Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi dalam Diksi
Malam itu, suasana di apartemen Arkan terasa sedikit berbeda. Jika biasanya mereka langsung berkutat di depan laptop, kali ini ada semacam jarak tak kasat mata yang berusaha Arkan bangun kembali. Ia duduk di meja makan dengan martabak cokelat keju yang sudah terbuka, namun matanya tetap tertuju pada draf Bab 17.
"Pak, martabaknya nanti dingin. Kalau dingin, keju sama menteganya jadi beku, nggak asyik lagi," tegur Sia yang sudah duduk santai sambil mengunyah potongan pertama.
Arkan mendongak, lalu menutup laptopnya perlahan. Ia mengambil satu potong martabak, tapi pikirannya masih tertinggal di draf. "Sia, saya sedang memikirkan adegan di mana Bima harus menunjukkan sisi posesifnya. Kamu tahu, kan? Nightshade dikenal karena karakter prianya yang mendominasi, tapi tetap berkelas. Masalahnya, saya takut kalau saya tulis terlalu agresif, Bima jadi terlihat seperti pelaku kriminal, bukan pria yang sedang mendamba."
Sia menelan martabaknya, lalu tertawa kecil. "Pak, posesif itu bukan soal Bapak mengurung orang di gudang. Posesif dalam novel itu soal tatapan mata dan bahasa tubuh. Bima nggak perlu teriak-teriak 'kamu milikku'. Dia cukup menunjukkan kalau dia nggak suka ada orang lain yang menyentuh apa yang seharusnya jadi miliknya."
Arkan terdiam, mencerna kata-kata itu secara logis. "Bahasa tubuh... seperti apa contohnya?"
Sia berdiri, ia berjalan memutari meja makan dan berhenti tepat di belakang kursi Arkan. "Misalnya... Bapak lagi rapat sama Pak Gibran, terus ada orang lain yang berusaha deketin Raya. Bima nggak akan mukul orang itu. Dia cuma bakal narik Raya lebih dekat, atau naruh tangannya di pinggang Raya seolah bilang ke dunia kalau akses ke wanita ini sudah tertutup."
Sia meletakkan tangannya di bahu kemeja Arkan, hanya sekadar ilustrasi. Namun, sentuhan itu membuat punggung Arkan mendadak tegak lurus.
"Lalu, bagaimana kalau Raya-nya protes karena merasa ruang geraknya dibatasi?" tanya Arkan, suaranya sedikit lebih rendah.
"Ya di situlah letak 'panasnya', Pak!" Sia berpindah ke samping Arkan, matanya berbinar antusias membahas plot. "Raya protes karena dia gengsi, tapi sebenarnya di dalam hati dia suka diperhatiin segitu besarnya. Bima harus bisa meyakinkan Raya kalau sikap posesifnya itu bukan karena dia nggak percaya, tapi karena dia nggak tahan melihat Raya ada di dekat pria lain."
Arkan menatap Sia yang sedang berdiri di dekatnya. Entah kenapa, skenario yang dibicarakan Sia barusan mendadak memancing ingatan Arkan pada Gibran yang tadi siang menggoda Sia di kantor. Ia ingat rasa tidak nyaman yang muncul di ulu hatinya saat Gibran bercanda soal "diculik cewek seksi".
"Apa menurutmu Gibran terlalu sering bercanda denganmu?" tanya Arkan tiba-tiba, melenceng jauh dari topik novel.
Sia mengerjap, bingung dengan perubahan topik yang mendadak itu. "Eh? Pak Gibran? Ya... dia kan memang begitu orangnya, Pak. Ramah dan suka bercanda sama siapa saja. Kenapa emangnya, Pak?"
Arkan berdeham, segera menyadari kalau pertanyaannya barusan tidak terdengar profesional. "Maksud saya... untuk riset. Karakter seperti Gibran bisa jadi saingan Bima yang menarik. Pria yang santai, humoris, dan mudah mendekati Raya tanpa beban. Itu akan membuat Bima semakin kehilangan kendali, bukan?"
Sia manggut-manggut, merasa masuk akal. "Oh, iya benar juga! Saingan yang kontras sama Bima yang kaku itu bakal bikin pembaca makin gemas. Wah, Bapak pinter juga ya nambahin konflik!"
