NovelToon NovelToon
TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 DONATUR TAK BERNAMA

Bzzzt...

Bzzzt...

Suara getaran ponsel kembali membangunkan Abdul tepat ketika cahaya fajar mulai menyelinap melalui celah tirai kamarnya.

Kelopak matanya terbuka perlahan.

Selama beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar sambil mencoba mengingat mimpi yang baru saja dialaminya.

Ruangan putih.

Peralatan medis canggih.

Dan angka fantastis yang melayang di udara.

Rp1.800.000.000,00.

Jantung Abdul mulai berdebar.

Ia segera meraih ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur.

Sebuah pesan baru dari Bank Suka sudah menunggu di layar.

[Bank Suka: Transaksi Uang Masuk Otomatis Rp1.800.000.000,00.]

[Saldo Akhir Anda: Rp3.347.550.000,00.]

Abdul terdiam.

Meski sudah berkali-kali mengalami keajaiban yang sama, tetap saja setiap kali melihat angka miliaran masuk ke rekeningnya, ia merasa sulit bernapas dengan normal.

"Tiga miliar lebih..." gumamnya pelan.

Tangannya sedikit gemetar.

Dulu ia pernah pusing hanya karena memikirkan biaya kontrakan beberapa ratus ribu rupiah. Kini saldo rekeningnya bahkan cukup untuk membeli beberapa rumah sekaligus.

Namun yang muncul di kepalanya bukanlah mobil mewah atau barang mahal.

Yang terlintas justru wajah bapaknya yang kemarin berhasil menggerakkan jari tangan kanannya untuk pertama kali setelah sekian lama.

Lalu wajah Doni.

Wajah Ibu Aminah.

Dan anak-anak panti yang kini bisa tidur tanpa memikirkan makan esok hari.

Abdul tersenyum kecil.

"Kalau memang ini rezeki titipan..."

"Aku harus pakai dengan benar."

 

Pagi itu Abdul kembali mengantar Bapak Abdul menjalani terapi rehabilitasi.

Hari kedua berjalan jauh lebih baik.

Bapak Abdul terlihat lebih percaya diri dibanding kemarin. Beberapa kali pria tua itu mencoba menggerakkan jari-jari tangannya tanpa diminta oleh terapis.

Melihat perkembangan tersebut, fisioterapis Nita tampak cukup terkejut.

"Perkembangannya cepat sekali, Pak."

"Biasanya pasien baru menunjukkan respons seperti ini setelah beberapa minggu terapi."

Ibu Abdul langsung tersenyum bahagia.

"Alhamdulillah..."

Nita ikut tersenyum.

"Tapi jangan terlalu memaksakan diri ya, Pak."

"Kesembuhan itu maraton, bukan sprint."

Bapak Abdul mengangguk pelan.

Meski masih terbata-bata berbicara, semangat hidup di matanya kini terlihat jauh lebih terang.

Melihat itu, hati Abdul terasa hangat.

 

Siang hari.

Saat mereka baru saja selesai makan siang di rumah baru, ponsel Abdul berdering.

Nama Cak Imron muncul di layar.

"Dul, kamu lagi sibuk?"

"Gak, Cak. Kenapa?"

"Aku lagi di panti."

"Nah, ada sedikit masalah."

Abdul langsung mengernyit.

"Masalah apa?"

"Datang aja dulu."

"Nanti aku jelasin."

 

Satu jam kemudian Abdul tiba di Panti Asuhan Harapan Bunda.

Begitu turun dari mobil, ia melihat Bu Aminah sedang berbicara dengan dua orang pria berpakaian rapi.

Di tangan mereka terdapat map dokumen yang cukup tebal.

Wajah Bu Aminah terlihat sedikit bingung.

Sementara Cak Imron berdiri di sampingnya dengan ekspresi serba salah.

"Cak, ada apa?"

tanya Abdul pelan saat mendekat.

Cak Imron segera menariknya ke samping.

"Dua orang itu dari yayasan sosial kota."

"Mereka dengar kabar soal pembangunan panti."

Abdul langsung paham.

