Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Teriakkan Setiap Subuh
Allahu Akbar Allahu Akbar.
Suara adzan subuh berkumandang, langsung membuat seorang perempuan renta menghampiri cucu kesayangannya. Lalu menggenggam punggung tangan sang cucu yang saat ini menghadap ke arah penggorengan.
“Subuh berjamaah dulu! Baru nanti dilanjut lagi buat goreng tempenya,” ucap perempuan renta bernama Sekar kepada cucunya.
“Iya, Mbah,” jawab perempuan cantik berhijab bernama Arundaya Dirandra atau Akrab dipanggil Dira. Sesuai dengan perintah yang diucapkan oleh Sekar. Dira meletakkan adonan tempe goreng di atas bata merah yang berfungsi sebagai tatakan samping kompor.
“Ayo Dira!” ajak Mbah Sekar kepada cucu kesayangannya sambil berjalan ke keran samping kamar mandi.
“Bismillahirrahmanirrahim, nawaitul ….”
Setelah selesai bersuci, Mbah Sekar bersama dengan Dira langsung menuju ke bilik untuk sholat berjamaah. Kebiasaan rutin yang selalu dilakukan Dira bersama Mbahnya.
“Dira, kali ini jadi imam, ya,” pinta Mbah Sekar kepada cucunya yang langsung membuat Dira terdiam. Lalu menggelengkan kepalanya perlahan sebagai tanda penolakan.
“Tidak, Mbah. Dira jadi makmum atau kita sholat masing-masing saja,” tolak Dira yang saat ini matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Entah sudah berapa kali Sekar meminta Dira untuk menjadi imam shalat berjamaah di rumah untuknya. Namun, sebanyak itu pun Dira selalu menolak.
“Hukumnya mubah, yang terpenting hafalan bacaan dan pemahaman paling utama. Bukan status kelahiran,” jelas Sekar yang langsung membuat Dira memalingkan wajahnya. Menatap jam dinding di kontrakannya yang sebentar lagi akan membuat tetangga samping rumah datang untuk komplain.
“Ayo Dira! Keburu habis waktunya.”
Atas dasar keyakinan yang diberikan oleh Mbah Sekar. Membuat Dira bersedia untuk menjadi imam shalat subuh untuk sang nenek. Namun, sepertinya yang pertama dan terakhir. Karena Dira tidak nyaman karena merasa tak pantas.
“Allahuakbar.”
“Allahuakbar.”
Suara merdu dengan bacaan sholat yang tepat membuat hati Sekar menjadi tenang. Karena alasan itulah Sekar menginginkan Dira untuk menjadi imam shalat berjamaah setiap waktu. Meskipun terkadang Dira harus pulang terlambat karena kerja paruh waktu sebagai guru les musiman.
“Assalamualaikum warahmatullah.”
“Aaaaaaa!”
“ARRRRG!
Suara teriakkan yang berasal dari dalam kamar belakang, berbarengan dengan salam. Langsung menghentikan aktivitas Dira dan juga Mbah Sekarang.
Dira menundukkan kepalanya dalam-dalam. Membuat Mbah Sekar yang ada di samping menggenggam erat punggung tangan cucunya.
“Dira, percayalah. Jika semua yang terjadi saat ini pasti akan berlalu. Ibumu pasti akan sembuh,” ucap Mbah Sekar mencoba meyakinkan sang cucu.
“Setiap subuh ibu selalu berteriak, Mbah. Dira gak tahu apa yang membuat ibu berteriak di waktu sama dan selalu berulang-ulang.”
“Sabar, Nduk!” pinta Mbah Sekar.
Dira langsung menyesali perbuatannya, yang tidak sengaja perbuatannya menyakiti Mbah Sekar.
Apa yang dialami Dira saat ini. Tidak sebanding dengan Mbah Sekar alami.
Neneknya itu sudah menahan sedih selama belasan tahun. Jelas apa yang dirinya tunjukkan kurang pantas.
“Maafkan Dira, Mbah.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Cucu Mbah yang cantik ini tidak pernah melakukan kesalahan,” ungkap Mbah Sekar jujur dengan pandangannya tentang Dira yang selalu membuat dirinya bangga.
Meskipun tidak ada air mata yang jatuh membasahi wajah keriput Sekar. Tapi, Dira sangat yakin sangking dalamnya luka itu sampai membuat air mata sudah kering belasan tahun silam.
Tok… Tok!
Jika sudah ada teriakan dari kamar belakang. Maka, sang tetangga samping rumah akan datang untuk menegur Mbah Sekar maupun Dira. Seperti saat ini yang terjadi teras kontrakan Dira.
