NovelToon NovelToon
SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Umpan untuk Sang Predator

​Matahari pagi menembus celah-celah tirai kamar, memantulkan cahaya pada dinding luar gudang yang masih menyisakan bercak hitam sisa kebakaran semalam. Bau bensin sudah memudar, digantikan oleh aroma kopi hitam pekat yang sengaja kubuat sendiri untuk mengusir rasa kantuk. Semalaman aku tidak tidur. Bersama Pak Surya, kami menyusun setiap detail rencana yang akan dimulai hari ini.

​"Nyonya Laras, ada kiriman paket dari kurir ekspres. Katanya ini sangat penting," Bi Ijah masuk ke kamar dengan wajah yang masih menyisakan trauma semalam. Ia menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapat.

​Aku menerima amplop itu. Begitu melihat kode unik di pojok kiri atas, aku tahu ini dari Zaidan. Aku segera membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah ponsel lipat kecil generasi lama yang sudah dimodifikasi, sebuah kartu SIM baru, dan selembar memo kecil dengan tulisan tangan yang rapi.

​"Ponsel ini sudah terenkripsi. Gunakan ini untuk menghubungiku. Jangan pakai ponsel pribadimu lagi, Ardi sudah memasang alat penyadap di jaringan operatornomormu sejak kemarin. Di dalam kartu memori ponsel ini, aku sudah menyisipkan replika data audit palsu yang terlihat sangat mirip dengan yang dicari Ardi. Gunakan itu sebagai umpan."

​Aku tersenyum tipis. Zaidan benar-benar selangkah di depan. Dia tahu persis bagaimana cara menjebak orang-orang yang bergerak di dalam bayangan.

​Aku menyalakan ponsel kecil itu, lalu mengetik satu nomor yang sudah kuhafal di luar kepala. Nomor Paman Ardi.

​"Halo, Larasati? Bagaimana keadaanmu pagi ini? Paman baru saja mau meneleponmu untuk menanyakan kabar," suara Paman Ardi terdengar begitu hangat di seberang sana, seolah-olah ancaman pembunuhan lewat telepon semalam hanyalah sebuah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi.

​"Paman Ardi... Laras takut sekali," aku memulai aktingku, membuat suaraku terdengar bergetar, putus asa, dan nyaris menangis. "Semalam ada orang yang mau membakar rumah ini. Polisi bilang ini murni sabotase. Laras tidak tahu harus percaya pada siapa lagi sekarang."

​Hening sejenak di seberang sana. Aku bisa membayangkan Paman Ardi sedang tersenyum puas di balik meja kerjanya yang mewah, mengira gertakannya semalam telah berhasil meruntuhkan mentalku.

​"Sabar, Sayang. Paman sudah bilang, kan? Kamu sendirian di rumah besar itu, sangat berbahaya. Bagaimana kalau kamu pindah saja ke rumah Paman untuk sementara waktu? Biarkan orang-orang Paman yang menjaga rumah peninggalan Ayahmu," tawarnya dengan nada yang sangat persuasif.

​"Tidak, Paman... Laras tidak mau meninggalkan rumah ini. Tapi... Laras menemukan sesuatu di ruang kerja Ayah," ucapku sengaja menggantung kalimatku, memberikan umpan yang paling manis untuknya.

​"Menemukan apa, Laras?" nada suara Ardi seketika berubah. Ada sedikit ketegangan yang tertahan di sana, meski dia mencoba menyembunyikannya.

​"Ayah meninggalkan sebuah flashdisk perak di dalam laci rahasianya. Di dalamnya ada banyak dokumen laporan keuangan perusahaan lama. Laras tidak mengerti isinya, tapi ada nama Paman Ardi di sana. Laras takut kalau dokumen ini yang dicari oleh orang yang mau membakar rumah semalam," aku menarik napas dalam-dalam, berpura-pura terisak. "Laras ingin menyerahkan benda ini pada Paman saja. Laras tidak mau memegang barang berbahaya ini lagi."

​"Kau... kau menemukan flashdisk itu?" suara Ardi kini terdengar sangat tajam, tak bisa lagi menyembunyikan rasa lapar akan kekuasaan yang selama ini ia tahan. "Bagus, Laras. Kau melakukan hal yang benar. Benda itu... itu sebenarnya adalah dokumen rahasia proyek raksasa yang dulu Paman dan Ayahmu rancang. Jika jatuh ke tangan yang salah, bisa berbahaya bagi nama baik keluarga kita."

​"Lalu... kapan Laras bisa menyerahkannya pada Paman?"

​"Malam ini juga, Laras. Paman akan mengirimkan mobil untuk menjemputmu. Kita bertemu di restoran privat lantai teratas Hotel Mulia pukul delapan malam. Bawa benda itu, dan Paman janji akan memberimu perlindungan penuh seumur hidupmu," ucap Ardi terburu-buru.

​"Baik, Paman. Pukul delapan malam. Tolong jangan terlambat, Laras sangat takut jika malam ini rumah ini diserang lagi," bisikku sebelum mematikan sambungan telepon.

