Mikayla tidak hanya dikhianati.
Ia dihancurkan.
Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.
Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.
Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.
Ia datang untuk menghancurkan.
Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 identitas baru
Kini, hukum tabur tuai bekerja dengan presisi yang mengerikan.
Dulu, Sinta membiarkan rahim Mikayla diracuni secara perlahan. Kini, ia harus menyaksikan rahim Naura diangkat secara paksa demi menyambung nyawa. Dua saudara, dua rahim yang hancur, namun dengan alasan yang berbeda yang satu karena kebencian, yang satu karena kecelakaan yang direncanakan. "Mikayla... di mana kamu, Nak..." ratap Sinta parau.
Ia tidak tahu bahwa saat ini Mikayla sedang berdiri di balkon penthouse setinggi 50 lantai, menyesap wine mahal bersama Ethan Aviel Leon. Ponsel lama Mikayla sudah hancur menjadi serpihan di dasar tempat sampah, membawa serta semua memori tentang keluarga yang mengkhianatinya
Di tengah tangisan Sinta, asisten pribadi Ethan mendekat ke arah majikannya yang sedang menatap pemandangan kota Jakarta bersama Mikayla.
"Tuan, laporan dari RSUD Bogor," bisik asisten itu, namun cukup keras untuk didengar Mikayla. "Nona Naura selamat, namun rahimnya diangkat total. Dia tidak akan pernah bisa memberikan keturunan bagi keluarga Abimanyu."
Mikayla tidak terkejut. Ia hanya memutar gelas wine-nya, memperhatikan cairan merah itu bergoyang. "Lalu bagaimana dengan suamiku? Maksudku... Elang?”
"Truk yang menghantamnya sangat presisi, Nona. Elang Abimanyu selamat, namun kedua kakinya lumpuh permanen. Rajendra Abimanyu sudah menginstruksikan media untuk memberitakan ini sebagai 'Kecelakaan Tragis Putra Mahkota' demi menutupi skandal audit yang sedang berlangsung.”
Senyum sang hantu, Mikayla meletakkan gelasnya. Ia merasa beban seberat gunung yang selama lima tahun ini menghimpit dadanya mendadak menguap.
"Dua orang cacat," gumam Mikayla dingin. "Naura cacat secara reproduksi, Elang cacat secara fisik. Mereka adalah pasangan yang serasi sekarang. Biarkan mereka hidup lama untuk saling menyalahkan di atas sisa-sisa harta yang sudah aku ambil."
Ethan melingkarkan lengannya di bahu Mikayla, memberikan kehangatan yang asing namun protektif. "Dan ibumu? Dia terus mencarimu untuk meminta donor darah.”
"Ibuku?" Mikayla tertawa kecil, tawa yang terdengar hampa. "Dia tidak butuh darahku, Ethan. Dia butuh mukjizat. Dan aku bukan Tuhan, aku hanya seorang wanita yang baru saja bangun dari mimpi buruk.”
Malam itu, nama Mikayla dihapus dari seluruh sistem internal keluarga Abimanyu. Gerald telah menyelesaikan pembersihan data, sementara Ethan memastikan tidak ada detektif manapun yang bisa melacak keberadaan Mikayla di wilayah kekuasaannya.
Di RSUD Bogor, Sinta masih terus memanggil nama Mikayla di sela isaknya. Ia baru menyadari bahwa saat ia memilih untuk "membunuh" masa depan Mikayla, ia sebenarnya sedang menghancurkan satu-satunya orang yang akan tulus menyelamatkan keluarganya di masa depan.
Mikayla benar-benar telah menjadi hantu. Ia ada di mana-mana dalam bentuk kehancuran yang ia tinggalkan, namun tak bisa ditemukan di mana pun untuk dimintai pertolongan
Suasana di koridor rumah sakit yang dingin mendadak meledak. Ilham, kakak laki-laki Mikayla yang selama ini dikenal paling tenang dan penyabar, akhirnya sampai pada titik didihnya. Setelah menerima laporan medis rahasia yang dikirimkan oleh informan anonim (yang sebenarnya adalah orang suruhan Ethan), Ilham kini berdiri di hadapan ibunya, Sinta, dengan mata yang merah padam karena murka.
Tangan Ilham gemetar hebat saat ia melemparkan bundel kertas laporan laboratorium ke pangkuan ibunya yang masih terduduk lemas di lantai.
"Puas, Bu?! Puas Anda melihat masa depan Mikayla hancur?!" teriak Ilham, suaranya menggelegar hingga membuat perawat yang lewat terhenti ketakutan. "Lima tahun! Selama lima tahun Anda membiarkan racun itu masuk ke tubuh adikku sendiri agar dia tidak bisa hamil! Hanya demi apa? Demi posisi Naura?!"
Sinta mendongak, wajahnya pucat pasi. "Ilham... Ibu... Ibu hanya ingin keluarga kita tetap terpandang di mata Abimanyu..."
"Terpandang?!" Ilham tertawa getir, tawa yang penuh dengan penghinaan. "Sekarang Anda saksikan sendiri hukum tabur tuai itu, Bu! Apa salah Mika sampai Anda setega itu? Dia bekerja membanting tulang, menjaga nama baik suaminya, sementara Anda dan Naura sibuk merancang liang lahat untuk kebahagiaannya!”
Sinta meraung, mencoba memegang kaki Ilham. "Cari Mika, Ilham... minta dia ke sini. Naura butuh darahnya. Hanya Mika yang bisa menyelamatkan Naura sekarang!"
Ilham menyentakkan kakinya, mundur selangkah dengan tatapan jijik. "Mencari Mika? Untuk apa? Agar Anda bisa menghisap darahnya lagi setelah Anda menghancurkan rahimnya? Tidak, Bu. Jika saya jadi Mika, saya pun tidak akan sudi menginjakkan kaki di rumah sakit ini.”
