Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: "Atut! OA!" & Pelukan Erat Saat Takut Sama Kecoa
Pagi itu cerah. Aku sedang menyapu teras, sementara Balqis asyik bermain dengan boneka kelincinya di dekat pintu. Tiba-tiba, dari balik pot bunga, muncul seekor kecoa hitam besar, berjalan pelan menuju arah Balqis.
Aku belum sempat bereaksi.
Tapi Balqis sudah lebih dulu.
Matanya membelalak. Wajahnya pucat. Lalu, dengan suara tinggi yang hampir membuatku menjatuhkan sapu, dia berteriak:
“ATUT! OA! ATUUUUT!!!”
Dia langsung melompat ke belakangku, memeluk pinggangku erat-erat, sampai-sampai napasnya tersengal-sengal. Tangannya gemetar, matanya masih tertuju pada si kecoa yang kini diam saja, seolah bingung kenapa manusia kecil ini begitu takut padanya.
“Ayah… oa… atut…” bisiknya parau, wajahnya disembunyikan di balik jaketku.
Aku tertawa geli, tapi sekaligus hati-hati. Aku tahu, bagi Balqis, kecoa bukan sekadar serangga — itu monster raksasa yang siap menerkam.
“Tenang, Dek,” kataku lembut, sambil mengelus kepala nya. “Ayah di sini. OA nggak bakal dekatin Balqis.”
Aku mengambil sapu, lalu perlahan-lahan mengusir kecoa itu ke luar halaman. Si kecoa pun pergi, meninggalkan Balqis yang masih menempel erat seperti koala.
“Sudah pergi, sayang,” kataku sambil menoleh ke belakang. “OA sudah kabur.”
Balqis mengangkat wajahnya pelan-pelan, masih waspada. “Benar-benar pergi?”
“Iya, benar-benar. Ayah usir sampai jauh. Nggak bakal balik lagi.”
Barulah dia melepaskan pelukannya, meski masih berdiri sangat dekat denganku. Matanya masih mencari-cari ke mana-mana, pastikan tidak ada “oa” lain yang sembunyi.
“Ayah… kenapa oa jahat?” tanyanya polos.
Aku蹲下来, sejajar dengannya. “OA nggak jahat, Dek. Dia cuma hewan kecil yang kebetulan lewat. Tapi kalau Balqis takut, Ayah akan selalu ada buat ngusirin dia. Atau… kita bisa belajar berani bareng-bareng?”
Balqis mengernyit. “Belajar berani?”
“Iya. Misalnya, besok kalau lihat oa lagi, kita teriak bersama: ‘OA PERGI!’ Terus Ayah ambil sapu, kita usir bareng. Gimana?”
Balqis berpikir sejenak. Lalu, dengan wajah serius, dia mengangguk. “Oke. Tapi… Ayah harus pegang tangan Balqis ya.”
“Pasti,” jawabku sambil tersenyum. “Selalu.”
Hari itu, kami tidak hanya mengusir kecoa.
Kami juga belajar satu hal penting: bahwa ketakutan itu wajar. Yang penting, kita punya seseorang yang bersedia berdiri di depan kita, melindungi, dan memberi keberanian.
Dan bagi Balqis, aku adalah orang itu.
Bagiku, Balqis adalah alasan mengapa aku ingin selalu menjadi tempatnya berlindung — bahkan dari hal-hal kecil seperti kecoa.
***
Malam harinya, setelah mandi dan ganti baju, Balqis tiba-tiba bertanya lagi:
“Ayah… kalau malam ada oa di kamar, gimana?”
Aku tertawa. “Ayah akan pasang perangkap oa khusus. Dan kalau perlu, Ayah tidur di lantai depan pintu kamar Balqis, jadi kalau ada oa, Ayah yang pertama tahu.”
Balqis tertawa kecil. “Nggak usah sampe gitu, Yah. Cukup… Ayah peluk Balqis kuat-kuat aja.”
Aku menariknya ke pelukan. “Siap. Pelukan anti-oa, aktif 24 jam.”
Dia tertawa lepas, lalu akhirnya tertidur dalam pelukanku — aman, nyaman, dan percaya bahwa tidak ada “oa” yang bisa mengganggu dunianya selama Ayah ada di sampingnya.
Dan aku? Aku bersyukur.
Karena bahkan dalam ketakutan kecilnya, Balqis tetap mengajarkanku sesuatu yang besar: bahwa cinta bukan tentang menghilangkan semua rasa takut, tapi tentang hadir di saat rasa itu datang.
— Ayah Balqis
P.S.: Kalau kalian punya anak yang juga takut sama kecoa, silakan cerita di komentar. Siapa tahu kita bisa bikin klub “Anti-Oa” bareng-bareng! 😄