​Begitu telepon mati, aku meletakkan ponsel itu di meja. Rasa takut yang kupalsukan tadi langsung menguap, digantikan oleh tatapan mata yang dingin dan penuh perhitungan.

​"Dia masuk perangkap," gumamku.

​Aku segera menghubungi Zaidan menggunakan ponsel terenkripsi tersebut. "Zai, Ardi meminta bertemu malam ini jam delapan di Hotel Mulia. Dia ingin aku membawa flashdisk itu."

​"Kerja bagus, Laras. Tempat itu sangat privat, yang berarti dia merasa aman untuk melakukan apa saja, termasuk merebut benda itu dengan paksa jika diperlukan," suara Zaidan terdengar dari balik pelantang telinga. "Aku dan timku akan memasang kamera pengintai dan alat perekam di ruangan tersebut sebelum kalian tiba. Pak Surya juga sudah berkoordinasi dengan pihak Kejaksaan untuk melakukan operasi tangkap tangan atas dugaan pemerasan dan transaksi aset ilegal."

​"Apakah ini tidak terlalu berbahaya bagi kita, Zai? Ardi pasti membawa banyak pengawal," tanyaku, ada sedikit keraguan yang merayap di hatiku.

​"Dia akan membawa pengawal, tapi dia tidak akan berani memicu keributan di hotel bintang lima jika tidak terdesak. Yang paling penting adalah kau harus membuat dia mengakui transaksinya di depan kamera. Begitu dia menerima flashdisk umpan itu dan memberikan dokumen kompensasi atau pengakuan tertulis, kita punya cukup bukti untuk meruntuhkan seluruh kekaisaran bisnisnya."

​Zaidan terdiam sejenak, lalu suaranya melunak. "Laras... kau harus berhati-hati. Di atas panggung itu, kau adalah satu-satunya aktris yang bertaruh nyawa. Jika situasinya memburuk, lupakan dokumen itu dan segera keluar. Nyawamu jauh lebih berharga dari apa pun."

​Mendengar perhatian kecil dari Zaidan membuat sesuatu yang hangat mengalir di dadaku. Di tengah dunia yang penuh dengan kepalsuan ini, mengetahui bahwa masih ada satu orang yang tulus melindungiku adalah kekuatan terbesar yang kupunya.

​"Aku akan berhati-hati, Zai. Demi Ayah dan Ibu," jawabku mantap.

​Sisa hari itu berjalan dengan sangat lambat. Aku menghabiskan waktu dengan memilah gaun yang akan kupakai. Aku memilih sebuah gaun satin berwarna hijau zamrud yang anggun namun formal, dipadukan dengan hijab senada. Aku ingin terlihat sebagai seorang pewaris tunggal yang bermartabat, bukan seorang korban yang menyedihkan.

​Sebelum berangkat, aku menatap bayangan diriku di cermin besar kamar mandi. Aku memoleskan lipstik merah berani di bibirku.

​"Dimas mengira aku lemah. Maya mengira aku bodoh. Dan Paman Ardi mengira aku adalah pion yang bisa dia mainkan seumur hidup," bisikku pada pantulan diriku sendiri. "Malam ini, aku akan menunjukkan pada kalian semua bagaimana cara seorang penulis mengakhiri sebuah tragedi."

​Pukul tujuh malam, sebuah mobil sedan mewah hitam yang dikirim oleh Paman Ardi sudah terparkir di depan gerbang rumahku. Bi Ijah menatapku dengan mata berkaca-kaca saat aku melangkah keluar menuju mobil.

​"Nyonya... hati-hati," bisik Bi Ijah sambil menggenggam tanganku.

​"Doakan Laras, Bi," ucapku dengan senyuman tenang.

​Aku masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, lampu-lampu jalanan berkelebat melewati kaca jendela, seperti lembaran-lembaran bab novel yang sedang dibalik dengan cepat. Aku tahu, begitu aku melangkahkan kaki ke dalam ruang privat di lantai teratas hotel itu, tidak ada jalan untuk kembali.

​Ini adalah babak penyisihan terakhir. Antara aku yang berhasil membersihkan nama baik orang tuaku, atau aku yang akan terkubur bersama rahasia mereka di dalam kegelapan.

​Mobil berhenti di lobi Hotel Mulia. Seorang pelayan dengan seragam rapi membukakan pintu untukku. Aku turun dengan langkah tegap, menolak kursi roda yang sempat ditawarkan oleh sopir Ardi.

​"Katakan pada Paman Ardi, kakiku sudah sedikit lebih baik berkat doa baiknya semalam," ucapku pada sopir tersebut dengan nada sarkasme yang halus yang tentu tidak akan dia pahami.

​Aku berjalan menuju lift khusus yang akan membawaku langsung ke lantai teratas. Lantai tempat sang predator sedang menunggu umpannya dengan senyuman manis yang mematikan.

1
Anonim
PADAHAL KAU BISA MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS DIAVLO LARAS
kozci
PENASARAN BANGET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!