Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kelegaan Hati sementara
Langit siang di atas Universitas Mandala terlihat cerah setelah sejak beberapa hari terakhir terus mendung.
Angin berembus pelan melewati pepohonan di sepanjang taman kampus, membuat suasana terasa lebih hidup.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam kecelakaan itu… Wajah Shintia terlihat sedikit lebih tenang.
Gadis itu berjalan pelan melewati koridor fakultas sambil membawa map revisi skripsi di dadanya. Walau matanya masih sedikit sembab, setidaknya kini tidak lagi terlihat setegang dua hari kemarin.
Karena akhirnya… Ia sudah bercerita. Setidaknya sekarang ada Andreas yang tahu semuanya. Dan anehnya, setelah mengeluarkan semua isi kepalanya pagi tadi, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
“Tuh kan, mending cerita,” gumamnya kecil sendiri sambil menuruni tangga kampus.
Namun tentu saja… Nama Raffa tetap belum benar-benar pergi dari pikirannya.
Shintia menghela napas panjang.
Dalam hati ia mulai mencoba menerima kemungkinan-kemungkinan yang selama ini terus ia hindari.
Kalau Raffa memang baik-baik saja… Ia berharap pria itu benar-benar sehat dan suatu hari datang lagi.
Namun kalau ternyata sesuatu memang terjadi... Shintia hanya berharap setidaknya ia bisa tahu.
Bahkan kalau perlu… tahu di mana makamnya.
Pikiran itu langsung membuat dadanya kembali nyeri. “Ih apaan sih…” omelnya pelan sambil mengacak rambut frustrasi. “Belum tentu juga kenapa-kenapa.”
“Ngomong sendiri lagi.”
Suara Tari yang tiba-tiba muncul membuat Shintia refleks menoleh.
Sahabatnya itu datang sambil membawa dua gelas es kopi.
“Nih.”
Shintia menerima minuman itu pelan.
“Tumben baik.”
“Tadi lo keliatan udah mau nangis lagi soalnya.”
“Ish.”
Tari terkekeh kecil lalu berjalan berdampingan dengannya menuju taman kampus.
Beberapa mahasiswa terlihat sibuk latihan untuk acara wisuda tiga minggu lagi. Ada yang memotret, ada yang bercanda sambil membahas outfit, bahkan beberapa sudah sibuk memesan buket bunga.
Shintia memperhatikan semua itu cukup lama.
Harusnya… Ia juga ikut sebahagia itu sekarang.
Tapi entah kenapa ada bagian dalam dirinya yang terasa kosong.
“Lo udah baikan?” tanya Tari tiba-tiba.
Shintia diam sebentar sebelum akhirnya mengangguk kecil.
“Lumayan.”
“kamu mikirin apa sih, hari Wisuda?”
menggeleng.
Pertanyaan itu jelas meleset jauh, Tari salah, Shintia menatap gelas minumannya pelan.
“enggak.”
Tari menghela nafas.
“jujur, gue bingung sama lo. Heran bener.”
“apaan.”
“Soalnya hidup lo kayak beraaaat banget.”
Shintia langsung mendelik.
“Apaan sih.”
“ lagian, ngelamun mulu. Ini pasti cowok nih, kamu udah kenal cowok pasti.”
“Tari…”
“Ya kan?”
Shintia langsung mengembuskan napas panjang sambil memalingkan wajah malu.
Tapi di balik semua omelan itu… Ia tahu Tari benar.
Raffa memang datang terlalu tiba-tiba ke hidupnya.
Dan lebih parahnya lagi, pria itu pergi saat dirinya bahkan belum sempat memahami perasaannya sendiri.
“nah kan bener nih?” tanya Tari mendadak.
Shintia langsung diam.
Angin sore meniup pelan rambutnya.
“pengen tahu ajah,” jawabnya ngeledek.
“kan gitu kamu...”
Shintia menatap langit, Lalu tanpa sadar tersenyum kecil tipis.
“Mungkin… Nanti juga kamu tahu.”
Tari langsung menyipit curiga.
“Wih, beneran.”
“Tapi aku mau rahasiakan dulu.”
“Nah gitu kamu, sih.”
Mereka akhirnya tertawa kecil bersama.
Dan tanpa Shintia sadari… Dari kejauhan, seseorang sedang memperhatikannya lagi.
Sedan abu gelap itu kembali terparkir tidak terlalu jauh dari area taman kampus.
