Tak selamanya pertemuan antara dua trauma berakhir dengan trauma baru. Bisa jadi, merekalah yang paling paham cara merawat luka satu sama lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang selama ini kita cintai sama sekali tidak pernah merasa bersalah, bahkan berani bilang kalau itu hal yang wajar dan mencoba menutupi semua luka itu dengan istilah 'Nafkah'.
DI hotel malam itu, Vandini melihat sosok suaminya sedang bersama wanita lain, dan ia hanya mendapat makian.
"Kamu nggak seharusnya ada di sini, Van. Ini bukan tempatmu."
Keterkejutannya pun berganti menjadi amarah yang membuncah. "Aku istrimu, Satura! Aku harusnya ada di mana pun kamu berada. Kamu itu yang gak seharusnya ada di tempat kayak gini!"
"Kamu nggak ngerti, Van. Ini... ini nggak ada hubungannya sama kita."
"Oh, begitu ya?" Vandini tertawa getir. "Terus ini apa? Jelasin dong! Gimana maksudnya ketemu suami sendiri lagi ngamar sama wanita lain, hahh?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampa Tanpa Dirimu
Keesokan Harinya.
Saat Vandini melangkah masuk lewat pintu depan di malam berikutnya, koper masih di tangan, dada Satura terasa sesak. Ada rasa lega bercampur sesuatu yang jauh lebih dalam yang menyergah hatinya.
Anak-anak langsung berlari melewatinya, berteriak memanggilnya sambil menerjang ke dalam pelukan ibunya.
Vandini meletakkan tasnya lalu berjongkok, memeluk mereka erat-erat. Suara tawanya menggema di ruang depan, terdengar begitu menenangkan.
Wajahnya berseri-seri, sedikit kemerahan karena campuran rasa bahagia dan kelelahan. Matanya berbinar lembut menatap buah hatinya yang menempel padanya. Dan di sana Satura berdiri, agak canggung di pinggir, tak lepas memandangnya dengan rasa kagum yang selalu muncul setiap Vandini ada di dekatnya.
Wanita itu terlihat jauh lebih bahagia daripada terakhir kali mereka bertemu, sejak kejadian itu. Vandini terlihat lebih bersinar, lebih menjadi dirinya sendiri.
Sekilas ia mendongak, tatapan mereka bertemu. Senyum Vandini sedikit memudar sekejap sebelum kembali terfokus pada anak-anak, menyibakkan rambut Cia dan mendengarkan antusias cerita Connan.
Satura tak bisa mengalihkan pandangan. Baru ia sadari betapa ia sangat merindukan kehadirannya, bukan hanya sebagai ibu dari anak-anaknya, tapi sebagai Vandini. Sosok yang saat ini mewakili segalanya yang ia inginkan dan telah ia rugikan.
Vandini terlihat begitu memikat, bahkan memukau, dengan aura percaya diri dan keanggunan yang membuatnya terpana.
Selama ini Vandini memang cantik di matanya, tapi hari ini ada kekuatan dan keyakinan diri yang terpancar begitu kuat, sesuatu yang tak bisa ia abaikan. Bukan soal penampilan saja, tapi cara ia bersikap, cara matanya berbinar saat mendengarkan anak-anak, dan kemudahannya tertawa sambil memeluk mereka.
Di detik itu, rasa sakit yang luar biasa menyayat hatinya. Kerinduan yang mendalam akan Vandini, akan kedekatan yang dulu mereka miliki, dan penyesalan yang menyiksa karena dialah yang menghancurkan semua itu.
Satura berdiri mematung. Ia melihat Vandini memeluk anak-anak, dan sadar betapa bodohnya dirinya selama ini telah meremehkan kekuatan istrinya.
Vandini menatapnya lagi, tatapan yang sulit dimengerti. Satura ingin sekali menyentuhnya, ingin bilang kalau Vandini terlihat sangat cantik malam itu dan ia sangat rindu. Tapi ia menahan diri. Ia sadar, ia tidak berhak mengganggu momen itu setelah semua sakit hati yang ia berikan.
Vandini berdiri perlahan dengan Cia yang masih menempel di badannya. Ia hanya mengangguk singkat pada Satura. Sikapnya sopan, tapi terasa sangat dingin dan teramat jauh.
Perhatian Vandini kembali tertuju pada Connan. Satura tetap diam di tempatnya. Jantungnya terasa sesak oleh rindu yang begitu dalam. Meski mereka berada di ruangan yang sama, jarak di antara keduanya terasa seperti ribuan kilometer.
...***...
Satura duduk di tepi ranjang kamar hotel. Keheningan di sekelilingnya terasa mencekam. Beban di pundaknya terasa berat sekali. Dinding kamar yang polos dan perabotan standar seolah mengepungnya. Ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit yang selama ini ia coba hindari.
Satura check-in hanya membawa tas punggung kecil. Awalnya ia berpikir ini hanya sementara, paling lama satu atau dua minggu. Ia mengacak rambutnya kasar. Rasa sesal kembali menyiksanya, lebih perih daripada yang bisa ia tanggung.
"Dulu aku pikir semua bakal baik-baik aja," gumam Satura pelan. "Aku kira kamu bakal luluh lagi, kita bisa baikan dan hidup normal kayak dulu. Tapi sekarang aku sadar, pemikiran itu bener-bener naif dan bodoh," lirihnya.
Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan buket bunga atau kata maaf. Wajah Vandini, kekecewaan di matanya, dan nada bicaranya terus menghantuinya. Vandini tidak marah, tapi ia terluka sangat dalam. Luka itu dibuat oleh Satura sendiri, menghancurkan semua yang pernah mereka bangun bersama.
Kenyataan itu menghantam Satura begitu keras. Mungkin ia sudah kehilangan Vandini untuk selamanya.
"Aku kangen banget sama kamu, Van," bisiknya. "Aku kangen tawa kamu, kangen suara anak-anak, kangen suasana rumah kita."
Ia merindukan kehidupannya yang dulu, hal yang selama ini ia anggap remeh. Kini ketakutan terbesarnya adalah menyadari bahwa ia telah menyia-nyiakan segalanya.
Pikiran itu membuat tenggorokannya tercekat dan dadanya sesak. Matanya terasa panas, tapi ia berusaha menahan air mata.
"Cowok nggak boleh nangis," bisiknya dalam hati, mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Suara ayahnya terngiang, menyuruhnya untuk tetap kuat dan tenang.
Tapi semua sia-sia. Emosinya meledak. Satura menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat. Ia berusaha meredam suaranya, merasa malu melihat dirinya hancur begini. Namun air mata tetap mengalir deras, panas dan tak terbendung.
Satura benci melihat dirinya lemah seperti ini. Air mata ini terasa mengkhianati citra tangguh yang selalu ia banggakan. Tapi ia tak sanggup menghentikannya. Segala rasa kehilangan menyeruak keluar. Ia menangis semakin keras, mencengkeram tepi ranjang seakan itu satu-satunya penolong agar ia tidak tenggelam.
Saat air mata akhirnya kering, tubuhnya terasa hampa dan sangat lelah. Ia ingin bangkit dan memperbaiki segalanya, tapi sama sekali tidak tahu harus mulai dari mana. Satura tetap duduk di sana, menatap kehampaan. Ia merasa lebih sendirian daripada sebelumnya.