“MBAH SEKAR!” teriak seseorang dari depan pintu hingga menembus semua ruangan tanpa terkecuali.
“Kamu disini saja, Nduk! Biarkan aku saja yang keluar menemui tetangga kita,” pinta Sekar cepat lalu berjalan menuju pintu kontrakan. Meninggalkan Dira yang hanya diam mendengar mbahnya kembali diomelin tetangga samping rumah.
Krieeet!
“Mbah Sekar, aku kan sudah bilang berkali-kali Nimas itu dimasukkan saja ke rumah sakit jiwa . Kasihan para tetangga yang keberisikan dengan teriaknya setiap subuh,” geram Siti saat pintu rumah terbuka.
“Kalau Mbah Sekar kesulitan memasukkan Nimas ke rumah sakit jiwa. Biarkan aku dan masyarakat membantu untuk menghubungi dinas sosial,” jelas Siti beruntun dengan wajah kesal.
“Maafkan putriku, Siti. Aku janji Nimas tidak akan teriak-teriak dan mengganggu warga lagi.”
“Mbah Sekar itu sudah sering janji ke warga. Tetap saja si Nimas itu teriak-teriak setiap subuh,” potong cepat Siti sambil mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
“Sudah ribuan kali aku bilang ke Mbah Sekar. Jika Nimas itu gila dan butuh penanganan medis. Gak bisa jika hanya dikurung di dalam kamar saja. Sampai hari kiamat pun Nimas tetap teriak-teriak. Itupun kalau masih hidup orangnya,” sindir Siti yang langsung membuat Sekar terdiam.
“Kenapa Mbah diam saja? Benar kan apa yang aku katakan barusan,” geram Siti sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar dan bersedekap.
Wajah tidak bersahabat Siti sangat menggambarkan rasa kesalnya. Membuat Sekar hanya bisa berdoa semoga Nimas tidak membuat keributan lagi.
“Pokoknya ya, Mbah. Kalau Nimas masih teriak-teriak lagi seperti hari ini. Aku dan juga para warga akan membawa paksa Nimas ke rumah sakit jiwa,” geram Siti sambil melotot ke arah Sekar.
“Biar wilayah sini tentram dan tidak gadung seperti saat ini. Waktunya istirahat malah teriak-teriak gak jelas. Permisi.”
Tanpa menunggu tanggapan yang diberikan oleh Sekar. Siti pamit pergi dengan wajah kesal. Meninggalkan Mbah Sekar yang langsung menghembuskan nafasnya untuk mengurangi kegundahan di hati.
Pikiran Mbah Sekar berkecamuk jika sampai yang diucapkan oleh Siti benar-benar kejadian. Membuat tubuhnya terdiam tanpa merubah posisi. Hingga suara langkah kaki menyadarkannya.
“Ayo masuk, Mbah. Biarkan Dira tutup pintunya,” ucap Dira sambil menggandeng Sekar untuk melanjutkan aktivitas di dapur.
“Sudah siang. Kalau tidak cepat-cepat dimasak tempe dan bahan yang lainnya. Nasi uduknya gak habis,” ucap Dira selama menuju dapur.
“Hari ini Dira masuk lebih pagi dari sebelumnya. Kalau terlambat meski satu detik, pintu gerbang akan ditutup,” lanjut Dira.
“Ayo kita selesaikan!” ajak Dira dengan senyum manis di wajah cantiknya.
“Terima kasih banyak ya, Ndok.”
“Terima kasih buat apa? Justru Dira yang harus berterima kasih kepada Mbah yang selalu percaya semua akan baik-baik saja. Termasuk kondisi ibu di dalam kamar,” ucap Dira sambil tersenyum mencoba menghibur diri sendiri. Padahal hati Dira saat ini tidak baik-baik saja.
“Bukankah Mbah selalu yakin jika ibu akan sembuh suatu saat nanti?” lanjut Dira kembali dengan mata berkaca-kaca.
“Iya Mbah yakin jika ibumu suatu saat nanti akan sembuh.”
“Itupun juga keyakinan Dira saat ini. Terima kasih banyak ya Mbah selama belasan tahun menggantikan peran ibu untuk Dira.”
“Dira kan cucu Mbah satu-satunya. Jadi, apapun yang terbaik untuk Dira akan Mbah lakukan.”
“Iya, Dira percaya. Ayo kita selesaikan semuanya!” ajak Dira penuh semangat. .
