Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Perundungan yang Berlanjut
Suasana kelas pagi itu mendadak janggal saat guru Matematika mengetuk-ngetuk penggaris ke telapak tangannya. Matanya yang tajam tertuju pada satu bangku kosong di tengah hiruk-pikuk kelas.
"Yasmin mana? Tasnya ada di sini, tapi kenapa orangnya tidak ada?"
Cecil, yang sedang sibuk menghitung, menyahut tanpa menoleh. "Nggak tahu, Pak. Mungkin takut sama pelajaran Bapak."
"Iya, Pak. Bisa jadi dia belum mengerjakan PR dan memilih kabur ke kantin," timpal Reka sambil melempar senyum penuh arti pada Atikah.
Rasakan sendiri akibatnya, Bodoh! Siapa suruh kamu merayu Kak Vyan cuma buat mendapatkan contekan, batin Reka penuh kepuasan. Ia tahu betul di mana Yasmin berada, dan ia sangat menikmati bayangan Yasmin yang meringkuk ketakutan.
"Tolong! Tolong keluarkan aku!"
DUK! DUK! DUK!
Suara gedoran pintu itu terdengar memilukan dari dalam toilet wanita di ujung gedung sekolah yang sepi. Yasmin terus memukul pintu, namun suaranya hanya memantul di dinding porselen yang dingin. Di luar, seseorang yang sedang lewat mendadak menghentikan langkah. Ia mengernyit melihat pintu toilet yang sengaja dikaitkan dari luar dan diganjal oleh paku besar.
Dengan cepat, ia mencabut ganjalan itu dan membuka kuncinya. Begitu pintu terbuka, ia tertegun melihat Yasmin yang berdiri gemetar, basah kuyup dari ujung rambut hingga sepatu.
"Yasmin!"
"De... Dean?!" Yasmin terperanjat. Air menetes dari rambutnya yang lepek, membuat wajahnya tampak semakin rapuh.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Dean, suaranya bergetar antara marah dan khawatir.
Yasmin segera membuang muka, matanya menghindari tatapan Dean. "Tidak ada. Bukan siapa-siapa. Aku... aku cuma ceroboh, pintunya jadi terkunci sendiri. Hehehe..."
Yasmin mencoba berlari melewatinya, namun Dean dengan sigap menahan lengannya. "Bohong. Seseorang menguncimu dari luar, Yasmin. Siapa mereka?"
"Aku nggak tahu... mungkin anak-anak hanya ingin bercanda. Biasa, kan?"
"Kamu tidak berubah," gumam Dean sedih. Dadanya sesak melihat Yasmin yang selalu memilih untuk "menelan" lukanya sendiri demi ketenangan orang lain.
"Terima kasih sudah menolongku, Dean. Sekarang pelajaran matematika, aku harus masuk kelas." Yasmin melepaskan diri dan berlari kecil dengan sepatu yang mengeluarkan bunyi ceplok-ceplok yang menyedihkan.
Sejak kapan kamu suka matematika, Yasmin? Kamu hanya ingin menghindariku, batin Dean pahit sambil menatap punggung gadis itu yang kian menjauh.
Yasmin memasuki kelas dengan kepala tertunduk. Guru Matematika langsung menghentikan penjelasannya di papan tulis.
"Dari mana saja kamu? Kenapa pakaianmu basah dan kotor seperti itu?"
"E... tadi saya mengantuk, Pak. Jadi saya cuci muka, tapi malah kena guyuran air," jawab Yasmin asal. Seisi kelas meledak dalam tawa, kecuali Atikah, Reka, dan Cecil yang hanya menatap dengan pandangan meremehkan.
Di luar jendela, Dean berdiri diam menyaksikan pemandangan itu sebelum akhirnya melangkah pergi dengan tangan mengepal di dalam saku celana.
"Hai, Cantik!"
Seruan familiar itu mengejutkan Yasmin saat ia sedang berjalan di koridor seusai kelas. Vyan sudah berdiri di depanya dengan gaya santainya. Namun, senyum Vyan memudar saat matanya yang jeli menangkap noda abu-abu dan sisa air di seragam Yasmin.
"Kenapa bajumu kotor?" tanya Vyan, nada suaranya berubah selidik.
"Aku nggak hati-hati waktu cuci muka, kena air kotor di wastafel," ucap Yasmin bohong untuk kesekian kalinya.
"Ceroboh!" Vyan mengetuk dahi Yasmin pelan dengan buku jarinya. "Sekarang Ibuku sudah ada di rumah. Jadi, sore nanti ke rumahku lagi, ya? Belajarnya langsung sama Ibuku."
"Ibu Kak Vyan?"
"Iya. Beliau itu guru baru di sekolah ini," bisik Vyan tepat di telinga Yasmin, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Rahasia ya! Jangan ada yang tahu kalau dia Bundaku."
