NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Bayangan di Balik Jubah Putih

Kegoncangan di dalam dada Matthew von Eisenberg bukan lagi sekadar getaran kecil; itu adalah gempa tektonik yang meruntuhkan benteng kewarasan yang baru saja ia bangun bersama Daisy. Di Markas Besar Militer Pusat, di balik pintu kayu mahoni yang tertutup rapat, sang Jenderal Agung menatap sebuah map cokelat polos tanpa segel resmi. Ini bukan laporan negara, ini adalah obsesi yang hidup kembali.

Suasana di ruang kerja Matthew terasa mencekam. Sinar matahari sore menembus celah gorden, menyinari debu-debu yang beterbangan, namun fokus Matthew hanya tertuju pada lembaran kertas di depannya. Di sana, terlampir foto-foto dokumentasi rahasia yang diambil dari jarak jauh.

Maira.

Wanita itu mengenakan jubah putih dokter, berdiri di depan sebuah klinik kecil di pinggiran Ibukota yang asri. Wajahnya yang dulu sering pucat dan penuh ketakutan, kini tampak bersinar dengan kemandirian yang tenang.

"Lapor, Jenderal," suara Letnan Meyer, informan pribadi yang paling dipercayai Matthew, terdengar rendah. "Target telah kembali ke Ibukota sejak dua minggu yang lalu. Informasi mengenai depresinya ternyata adalah laporan palsu yang sengaja disebarkan oleh pihak-pihak yang melindunginya dulu untuk menyesatkan Anda."

Matthew meremas pinggiran meja. "Lalu, di mana pria itu? Di mana Friedrich?"

Nama itu keluar dari mulut Matthew seperti racun. Friedrich, dokter muda bangsawan kelas bawah yang lima tahun lalu berani membawa lari Maira dari genggaman besi seorang Eisenberg. Pria yang membuat Matthew kehilangan akal sehat hingga hampir menghancurkan segalanya.

Letnan Meyer terdiam sejenak, ragu untuk melanjutkan. "Friedrich von Halden... telah meninggal dunia dua tahun lalu akibat wabah demam saat mereka bertugas di desa terpencil di wilayah Selatan, Jenderal."

Matthew tertegun. Matanya membelalak. Musuh bebuyutannya, pria yang ia benci setengah mati karena telah mencuri miliknya, sudah tiada? Rasa menang yang pahit sempat melintas, namun segera tergantikan oleh fakta berikutnya.

"Maira tinggal sendirian?" Tanya Matthew, suaranya parau.

"Tidak, Jenderal. Dia tinggal bersama seorang anak perempuan berusia empat tahun. Namanya Adelie. Dan dari hasil pengamatan..." Meyer ragu, lalu menyodorkan satu foto lagi. "Anak itu adalah salinan hidup dari Friedrich. Mata, rambut, bahkan garis senyumnya... benar-benar mirip dengan mendiang ayahnya."

Matthew menatap foto bocah kecil yang sedang memegang tangan Maira. Adelie. Anak dari pria yang paling ia benci. Namun, saat ia menatap wajah Maira di foto itu, ada rasa haus yang kembali membara. Maira kini adalah seorang dokter, mewujudkan cita-cita yang dulu selalu didukung oleh Matthew karena walau Matthew begitu terobsesi, dia tetap mendukung cita-cita gadis itu.

"Cari tahu alamat pastinya. Sekarang," perintah Matthew. Suaranya dingin, kaku, dan penuh otoritas yang tak terbantah. "Dan pastikan... jangan ada satu jiwa pun di Glanzwald yang tahu tentang ini. Terutama Istriku."

"Siap, Jenderal."

Begitu Meyer keluar, Matthew menyandarkan punggungnya. Pikirannya berperang hebat. Di satu sisi, ada Daisy—istrinya yang cerdas, berbakat, dan baru saja mulai membuka hati untuknya. Di sisi lain, ada Maira—luka lama yang kini tampak begitu indah dan rapuh dengan status jandanya.

Matthew merasa bimbang. Apakah dia ingin kembali pada Maira karena cinta, ataukah ini hanya rasa posesif yang belum tuntas karena Maira pernah berhasil lepas dari tangannya?

Sore itu, Matthew tidak langsung pulang ke Glanzwald pukul empat seperti janjinya pada Daisy. Ia mengirim pesan singkat melalui ponselnya: "Ada urusan mendesak dengan Dewan Militer. Aku pulang terlambat."

Sebuah kebohongan. Kebohongan pertama Matthew pada Daisy sejak mereka berdamai.

Matthew mengendarai mobilnya sendiri, tanpa sopir, menuju pinggiran Ibukota. Ia mengenakan mantel hitam panjang dengan kerah tinggi untuk menutupi seragam militernya. Ia memarkir mobilnya di tikungan jalan yang sepi, lalu berjalan kaki menuju sebuah rumah kecil dengan taman bunga yang tertata rapi. Di depannya terdapat papan kayu bertuliskan: Klinik Kesehatan Ibu dan Anak - Dr. Maira.

Dari kejauhan, di balik pagar tanaman, Matthew melihatnya.

