NovelToon NovelToon
Sovereign Asura

Sovereign Asura

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ilfar Aksara

‎"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."

‎Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
‎Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
‎Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.

‎Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
‎Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
‎Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
‎Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.

‎Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
‎Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.

‎Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
‎Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.

‎Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.

‎"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 - Yggradasil Ancient Weapon II

‎Melihat perubahan Zilda yang sangat berbeda itu, Edwin pun terlihat menyentuh dadanya dan mengalirkan mana kedalam tubuhnya.

‎"Mari kita lihat seberapa kuat busur kayumu itu!" ujar Edwin, suaranya menggema dan tubuhnya kini dipenuhi petir berwarna ungu.

‎Zilda tidak menjawab. Wajahnya tenang. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan mana berwarna emas yang menyebar disekitar tubuhnya.

‎Edwin tersenyum lebar dan berniat menghancurkan Zilda dalam satu kali serangannya. Kakinya menghentak ke tanah sebelum bergerak secepat kilat. Ia menghilang dari pandangan, meninggalkan jejak tanah yang hangus terbakar.

Kemudian ‎Edwin berpindah tempat dalam hitungan milidetik. Ia menyerang Zilda dari berbagai arah mata angin, menciptakan badai tebasan petir berbentuk cakar serigala.

‎Kecepatannya benar-benar berada di level yang berbeda. Namun, Zilda tetap berdiri tegak walaupun sejumlah serangan mengarah padanya.

‎Pola-pola Rune Sihir di tubuhnya berubah warna dari hijau angin menjadi putih berkilau. Busur Roh Angin di dalam jiwanya berevolusi dan menyesuaikan kekuatan murni Zilda yaitu elemen cahaya.

‎Melihat Zilda yang serius, Raja Eldrin dan Fletcher pun merasa jika Zilda akan mengalahkan Edwin hanya dalam hitungan detik.

‎Yang membuat keduanya merasa kasihan kepada Edwin adalah ketenangan Zilda dalam menghadapi situasi dan kekuatan wanita itu sendiri.

‎Kombinasi elemen angin dan cahaya membuatnya tidak terkalahkan. Busur Roh Angin, Arcus dan elemen cahaya miliknya merupakan kombinasi mematikan yang akan membuat Edwin kalah telak.

‎"Kuakui kau memang cepat, tetapi semua itu tidak berarti dimataku!" ujar Zilda yang mengalau semua serangan Edwin.

‎"Bagaimana mungkin?" Edwin tersentak kaget melihat tidak ada satupun serangannya yang mengenai Zilda.

‎"Aku akan mengikuti permainanmu! Jangan dendam padaku jika kau tidak mampu mengejarku!" ujar Zilda setelah mana berwarna emas menyelimuti seluruh tubuhnya.

‎Seketika, tubuh Zilda murni meledak menjadi partikel cahaya, ketika Edwin melesat maju dengan kecepatan petir untuk menebas leher Zilda, serangannya itu hanya menembus bayangan kosong dan tidak dapat mengejar Zilda.

‎"Dia menghilang? Apa-apaan kekuatannya itu?!" Edwin dikejutkan dengan situasi dimana dirinya tidak dapat mengikuti kecepatan Zilda.

‎"Kau melihat kemana?!" ujar Zilda yang menyentuh pundak Edwin sebelum menghilang dari pandangan.

‎Zilda tidak lagi berjalan atau terbang, ia berpindah tempat secepat partikel cahaya murni menembus ruang.

‎Dalam satu kedipan mata manusia, Zilda sudah berpindah ke sepuluh titik berbeda di udara, membentuk susunan bintang peluru cahaya.

‎Edwin yang bergerak secepat kilat terkejut melihat sekelilingnya terkepung oleh siluet cahaya Zilda yang tercipta secara bersamaan.

‎"Kecepatan petirmu memang mematikan. Tapi petir masih membutuhkan waktu untuk merambat," suara Zilda bergema dari segala arah. "Sedangkan cahaya... sudah berada di sana sebelum kau menyadarinya."

‎Kemudian Zilda pun melesat lurus menembus tubuh Edwin dengan kecepatan cahaya murni.

‎Kecepatan ini menghasilkan dirinya sendiri menjadi anak panah yang melesat dengan kecepatan tinggi. Edwin tidak dapat mengikuti pergerakan Edwin bahkan tidak sempat mengalirkan petirnya untuk menghindar.

‎BOOOMMM! BOOOMMM! BOOOMMM!

‎Ledakan beruntun terdengar, cahaya putih melesat dengan kecepatan tinggi menembus tepat di dalam rongga dada Edwin.

‎Jantung miliknya hancur seketika, membuat Edwin terhuyung lemah dan menyadari dirinya telah meremehkan Zilda.

‎Terlihat Edwin berlutut, batuk darah dan meronta kesakitan sementara tubuhnya yang dilapisi petir mulai melemah.

‎"Saatnya menghabisimu!" ucap Zilda dingin.

‎Zilda memposisikan tubuhnya tegak. Lengan kanannya ditarik ke belakang seolah sedang menarik tali busur tak kasat mata.

‎Udara di sekitarnya tersedot kuat, menciptakan pusaran angin raksasa di ujung jemarinya.

‎"Nine Realms Arcus!"

‎"Anemone Burst!" teriak Zilda.

‎Saat jemarinya dilepaskan, seluruh tubuh Zilda melesat maju seperti anak panah supersonik. Dalam sekejap mata, Zilda sudah berada satu jengkal di depan Edwin.

