Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 Selene Menyusun Fitnah Baru
Malam turun perlahan di mansion keluarga Moretti.
Namun tidak ada ketenangan di dalam rumah besar itu.
Udara terasa dingin.
Tegang.
Seolah sesuatu sedang menunggu untuk meledak.
Di ruang keluarga utama, Seraphina duduk diam sambil memegang gelas wine yang bahkan belum disentuh sejak tadi.
Tatapannya kosong menatap layar televisi besar di depan.
Dan lagi-lagi…
nama Elara muncul.
“Pewaris muda Vasiliev berhasil menarik investor baru dari Eropa.”
“Langkah audit internal Elara Vasiliev dianggap meningkatkan kepercayaan pasar.”
“Beberapa analis memprediksi Vasiliev Group akan melampaui Moretti Holdings tahun ini.”
BRAK!
Remote langsung dilempar ke layar.
Suara benturan menggema keras.
Pelayan di sudut ruangan langsung menunduk ketakutan.
Seraphina berdiri dengan napas berat.
“Cukup…”
Matanya dipenuhi amarah.
“CUKUP!”
Seluruh rumah langsung sunyi.
Tak ada satu pun yang berani bergerak.
Di lantai dua mansion, Selene berdiri diam di balik pagar balkon.
Ia melihat semuanya.
Mendengar semuanya.
Dan perlahan…
sudut bibirnya terangkat tipis.
Karena untuk pertama kalinya…
ibunya mulai kehilangan kendali.
Dan itu artinya—
mereka benar-benar dalam bahaya.
Selene berjalan pelan kembali ke kamarnya.
Pintu tertutup rapat di belakangnya.
Begitu sendiri, ekspresi wajahnya langsung berubah.
Tidak ada lagi kelembutan palsu.
Tidak ada lagi senyum manis.
Yang tersisa hanya kebencian.
Murni.
Pekat.
Beracun.
Ia membuka tablet di atas meja.
Foto Elara memenuhi layar.
Artikel bisnis.
Wawancara investor.
Dan komentar netizen yang membuat rahangnya mengeras.
“Elara terlalu classy untuk keluarga Moretti.”
“Damian pasti menyesal.”
“Sekarang baru kelihatan siapa wanita berkualitas sebenarnya.”
CRASH!
Selene menyapu semua kosmetik di meja hingga jatuh berserakan ke lantai.
Dadanya naik turun.
“Kenapa…”
suaranya bergetar marah,
“…kenapa semuanya selalu tentang dia?!”
Dulu Elara hanyalah bayangan.
Seseorang yang bisa ia hina kapan saja.
Seseorang yang selalu diam.
Selalu mengalah.
Selalu terlihat kecil.
Namun sekarang?
Wanita itu berubah menjadi pusat perhatian semua orang.
Dan yang paling membuat Selene tidak tahan—
Damian mulai berubah sejak Elara pergi.
Ia masih ingat jelas malam sebelumnya.
Damian pulang larut.
Wajahnya dingin.
Dan ketika Selene mencoba mendekat—
pria itu bahkan tidak benar-benar melihatnya.
Seolah pikirannya ada di tempat lain.
Atau lebih tepatnya…
pada orang lain.
Selene menggertakkan giginya.
“Tidak.”
Tatapannya berubah tajam.
“Aku tidak akan kalah dari wanita seperti dia.”
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Pesan masuk dari seseorang.
“Aku punya informasi tentang audit internal Vasiliev.”
Mata Selene langsung menyipit.
Beberapa detik kemudian, panggilan video tersambung.
Wajah seorang pria paruh baya muncul di layar.
Direktur investasi yang baru saja dipaksa mundur oleh Elara.
“Aku dengar kau ingin balas dendam,” kata Selene santai.
Pria itu tersenyum sinis.
“Dan aku dengar kau juga.”
Selene duduk perlahan.
“Bicara.”
Pria itu menyalakan rokok.
“Asal kau tahu, Elara sedang membersihkan terlalu banyak orang.”
“Lalu?”
“Orang-orang mulai takut.”
Selene tersenyum kecil.
“Takut adalah awal yang bagus untuk pengkhianatan.”
Pria itu tertawa pelan.
“Kau benar-benar mirip ibumu.”
Selene tidak peduli.
Yang ia pedulikan hanya satu hal:
menjatuhkan Elara.
Dan kali ini…
ia tidak akan gagal.
“Aku butuh sesuatu yang bisa menghancurkan reputasinya,” katanya langsung.
Pria itu bersandar santai.
“Kalau hanya rumor biasa, itu tidak akan cukup.”
“Jadi?”
“Kita buat sesuatu yang lebih besar.”
Tatapan Selene berubah tertarik.
Pria itu tersenyum tipis.
“Kita buat semua orang percaya kalau Elara menggunakan posisinya untuk manipulasi perusahaan.”
Sunyi beberapa detik.
Lalu perlahan…
Selene tersenyum.
Senyum yang dingin.
Berbahaya.
“Aku suka ide itu.”
Keesokan paginya, Vasiliev Group tetap berjalan sibuk seperti biasa.
Elara baru saja selesai rapat dengan tim audit ketika Viktor menghampiri dengan wajah serius.
“Ada masalah.”
Elara menutup map.
“Seberapa besar?”
“Media mulai menyebarkan rumor.”
Tatapan Elara langsung berubah tajam.
“Rumor apa?”
Viktor menyerahkan tablet.
Headline berita muncul besar di layar:
PEWARIS VASILIEV DIDUGA MEMANIPULASI AUDIT INTERNAL UNTUK MENYINGKIRKAN DIREKSI LAMA
Ruangan langsung terasa dingin.
