NovelToon NovelToon
I'M An Imperfect Mom

I'M An Imperfect Mom

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:891
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.

Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?

Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: ANTARA DENDAM DAN KESELAMATAN

Bab 29: Antara Dendam dan Keselamatan

00:10... 00:09... 00:08...

Angka digital merah di dada Bimo berkedip layaknya detak jantung kematian. Keringat dingin mengalir deras dari pelipis Aruna, jatuh menetes ke atas panel sirkuit yang rumit. Di telinganya, suara Bambang terdengar seperti rentetan senapan mesin, cepat dan penuh kepanikan.

"Mbak Bos! Potong kabel warna biru yang ada serat peraknya! Jangan yang biru polos! Kalau salah, kita semua jadi remah-remah rengginang!" teriak Bambang dari pusat komando.

Tangan Aruna yang memegang tang pemotong bergetar hebat. Di depannya, Bimo menatapnya dengan tatapan memohon—sebuah tatapan yang dulu sangat Aruna benci karena penuh kepalsuan, tapi kini terlihat begitu tulus dalam keputusasaan.

"Aruna... lari..." bisik Bimo lemah. Suaranya terdengar seperti gesekan amplas pada kayu tua.

"Diam kau, Bimo!" bentak Aruna. "Aku tidak menyelamatkanmu karena aku peduli padamu! Aku menyelamatkanmu karena kau adalah satu-satunya bukti hidup atas kebiadaban kakekku!"

00:05... 00:04...

KLIK!

Aruna memotong kabel perak itu di detik terakhir. Layar digital itu mendadak mati. Suara denging frekuensi tinggi yang tadi memenuhi ruangan seketika lenyap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Aruna terduduk lemas di lantai yang dingin, napasnya memburu. Ia hampir saja kehilangan nyawanya demi pria yang telah menghancurkan hidupnya.

"Mbak Bos? Masih hidup kan? Tolong jawab, Mbak! Saya sudah siap-siap mau hapus history browser saya kalau-kalau kalian meledak!" suara Bambang terdengar cemas.

"Kami masih hidup, Bambang," jawab Aruna dengan suara parau. "Tapi kita harus segera keluar. Prabawa pasti tahu kalau bomnya gagal meledak."

"Benar," Adrian segera mendekat, memotong sisa ikatan Bimo pada kursi elektrik itu. "Haris, bantu aku memapah Bimo. Dia terlalu lemah untuk jalan sendiri.

Mereka bergerak cepat keluar dari ruangan Sub-Level 4. Namun, baru saja mereka sampai di lorong utama, lampu darurat berwarna merah menyala di seluruh fasilitas. Suara sirine yang memekakkan telinga meraung-raung.

*Mbak Bos, gawat! Nirwana baru saja mengirim unit elit mereka dari barak luar!" Bambang berteriak panik. "Mereka tidak pakai gerbang depan, mereka turun pakai helikopter langsung ke atap! Kalian terkepung di dalam!"

"Haris, bawa Bimo lewat jalur evakuasi bawah!" perintah Adrian sambil melepaskan tembakan ke arah dua penjaga yang baru muncul dari tikungan. "Aruna, tetap di belakangku!"

Pertempuran pecah di lorong sempit yang steril itu. Pasukan Nirwana yang baru datang bergerak dengan sangat profesional. Mereka menggunakan perisai balistik dan granat cahaya. Cahaya putih menyilaukan meledak di depan Aruna, membuatnya kehilangan keseimbangan sejenak.

DUARR! DUARR!

"Aruna, merunduk!" Adrian menarik Aruna ke dalam sebuah ruangan laboratorium di sisi kiri.

Di dalam laboratorium itu, Aruna melihat deretan tabung kaca besar berisi cairan hijau. Di dalamnya, terdapat janin-janin yang tampaknya sedang dikembangkan secara buatan. Aruna mual melihatnya. Inilah "Project Nest" yang sebenarnya—eksperimen gila Nirwana untuk menciptakan manusia-manusia super yang bisa dikendalikan sepenuhnya.

"Mereka bukan sekadar sindikat, Adrian," bisik Aruna sambil menatap tabung-tabung itu. "Mereka mencoba bermain menjadi Tuhan."

"Kita tidak punya waktu untuk belajar biologi sekarang, Aruna!" Adrian memeriksa sisa amunisinya. "Kita terjepit. Pintu keluar utama dijaga oleh penembak jitu, dan lorong belakang sudah penuh asap gas air mata."

Tiba-tiba, Bimo yang tadinya lemas di bahu Haris, mulai meronta. Dia menunjuk ke arah sebuah lemari besi di pojok laboratorium. "Kunci... kunci darurat... di sana..."

Haris segera mendobrak lemari itu. Di dalamnya terdapat sebuah koper hitam dengan simbol Adhigana yang sudah dicoret dengan tinta merah.

"Mbak Bos! Buka koper itu!" seru Bambang. "Saya baru saja meretas manifes laboratorium ini. Di dalam koper itu ada alat kontrol untuk seluruh sistem gas saraf di gedung ini. Kalau kalian bisa mengaktifkannya, semua orang di lorong itu akan pingsan dalam sepuluh detik—kecuali kalian yang pakai masker!"

Aruna segera membuka koper itu. Di dalamnya terdapat sebuah panel kontrol dengan satu tombol besar berwarna kuning. Tanpa ragu, Aruna menekan tombol tersebut.

Desis suara gas terdengar dari lubang-lubang ventilasi di sepanjang lorong. Dalam sekejap, pasukan Nirwana yang tadi merangsek maju mulai berjatuhan satu per satu. Mereka tidak menyangka bahwa sistem pertahanan mereka sendiri akan digunakan untuk melawan mereka.

"Sekarang! Lari ke arah helipad!" teriak Aruna.

Mereka berlari menembus kabut gas yang tebal, melewati tubuh-tubuh tentara bayaran yang pingsan di lantai. Saat mereka sampai di atap, helikopter milik tim Aruna yang dipiloti oleh salah satu anggota 'The Scraps' sudah menunggu dengan baling-baling yang berputar kencang.

Saat helikopter mulai terangkat dari atap fasilitas "Project Nest", Aruna menatap ke bawah. Ia melihat fasilitas itu mulai terbakar dari dalam—rupanya Haris sempat memasang sisa peledak di laboratorium tadi.

Bimo duduk di lantai helikopter, menatap Aruna dengan mata yang mulai sayu. "Kau... memilikinya sekarang... data itu..."

Bimo menyerahkan sebuah micro-SD yang disembunyikan di bawah kukunya yang sudah rusak. "Prabawa... dia bukan pemegang saham tertinggi... ada orang lain... di atasnya..."

Aruna mengambil kartu memori itu, meremasnya erat. Ia baru saja menyadari bahwa perjalanan menuju Bab 100 ini bukan hanya sekadar melawan kakeknya, tapi melawan sebuah struktur kekuasaan yang jauh lebih purba dan berakar di seluruh dunia.

"Mbak Bos," suara Bambang terdengar lembut di telinga Aruna. "Kita berhasil keluar hidup-hidup. Tapi saya baru saja dapet pesan singkat dari nomor kakek Mbak."

"Apa isinya?" tanya Aruna dingin.

" 'Selamat atas kemenangan kecilmu, Aruna. Tapi ingat, Kenzo baru saja menerima hadiah ulang tahunnya yang lebih awal.' "

Aruna langsung berdiri tegak di dalam helikopter yang berguncang. "Bambang! Cek posisi Kenzo sekarang juga!"

Bersambung.....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

.

.

Bab 30: Detik-Detik yang Hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!