NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 – Saat Hati Mulai Memilih

Pengakuan Raka di mobil malam itu terus teringat dalam benak Alya.

*Mungkin karena saya memang cemburu.*

Sebuah kalimat sederhana.

Namun hal itu sudah cukup untuk menghancurkan pertahanan yang selama ini ia bangun dengan susah payah.

Sebab kini semuanya terasa begitu nyata.

Begitu jelas.

Dan Alya mulai menyadari bahwa hubungan mereka telah melewati batas sejak lama.

Begitu tiba di kediaman, Alya langsung berjalan masuk lebih dulu untuk menyembunyikan wajahnya yang masih memerah.

Namun, tentu saja—

Raka tetap mengikutinya dengan langkah tenang seperti sediakala.

“Kamu kabur lagi,” katanya santai.

Alya segera menoleh dengan cepat.

“Aku tidak kabur.”

“Kamu selalu jalan cepat setiap gugup.”

Sungguh menyebalkan.

Mengapa pria ini kini begitu pandai menebak isi hatinya?

“Aku cuma capek.”

“Hm.”

Nada itu terdengar jelas menunjukkan ketidakpercayaan.

Alya bergegas menuju dapur, hanya demi mencari kesibukan.

“Aku mau ambil air.”

Namun, saat ia membuka kulkas—

Sebuah tangan tiba-tiba menahan pintu itu sebelum tertutup kembali.

Alya seketika menegang.

Sebab Raka kini berdiri terlalu dekat di belakangnya.

Untuk kesekian kalinya.

Dan jantungnya benar-benar mulai letih berdetak sekuat ini setiap hari.

“Kamu menghindari saya?” tanya Raka rendah.

Alya menelan ludah perlahan.

“Tidak.”

“Bohong.”

Tatapan pria itu terasa menusuk, bahkan tanpa Alya perlu melihat langsung.

“Alya.”

Suara rendah itu membuat napasnya sedikit tersendat.

“Apa?”

“Kita tidak bisa terus pura-pura tidak terjadi apa-apa.”

Kalimat itu seketika mengubah suasana.

Menjadi serius.

Dan Alya tahu, percakapan ini pada akhirnya tiba juga.

Ia perlahan menutup pintu kulkasnya, lalu berbalik menghadap Raka.

Kini jarak mereka amat sangat dekat.

Terlalu dekat.

“Kamu maunya apa?” tanya Alya pelan.

Untuk pertama kalinya—

Raka tampak benar-benar berpikir sebelum menjawab.

Tatapannya turun sejenak ke wajah Alya, lalu kembali menatap matanya.

“Saya ingin kejujuran.”

Jantung Alya langsung berdetak lebih keras.

“Jujur tentang apa?”

“Tentang apa yang kamu rasakan.”

Napas Alya tercekat.

Sebab pertanyaan itu terlalu terus terang.

Dan masalah utamanya adalah—

Ia tahu dirinya tidak bisa lagi berbohong.

“Aku takut jawabannya akan mengubah semuanya.”

Tatapan Raka melembut sedikit.

“Mungkin memang sudah berubah.”

Hening.

Keheningan yang pekat.

Dan Alya mulai menyadari bahwa dirinya sudah lelah terus-menerus lari dari perasaannya sendiri.

“Aku…” Ia menggigit bibirnya sejenak sebelum akhirnya berkata dengan pelan, “…aku mulai menyukai kamu.”

Kalimat itu terucap sangat pelan.

Namun hal itu sudah cukup membuat suasana seketika terasa berbeda.

Lebih hangat.

Lebih dalam.

Tatapan Raka berubah ekspresi begitu mendengarnya.

Dan untuk pertama kalinya—

Alya bisa melihat dengan jelas seberapa besar pria itu menahan perasaannya selama ini.

“Mulai?” gumam Raka rendah.

Alya langsung salah tingkah.

“Maksudku—”

Namun, sebelum ia sempat melanjutkan, tangan Raka perlahan menyentuh pinggangnya.

Membuat tubuh Alya secara refleks menegang.

“Saya sudah menyukai Anda lebih dulu.”

Jantung Alya hampir berhenti.

Pria ini memang suka menyerang tanpa peringatan.

“Sejak kapan?” bisiknya pelan.

Tatapan Raka turun sejenak ke bibirnya.

“Saya juga tidak tahu.”

Dan, oh—

Cara pria itu melihatnya sekarang sungguh berbahaya.

“Alya.”

“Hm?”

“Kalau saya mencium Anda sekarang…”

Napas Alya seketika tertahan sepenuhnya.

