Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Cahaya matahari pagi menerobos masuk lewat celah-celah kaca jendela yang berdebu, menyorot debu-debu halus yang menari-nari di udara. Udara sejuk khas hutan menyelinap masuk, membawa aroma tanah basah dan daun kering, berpadu dengan bau khas minyak pelumas dan besi tua, aroma yang kini menjadi rumah bagi dua orang yang nasibnya terikat erat.
Arjuna Adhitama berdiri di tengah ruangan utama yang luas, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana panjang berdesain mahal yang kini sudah mulai kotor terkena debu. Ia menatap sekeliling dengan pandangan tajam dan analitis, mata jenius bisnisnya menilai potensi tempat ini. Di luar penilaian orang, tempat ini bukan sekadar bangunan usang ini adalah benteng yang sempurna. Terpencil, tersembunyi, dan punya akses jalan rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu.
Namun, ketenangan Arjuna tidak bertahan lama. Suara bising, dentuman besi, dan bunyi kunci pas yang beradu memecah keheningan pagi itu.
BRAK! KRAK!
Arjuna memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Ia berbalik perlahan, menatap sumber keributan itu dengan tatapan datar namun berisi jutaan makna.
Di sudut ruangan, Kirana sudah sibuk. Jaket kulit peninggalan ayahnya sudah ia kenakan, lengan bajunya digulung tinggi hingga siku, memperlihatkan lengan ramping yang kini penuh noda oli. Rambut panjangnya dikepang satu rapi ke belakang, meninggalkan beberapa helai rambut yang jatuh membingkai wajah cantiknya yang kini sedikit berkeringat dan berdebu.
Di tangannya, ada kunci pas besar yang dikayunkannya dengan gesit dan kuat, persis seperti pendekar yang memegang senjatanya. Di depannya, sebuah mesin tua raksasa yang tertutup kain putih sudah terbongkar sebagian, dan Kirana seolah sedang berdebat keras dengan benda mati itu.
"Hei! Kau pikir kau bisa keras kepala sama aku? Dulu ayahku yang merakitmu, dan sekarang aku yang akan bongkar kau! Ayo terbuka!" seru Kirana pada mesin itu, lalu memukul bagian samping mesin itu pelan tapi mantap.
TING!
Ajaib, bagian yang macet itu langsung terbuka. Kirana tertawa puas, matanya berbinar cerah, sangat kontras dengan penampilannya yang penuh debu dan kotoran.
Arjuna menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat. Langkahnya tenang, berwibawa, dan selalu memancarkan aura Tuan Muda yang tak tergoyahkan.
"Kau mau meruntuhkan atap rumah kita yang baru saja kita tempati, Kirana?" suaranya terdengar rendah, sedikit dingin, tapi tidak ada kemarahan di sana. Hanya rasa takjub yang selalu muncul setiap kali ia melihat gadis itu bekerja.
Kirana menoleh, menatap Arjuna dengan wajah polos seolah tidak melakukan hal aneh. Ia mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan noda hitam oli di sisi wajahnya, membuat wajah cantiknya terlihat lucu dan menggemaskan.
"Aku cuma menyapa teman lama, Arjuna. Mesin itu punya ingatan, dia cuma kangen sama sentuhan tangan Wijaya," jawab Kirana enteng, lalu kembali sibuk memutar-mutar baut dengan kecepatan tangan yang luar biasa. "Lagipula, kalau kita mau pakai tempat ini, kita harus hidupkan semua fasilitasnya. Listrik, air, keamanan, alat komunikasi ... semuanya mati total. Dan lihat ini ..."
Kirana menunjuk tumpukan besi tua dan komponen berkarat di sudut ruangan. Matanya berkilat penuh ide gila yang selalu bikin Arjuna pusing sekaligus penasaran.
"Di tangan orang lain, ini cuma sampah rongsokan. Tapi di tanganku ... ini bisa jadi sistem pertahanan canggih yang bahkan pasukan khusus pun kewalahan menembusnya. Ayahku jenius, dia menanamkan segala sesuatu di sini."
Arjuna tersenyum tipis. Ia berjongkok di samping Kirana, posisi yang tidak akan pernah dilakukan Arjuna Adhitama di depan siapa pun, kecuali gadis ini.
"Kau selalu membuat hal mustahil terdengar mudah sekali, Nona Montir," ucap Arjuna pelan, matanya menatap lekat wajah Kirana. "Tapi aku tidak mau kita cuma sibuk memperbaiki bangunan. Kita butuh langkah nyata. Kita butuh struktur. Kita butuh posisi yang jelas agar orang-orang yang setia mau bergabung dan mendengarkan kita."
Arjuna mengeluarkan selembar kertas dari saku bagian dalam jaket kulitnya, kertas yang entah sejak kapan sudah disiapkannya. Kertas itu bersih, rapi, bertuliskan tinta hitam tegas.
Kirana berhenti bergerak. Ia meletakkan kunci pasnya, menatap kertas itu dengan alis terangkat tinggi.
"Apa itu? Surat perjanjian jual beli? Jangan bilang kau mau jual aku ke museum barang antik cuma karena aku pintar bongkar mesin," celetuk Kirana cepat, mulutnya kembali berbicara ceplas-ceplos seperti biasanya.