Yasmin mengangguk patuh. "Iya, iya! Tapi... kita mampir ke rumahku dulu, ya? Ibu pasti sudah masak banyak buat kita makan bareng nanti."
Pukul tiga sore, suasana rumah Vyan terasa lebih hangat. Pepi sedang sibuk mencabik-cabik ikan pemberian Vyan, sementara Vyan sendiri dengan telaten membongkar isi rantang dari rumah Yasmin.
Di kursi meja makan, Bu Dinda tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Di depannya, sebuah buku Fisika terbuka, namun Yasmin hanya menatapnya dengan pandangan kosong yang membuat Bu Dinda hampir kehilangan kesabaran.
Setelah sesi belajar yang melelahkan (setidaknya bagi Bu Dinda), mereka akhirnya makan bersama. Suasana berubah ceria, tawa Yasmin yang renyah seolah menghapus semua kerumitan rumus Fisika yang baru saja lewat.
Pukul lima, Vyan mengantar Yasmin pulang. Saat ia kembali, ia menemukan ibunya sedang terkapar kelelahan di sofa.
"Vyan, kamu nemu di mana anak seperti itu? Baru kali ini Bunda mengajar anak sebodoh itu," keluh Bu Dinda saat melihat putranya masuk.
Vyan duduk di kursi seberang, menyunggingkan senyum misterius. "Yasmin memang lamban, Bun. Makanya, kalau Bunda bisa menyulap dia jadi pintar, baru itu namanya prestasi luar biasa. Nanti aku kasih hadiah. Mau apa? Suami baru?"
Bu Dinda mendelik tajam dan mendorong kepala Vyan. "Masalah itu nggak perlu bantuan kamu!"
"Ya harus, dong. Nggak boleh sembarangan orang. Harus lebih hebat dari 'orang itu', kan?"
Bu Dinda terdiam. Ia tahu 'orang itu' yang dimaksud Vyan adalah ayahnya sendiri. Suasana mendadak menjadi sedikit dingin.
"Iya, iya. Tapi cewekmu sekarang juga payah, Vyan."
"Tapi cantik, kan?"
"Serius? Jauh banget dibanding Zia."
Wajah Vyan menegang sesaat mendengar nama itu. "Nggak, dong. Kalau nggak ada cewek yang lebih hebat dari si 'Sombong' itu, jelas aku nggak mau. Yasmin itu lucu, Bun. Mengenal dia membuat hidup jadi nggak jenuh."
"Terus kalau nggak ketemu yang lebih dari Zia, akhirnya anak itu jadi alternatif terakhir?" goda Bu Dinda.
"Bunda...!" keluh Vyan kesal. "Jangan menakut-nakuti begitu. Yah... kecuali kalau Bunda bisa membuat otaknya lebih encer." Vyan tertawa pelan.
Bu Dinda memutarkan bola mata. Namun kemudian dia menatap lekat anaknya.
"Eh, jangan-jangan kamu masih berharap Zia kembali?"
"Nggak! Si Sombong itu masa lalu," ucap Vyan bersungut-sungut. Ia memalingkan wajah, menatap ke luar jendela dengan pandangan menerawang yang dalam.
"Seandainya si Sombong itu datang lagi?" pancing Bu Dinda.
Vyan tersenyum. Bukan senyum manis yang biasa ia tunjukkan pada Yasmin, melainkan senyum yang membuat garis wajahnya tampak keras dan asing. "Kalau dia datang? Aku akan membuatnya menderita."
Bu Dinda merinding melihat ekspresi putranya. Kenapa wajah lucu anakku kadang terlihat begitu mengerikan? Bahkan saat dia tersenyum seperti itu.
Pikiran Bu Dinda melayang ke masa lalu. Ia ingat betul, Vyan berhenti merengek sejak ia masih sangat kecil. Suatu hari, saat Vyan masih balita, ia menyambut kepulangan ibunya setelah pergi berhari-hari dengan segelas air minum.
Saat Bu Dinda meminumnya, ia langsung memuntahkannya karena rasa asin yang luar biasa tajam.
"Vyan... kamu memasukkan garam ke dalam gelas ini?" tanya Bu Dinda saat itu, terbatuk-batuk.
"Iya. Tiga sendok, karena tiga hari Bunda pergi," jawab Vyan kecil sambil tersenyum polos tanpa dosa.
Kenangan itu membuat Bu Dinda sadar: Vyan tidak pernah melupakan luka. Ia hanya menyimpannya, mengolahnya, dan akan mengembalikannya dengan rasa yang jauh lebih pekat. Dan kini, Yasmin yang lugu itu tampaknya adalah satu-satunya yang menawarkan hidup Vyan yang penuh garam untuk saat ini.