Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Di ruang kerja mansion keluarga Fan yang luas dan tenang, aroma tinta khas memenuhi udara.
Mike Fan duduk tegak di depan meja kayu besar sambil memegang kuas kaligrafi di tangannya. Dengan gerakan perlahan namun tegas, pria tua itu menulis huruf demi huruf di atas kertas merah panjang.
Tulisan kaligrafinya terlihat kuat dan penuh wibawa, sama seperti dirinya.
Tok tok.
Pintu ruangan diketuk pelan sebelum Jean masuk bersama Darius.
Ekspresi ibu dan anak itu tampak tidak puas.
Namun Mike sama sekali tidak menoleh. Ia tetap fokus menggerakkan kuasnya dengan tenang.
“Pa, Lucien sudah berlebihan,” keluh Jean sambil melangkah mendekat. “Dia malah memblokir kartu aku dan Darius. Bagaimanapun kami juga bagian dari keluarga Fan. Mana bisa dia melakukan ini pada kami?”
Mike tetap diam.
Jean menggertakkan gigi sebelum melanjutkan.
“Walau dia tidak menyukai kami, setidaknya dia harus memikirkan kakaknya. Papa Darius adalah kakaknya sendiri.”
Darius ikut maju dengan wajah kesal.
“Kakek, Paman melakukan ini sama saja membuat hidupku sulit,” ujarnya tidak terima. “Aku tidak punya uang dan tidak bisa melakukan apa pun. Kalau sampai orang luar tahu, mereka pasti akan menertawakan kita.”
Baru setelah itu Mike menghentikan gerakan kuasnya.
Pria tua itu meletakkan kuas perlahan di atas dudukan batu giok sebelum mengangkat pandangannya.
Tatapannya dingin dan penuh tekanan.
“Kau masih tahu malu rupanya,” ucap Mike datar.
Darius langsung terdiam.
Mike lalu menatap Jean dengan ekspresi kecewa.
“Kau sebagai ibu benar-benar gagal mendidik anak,” katanya tajam. “Andaikan dulu aku tahu Darius akan tumbuh menjadi pria seperti ini, seharusnya aku mengirimnya ke luar negeri sejak kecil agar belajar disiplin.”
Wajah Jean langsung berubah tidak enak.
Mike kembali melirik tulisan kaligrafinya sejenak sebelum melanjutkan.
“Anakku memang meninggal di usia muda. Tapi keluarga Fan tidak pernah mengabaikan kalian.” Suaranya rendah namun berat. “Kau tahu suamimu sudah pergi, tapi kau tidak pernah mengajarkan Darius tanggung jawab. Kau selalu menuruti semua keinginannya.”
Jean mengepalkan tangannya pelan.
“Pa, walau begitu bukan berarti semua kartu kami harus diblokir,” katanya mencoba membela diri. “Bagaimana kehidupan kami nanti?”
Tatapannya berubah tajam saat menyebut nama Alyssa.
“Belum lagi sebagian aset Darius harus dipindahkan pada Alyssa. Wanita itu jelas menggunakan cara licik untuk merebut semuanya.”
Mendengar itu, wajah Mike langsung mengeras.
“Alyssa tidak salah sama sekali,” jawabnya tegas.
Jean membelalak tidak percaya.
Mike mengambil kembali kuas kaligrafinya lalu mencelupkannya perlahan ke tinta hitam.
“Dia memiliki hak atas semua itu,” katanya dingin. “Alyssa telah berjuang melahirkan penerus keluarga Fan.”
Gerakan kuasnya kembali berjalan di atas kertas merah.
“Jadi jangankan aset milik Darius…” ujar Mike pelan namun penuh tekanan.
Pria tua itu berhenti menulis lalu menatap tajam cucunya.
“Bahkan kalau Alyssa meminta lebih banyak lagi, aku sebagai kakeknya tidak akan ragu memberikannya."
Wajah Jean langsung membeku.
Sementara tatapan Darius berubah gelap dipenuhi rasa iri dan kebencian.
Suasana ruang kaligrafi itu pun menjadi semakin menyesakkan.
“Pergi. Jangan menggangguku lagi,” titah Mike dingin sambil kembali menggerakkan kuas kaligrafinya. “Renungkan semua kesalahan yang sudah kalian lakukan.”
Jean langsung panik.
“Pa, lalu bagaimana dengan kartu kami?” tanyanya tidak percaya. “Darius sudah tidak bisa kembali ke perusahaan dan rumah ini. Dia juga harus makan dan minum.”
Darius ikut menatap kakeknya dengan wajah tidak rela.
Namun Mike tetap tenang seolah tidak peduli dengan keluhan mereka.
“Dia sudah dewasa,” jawab pria tua itu datar. “Selama ini hidupnya hanya bersenang-senang dan menghabiskan uang keluarga. Tidak pernah memberi jasa apa pun untuk perusahaan.”
Mike berhenti menulis sejenak lalu mengangkat pandangannya tajam.
“Mulai hari ini dia harus hidup mandiri.”
Ekspresi Darius langsung berubah.
Jean buru-buru melangkah maju.
“Pa… bagaimana mungkin Darius hidup sendiri di luar?” suaranya mulai terdengar cemas.
