NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 ​Yang Tidak Siap Diketahui

Langkah kaki Aruna terasa begitu berat saat ia menyusuri koridor wisma penginapan yang remang-remang. Di dalam genggaman tangan kanannya, benda perak kecil berwujud flashdisk tua itu terasa begitu dingin, seolah menyalurkan aura misteri yang siap meruntuhkan sisa-sisa ketenangan jiwanya. Begitu sampai di depan pintu kamar, Aruna segera masuk, mengunci selot pintu rapat-rapat, dan bersandar di sana dengan napas yang memburu halus.

​Ia berjalan mendekati meja kayu tempat laptopnya berada. Aruna menatap benda digital di tangannya dengan keraguan yang amat sangat. Sebagian dari dirinya mendesak untuk segera menancapkan flashdisk itu dan menguliti habis semua rahasia London. Namun, sebagian dirinya lain, yang telanjur trauma oleh kepahitan masa lalu mendadak dirayapi rasa takut. Ada sebuah firasat buruk yang berbisik bahwa apa yang tersimpan di dalam sana adalah sesuatu yang belum siap ia ketahui.

​Di belahan sudut penginapan yang lain, Profesor William Vance berdiri di dekat jendela kamarnya yang berembun. Pria tua itu memegang ponselnya yang menempel di telinga, mendengarkan nada sambung yang hanya berbunyi dua kali sebelum sebuah suara berat berwibawa menjawab dari seberang lini.

​"Profesor William," sapa Baskara Dirgantara di ujung telepon, intonasi suaranya masih terdengar formal seperti biasanya.

​Profesor William mengembuskan napas panjang. "Aku baru saja menyerahkan diska lepas itu kepadanya, Baskara. Rekaman arsip tahun terakhir di London."

​Deg.

​Di seberang sana, di dalam ruang kerjanya yang mewah di Jakarta, Baskara yang sedang berdiri langsung mencengkeram tepi meja kerjanya dengan sangat erat. Wajah tampannya seketika berubah pucat pasi. Seluruh ketenangan, wibawa, dan kendali diri yang selama berbulan-bulan ini ia pertahankan dengan kokoh sebagai seorang CEO, runtuh tak bersisa hanya dalam satu detik.

​Baskara tahu persis apa isi flashdisk tua milik Profesor William tersebut.

​Isi di dalam sana bukanlah tentang rekaman video saat dirinya menghina Aruna di depan mimbar kuliah atau barisan kalimat tajam yang merobek harga diri gadis itu, karena semua kekejaman itu sudah diketahui oleh semua orang, termasuk Aruna sendiri. Yang tersimpan di dalam diska lepas itu adalah sesuatu yang jauh lebih besar, sebuah kebenaran krusial dan rumit di balik layar yang selama bertahun-tahun ini tidak pernah Aruna ketahui. Sesuatu yang sengaja Baskara kubur dalam-dalam karena ia tahu, kebenaran itu berpotensi mengacaukan seluruh sisa hidup Aruna.

​Kembali ke kamar Aruna. Setelah pergulatan batin yang cukup lama, rasa penasaran akhirnya memenangkan peperangan. Aruna menarik kursi, duduk tegak, lalu membuka tudung laptopnya. Dengan gerakan konstan, ia menyematkan flashdisk perak itu ke port samping.

​Layar monitor berkedip sebentar sebelum memunculkan partisi diska baru yang otomatis terbuka. Netra Aruna menyipit, menatap barisan folder yang tersusun rapi di sana.

​Ada Folder Nilai yang berisi draf evaluasi akademiknya. Ada Folder Laporan Medis yang melampirkan berkas dari rumah sakit London. Ada Folder Rekaman CCTV Kampus yang entah merekam sudut ruangan mana, serta Folder Email Dosen yang berisi lalu lintas surat elektronik internal komite.