Arjuna menggeleng pelan, senyum tipis di bibirnya makin melebar melihat reaksi gadis itu. Ia tahu betul cara kerja otak Kirana, dan ia sangat menikmati setiap percakapan sarkas di antara mereka.
"Ini adalah Kontrak Kerja. Antara Grup Adhitama yang diwakili oleh aku sendiri, Arjuna Adhitama dan Nona Kirana Anindita Wijaya."
Kirana mengambil kertas itu dengan tangan yang masih sedikit kotor, membuat bekas sidik jari oli menempel di atas kertas putih bersih itu. Ia membacanya sekilas, lalu matanya makin melotot tak percaya saat matanya menangkap isi dari perjanjian itu.
Isi Kontrak Singkat:
1. Pihak Pertama (Arjuna) mengangkat Pihak Kedua (Kirana) sebagai Kepala Teknik & Penasihat Khusus Tingkat Tinggi.
2. Hak dan kewajiban: Pihak Kedua berhak mengetahui seluruh rencana strategis, akses penuh ke fasilitas, dan berhak memberi perintah pada staf di bawahnya.
3. Gaji: 0 Rupiah.
4. Durasi: Seumur hidup atau sampai kontrak diputuskan bersama.
5. Syarat Utama: Pihak Kedua wajib selalu berada di dekat Pihak Pertama, tidak boleh pergi jauh tanpa izin, dan wajib menjaga keselamatan satu sama lain.
Kirana menurunkan kertas itu, menatap Arjuna dengan tatapan tak percaya dan geli bercampur bingung.
"Kau gila ya? Kepala Teknik? Penasihat Khusus? Gajinya nol? Dan durasinya seumur hidup? Ini bukan kontrak kerja, Arjuna. Ini kontrak perbudakan! Atau ... kontrak nikah versi formal yang konyol?" seru Kirana keras, suaranya berisik seperti biasa. "Dan lihat poin nomor lima! 'Wajib selalu berada di dekat Pihak Pertama'? Kau pikir aku anjing penjaga yang harus selalu diikat di dekatmu?!"
Arjuna bangkit berdiri tegak, kembali memancarkan aura Tuan Muda yang dingin dan memerintah. Ia menatap Kirana dari atas ke bawah dengan tatapan menantang, namun ada kilatan candaan di matanya yang gelap.
"Jangan salah baca, Kirana. Aku yang akan jadi anjing penjagamu kalau perlu. Tapi aku tidak mau lagi kejadian kemarin terulang. Aku tidak mau kau bergerak sendiri, mengambil risiko sendiri, atau membuat keputusan gila sendiri tanpa aku tahu. Dan soal gaji nol ..."
Arjuna mencondongkan badannya mendekat, wajahnya sejajar dengan Kirana, suaranya merendah dan berat, bikin bulu kuduk Kirana meremang.
"Kau pikir uang bisa membayar apa yang kau miliki? Kepintaranmu, keberanianmu, dan keberadaanmu di sisiku ... nilainya jauh lebih mahal dari seluruh kekayaan Grup Adhitama. Aku tidak punya mata uang yang cukup untuk membayarmu, makanya gajinya nol. Tapi aku akan berikan segalanya yang aku punya padamu. Tempat tinggal, perlindungan, makanan, pakaian ... bahkan nyawaku sendiri. Kau hidup, aku hidup. Kau mati ... aku pastikan aku ikut."
Suasana hening seketika. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Arjuna, tegas, dingin, tapi penuh makna yang dalam. Tidak ada nada bercanda di sana. Arjuna Adhitama tidak pernah main-main soal janji.
Wajah Kirana memanas rasa panas yang selalu muncul setiap kali Arjuna bicara hal serius seperti ini. Ia membuang muka, berdeham paksa untuk menutupi rasa gugupnya yang mulai kambuh.
"Dasar Tuan Muda arogan ... selalu saja bicara sok tahu dan sok hebat," gumam Kirana pelan, lalu kembali menatap kertas kontrak itu. Jarinya menyentuh tulisan tangan Arjuna yang tegas dan rapi. "Dan poin nomor lima itu ... 'Menjaga keselamatan satu sama lain'. Kau yakin kau menjagaku apa re nggak kebalikan? Kemarin siapa yang jatuhkan lampu besar ke kepala preman itu, hah? Siapa yang selamatkan nyawamu?"
Arjuna tertawa pelan, suara tawa rendah yang jarang didengar orang lain. Ia tahu betul kehebatan gadisnya itu.
"Memang. Kau hebat. Kau lebih hebat dari banyak pria yang aku kenal. Kau jenius mesin, kau pandai bela diri, kau punya insting tajam ... Tapi tetap saja, kau wanita, Kirana. Dan selama aku ada, tugasku memastikan kau pulang dengan selamat dan utuh, tidak ada goresan sedikit pun di wajah cantikmu ini."
Arjuna mengangkat dagu Kirana perlahan dengan ujung jarinya, memaksa gadis itu menatapnya.
Bersambung ...
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️