Arkan mengambil laptopnya kembali, mulai mengetik dengan cepat. Ia melampiaskan rasa "tidak nyaman" yang ia rasakan siang tadi ke dalam barisan kalimat posesif Bima. Ia menulis bagaimana Bima menatap tajam setiap pria yang berusaha mendekati Raya, bagaimana jemari Bima mengunci pinggang Raya di tengah keramaian, dan bagaimana suara Bima berubah menjadi serak penuh ancaman saat ia membisikkan kata-kata di telinga Raya.
Sia yang ikut membaca dari samping, lama-kelamaan ikut terdiam. Tulisan Arkan kali ini... terasa sangat gelap dan intens. Tidak ada lagi keraguan. Setiap kata yang dipilih Arkan seolah mengandung energi yang meledak-ledak.
"Pak... ini... ini intens banget," bisik Sia tanpa sadar.
Arkan berhenti mengetik, tangannya masih menggantung di atas keyboard. Ia menatap layar, lalu beralih menatap Sia yang jaraknya hanya beberapa jengkal. Napas mereka seolah beradu di udara yang mendadak terasa tipis.
"Ini yang kamu minta, kan?" tanya Arkan. "Kehilangan kendali. Bahasa tubuh. Posesif yang jujur."
Sia menelan ludah. Ia merasa seperti sedang terperangkap dalam tatapan "Bima" yang baru saja diciptakan Arkan. Kehangatan martabak di atas meja seolah kalah dengan panas yang menjalar di antara mereka saat ini.
"I-iya, Pak. Itu... itu pas banget," jawab Sia terbata.
Arkan menutup laptopnya dengan sekali gerakan tegas. Ia berdiri, membuat Sia refleks mundur satu langkah. Arkan menatapnya dengan intensitas yang sulit dijelaskan—campuran antara dedikasi seorang penulis dan sesuatu yang jauh lebih purba yang ia sendiri belum berani beri nama.
"Riset malam ini cukup sampai di sini, Sia," ujar Arkan, suaranya kembali datar meskipun matanya berkata lain. "Tulisannya sudah punya arah yang benar. Kamu boleh pulang, saya akan minta sopir kantor menjemputmu di bawah."
Sia merasa seperti baru saja dilempar keluar dari zona panas kembali ke kenyataan dingin. Ia mengangguk cepat, menyambar tasnya. "O-oke, Pak. Besok pagi saya siapkan laporan untuk rapat jam sembilan."
"Ya. Dan Sia..." panggil Arkan saat Sia sudah berada di depan pintu.
"Ya, Pak?"
"Terima kasih untuk masukannya soal Gibran. Itu sangat membantu saya memahami... rasa tidak suka Bima."
Sia hanya bisa mengangguk bingung sebelum akhirnya keluar dari apartemen itu. Di dalam lift, Sia memegang dadanya yang berdegup kencang. "Gila. Sebenarnya yang lagi nulis novel itu Pak Arkan atau dia emang lagi belajar jadi posesif beneran sih?"
Sementara itu, di dalam apartemennya, Arkan kembali duduk di meja makan yang kini sunyi. Ia menatap dua kotak martabak yang baru habis setengah. Arkan mengambil ponselnya, membuka catatan pribadinya yang tersembunyi.
Bukan draf novel, melainkan sebuah kalimat singkat yang ia tulis sendiri:
Tujuan akhir riset ini adalah kualitas novel. Jangan biarkan subjek riset mengganggu logika.
Arkan mengulang kalimat itu berkali-kali di dalam kepalanya, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa panas di dadanya setiap kali Sia berada di dekatnya hanyalah bagian dari "dedikasi pekerjaan". Namun, jauh di lubuk hatinya, Arkan tahu bahwa tembok yang ia bangun mulai memiliki lubang besar yang tidak bisa lagi ditambal hanya dengan kata-kata logis.
Malam itu, Nightshade mengunggah Bab 17 yang paling menghebohkan. Dan di seluruh penjuru kota, para pembaca berteriak karena satu hal: Bima akhirnya menunjukkan taringnya. Tapi hanya Arkan yang tahu, bahwa taring itu tumbuh bukan karena imajinasi, melainkan karena sebuah realita yang mulai terasa lebih manis daripada martabak cokelat keju mana pun.