Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Kesadaran baru yang menghantam Joan tidak serta-merta melenyapkan ancaman fisik yang mengepung mereka. Di dalam gua akar kuno, suasana semakin mencekam saat getaran terasa merambat melalui dinding-dinding tanah.
Di langit-langit gua, butiran tanah kering mulai berjatuhan yang menandakan bahwa patroli berat Unit H.A.R.T dengan kendaraan lapis baja mereka sedang menyisir area tepat di atas kepala mereka.
"Kita tidak bisa bertahan di sini lebih lama lagi," ujar Riven, matanya melirik ke arah celah akar tempat cahaya malam menyusup. "Sensor termal mereka akan segera mendeteksi fluktuasi panas dari energi gabunganmu dan Lucian, Joan. Kita harus bergerak ke titik evakuasi sekunder di batas lembah."
Joan mengangguk lemah, namun tatapannya tertuju pada Jessy. Gadis itu tampak lemas dan wajahnya pucat karena kelelahan emosional setelah menyaksikan separuh dari jiwa aslinya mengamuk di stratosfer.
"Riven, bawa sisa kawanan melewati jalur bawah tanah menuju lereng barat," perintah Joan. "Aku dan Jessy akan memancing perhatian mereka ke arah sebaliknya."
"Kamu gila?" Riven mengerutkan kening.
"Bahumu baru saja mendingin dari racun Ag-V. Kamu belum siap untuk konfrontasi langsung."
"Ini bukan tentang konfrontasi, Riven," potong Joan sambil menatap sisa peluru perak nano yang masih mengendap samar di balik kulit bahunya. "Ada satu tempat yang harus aku kunjungi. Tempat di mana semua ini bermula bagi kita di era ini. Aku perlu memastikan sesuatu."
Tempat itu adalah kabin kayu tua di lembah tersembunyi perlindungan tempat Joan merawat Selena saat gadis itu masih mengira dirinya hanyalah seorang manusia biasa yang malang.
Ketika Joan dan Jessy tiba di tepi tebing yang menghadap ke lembah tersebut, pemandangan yang menyambut mereka membuat jantung Joan mencelos.
Lembah itu tidak lagi sunyi dan damai. Lembah Pembuangan sekarang bercampur dengan asap hitam tebal yang membubung ke angkasa.
Unit H.A.R.T telah menemukan kabin tersebut. Tiga helikopter serbu taktis melayang rendah di atas kanopi pepohonan, lampu sorot mereka yang berwarna putih keperakan menyapu tanah, dan menerangi puluhan prajurit berzirah polimer yang mengelilingi bangunan kayu itu.
Di bawah perintah Jenderal Reed yang disinkronkan dari pusat komando, tempat itu dianggap sebagai sarang utama atau titik nol dari penyebaran infeksi Darah Bulan.
"Mereka menghancurkannya," bisik Jessy, tangannya menutup mulut dan menahan tangis yang hendak pecah.
Joan mematung di balik batang pohon besar. Di depan matanya, seorang komandan lapangan Unit H.A.R.T melemparkan sebuah tabung termit bakar ke arah jendela depan kabin. Dalam hitungan detik, api berkobar dengan ganas dan melahap dinding-dinding kayu yang pernah Joan bangun dengan kedua tangannya sendiri.
Kursi goyang tempat Selena biasa duduk merenung, meja makan tempat mereka berbagi keheningan fana hingga sisa-sisa pakaian rajut yang pernah menutupi tubuh rapuh Selena semuanya terbakar dan berubah menjadi bara merah yang meliuk-liuk di udara malam.
Penghancuran kabin ini bukan sekadar tindakan taktis militer untuk memusnahkan bukti. Bagi Joan, ini adalah simbolisme yang mematikan. Kedamaian singkat yang pernah mereka miliki, kepura-puraan bahwa mereka bisa hidup sebagai manusia biasa telah hangus tanpa sisa.
Manusia telah membakar jembatan terakhir yang menghubungkan masa lalu Selena dengan bumi.
"Lihat itu, Joan!" sebuah bisikan dingin mendadak menggema dari dalam batin Joan.
Itu adalah suara Lucian dari tabung kesadaran yang terhubung dengan sistem sarafnya.
"Manusiamu membakar ingatan mereka sendiri tentangnya. Mereka tidak menginginkan kedamaian. Mereka ingin menghapus setiap sudut tempat dia pernah bernapas."
Joan menggertakkan taringnya dan menahan gema amarah Lucian yang mencoba memprovokasi insting liarnya.