Elara membaca cepat tanpa ekspresi.
Namun Viktor tahu…
semakin diam Elara, semakin berbahaya situasinya.
“Media bergerak terlalu cepat,” katanya pelan.
“Ini terorganisir.”
Elara mengangguk kecil.
“Tentu saja.”
Berita lain mulai bermunculan.
“Apakah Elara benar-benar ingin membersihkan korupsi?”
“Atau hanya menyingkirkan orang-orang yang tidak mendukungnya?”
“Perebutan kekuasaan dalam keluarga Vasiliev mulai memanas.”
Dalam hitungan jam—
nama Elara kembali menjadi bahan pembicaraan seluruh kota.
Di sisi lain, Selene duduk santai di café mewah sambil membaca berita itu.
Sudut bibirnya terus terangkat.
“Akhirnya…”
Ia menyeruput kopinya perlahan.
“…giliranmu merasakan dihancurkan.”
Namun senyumnya perlahan memudar ketika seseorang duduk di depannya tanpa izin.
Damian.
Pria itu menatap layar tabletnya dingin.
“Kau melakukan ini?”
Selene membeku sesaat.
Namun cepat tersenyum manis.
“Aku tidak tahu apa maksudmu.”
Damian menatapnya tajam.
“Jangan bohong padaku.”
Untuk pertama kalinya…
Selene melihat sesuatu yang berbeda di mata Damian.
Bukan sekadar dingin.
Tapi kemarahan.
“Aku hanya membaca berita.”
“Dan kebetulan semua media yang menyebarkan rumor itu punya hubungan dengan teman-temanmu?”
Selene tertawa kecil.
“Kau membelanya lagi?”
Damian diam.
Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Wajah Selene perlahan berubah.
“Jadi benar.”
“Apa?”
“Kau masih mencintainya.”
Kalimat itu keluar seperti racun.
Damian menatapnya beberapa detik sebelum menjawab,
“Aku tidak pernah berhenti.”
Sunyi.
Dunia Selene seperti berhenti sesaat.
Tangannya perlahan mengepal di bawah meja.
Namun ia tetap tersenyum.
“Sayang sekali.”
Tatapannya tajam.
“Wanita itu sudah tidak membutuhkanmu lagi.”
Damian berdiri perlahan.
“Mungkin.”
Ia menatap Selene dingin.
“Tapi itu tidak memberimu hak untuk menghancurkannya.”
Lalu pergi begitu saja.
Meninggalkan Selene dengan wajah yang mulai retak oleh amarah.
BRAK!
Begitu Damian pergi, gelas kopi langsung dihantam ke lantai.
Orang-orang café menoleh kaget.
Namun Selene tidak peduli.
Napasnya memburu.
Matanya memerah karena marah.
“Kenapa…”
suaranya bergetar,
“…kenapa dia selalu memilih Elara?!”
Sementara itu di Vasiliev Group, suasana mulai kacau.
Beberapa investor meminta penjelasan.
Media terus menekan.
Dan beberapa anggota direksi mulai panik.
Harold masuk ke ruang kerja Elara dengan wajah serius.
“Kalau ini terus berlanjut, saham bisa turun.”
Elara berdiri di depan jendela besar tanpa bergerak.
“Biarkan.”
Harold mengernyit.
“Maaf?”
“Orang yang panik biasanya menunjukkan posisi mereka lebih cepat.”
Tatapannya dingin menatap kota.
“Dan aku ingin melihat siapa saja yang mulai bergerak.”
Viktor masuk tergesa-gesa.
“Kita menemukan sesuatu.”
Elara menoleh.
“Apa?”
“Beberapa akun media menerima transfer anonim.”
“Dari?”
“Perusahaan cangkang.”
Viktor berhenti sejenak.
“Yang terhubung ke keluarga Moretti.”
Ruangan langsung sunyi.
Harold langsung mengumpat pelan.
Namun Elara justru terlihat terlalu tenang.
Dan itu membuat Viktor sedikit khawatir.
“Apa yang akan Anda lakukan?”
Elara berjalan perlahan menuju meja kerjanya.
Lalu membuka satu dokumen tipis.
“Kalau mereka ingin bermain kotor…”
ia mengangkat pandangan,
“…maka kali ini aku yang menentukan akhirnya.”
Malam itu, sebuah berita baru tiba-tiba muncul di seluruh media bisnis.
Bukan rumor.
Bukan gosip anonim.
Tapi konferensi pers resmi dari Vasiliev Group.
Dan nama yang muncul sebagai pembicara utama membuat semua orang terkejut:
Elara Vasiliev.
Di mansion Moretti, Selene langsung berdiri dari sofa saat melihat siaran langsung itu.
“Apa yang dia lakukan?”
Seraphina juga menatap layar dengan tajam.
Dan di layar televisi—
Elara berjalan masuk ke ruang konferensi dengan tenang.
Elegant.
Dingin.
Tak terlihat sedikit pun panik.
Ratusan kamera langsung menyala.
Pertanyaan wartawan mulai terdengar bersamaan.
Namun Elara hanya berdiri diam di podium beberapa detik.
Menunggu.
Sampai seluruh ruangan sunyi.
Lalu…
ia membuka map tipis di tangannya.
Tatapannya lurus ke depan.
Dan kalimat pertama yang keluar dari bibirnya langsung membuat seluruh kota membeku.
“Hari ini… saya akan menunjukkan siapa sebenarnya yang mencoba memanipulasi publik.”
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