“Udah, sekarang kamu siap-siap saja. Mbah gak mau kamu terlambat,” ucap Mbah Sekar saat tahu waktu sudah siang.
“Baik, Mbah.”
Dira langsung menuju ke kamarnya, untuk bersiap-siap berangkat. Namun, saat melewati kamar belakang.
Langkah kaki Dira terhenti. Berdiri sejenak dengan perasaan campur aduk.
Tangannya sudah di gagang pintu. Pintu kamar itu menunggu untuk dibuka.
Krieeet!
Saat pintu kamar terbuka, sudut mata Dira menangkap sosok perempuan cantik paruh baya dengan kelompok mata menghitam sedang duduk di pinggir ranjang.
Tangannya dalam keadaan terikat kain sedang menulis sesuatu di tembok kamar yang Dira tidak paham maksudnya.
“Nduk!”
“Iya, Mbah.”
Panggilan Mbah Sekar dari dapur menghentikan langkahnya. Menatap ke arah belakang yang saat ini tampak ada Mbah Sekar.
“Kenapa kamu diam saja di depan kamar ibumu? Ayo cepat ganti baju! Keburu kesiangan.”
“Iya, Mbah.”
Sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Sekar. Dira langsung keluar dari kamar Nimas menuju ke kamarnya sendiri untuk bersiap-siap. Sedangkan Nimas, langsung menengokkan kepalanya saat melihat bayangan Dira menghilang dari kamarnya.
“Di... ra,” gumam Nimas dengan suara sangat pelan hingga tak terdengar. Lalu kembali mencoret-coret dinding kamar.
Dira yang ada di kamar langsung bersiap-siap untuk berangkat ke tempat menuntut ilmu. Tidak ketinggalan beberapa buku dirinya masukkan kedalam tas.
Setelah memasang peniti di kerudungnya. Dira langsung keluar sambil mencangklong tasnya.
“Apakah bungkusan nasi uduknya sudah siap, Mbah?” tanya Dira memastikan.
“Yang ini untuk warung Bu Narti dan juga Bu Ida. Sedangkan yang ini buat kantin sekolahmu. Didalam sudah ada kertas berisi jumlah. Semuanya sudah pas. Antarkan ke Bu Ida terlebih dahulu karena pesanan pagi. Baru antar ke Bu Narti.”
“Siap, Dira berangkat dulu ya, Mbah,” pamit Dira sambil mencium punggung tangan Mbah Sekar.
“Hati-hati di jalan!”
“Iya, assalamualaikum,” salam Dira sambil membawa dagangannya.
“Wa'alaikumussalam.”
“Iya, eh.”
Suara Dira langsung terhenti saat dirinya melupakan seseorang. Membuat Dira kembali masuk ke rumah kontrakan yang sudah ditempati selama puluhan tahun.
“Loh, kenapa balik lagi, Nduk?” tanya Mbah Sekar heran.
“Belum pamitan sama Ibu.”
“Ya sudah, sana cepetan pamitan. Keburu kesiangan.”
“Iya, Mbah.”
Karena tidak ingin terlambat. Dira langsung berjalan cepat menuju ke kamar Nimas.
Krieeet!
Senyum cantik di wajah Dira langsung tergambar jelas saat melihat Nimas tengah tertidur di atas ranjangnya.
Setelah tenang, Nimas akan tidur sendiri di ranjangnya. Membuat Dira cepat-cepat mendekat lalu memegang punggung tangan Nimas.
“Dira berangkat ke sekolah ya, Bu. Dira sayang sama Ibu. Semoga Ibu cepat sembuh. Assalamualaikum,” pamit Dira.
Cup.
Setelah mencium punggung tangan Nimas. Tidak ketinggalan memberikan kecupan di kening perempuan paruh baya itu. Dira berlari keluar dari kamar untuk mengayuh sepedanya. Meninggalkan Nimas yang saat ini matanya terbuka dengan air mata membasahi wajah cantiknya.
Entah hal buruk apa yang terjadi pada Nimas. Hingga membuat jiwa dan raganya hancur secara bersamaan.
Membuat luka menganga hingga sangat sulit untuk disembuhkan. Luka sejak Dira masih berada di dalam kandungan hingga tumbuh besar.
Tanpa disadari oleh Dira, jika di ujung gang sempit kontrakannya ada sosok laki-laki bertubuh tinggi sedang mengawasi. Sosok laki-laki berseragam dalam balutan jaket hitam sambil menggenggam kertas di tangannya.
Hah.
“Akhirnya aku menemukannya,” ucap laki-laki misterius itu lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Ceritanya keren 👍