‎Tubuh Zilda menjadi panah itu sendiri dan menghancurkan leher Edwin. Kepala Edwin pun melayang di udara, terpisah dari lehernya. Darah hitam pekat menyembur tinggi seperti air mancur dari urat-urat leher Edwin yang putus, mengotori puing-puing kayu bangunan aula di sekitarnya.

‎Zilda membalikkan badan, bersiap untuk memulihkan mananya. Namun, instingnya mendadak berteriak bahaya.

‎"Seperti yang kuharapkan dari Zilda! Kerja bagus, Zilda!" Raja Eldrin memuji Zilda yang berhasil membunuh Edwin.

‎Ada kesedihan tersendiri dibenak Raja Eldrin melihat Edwin mati. Namun kesedihannya itu hanya berlangsung beberapa menit saja, karena tubuh Edwin yang tergeletak dilantai aula tiba-tiba berdiri.

‎"Yang Mulia... Apa yang terjadi?" Fletcher yang berdiri disamping Raja Eldrin terkejut dengan apa yang ia lihat.

‎"Aku juga tidak mengetahuinya secara pasti, yang jelas Ayahku sudah berubah sepenuhnya menjadi Iblis!" ucap Raja Eldrin yang merasakan firasat buruk. Keringat dingin pun membasahi wajahnya.

‎"Kita terlalu percaya diri dan belum mengetahui kekuatannya secara pasti!" Raja Eldrin menambahkan.

‎Sementara itu Zilda menoleh dan terpaku ngeri melihat tubuh Edwin dan kepalanya yang bergerak sendiri. Terlihat darah yang mengucur dilantai berubah menjadi akar dan urat seperti tentakel, lalu menarik kembali kepala Edwin ke lehernya.

‎Daging yang putus saling menjahit diri dengan paksa. Kulitnya melepuh dan menyatu kembali dengan suara desisan daging terbakar yang memuakkan. Mata Edwin yang terbalik kembali menatap Zilda dengan gila. Seolah-olah ingin mencabik-cabik Zilda yang ada didepannya.

‎"Beraninya kau membunuhku!" ucap Edwin dengan suara yang serak parau dan membuat Zilda merinding.

‎Belum sempat Zilda memproses kengerian itu, sebuah tangan batu raksasa muncul dari bawah kaki Zilda dan mencengkeram tubuhnya dengan sangat erat hingga terdengar bunyi retakan tulang rusuknya.

‎KRAAAKKK!

‎"Uhukk!" Zilda memuntahkan darah segar.

‎Kecepatan cahayanya terkunci sepenuhnya oleh remasan tanah mutlak milik Edwin.

‎Edwin, dengan leher yang masih menyisakan bekas jahitan daging hitam yang membusuk, berjalan mendekat. Suara jantungnya terdengar menggema dan berdenyut liar, memancarkan aura kematian yang mencekam.

‎"Kalian tidak akan bisa membunuhku..." bisik Edwin dengan suara serak yang bergema dari dalam perutnya. "Aku memiliki lima jantung iblis yang tertanam ditubuhku, aku bisa mencari jantung yang lain untuk menggantikan jantung yang telah kau hancurkan! Kalian tidak akan bisa mengalahkanku! Aku adalah dewa yang tidak bisa mati!"

Edwin berniat membunuh Zilda dengan pukulan tangan raksasa yang terbentuk dari tanah dan itu membuat Fletcher panik.

‎"Zilda!" Fletcher berteriak dan bergerak menyelamatkan Zilda yang akan dibunuh Edwin.

‎"Ini cukup merepotkan karena kau menghancurkan jantung iblisku yang memiliki kekuatan petir..." Edwin bergumam pelan karena pergerakannya menjadi lebih lambat dibandingkan sebelumnya.

Kemudian‎ Edwin menatap Zilda dan Fletcher secara bergantian, lalu menunjukkan dadanya yang dilindungi mana berwarna coklat.

‎"Kalian pikir bisa melarikan diri dari takdir yang telah ditentukan? Aku akan membunuh kalian dan menghancurkan sistem dunia sihir yang busuk ini!" Edwin terkekeh, suara tawanya bergema ganda saat serat-serat berwarna coklat mulai merayap keluar dari robekan di dadanya.

‎ "Darah Elf-ku sudah lama mati, digantikan oleh keabadian yang jauh lebih indah. Di dalam tubuh ini, ada lima kehidupan yang berdenyut. Kau baru saja menghancurkan yang pertama. Masih ada empat jantung lagi yang menunggu giliran untuk mencabik-cabik kalian bertiga!" ujar Edwin sambil menunjuk Zilda yang telah ia kalahkan.

1
Maung Bandung
Mantap Kang👍
Green Nord 1927
up cak
Republik Orange
Lanjut
Protocetus
Seperti air yang mengalir
Republik Orange
Lanjut Wal
Green Nord 1927
lanjut
Green Nord 1927
👍
Green Nord 1927
Kreen cak👍
Jakarta Stay High
Stay
Haikal Blues
Lanjut💪
Haikal Blues
Lanjut
Samarindans
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Haikal Blues
Paus Terbang/Joyful/
Maung Bandung
okeee💪
Samarindans
lanjut wal
Maung Bandung
Sip kang
Asura Frost
💪
Ayas Arema
👍
Bontang FC
🔥🔥🔥🔥🔥
Bontang FC
Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!