Raffa duduk diam di balik kemudi sambil memandang ke arah Shintia yang sedang tertawa bersama Tari.
Sudut bibir pria itu perlahan terangkat tipis.
Hari ini wajah gadis itu terlihat lebih hidup.
Tidak semurung kemarin.
“Kayaknya dia udah cerita ke seseorang,” gumam Aswin yang duduk di samping.
Raffa mengangguk kecil.
“Mungkin kakaknya.”
Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari Shintia.
Ia memperhatikan bagaimana gadis itu tertawa sambil mendorong pundak Tari pelan.
Bagaimana ekspresi wajahnya berubah cepat saat malu. Dan bagaimana sesekali Shintia masih melamun sendiri sambil menggenggam ponsel.
Masih menunggu dirinya. Perasaan hangat kembali muncul di dada Raffa.
Sekaligus rasa bersalah yang aneh. Karena semua ini sebenarnya bisa selesai kalau ia mau muncul sekarang juga.
Tinggal turun dari mobil.
Memanggil nama Shintia, Lalu menjelaskan semuanya.
Namun tidak.
Belum sekarang, Entah kenapa Raffa masih ingin melihat lebih jauh.
Ingin tahu apakah perasaan Shintia akan bertahan. Atau perlahan hilang begitu saja.
“Kita tiap hari begini terus, Pak?” tanya Aswin hati-hati.
Raffa terkekeh kecil tipis.
“Kenapa? Bosan?”
“Bukan bosan…” Aswin menahan senyum. “Cuma baru kali ini saya lihat Bapak ngikutin cewek sampai segininya.”
Raffa tidak membantah.
Karena dirinya sendiri juga sadar. Ini bukan sifatnya.
Ia bukan tipe pria yang duduk berjam-jam hanya untuk melihat seseorang dari kejauhan.
Namun Shintia selalu berhasil membuat dirinya melakukan hal-hal aneh.
Di luar sana, Tari akhirnya pamit lebih dulu karena ada kelas tambahan.
Kini Shintia tinggal sendiri di taman kampus sambil membuka ponselnya lagi.
Raffa memperhatikan perubahan kecil di wajah gadis itu.
Senyumnya perlahan turun lagi saat melihat layar chat kosong.
Dadanya kembali terasa sesak.
“Pak…” Aswin melirik pelan. “Kasihan.”
Raffa diam.
Beberapa detik kemudian ia mengambil ponsel cadangannya perlahan.
Aswin langsung menoleh.
“Mau hubungi dia?”
Jemari Raffa sempat berhenti di atas layar.
Di kepalanya terlintas wajah Shintia yang menangis malam itu.
Dan untuk sesaat… Ia hampir menyerah pada egonya sendiri. Namun akhirnya layar ponsel itu malah ia matikan lagi.
“Belum,” jawabnya pelan.
Aswin menghela napas kecil. Entah kenapa ia mulai merasa hubungan dua orang ini akan rumit.
Sementara itu di taman… Shintia akhirnya berdiri pelan sambil merapikan tasnya.
Hari mulai sore.
Dan ia harus pulang sebelum Andreas kembali cerewet soal kesehatannya.
Namun baru beberapa langkah… Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Deg.
Jantung Shintia langsung melonjak. Matanya cepat-cepat melihat layar.
Namun wajahnya kembali berubah kecewa.
Bukan Raffa.
ternyata Andreas yang mengirim pesan bahwa dirinya menjemputnya.
“Hhh…”
Ia tertawa kecil hambar pada dirinya sendiri.
“Gila ya aku…”
Di dalam mobil, Raffa melihat semuanya. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Shintia… Ia benar-benar sadar satu hal.
Gadis itu tidak sedang sekadar tertarik padanya.
Shintia benar-benar memikirkannya.
Mungkin bahkan lebih dalam daripada yang Raffa bayangkan. Perasaan itu seharusnya membuatnya senang.
Namun anehnya… Yang muncul justru rasa takut kecil di dalam dadanya.
Takut kalau dirinya kembali menyakiti seseorang yang tulus hanya karena terlalu sibuk menguji perasaan.
Raffa menatap punggung Shintia yang perlahan menjauh menuju gerbang kampus.
Lalu tanpa sadar bergumam lirih,
“Tahan sedikit lagi…”
Karena ia sudah memutuskan, Ia akan kembali di hari wisuda Shintia nanti.
Dan saat hari itu datang… Raffa pastikan tidak akan lagi meninggalkan Shintia.
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