"Mereka nyari donaturnya?"

Cak Imron mengangguk.

"Persis."

 

Rupanya kabar mengenai pembelian lahan tambahan dan rencana pembangunan besar-besaran panti mulai menyebar ke luar wilayah Gang Seng.

Banyak orang penasaran.

Bagaimana mungkin panti yang nyaris Tumbang beberapa bulan lalu kini tiba-tiba memiliki dana miliaran rupiah untuk renovasi total?

Pertanyaan itu memang masuk akal.

Masalahnya, Abdul sama sekali tidak ingin identitasnya diketahui.

"Bu Aminah," kata salah satu pria tersebut.

"Kami hanya ingin memastikan penggunaan dana hibah ini sesuai prosedur."

"Siapa sebenarnya donatur yang membantu panti ini?"

Ibu Aminah tampak kebingungan.

"Saya sungguh tidak tahu."

"Beliau tidak pernah memperkenalkan diri."

"Yang saya tahu hanya satu..."

"Apa itu?"

"Beliau meminta disebut sebagai Hamba Allah."

Kedua pria itu saling berpandangan.

Jelas mereka belum puas.

Namun mereka juga tidak menemukan pelanggaran apa pun.

Semua dokumen legal.

Sertifikat tanah lengkap.

Berkas yayasan lengkap.

Izin pembangunan lengkap.

Akhirnya mereka pun berpamitan setelah beberapa lama berbincang.

 

Begitu kedua tamu itu pergi, Bu Aminah mengembuskan napas panjang.

"Ya Allah..."

"Saya takut salah bicara tadi."

Cak Imron tertawa kecil.

"Ibu aman kok."

Bu Aminah tersenyum.

Namun beberapa detik kemudian wanita itu kembali menatap area panti dengan mata berkaca-kaca.

"Sampai sekarang saya masih gak percaya semua ini benar-benar terjadi."

"Saya sering berpikir siapa sebenarnya orang baik itu."

"Kenapa dia mau membantu kami sebesar ini."

Abdul yang berdiri tidak jauh hanya tersenyum tipis.

Ia segera mengalihkan pembicaraan.

"Nanti alat berat masuk kapan, Cak?"

"Besok pagi."

"Kalau cuaca bagus, pembongkaran bangunan lama langsung dimulai."

Mata Bu Aminah langsung berkaca-kaca lagi.

Tiga bulan lagi.

Anak-anak panti akan memiliki rumah baru.

 

Sebelum pulang, Abdul berjalan mengelilingi halaman panti.

Beberapa anak sedang bermain bola plastik.

Suara tawa mereka membuat suasana panti terasa jauh berbeda dibanding pertama kali ia datang ke tempat ini.

Tiba-tiba salah satu anak menghentikan permainannya.

Matanya membesar.

Lalu ia berlari secepat mungkin ke arah Abdul.

"Kakak baik!"

teriaknya penuh semangat.

Abdul langsung mengenali bocah itu.

Doni.

Bocah yang dulu membawa ember kosong untuk membeli es batu.

Abdul tertawa kecil.

"Eh, Doni."

Doni berhenti tepat di depan Abdul dengan wajah sumringah.

"Kakak masih inget aku?"

"Ya jelas inget."

"Kamu kan Doni."

Mata Doni langsung berbinar.

"Yeaaah! Kakak masih inget!"

Abdul mengacak rambut bocah itu pelan.

"Gimana kabarnya sekarang?"

"Baik!"

"Makan juga enak sekarang!"

jawab Doni polos.

Ucapan sederhana itu membuat hati Abdul terasa hangat.

Doni lalu menunjuk ke arah bangunan panti.

"Kak..."

"Hm?"

"Nanti panti kami bakal jadi bagus ya?"

"Insyaallah."

"Bagus banget."

Mata Doni berbinar.

Lalu ia kembali bertanya.

"Kalau nanti udah jadi..."

"Aku boleh punya cita-cita gak?"

Abdul tersenyum.

"Tentu boleh."

"Mau jadi apa?"

Doni berpikir beberapa saat.

Lalu menjawab dengan penuh keyakinan.

