Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Jarum jam menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Asya terbangun dari tidurnya. Ia melihat Rara yang masih tertidur. Asya bergegas ke kamar mandi pesantren untuk membersihkan diri dan berwudhu.
Setelah selesai bersiap-siap, Asya bergegas ke masjid pesantren untuk melaksanakan sholat tahajud. Tak lupa juga membawa mukenanya. Sudah menjadi kebiasaan Asya yang sholat tahajud lebih dulu dari teman-temannya.
Asya memulai sholat tahajud dengan begitu khusyu' dan tak lupa memanjatkan doa kepada Allah di sepertiga malam. Salah satu waktu mustajab untuk berdoa.
Asya mengerutkan keningnya, samar-samar ia mendengarkan lantunan orang yang sedang mengaji. Karena penasaran, Asya mengintip seseorang itu di balik tirai penyekat yang memisahkan tempat sholat bagi wanita dan laki-laki.
Terlihat seorang pria yang sedang mengaji. Suaranya yang begitu merdu membuat siapa saja yang mendengarnya pasti langsung jatuh cinta.
Asya hanya cuek saja melihat pria itu. Lalu kemudian ia memutuskan untuk kembali ke asrama karena memang waktu subuh yang masih lama. Saat di perjalanan, ia dikejutkan dengan seseorang yang memanggil namanya.
"Assalamualaikum Asya," salam gus Kafka yang sedang berjalan hampir menyamai langkah Asya
"Waalaikumsalam," jawab Asya cuek
"Kamu sering sholat tahajud di masjid?," tanya gus Kafka basa-basi
"Iya," jawab Asya enteng
"Udah lama mondok di sini?," tanya gus Kafka lagi
"Lumayan," ucap Asya singkat
"Setelah lulus aliyah, kamu mau lanjut kuliah di mana?," tanya gus Kafka kepo
"Belum tau," jawab Asya malas
"Loh kok belum ada rencana, bukannya-," ucap gus Kafka terpotong karena Asya langsung menyela
"Jangan sibuk mengurusi hidup urusan orang lain gus," ucap Asya kesal
"Saya hanya ingin tau," ucap gus Kafka sambil tersenyum
"Tapi saya tidak ingin memberitahu," sahut Asya kesal
"Ternyata nggak salah," ucap gus Kafka ambigu
"Maksudnya?," tanya Asya bingung
"Kenapa? Kamu penasaran ya sama perkataan saya?," tanya gus Kafka sambil menatap jail Asya
Asya hanya memutar bola matanya malas. Lalu dengan cepat ia melangkahkan kakinya untuk menjauh dari gus Kafka. Asya sangat malas jika harus interaksi dengan gusnya ini.
"Asya," panggil gus Kafka dari belakang Asya
"Hmm," Asya hanya berdehem
"I am amazed at you," ucap gus Kafka
Asya tertegun mendengar ucapan gus Kafka.
"Saya duluan ya. Assalamualaikum," ucap gus Kafka lalu berjalan menuju ndalem
"Waalaikumsalam," jawab Asya sambil menatap kepergian gus Kafka
Asya berusaha cuek dan tak memikirkan ucapan gus Kafka. Ia berjalan cepat ke asramanya dan harus membangunkan Rara agar sholat tahajud.
Saat sampai di asrama, Asya melihat Rara yang baru saja terbangun. Asya berjalan untuk meletakkan mukenanya dan duduk di pinggiran kasurnya.
"Kamu baru dari masjid Sya?," tanya Rara yang juga terduduk di kasur
"Iya Ra," jawab Asya singkat
"Kenapa muka kamu sepet kayak gitu?," tanya Rara sambil menatap heran ke Asya
"Nggak papa," ucap Asya santai
"Cewek kalo udah bilang kek gitu pasti ada apa-apanya," ucap Rara berdecak
"Udah jangan bawel. Lebih baik kamu mandi sana," ucap Asya
"Masih jam 03.15 Sya," ucap Rara santai
"Kamu belum sholat tahajud tau Ra," ucap Asya geram
"Iya-iya, aku mandi sekarang," ucap Rara lalu beranjak ke kamar mandi pesantren
Skip
Kelas 12 IPA-1 terlihat begitu ramai. Bel masuk sudah berbunyi tapi tak ada tanda-tanda guru mau masuk. Asya melipat kedua tangannya di atas meja. Ia memilih tidur daripada ikut temannya bergosip ria.