"Diam, Lucian!"
Di saat api sedang melahap habis fondasi kabin, sesuatu yang aneh terjadi di langit tepat di atas lembah. Awan merah yang menggantung mendadak berputar dan membentuk pusaran-pusaran udara yang dingin.
Angin malam bertiup begitu kencang hingga memadamkan sebagian kobaran api termit secara paksa dan menyisakan kerangka kabin yang menghitam dan berasap.
Sesosok siluet anggun perlahan turun dari kegelapan langit yang diselimuti oleh pendaran cahaya perak yang redup namun mematikan.
Para prajurit Unit H.A.R.T langsung bersiaga dan senapan-senapan pembawa gas Ag-V diarahkan serentak ke arah sang dewi.
"Target Omega turun! Tembak! Lepaskan hulu ledak sekunder!" teriak sang komandan.
Namun, Selena bahkan tidak menoleh ke arah mereka. Mata peraknya yang hampa menatap lurus ke arah sisa-sisa kabin yang telah runtuh menjadi abu. Wajah simetrisnya yang indah tampak mengeras.
Pembersihan memori global yang ia lakukan di Stuttgart dan kota-kota lain adalah usahanya untuk melupakan, namun melihat manusia membakar tempat ini dengan kebencian membuat sesuatu di dalam sisa kesadaran ilahinya terusik.
"Kalian merusak tempat ini sebelum aku sempat menghapusnya," suara Selena bergema, dingin tanpa riak emosi, namun tekanan energinya membuat dua helikopter taktis di udara kehilangan kendali sistem navigasinya dan terhempas ke lereng bukit.
Dengan satu lambaian tangan kecil, Selena melepaskan gelombang kejut perak yang menyapu seluruh lembah. Pasukan Unit H.A.R.T terlempar puluhan meter, zirah polimer mereka retak, dan kendaraan lapis baja mereka ringsek seolah dihantam oleh palu tak kasat mata.
Mereka yang selamat merangkak mundur dalam ketakutan dan menyadari bahwa senjata kimia tercanggih mereka pun tidak berarti apa-apa saat sang Pencipta memutuskan untuk mengintervensi secara langsung.
Setelah lembah itu kembali sunyi, Selena melangkah di atas abu kabit yang masih panas. Kakinya yang telanjang tidak terluka oleh bara api. Ia membungkuk, memungut sebuah benda yang setengah hangus dari tanah, sebuah cangkir keramik retak yang dulu sering ia gunakan untuk minum teh di pagi hari.
Joan yang memperhatikan dari tepi tebing tidak bisa lagi menahan diri. Ia melangkah keluar dari kegelapan semak-semak dan membiarkan kehadirannya disadari oleh Selena.
Jessy mengikuti di belakangnya dan memancarkan aura kemanusiaan yang hangat di tengah dinginnya abu pembakaran.
"Selena," panggil Joan.
Selena berhenti. Ia tidak berbalik, namun cangkir keramik di tangannya perlahan hancur menjadi debu perak di sela jemarinya.
"Tempat ini sudah mati, Joan," ucap Selena tanpa menoleh. "Sama seperti manusia yang mencoba mempertahankannya. Kebencian mereka telah membakar sisa-sisa rumah yang pernah kamu buat."
"Mereka bertindak karena ketakutan yang kamu lepaskan, Selena!" seru Joan, ia melangkah setapak demi setapak menuruni lereng tebing.
"Aku tahu apa yang terjadi ribuan tahun lalu. Aku melihat pengkhianatan Dewan pertama. Aku tahu kenapa kamu menghukum kami dengan benang perak, tapi membakar dunia ini tidak akan menyembuhkan lukamu!"
Untuk pertama kalinya, Selena membalikkan tubuhnya. Tatapan mata peraknya beradu langsung dengan mata cokelat madu Joan yang dialiri pendar merah antivirus.
Di samping Joan, Selena melihat Jessy berdiri dengan air mata yang mengalir.
Senyum tipis yang dingin kembali terukir di wajah Selena, namun ada setitik keretakan di sudut mata peraknya.
"Rumah kita sudah menjadi abu, Alpha dan bersamanya, berakhir pula masa di mana aku harus peduli pada rasa sakitmu."
Selena kembali melesat ke langit, meninggalkan lembah kabin yang hancur total. Joan berlutut di atas tanah yang menghitam sembari mencengkeram abu hangat di bawah kakinya.