"Aku mau jadi dokter."

"Aku mau nyembuhin orang sakit."

Jawaban itu membuat Abdul langsung teringat pada bapaknya.

Pada ruang rehabilitasi.

Pada perjuangan panjang yang sedang mereka jalani.

Senyumnya menghangat.

"Kalau begitu kamu harus belajar yang rajin."

"Karena dokter hebat lahir dari anak-anak yang gak gampang menyerah."

Doni langsung mengangguk semangat.

"Siap, Kak!"

Lalu bocah itu kembali berlari menuju teman-temannya.

Meninggalkan Abdul yang masih berdiri memandanginya.

Entah kenapa.

Untuk pertama kalinya sejak keajaiban itu hadir dalam hidupnya...

Abdul merasa uang bukanlah hal paling berharga.

Yang paling berharga adalah kesempatan.

Kesempatan untuk mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik.

 

Malam hari.

Setelah makan malam bersama keluarga, Abdul duduk sendirian di balkon lantai dua rumah barunya.

Angin malam bertiup sejuk.

Di kejauhan, lampu-lampu workshop Konveksi Berkah Gang Seng masih menyala terang.

Rian dan Jaka masih sibuk mengejar target produksi.

Sementara dari dalam rumah terdengar suara tawa Ibu Abdul yang sedang menemani suaminya menonton televisi.

Suasana damai itu membuat hati Abdul terasa sangat tenang.

Namun tanpa ia sadari...

Di kantor pusat Bank Suka yang berada ratusan kilometer dari Gang Seng...

Seseorang sedang menatap layar komputer dengan kening berkerut.

Seorang staf audit internal baru saja membuka riwayat transaksi sebuah rekening yang beberapa bulan terakhir terus memicu anomali sistem.

Puluhan juta.

Ratusan juta.

Hingga miliaran rupiah.

Masuk secara berkala tanpa sumber pengirim yang jelas.

Tanpa nomor referensi.

Tanpa catatan server.

Tanpa jejak transaksi asal.

Pria itu menelan ludah.

Lalu membuka kembali data tersebut untuk ketiga kalinya.

Hasilnya tetap sama.

Kosong.

Tidak ada sumber dana.

Tidak ada pengirim.

Seolah uang itu muncul begitu saja dari udara.

"Rekening ini lagi..." gumamnya pelan.

Ia segera mengangkat telepon internal.

"Pak..."

"Saya rasa kita punya masalah."

Dan tanpa diketahui Abdul...

Sebuah konflik kecil dengan Bank Suka perlahan mulai bergerak menuju kehidupannya.

1
Ahmadi 241215
udah tau nama nya rizki.masih nanya dasar tolol,di cari di kampus nama rizki.kan udah tau wajahnya.klo bikin cerita pakai otak,kalo gak punya otak,ke rumah sakit jiwa aja anjing
irawan muhdi
lanjut Thor
Farhat Syahada
mantapp up truss
BaekTae Byun
buset gw kira ini tentang sistem santai atau sesuai dengan judul ternyata ngga
Arrofy: ini baru awal perjalanan, ikutin terus perjalanan Abdul, akan banyak kejutan di bab2 selanjutnya😍
total 1 replies
Gege
bilang begene biar argo rumah sakit jalan terus.. kalo cepet sembuh rumah sakit kehilangan ATM berjalannya...🤣
Arrofy: hehehe🤣🤣🤣
total 1 replies
Pur Yono
bagus Dull sudah punya uang tetapp baik hati sama teman yang kesulitan👍
Pur Yono
cerdas kamu thor lanjut kembangkan kreatifitasmu
Pur Yono
upterus👍
Pur Yono
author pintar menyesuaikan cerita dengan situasi dan kondisi jaman sekarang upterus💪
Pur Yono
alur ceritanya santai mudah diikuti lanjut👍
Junior Ian
insprative novel 👍👍
Arrofy: terimakasih ya😍
total 1 replies
irawan muhdi
lanjut Thor
Arrofy: di tunggu ya/Chuckle/
total 1 replies
Gege
naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!