Mike menyandarkan tubuhnya pelan di kursi.
“Kalau kau tidak setuju,” katanya tenang namun penuh tekanan, “kau bisa ikut pergi bersamanya.”
“Pa…” suara Jean melemah.
“Kakek…” Darius mengepalkan tangan kuat-kuat.
Tatapan Mike langsung menusuk ke arah keduanya.
“Pergi sendiri,” ucapnya dingin. “Atau mau aku usir?”
Suasana ruangan langsung membeku.
Jean dan Darius akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.
Walau penuh ketidakrelaan, ibu dan anak itu hanya bisa menundukkan kepala sebelum berbalik meninggalkan ruang kaligrafi tersebut.
Brak!
Pintu tertutup pelan.
Mike menghela napas panjang sambil menatap tulisan kaligrafi di depannya.
“Ibu dan anak yang tidak tahu diri…” gumamnya dingin. “Kalau bukan karena melihat wajah anakku yang sudah meninggal, kalian pasti sudah lama kuusir dari keluarga Fan.”
Dua hari kemudian
Rumah yang ditempati Darius terasa berantakan dan gelap.
Botol minuman berserakan di atas meja, sementara tirai jendela tertutup rapat hingga tidak ada cahaya yang masuk.
Darius duduk sendirian di sofa dengan wajah kusut dan mata memerah karena kurang tidur.
Tidak ada lagi pelayan yang melayaninya. Tidak ada lagi kehidupan mewah seperti dulu.
Sejak semua kartu dan akses keuangannya diblokir, hidupnya berubah kacau dalam waktu singkat.
Yang lebih membuatnya hampir gila adalah kondisi tubuhnya sendiri.
Darius menundukkan kepala sambil mengepalkan tangan kuat-kuat.
“Kenapa hidupku jadi sesial ini…” gumamnya lirih.
Bayangan ucapan dokter beberapa hari lalu terus terngiang di kepalanya.
Darius meninju meja keras.
“Sial!”
Napasnya memburu dipenuhi frustrasi.
“Satu per satu masalah terus datang…” gumamnya dengan suara serak. “Kondisiku tiba-tiba berubah, bahkan tidak bisa sembuh…”
Tatapannya perlahan menjadi gelap.
Ia tidak berani menerima kenyataan bahwa dirinya kini tidak mampu menyentuh wanita seperti dulu.
Sebagai pria yang selama ini hidup dalam kesenangan dan hawa nafsu, kondisi itu terasa seperti mimpi buruk baginya.
“Aku bahkan tidak bisa menjadi pria normal…” ucapnya penuh kebencian pada diri sendiri.
Darius menyandarkan kepala ke sofa dengan lemah.
“Semua kartuku diblokir… uangku terbatas…” gumamnya pelan. “Apa sekarang aku harus hidup seperti pengemis?”
Klik.
Tiba-tiba suara pintu rumah terbuka terdengar.
Darius langsung menoleh tajam.
Langkah heels pelan terdengar memasuki rumah.
Tok… tok… tok…
Mata Darius langsung membeku saat melihat Alyssa masuk dengan tenang.
Wanita itu mengenakan coat panjang berwarna terang dengan ekspresi dingin dan elegan. Di belakangnya berdiri beberapa pria berbadan besar yang merupakan anak buah Lucien.
Aura mereka langsung membuat suasana rumah menjadi menekan.
“Alyssa?” ucap Darius sambil berdiri. “Untuk apa kau datang ke sini?”
Alyssa menatap sekeliling rumah itu dengan santai sebelum akhirnya tersenyum tipis.
“Aku datang mengambil alih rumah ini,” jawabnya tenang. “Jangan lupa kau sudah menandatangani penyerahan rumah ini.”
Wajah Darius langsung berubah.
“Apa?”
“Alyssa…” suara Darius terdengar serak menahan emosi. “Apa kau sengaja melakukan ini?”
Pria itu menatap Alyssa dengan wajah gelap dan frustrasi.
“Kau tahu kondisiku sekarang seperti apa,” lanjutnya. “Tapi kau malah sengaja mengambil rumah ini dariku?”
“Aku tahu,” jawab Alyssa pelan.
Sudut bibir wanita itu perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
“Dan memang itu yang kuinginkan.”
Ekspresi Darius langsung membeku.
Alyssa berdiri perlahan dari sofa lalu melangkah mendekatinya.
Tatapannya dingin dan tajam.
“Aku ingin kau merasakan bagaimana hidup sengsara tanpa uang dan tanpa tempat tinggal,” ujarnya tanpa ragu.
“Kau—”
“Bukankah dulu kau juga melakukan hal yang sama padaku?” potong Alyssa tenang. “Saat aku hamil dan tidak punya siapa-siapa, kau justru sibuk bermain dengan wanita lain.”
Setiap kata yang keluar dari mulut Alyssa terasa seperti tamparan keras.
Darius mengepalkan tangan kuat-kuat.
“Alyssa, jangan terlalu kejam…”
“Kejam?” Alyssa tertawa kecil. “Dibanding semua yang kau lakukan padaku, ini belum ada apa-apanya.”
"Buang semua barang miliknya dan usir dia dari sini!" perintah Alyysa pada anak buah Lucien.
ayooooo