langsung memotong niat pria kikir tersebut. "Bukankah kemarin Mbak Arumi sudah menegaskan kalau dia tidak ingin melihat batang hidungmu lagi di gang ini? Jangan sampai saya panggil pemuda karang taruna untuk mengusirmu secara paksa ya."

​Pras menelan ludahnya yang terasa sangat pahit. Ia menurunkan pandangannya, mencoba memasang wajah paling melas di hadapan Pak RT dan Arumi yang kini menatapnya dari atas teras.

​"Pak RT... saya... saya datang ke sini bukan untuk membuat keributan," cicit Pras, suaranya terdengar sangat parau dan kehilangan seluruh keangkuhannya yang kemarin. Pria itu menoleh ke arah Arumi dengan mata yang memohon belas kasihan. "Arumi... saya cuma mau melihat anak-anak. Saya rindu sama Bintang dan Langit. Dan... saya cuma mau memastikan apakah kamu benar-benar tidak membutuhkan bantuan administrasi atau pengawasan untuk proyek rumah ini? Bagaimanapun juga, saya ini punya pengalaman mengurus konstruksi di kantor.."

​Arumi memotong kalimat Pras bukan dengan bentakan, melainkan dengan sebuah tawa kecil yang sangat tenang namun terdengar begitu menyakitkan di telinga Pras. Arumi berjalan perlahan menuju pembatas pagar teras, menatap mantan suaminya itu dari ketinggian dengan tatapan yang sangat datar.

​"Prasetyo Revan... simpan saja semua tawaran bantuan dan rasa rindumu yang mendadak itu untuk dirimu sendiri," ucap Arumi, suaranya mengalun bersih membelah riuh mesin molen di belakang mereka. "Anak-anak saya sedang tidur siang di dalam rumah Bu Ida yang nyaman dan mereka sama sekali tidak merindukan seorang ayah yang dulu membiarkan mereka menangis karena tidak mampu membelikan mainan atau susu yang layak."

​"Arumi, tolong... beri saya satu kali lagi kesempatan untuk menjelaskan.."

​"Menjelaskan apa, Pras? Menjelaskan seberapa paniknya kamu dan ibumu saat tahu kalau ruko yang kalian gadaikan sekarang cicilannya mulai menumpuk, sementara angsa bertelur emas yang selama ini kalian injak-injak ternyata sudah terbang tinggi menjadi miliarder?" sindir Arumi dengan senyuman miring yang sangat mematikan harga diri Pras.

​Arumi merentangkan tangannya, menunjuk ke arah belasan pekerja bangunan yang sedang aktif bekerja di atas tanah merahnya. "Lihatlah ke sekelilingmu, Pras. Lihat besi-besi kokoh itu, lihat bata-bata ringan yang menumpuk tinggi itu dan lihat senyuman di wajah para warga kampung yang sedang bekerja keras ini. Uang warisan almarhum bapak saya hari ini mengalir untuk menghidupi dan memakmurkan satu desa. Uang saya memuliakan keringat orang-orang yang jujur."

​Arumi menurunkan tangannya, menatap lurus ke dalam bola mata Pras yang mulai berkaca-kaca menahan malu. "Sedangkan kamu? Uangmu yang penuh kalkulasi kikir itu jangankan untuk memakmurkan orang lain, untuk memuliakan istrimu sendiri selama sepuluh tahun saja tidak pernah cukup. Jadi, untuk apa saya butuh bantuan dari seorang pria yang nilai pemikiran finansial nya jauh lebih kecil daripada upah harian satu orang kuli bangunan di proyek saya ini?"

​Brakk!

​Kata-kata Arumi yang sangat berkelas namun menghantam telak tepat di atas ulu hati ego kelaki-lakian Pras membuat pria itu benar-benar kehabisan napas. Seluruh sisa keberaniannya runtuh seketika ke dalam dasar selokan. Revan menyadari dengan kepastian yang mutlak, bahwa wanita yang ada di hadapannya ini sudah berada di dimensi yang sangat berbeda seorang wanita mandiri, kaya raya, dan dicintai oleh seluruh warga kampung, yang tidak akan pernah bisa ia gapai lagi dengan cara-cara konyolnya.

​"Sekarang, silakan balik kanan dan tinggalkan gang ini sebelum para pekerja saya merasa terganggu dengan aura kemiskinan batin yang kamu bawa, Revan," pungkas Arumi dingin, lalu membalikkan badannya dengan anggun untuk kembali berdiskusi dengan sang arsitek tanpa menoleh lagi.

​"Woy! Mantan suami kikir! Dengar kata Mbak Arumi, kan?! Minggir sana! Jangan halangi truk material mau mundur!" teriak Kang Jaya dari seberang jalan sembari mengacungkan sekop semennya yang penuh noda abu-abu.

​Dengan wajah yang pucat pasi, air mata penyesalan yang nyaris menetes di sudut matanya, dan dada yang terasa remuk redam akibat hantaman kenyataan takdir yang begitu kejam, Pras akhirnya membalikkan badannya. Pria yang dulu begitu angkuh dengan kemeja batik sutra dan mobil cicilannya itu kini berjalan merangkak keluar dari Gang Rejeki dengan kepala tertunduk dalam, diiringi oleh sorak-sorai ejekan yang riuh dari seluruh warga yang sedang merayakan berkah pembangunan istana baru sang miliarder daster batik, Arumi Pragati. Rantai penderitaan itu telah putus, dan kejayaan yang sesungguhnya kini telah resmi berdiri kokoh di atas fondasi beton berlantai tiga.

1
Suanti
manta mentua, dan mantan suami. arumi klu dengar arumi mau menbangun usaha catering bsr2an langsung jantungan / stroke 🤭🤣🤣
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!