seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Karena merasa kasihan , Dinda meminta bu liana untuk memaafkan mereka tapi hukuman tetap berlaku . agar mereka mempunyai efek jera . bu Liana lalu menuruti permintaan putrinya yang baik hati . kedua orang tua sasha , Santi dan heni hanya pasrah anaknya menerima hukuman . karena memang semua itu kesalahan anaknya .
*****
Di luar ruangan Rektor, suasana terasa begitu mencekam namun penuh rasa penasaran. Semua orang yang berada di koridor itu seakan menahan napas, mendengarkan suara-suara yang terdengar samar-samar dari balik pintu tertutup itu.
Angel dan Mira duduk bersandar di dinding dengan wajah pucat dan tangan saling menggenggam erat. Jantung mereka berdegup kencang bukan main.
"Mi... gimana menurut lo? Dinda gak apa-apa kan di dalem? Soalnya tadi kedengeran suara teriakan Pak Rudi yang galak banget." ucap angel dengan rasa khawatirnya.
"Gak tau nih Gel... Tapi tenang aja, kan ada Ibunya Dinda di dalem. Bu Liana kan keren banget auranya, pasti Dinda aman kok. Cuma ya gitu deh... kita deg-degan banget nungguinnya. Gak nyangka ya temen kita sebenernya anak orang kaya raya!"
Tidak jauh dari mereka, berdiri Samudra bersama kedua sahabat karibnya, Bimo dan Raka. Mereka bertiga juga ikut menunggu di sana dengan wajah yang sangat cemas dan serius.
Sejak tadi pagi saat melihat Dinda turun dari mobil mewah dan berjalan bergandengan tangan dengan wanita elegan yang ternyata adalah ibunya, pikiran Samudra sudah tidak tenang. Ia baru menyadari sepenuhnya siapa sebenarnya gadis yang selama ini ia sukai dari jauh.
Bimo menepuk bahu Samudra pelan, suaranya pelan namun terdengar kaget.
"Bro... lo sadar gak sih apa yang baru aja terjadi? Cewek yang lo taksir itu bukan cewek sembarangan bro. Itu Dinda Putri Dewantara! Keluarga Dewantara lho! Salah satu keluarga terkaya dan paling terpandang di kota ini!"
Raka mengangguk cepat, matanya masih melotot tak percaya.
"Iya bro! Gila sih! Selama ini kita pikir Dinda itu anak orang biasa yang hidup sederhana, ternyata dia itu putri raja yang lagi nyamar! Pantas aja wajahnya cantik banget dan auranya beda, ternyata emang darah biru asli!"
Samudra hanya diam menatap pintu ruangan itu. Tatapannya campur aduk antara kaget, kagum, dan sedikit gugup.
"Gue baru sadar sepenuhnya sekarang... Gue selama ini suka sama dia bukan karena harta atau keluarganya, gue suka karena dia baik, rendah hati, dan cantik. Tapi jujur... gue kaget juga ternyata latar belakang keluarganya sebesar ini." ungkap samudra .
"Tapi bro, lo liat kan tadi? Bu Liana itu baik banget sama Dinda. Berarti masalah mereka di rumah udah selesai ya? Dinda sekarang udah diakui sepenuhnya?" ujar Bimo .
Samudra: "Pasti begitu. Makanya mereka datang ke sini, buat bela Dinda dan tuntutin keadilan. Dan lo liat kan reaksi orang tua Sasha tadi pas baru turun dari mobil ? Mereka gemetar setengah mati pas tau siapa lawan mereka. Keluarga Dewantara itu pengaruhnya besar banget Bro, sampe ayahnya Sasha aja kerja di anak perusahaannya."
Mereka bertiga semakin ternganga. Bayangan Dinda di mata mereka berubah total. Dari gadis pendiam dan sederhana, kini berubah menjadi sosok putri yang sangat dihormati dan dilindungi oleh kekuatan besar.
Tiba-tiba...
CEKLEK.....
Suara pintu ruangan Rektor terbuka.
Seketika semua orang yang menunggu langsung berdiri tegak. Angel dan Mira langsung lari mendekat, begitu juga Samudra, Bimo, dan Raka yang segera melangkah maju.
Yang keluar pertama kali adalah wajah-wajah lesu dan menangis dari Sasha, Santi, dan Reni yang diikuti oleh orang tua mereka yang wajahnya terlihat muram dan malu. Mereka lewat begitu saja tanpa berani menatap mata siapa pun, kepala mereka tertunduk dalam penuh aib.
Dan di belakang mereka... munculah Liana dan Dinda.
Mereka berjalan keluar dengan wajah tenang dan damai. Masalah hari ini akhirnya selesai. Keadilan sudah ditegakkan.
Pintu ruangan Rektor baru saja tertutup, dan suasana di koridor langsung berubah menjadi hangat dan penuh haru.