​Namun, tepat di barisan paling atas, terdapat satu folder dengan nama yang paling mencolok dan berbeda:

​"For Aruna - Open Last"

​Folder itu terkunci dengan ikon gembok kecil di sudutnya, sengaja dipisahkan dari folder lain dengan instruksi yang begitu jelas agar dibuka paling akhir.

​Jantung Aruna bertalu-talu kencang. Ia mengarahkan kursor laptopnya, bersiap untuk mengeklik folder pertama guna memulai pencariannya. Namun, tepat satu detik sebelum ujung jarinya menekan trackpad...

​Drrrtt... Drrrtt...

​Ponsel Aruna yang tergeletak di samping keyboard mendadak bergetar hebat, memecah keheningan malam dengan suaranya yang nyaring. Aruna tersentak mundur, tangannya refleks menjauh dari laptop. Ia menoleh, melirik layar ponsel yang menyala terang menampilkan satu nama yang sudah berminggu-minggu ini menghilang sepenuhnya dari radarnya.

​Baskara Dirgantara.

​Setelah sekian lama menarik diri, tidak mengirim pesan, tidak menelepon, dan membiarkan Aruna bernapas bebas tanpa gangguan, pria itu mendadak menghubunginya di jam larut seperti ini.

​Aruna menatap layar itu dengan rahang yang mengencang. Dengan perasaan campur aduk antara kesal dan penasaran, ia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa berniat mengeluarkan suara sepotong pun.

​Keheningan sempat merayap di antara seberang telepon selama beberapa detik. Namun, saat suara Baskara akhirnya terdengar, Aruna mendadak terpaku.

​Suara pria di seberang sana terdengar sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada nada arogan yang mendikte, tidak ada intonasi dingin yang memaksakan kehendak, dan tidak ada sisa-sisa wibawa seorang eksekutif. Suara Baskara terdengar begitu parau, rapuh, dan untuk pertama kalinya dalam seumur hidup Aruna mendengar... pria itu terdengar sangat ketakutan.

​"Aruna..." panggil Baskara, suaranya bergetar halus di ujung sana.

​Aruna tetap diam, menahan napasnya.

​"Aku tahu kamu sedang memegang flashdisk dari Profesor William sekarang. Dan aku tahu kamu sedang berada di depan laptopmu," ucap Baskara, nadanya terdengar seperti seseorang yang sedang memohon di ujung tebing. "Tolong... jangan buka flashdisk itu malam ini, Aruna."

​Aruna mengepalkan tangannya di bawah meja, emosinya mulai tersulut. "Atas dasar apa Bapak melarangku? Bapak takut semua kebusukan Bapak terbongkar?" desis Aruna tajam.

​Baskara mengembuskan napas berat yang terdengar begitu hancur di seberang telepon. Ia tidak membalas tuduhan tajam itu dengan pembelaan diri.

​"Bukan begitu... Kalau setelah melihat seluruh isi di dalam sana kamu tetap memilih untuk membenciku seumur hidupmu, aku bersumpah akan menerimanya tanpa pembelaan. Aku akan pergi dari hidupmu jika itu maumu," bisik Baskara, suaranya kian merendah, sarat akan keputusasaan yang teramat nyata. "Tapi tolong... beri aku waktu sampai besok pagi. Datanglah ke kantor atau biarkan aku menemuimu. Biarkan aku menjelaskan semuanya kepadamu secara langsung, satu kali saja... sebelum kamu memutuskan untuk melihat isi dari folder itu sendirian."

1
Anonim
cerita author x ini tak kalah menarik seru bgt 🥰🥰
Ra H Fadillah: halo terima kasih atas bintang 5 nya semoga kamu selalu suka dengan ceritanya ya 💞😉
total 1 replies
Anonim
jadi kepo thorrr
Anonim
ceritanya seruuuuuu😍
Desi Santiani
apa sebenarnya isi flasdisk itu, apa rahasia bagaskara yg selama ini pura2 jahat n kejam krna adanya tekanan atau apa, ahh dbuat skot jantung bacanya
Desi Santiani
semakin seruu thor
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!