Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 Fakta Terungkap
Lorong rumah sakit kembali sunyi setelah langkah kaki Danara menjauh kemudian menghilang di balik pintu lift. Hanya suara mesin monitor dari ruang rawat yang terdengar samar memecah keheningan malam.
Rendra berdiri mematung beberapa saat. Rahangnya masih mengeras menahan emosi yang membuncah. Dia tidak pernah menyangka Danara akan senekat itu. Walaupun dia belum melihat kebenarannya melalui CCTV, namun dengan penemuan payet barusan sudah bisa membuktikan bahwa Danara sebagai dalang kejadian yang menimpa Finza.
Sementara itu, Razna memilih diam sambil menundukkan kepalanya, memeluk tubuhnya sendiri. Hawa dingin mulai terasa karena lorong itu sudah tidak ada siapa pun. Suasana canggung menyelimuti mereka berdua.
"Aku minta maaf atas sikap Danara yang sudah menjebakmu dalam kejadian ini. Sungguh aku malu sudah menuduhmu sebagai pelakunya. Payet ini tetap akan aku simpan sebagai bukti kejahatan Danara," ujarnya dengan suara rendah, seraya memasukkan payet tersebut ke dalam saku bajunya.
Razna menggeleng pelan, "Bukan salah Tuan," ucapnya lirih. Matanya menatap lurus tanpa mampu menatap majikannya.
Rendra menatap wanita itu beberapa detik. Wajah Razna terlihat pucat dan lelah. Matanya yang sembab masih terlihat jelas sejak kejadian Finza jatuh tadi siang.
"Aku hanya kasihan melihat Finza. Anak semungil itu sampai terjatuh dari ranjang yang cukup tinggi," ucapnya lirih.
"Aku sudah minta dokter untuk mengecek kondisi Finza secara detail. Alhamdulillah tidak ada cedera yang serius,"
Razna mengangguk pelan membenarkan ucapan Rendra. Saat ini hatinya tidak bisa tenang, bayangan Danara yang diam-diam masuk ke kamarnya terus berputar di kepalanya.
"Tuan..." panggilnya ragu.
"Iya?" jawabnya singkat. Matanya melirik sebentar.
"Kalau memang tadi nona Danara yang masuk ke kamarku...berarti selama ini dia benar-benar telah membenciku, Tuan. Aku khawatir tindakan nona akan terus berlanjut kalau aku masih ada di rumah Tuan," jelas Razna khawatir.
Rendra menghembuskan napas panjang. Dia sendiri mulai menyadari sesuatu yang selama ini sering diabaikan. Sikap posesif Danara ternyata jauh lebih berbahaya dari yang ia kira.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan menyelesaikan masalah ini. Aku tidak akan segan-segan melaporkan masalah ini ke ranah hukum jika masih berlanjut mencelakai dan membahayakan mu juga Finza," ujarnya tegas.
Razna tersenyum hambar, masih belum tenang. Terlebih lagi Danara masih tinggal di rumah Rendra, sehingga ia merasa harus lebih berhati-hati.
"Aku hanya takut Finza jadi korban lagi," ucapnya lirih, seiring rasa khawatir yang terus menyelimuti hatinya.
Kalimat itu membuat dada Rendra terasa sesak. Tatapannya langsung beralih ke pintu ruangan tempat Finza tertidur.
Tanpa sadar kakinya melangkah mendekati Razna.
"Aku janji, mulai sekarang aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian. Bila perlu, Danara tidak akan kubiarkan tinggal di rumahku lagi,"
Deg.
Hati Razna menghangat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Rendra.
Tatapan Rendra saat ini pun berbeda, lebih lembut dan tulus.
Baru saja Razna hendak menjawab, tiba-tiba ponsel Rendra bergetar.
Nama pak Ali muncul di layar.
Rendra langsung mengusap tombol hijau dari ponselnya.
"Ya pak Ali, gimana?"
"Tuan Rendra, rekaman CCTV saat kejadian sudah saya periksa,"
Wajah Rendra langsung menegang, "Bagaimana hasilnya?"
"Ada seseorang yang masuk ke kamar Mbak Razna sebelum kejadian. Dan orang itu ternyata ..." ucapan pak Ali menggantung sejenak.
"Itu nona Danara, Tuan,"
Rendra membeku, tatapannya menajam ke arah Razna. .
'Simpan bukti itu dengan baik-baik. Jangan sampai Danara tahu bukti rekaman itu ada padamu. Kalau dia bertanya, bilang saja bukti itu sudah diberikan kepadaku,"
"Baik Tuan,"
Klik.
Rendra langsung memutus panggilan tersebut dengan perasaan campur aduk. Rahangnya mengeras menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia kendalikan
Semua dugaan mereka ternyata benar. Danara memang sengaja masuk ke kamar Razna sebelum Finza terjatuh.
Rendra memejamkan matanya sejenak lalu menghembuskan napas panjang. Tangannya mengepal kuat, giginya bergemeletuk.
"Tuan..." panggil Razna pelan.
Rendra membuka matanya secara perlahan. Tatapannya kini terlihat jauh lebih dingin dari sebelumnya. Menahan rasa marah dan kecewa terhadap adik iparnya.
"A...aku tidak menyangka, dia bisa sejauh ini," gumamnya lirih.
Razna menunduk. Hatinya ikut sesak melihat perubahan ekspresi Rendra. Meski tadi pria itu terlihat marah pada Danara, namun bagi Rendra tidak mudah menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini dianggap keluarga sendiri tega melakukan hal seperti itu.
"Tuan... tidak apa-apa?" tanya Razna penuh kehati-hatian.
Rendra tersadar lalu menggeleng pelan.
"Aku hanya kecewa,"
Kalimat itu terdengar sederhana namun begitu berat saat keluar dari mulutnya.
Rendra kembali menatap Razna. Wajah wanita itu masih terlihat pucat. Dia menduga, Razna tidak hanya lelah, namun juga takut.
"Mulai sekarang kamu jangan pernah sendirian, di mana pun dan kapan pun," ucap Rendra tegas. Dia tidak ingin terjadi apa-apa terhadap Razna.
Razna sedikit terkejut mendengar ucapan Rendra yang merasa khawatir terhadap dirinya.
"Tuan...."
"Aku serius. Kemana pun kamu pergi harus ada pengawal,"
"Tapi Tuan, itu sangat berlebihan..."
"Tidak. Kita harus tetap waspada. Aku tidak mau kejadian hari ini terulang lagi. Bisa jadi Danara akan merencanakan sesuatu yang lebih gila untuk mencelakaimu," jelas Rendra penuh kekhawatiran.
Suasana mendadak hening. Tatapan mereka bertemu beberapa detik cukup lama namun mampu menciptakan kecanggungan dalam diri mereka masing-masing.
Deg,
Razna secepatnya mengalihkan pandangannya karena jantungnya kembali berdebar aneh.
"Ada apa dengan perasaan ini?" gumam Razna lirih namun hanya dalam hati.
bnar kata renndra.. patuhin aja razz
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...