Angel dan Mira tidak bisa menahan rasa penasaran dan bahagia mereka. Mereka langsung berlari kecil mendekati Dinda dan Bu Liana. Wajah mereka berseri-seri, campuran antara rasa lega dan rasa bangga yang luar biasa melihat sahabat mereka kini dilindungi sepenuhnya oleh ibunya.
"Tante Lianaaaa...!" serunya ceria namun tetap sopan. "Alhamdulillah masalahnya selesai ya Tante? Dinda gak apa-apa kan?" ujar angel
"Iya nih Tante, kami deg-degan banget tadi nungguin di luar. Tapi untung banget ada Tante yang bantu Dinda." sahut mira .
Liana tersenyum sangat manis melihat tingkah kedua gadis ini. Ia bisa melihat betapa tulusnya persahabatan mereka dengan putrinya.
Liana mengusap kepala Angel dan Mira bergantian.
"Iya sayang, masalahnya sudah selesai kok. Terima kasih ya sudah selalu menemani dan menjaga Dinda selama ini. Mama sangat berterima kasih Dinda punya punya teman baik seperti kalian."
Cieee... Dinda tersipu malu mendengar godaan halus ibunya. Angel dan Mira pun langsung salah tingkah dan tertawa renyah.
Di belakang mereka, Samudra, Bimo, dan Raka juga berjalan mendekat dengan langkah gagah namun tetap sopan. Samudra tampak sedikit lebih gugup dari biasanya. Ia menatap Liana dengan penuh hormat.
Samudra membungkuk sedikit sopan.
"Selamat sore, Tante. Saya Samudra Lesmana, teman sekampus Dinda."
Liana menatap pemuda tampan di depannya dengan tatapan menilai. Ia sudah mendengar cerita dari Dinda dan Leonardo kalau ada anak baik yang sering membela Dinda. Wajah Samudra yang tegas, tatapan matanya yang jernih, dan sikapnya yang santun langsung membuat Liana merasa suka dan yakin.
"Oh jadi ini Samudra ya? Mama sering dengar nama kamu. Terima kasih banyak ya Nak sudah selalu melindungi Dinda saat Mama tidak ada di sisinya. Kamu anak yang baik."
Mendapat pujian langsung dari ibunya Dinda, wajah Samudra langsung memerah.
"Sama-sama Tante... itu memang sudah kewajiban saya sebagai teman, dan... saya akan selalu jaga Dinda."
Bimo dan Raka di belakangnya hanya menyenggol bahu satu sama lain sambil tersenyum menggoda. 'Gaspol bro! Dapat restu nih!'
Suasana menjadi sangat akrab dan hangat. Mereka semua berjalan bersama menuju lapangan utama kampus, di mana seluruh mahasiswa sudah berkumpul mendengar adanya pengumuman penting.
Di tengah lapangan...
Suasana menjadi hening total. Di atas panggung kecil yang disiapkan, berdiri Sasha, Santi, dan Reni dengan wajah pucat, mata bengkak, dan kepala tertunduk dalam penuh rasa malu.
Di tangan mereka masing-masing memegang mikrofon. Di hadapan ribuan pasang mata, mereka harus melaksanakan hukuman yang sudah diputuskan: meminta maaf secara terbuka.
Sasha mengangkat tangannya dengan gemetar, mendekatkan mulutnya ke mikrofon. Suaranya terdengar parau dan kecil, namun cukup terdengar ke seluruh penjuru lapangan karena pengeras suara.
"S-Saya... Saya Sasha, mewakili teman-teman saya. Kami ingin meminta maaf kepada seluruh teman-teman mahasiswa, khususnya kepada Dinda dan teman-teman lain yang sudah kami bully, kami hina, dan kami fitnah selama ini."
Air mata Sasha jatuh lagi.
"Kami sadar perbuatan kami sangat jahat dan salah. Kami sombong, kami iri, dan kami merasa paling benar. Padahal kami tidak ada apa-apanya. Kami minta maaf karena sudah membuat suasana kampus tidak nyaman. Tolong maafkan kesalahan kami..."
Diikuti oleh Santi dan Reni yang juga menangis dan mengucapkan hal yang sama.
"Maafkan kami... kami janji tidak akan mengulanginya lagi." ucap Santi dengan suara yang bergetar .
"Tolong terima permintaan maaf kami..." sela Reni.
Seluruh mahasiswa yang melihat hanya diam. Tidak ada yang mengejek, tapi suasana penuh dengan rasa haru dan pelajaran berharga. Bahwa kesombongan pada akhirnya akan membawa kehinaan, dan kebaikan akan selalu menang.
Dinda yang berdiri di barisan depan, diapit oleh ibunya, Angel, Mira, dan Samudra, hanya bisa mengangguk pelan. Ia memaafkan mereka dengan tulus. Hatinya terasa sangat lega, seperti beban berat yang baru saja diangkat dari pundaknya.
Liana memeluk bahu Dinda erat.
"Sudah selesai Sayang... Mulai sekarang, tidak ada yang berani menyakiti kamu lagi. Kamu putri Mama, dan kamu berhak bahagia."
...----------------...