Maira baru saja keluar dari klinik, masih mengenakan jubah putihnya. Ia berjongkok, merentangkan tangan saat seorang bocah perempuan—Adelie—berlari ke arahnya. Maira memeluk bocah itu dengan penuh kasih sayang, lalu mencium keningnya.

Pemandangan itu begitu indah hingga menyayat hati Matthew. Ini adalah sisi Maira yang tidak pernah ia lihat dulu. Maira yang mandiri, Maira yang menjadi ibu, Maira yang berdaya.

Matthew terpaku di tempatnya. Gengsinya sebagai Jenderal Agung Eisenberg seolah runtuh melihat kebahagiaan sederhana yang tidak melibatkan dirinya itu. Ia merasa iri. Iri pada Friedrich yang meski sudah mati, namun tetap meninggalkan jejak cinta yang begitu kuat di hidup Maira.

Apakah aku bisa memiliki dia lagi? batin Matthew. Apakah aku harus menariknya kembali ke Glanzwald?

Namun, setiap kali pikiran itu muncul, wajah Daisy yang sedang menantinya di teras paviliun terlintas. Daisy yang tajam, Daisy yang memanggil namanya dengan suara serak pagi itu. Matthew merasa seperti pria paling kotor di dunia. Ia mencintai Daisy—ia yakin itu—tapi bayangan Maira adalah candu yang sudah mengakar di darahnya selama tujuh tahun.

Malam telah larut saat Matthew akhirnya sampai di Glanzwald. Suasana paviliun sudah sepi, namun lampu di studio Daisy masih menyala.

Matthew masuk dengan langkah yang sengaja ia buat seringan mungkin. Namun, Daisy sedang berdiri di aula tengah, memegang secangkir teh yang sudah mendingin. Ia masih mengenakan gaun yang sama dengan pagi tadi, menandakan ia benar-benar menunggu Matthew.

"Urusan mendesak dengan Dewan Militer biasanya tidak memakan waktu sampai jam sepuluh malam, Jenderal," ucap Daisy datar. Gengsinya yang setinggi langit membuatnya tidak mau menunjukkan bahwa ia cemas, namun matanya yang lelah tidak bisa berbohong.

Matthew berhenti, namun ia tidak berani mendekat. Aroma parfum bunga bakung Daisy biasanya menenangkannya, tapi malam ini aroma itu seolah menghakiminya.

"Ada laporan mendadak dari perbatasan, Daisy. Aku harus memverifikasinya sendiri," Matthew berbohong lagi. Ia tidak menatap mata Daisy. Ia melangkah menuju tangga.

Daisy meletakkan cangkirnya dengan denting yang cukup keras di atas meja marmer. "Dasar aneh, kenapa baumu seperti bau obat-obatan habis dari rumah sakit."

Matthew membeku di anak tangga pertama. Ketajaman Daisy selalu menjadi hal yang ia kagumi, tapi sekarang itu adalah ancaman. "Aku mengunjungi rumah sakit militer sebentar untuk melihat prajurit yang terluka. Itu saja."

"Begitu," sahut Daisy pendek. Ia tidak bertanya lebih jauh, tapi Matthew tahu Daisy tidak percaya. "Makan malam Anda sudah dingin. Saya sudah menyuruh pelayan untuk tidak memanaskannya lagi karena Anda bilang Anda akan makan di markas."

"Tidak apa-apa. Aku tidak lapar," Matthew melanjutkan langkahnya ke atas.

Di dalam kamar, Matthew mandi dengan air dingin, berusaha membasuh bayangan Maira dan Adelie dari kepalanya. Namun, saat ia berbaring di tempat tidur, Daisy masuk dan berbaring di sisinya. Jarak di antara mereka kembali terasa seperti ribuan mil.

Daisy memunggungi Matthew. "Matthew," panggilnya pelan.

"Hmm?"

"Jangan pernah berbohong pada saya," bisik Daisy. "Gengsi saya mungkin besar, tapi intuisi saya jauh lebih besar. Jika ada sesuatu yang mengganggu Anda, katakan. Jangan biarkan saya merasa seperti orang asing lagi di rumah ini."

Matthew terdiam. Ia ingin memeluk Daisy, ingin mengatakan bahwa ia sedang bingung, tapi ia takut Daisy akan meninggalkannya jika tahu bahwa ia sedang mencari jejak Maira. Pria yang biasanya tegas dalam mengambil keputusan militer ini, kini benar-benar lumpuh oleh bimbang perasaannya sendiri.

"Tidurlah, Daisy," hanya itu yang keluar dari mulut Matthew.

Malam itu, di bawah atap Glanzwald yang mewah, Matthew terjaga hingga fajar. Di sampingnya ada Daisy, wanita yang mulai ia cintai dengan tulus. Namun di pikirannya, ada Maira—wanita dari masa lalu yang kini kembali muncul sebagai godaan yang paling mematikan. Matthew mulai mencari tahu secara diam-diam, namun ia tidak sadar bahwa setiap langkah rahasianya adalah bom waktu yang siap menghancurkan kedamaian kecil yang baru saja ia bangun bersama Daisy.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!