“…apa Anda akan menghentikan saya?”

Suasana seketika terasa panas.

Terlalu panas.

Alya bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Dan yang paling menakutkan adalah—

Ia tidak memiliki jawaban.

Sebab ia tahu dirinya tidak ingin menghentikannya.

Tatapan mereka saling mengunci.

Jarak mereka semakin menipis.

Dan perlahan—

Raka mengangkat tangannya, menyentuh sisi wajah Alya dengan lembut.

Gerakannya sangat hati-hati.

Seolah memberi kesempatan terakhir untuk mundur.

Namun, Alya tidak bergerak.

Tidak pula mundur.

Tidak menolak.

Tatapan Raka seketika berubah lebih gelap karenanya.

Lalu perlahan—

Pria itu mendekat.

Napas mereka bercampur.

Jantung Alya kini benar-benar kacau.

Dan tepat saat bibir mereka tinggal beberapa sentimeter—

“TUAN RAKA!”

Suara Mira mendadak terdengar dari arah lorong.

Keduanya seketika tersentak menjauh secara refleks.

Alya bergegas memalingkan wajahnya dengan napas yang tidak stabil.

Sementara Raka menutup matanya sesaat, seolah menahan rasa frustrasi.

Mira muncul, membawa sebuah tablet.

Namun, begitu melihat ekspresi mereka—

Wanita itu seketika berhenti.

“Oh.”

Alya seketika ingin menghilang dari muka bumi.

“Maaf,” kata Mira cepat dengan wajah menahan kepanikan sekaligus rasa malu. “Saya tidak tahu…”

“Ada apa?” tanya Raka datar.

Namun, Alya bisa mendengar jelas nada kesal yang samar dalam suaranya.

“Direktur Han menelepon. Katanya penting.”

Tatapan Raka seketika berubah sedikit dingin lagi.

Aura bisnisnya kembali muncul secepat kilat.

“Saya ke ruang kerja.”

Mira bergegas mengangguk, lalu pergi lebih dulu.

Dan kini suasana dapur kembali hening.

Namun, kali ini berbeda dari sebelumnya.

Sebab kini—

Mereka berdua tahu persis tentang apa yang hampir terjadi.

Alya masih belum berani menatap Raka secara langsung.

Sampai akhirnya pria itu berkata pelan, “Kita selalu terganggu di saat yang tidak tepat.”

Alya seketika tertawa kecil dengan gugup.

“Iya…”

Raka memperhatikannya selama beberapa detik.

Lalu, tanpa peringatan—

Pria itu menunduk sedikit dan berbisik rendah di dekat telinga Alya.

“Tapi saya belum menyerah.”

Jantung Alya seketika berdetak kacau.

Dan sebelum dirinya benar-benar kehilangan kendali—

Raka sudah berjalan menuju ruang kerjanya.

Meninggalkan Alya sendirian di dapur dengan wajah memerah dan detak jantung yang tidak beraturan.

 

Malam itu, Alya sama sekali tidak bisa fokus pada apa pun.

Ia mencoba membaca.

Gagal.

Menonton sesuatu.

Tidak dapat ia cerna.

Bahkan saat mandi pun, pikirannya masih dipenuhi oleh satu hal—

Raka hampir menciumnya.

Dan yang paling parah adalah—

Ia sangat kecewa karena momen itu terputus.

“Aku benar-benar habis…”

Alya merebahkan diri ke ranjang sambil menutupi wajahnya dengan bantal.

Namun, baru beberapa menit kemudian, ponselnya berbunyi.

Sebuah pesan dari Raka.

"Apa Anda masih gugup?"

Alya seketika duduk tegak.

Lalu menatap layar ponselnya dengan rasa tidak percaya.

Apakah pria ini serius mengirim pesan seperti itu?

Jari Alya bergerak cepat.

"Aku tidak gugup."

Balasan datang nyaris seketika.

"Bohong."

Alya seketika mendengus kecil sambil menahan senyumnya.

"Menyebalkan."

"Tapi Anda tetap menyukai saya."

Jantung Alya seketika kembali tidak tenang.

Astaga.

Sejak kapan Raka berubah menjadi seperti ini?

Namun, sebelum Alya sempat membalas lagi, pesan berikutnya tiba.

"Besok jangan terlalu dekat dengan Dimas."

Alya seketika tertawa kecil dengan rasa tidak percaya.

Bahkan setelah momen nyaris romantis tadi—

Pria itu masih sempat menunjukkan kecemburuannya.

Dan entah mengapa—

Alya justru merasa sangat bahagia karenanya.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!