Ilham berbalik, meninggalkan ibunya yang meraung di lantai. "Bagi saya, Mika sudah mati sejak Anda memberikan racun pertama itu padanya. Dan sekarang, biarkan Naura merasakan bagaimana rasanya hidup dalam kehampaan yang selama ini Anda berikan pada Mika. Selamat menikmati hari tua Anda dalam penyesalan, Bu.”
Di sisi lain kota, Mikayla mendengar rekaman pertengkaran itu melalui penyadap yang dipasang Reno di ponsel Ilham. Ia duduk di samping Ethan, ekspresinya tenang, nyaris seperti patung lilin yang indah.
"Kak Ilham akhirnya tahu," gumam Mikayla pelan.
"Dia satu-satunya yang masih punya hati di keluargamu," sahut Ethan sambil mengusap jemari Mikayla. "Tapi dia tidak bisa melindungimu sehebat aku, Mika. Biarkan mereka saling menghancurkan di rumah sakit itu.”
Mikayla mematikan rekaman itu. "Biarkan mereka. Aku ingin mereka tahu bahwa darah yang mereka butuhkan sekarang adalah darah yang pernah mereka racuni selama lima tahun. Dan darah itu... tidak akan pernah mengalir untuk mereka lagi.”
Ethan menarik tubuh Mikayla dengan satu gerakan posesif namun lembut, membawanya duduk di atas pangkuannya. Di ruangan yang hanya diterangi cahaya kota dari balik jendela kaca raksasa itu, Ethan menangkup wajah Mikayla dengan kedua tangannya. Matanya yang biasanya sedingin es kini berkilat penuh gairah dan tekad yang absolut.
Ethan mencium Mikayla dengan panas, sebuah ciuman yang tidak hanya menuntut, tapi juga seolah ingin menyerap semua rasa sakit yang pernah dialami wanita itu ke dalam dirinya sendiri. Mikayla sempat terkesiap, namun perlahan ia melingkarkan lengannya di leher Ethan, membiarkan dirinya tenggelam dalam perlindungan pria yang lebih berbahaya dari seluruh keluarga Abimanyu digabungkan.
Setelah ciuman itu terlepas, Ethan menyandarkan dahinya di dahi Mikayla, napasnya masih menderu pendek di depan bibir istrinya.
"Kita akan lakukan pengobatan terbaik di Jerman, sayang," bisik Ethan, suaranya rendah dan penuh otoritas. "Aku sudah mengatur tim medis spesialis regenerasi sel paling mutakhir di sana. Apa yang mereka rusak dengan racun murahan itu, akan aku pulihkan dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan."
Ethan mengusap punggung Mikayla, memberikan kehangatan yang selama lima tahun ini tidak pernah ia dapatkan dari Elang.
"Lupakan mereka yang telah menghancurkanmu," lanjut Ethan, tatapannya mengunci netra Mikayla. "Mulai detik ini, kamu bukan lagi bagian dari Abimanyu atau keluarga pengkhianat itu. Kamu adalah pusat dari duniaku. Biarkan mereka membusuk di rumah sakit itu, saling menyalahkan dan meratapi nasib. Kita akan pergi, dan saat kita kembali nanti, kamu akan berdiri begitu tinggi hingga mereka bahkan tidak sanggup menatap matamu.”
"Aku ingin mereka mengira aku sudah mati, Ethan," gumam Mikayla tiba-tiba, suaranya tenang namun penuh dendam.
Ethan menyeringai miring, sebuah ekspresi predator yang puas. "Sudah aku siapkan, Mika. Besok pagi, sebuah paspor hangus atas namamu akan ditemukan di bangkai mobil Elang yang terbakar. Dunia akan mengira Mikayla ikut tewas dalam kecelakaan itu."
Mikayla mendongak, menatap Ethan dengan binar mata yang baru. "Terima kasih, Ethan."
"Jangan berterima kasih padaku," Ethan kembali mencium leher Mikayla dengan posesif. "Cukup jadilah ratu di kerajaanku. Dan biarkan aku yang menjadi pedangmu untuk memenggal siapa pun yang pernah membuatmu menangis.”
Malam itu, di bawah perlindungan Ethan Aviel Leon, Mikayla resmi meninggalkan Indonesia. Ia meninggalkan abu penyesalan bagi ibunya, lumpuh permanen bagi suaminya, dan kehampaan rahim bagi kakaknya. Mikayla telah lahir kembali, dan kali ini, ia tidak akan pernah membiarkan siapapun menyentuh mahkotanya lagi.
Pesawat jet pribadi milik Ethan membelah awan malam menuju benua Eropa. Di dalam kabin yang mewah dan kedap suara, Ethan menyerahkan sebuah paspor diplomatik berwarna biru gelap kepada wanita yang bersandar di pelukannya.
Mikayla membukanya perlahan. Di sana, terpampang fotonya yang terlihat sangat elegan dengan tatapan mata yang dingin namun berkuasa. Nama yang tertera di sana bukan lagi Mikayla, melainkan:
MICHELLE EDLYNNE
"Mikayla sudah mati di aspal jalanan Bogor bersama sisa-sisa kehinaan keluarga Abimanyu," bisik Ethan, suaranya rendah dan posesif di telinga Mikayla atau sekarang, Michelle. "Mulai detik ini, kamu adalah Michelle. Istri dari Ethan Aviel Leon. Tidak ada satu pun orang di Indonesia yang punya hak untuk menyentuhmu, bahkan untuk menyebut namamu pun mereka harus berpikir dua kali.”