Tak lama kemudian kelas menjadi hening. Asya langsung bangun karena gurunya yang sudah memasuki kelas.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Ustadzah Arum
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab seluruh siswi serempak
"Sebelumnya Ustadzah minta maaf karena sekarang tidak bisa mengajar. Tapi sebagai gantinya kalian kerjakan soal fisika hal 70-72 dan dikumpulkan hari ini juga," ucap Ustadzah Arum menjelaskan
"Ustadzah mau kemana?," tanya Vanya
"Ada urusan penting. Kalian kerjakan baik-baik ya dan nanti kalo sudah selesai bisa dikumpulkan ke Asya," ucap Ustadzah Arum sambil tersenyum
"Naam Ustadzah," jawab seluruh siswi
"Ustadzah pamit dulu, assalamualaikum," ucap Ustadzah Arum lalu keluar kelas
"Waalaikumsalam," jawab seluruh siswi
Mereka langsung mengerjakan soal yang diberikan Ustadzah Arum. Mengerjakan soal dengan begitu serius. Karena memang kelas ini terkenal sebagai kelas yang disiplin dan termasuk kelas unggulan.
Tet..tet..tet
Bel pulang sekolah berbunyi. Mereka langsung mengumpulkan tugasnya ke Asya. Sebelum keluar, mereka berdoa bersama dulu.
Asya dan Rara berjalan beriringan menuju ruang guru dengan membawa buku tugas temannya.
"Hari jumat ikut aku yuk," ajak Asya kepada Rara
"Memang mau kemana Sya?," jawab Rara bingung
"Keluar pondok Ra. Aku mau beli gamis nih soalnya kan udah banyak yang kekecilan," ucap Asya terkekeh
"Ayo, itung-itung buat refreshing," ucap Rara antusias
"Semangat banget kamu, Ra," ucap Asya sambil menaikkan alisnya
"Biasalah, mumpung hari free dan dibolehin keluar pondok," ucap Rara cengengesan membuat Asya menggelengkan kepalanya
_Ruang guru_
"Assalamualaikum," salam Asya dan Rara di ambang pintu
"Waalaikumsalam," jawab semua guru di dalam
"Asya? Rara? Ayo silakan masuk," ucap Ustadz Malik mempersilahkan keduanya
"Iya Ustadz," jawab mereka serempak lalu masuk ke ruang guru
"Itu tugas yang dari Ustadzah Arum ya?," tanya Ustadz Malik memastikan
"Iya Ustadz, tadi saya disuruh meletakkan ini di mejanya," jawab Asya sambil tersenyum
'Manis sekali senyumnya' batin seseorang
"Ya sudah, silakan kalian letakkan saja," ucap Ustadz Malik
Asya dan Rara pun meletakkan buku tugas itu di meja Ustadzah Arum. Dan kebetulan meja Ustadzah Arum bersebrangan dengan meja gus Kafka. Terlihat dari tadi gus Kafka memperhatikan Asya tanpa sepengetahuan siapapun. Asya yang diperhatikan hanya cuek seolah tak ada kejadian apapun.
Setelah selesai, Asya dan Rara berpamitan keluar dari ruang guru. Mereka berjalan menuju asrama.
"Sya," panggil Rara
"Apa," jawab Asya singkat
"Kayaknya gus Kafka suka deh sama kamu," celetuk Rara sambil tersenyum
"Ngomong apa sih kamu, Ra? Jangan ngaco deh," ucap Asya mengelak
"Beneran tau Sya. Aku tadi nggak sengaja lihat gus Kafka yang terus memperhatikan kamu diam-diam," ucap Rara sambil menatap jail Asya
"Sebenarnya aku tadi sadar jika diperhatikan. Tapi aku nggak mau kepedean Ra," ucap Asya santai
"Cie disukai sama gus Kafka," goda Rara membuat Asya memutar bola matanya malas
"Tapi aku nggak suka sama dia," ucap Asya enteng
'Segitu nggak sukanya kamu sama aku? Tapi aku akan berjuang memenangkan hatimu' batin gus Kafka lalu berjalan pergi meninggalkan dua gadis yang berjalan di koridor madrasah itu
"Kenapa? Kalian itu cocok tau. Sama-sama keturunan kyai dan aku yakin kalian akan menjadi pasangan ideal nantinya," ucap Rara sambil tersenyum lebar
"Ih, Rara jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Nanti ada yang denger," ucap Asya memperingati
"Lagian kamu kenapa sih kok menyembunyikan identitas kamu yang seorang Ning?," tanya Rara heran
"Karena aku ingin semua orang mengenal apa adanya diriku. Bukan karena aku putri seorang kyai," jawab Asya sambil tersenyum
"Masya Allah, kamu terlalu merendah," ucap Rara berdecak kagum
"Kita semua itu sama di mata Allah. Jadi stop bahas tentang pangkat," ucap Asya
"Okelah kalau begitu," ucap Rara terkekeh
Mereka pun melanjutkan jalannya yang sempat tertunda karena obrolan itu.